
Flashback.
7 hari yang lalu, setelah peresmian tender proyek di kota Kuning.
Exona rasanya harus puas meski hanya mendapatkan satu proyek penataan landscape untuk kawasan yang akan dijadikan pemakaman. Jimsey berencana akan menduplikasi konsep pemakaman Forest Lawn di USA lalu menyesuaikan dengan kontur tanah disana agar tetap berciri khas Indonesia.
Hari itu saat Mahen meninggalkan gedung 2 untuk mencari Naya, Rey yang menggantikan posisi Mahen untuk mempresentasikan konsep sistem keamanan yang Exona tawarkan sebagai salah satu fasilitas unggulan yang bisa menjadi selling poin saat pemasaran nanti. Rupanya anak itu berjuang sangat maksimal dalam kesempatan kali ini, terbukti dengan upaya nya yang membawa hasil dengan mengantongi dua tender proyek, Resort dan Hotel. Meski tak sebesar nilai investasi yang berhasil diraih oleh Danureksa, tapi Jimsey sangat bersyukur atas keberhasilan team nya ditengah insiden hari itu.
Setelah Jimsey melihat keadaan Mahen dan Naya dirumah sakit. Ia memutuskan untuk kembali ke hotel dan menyusun rencana untuk memperingatkan Sumitra sekaligus ia juga akan mengunjungi seseorang, di kota ini.
Keesokan harinya.
Di sebuah kamar presiden suite sebuah hotel berbintang di kota Cirebon. Seorang pria paruh baya tengah duduk diatas sofa mewah dalam kamarnya sambil berbicara pada seseorang diujung telepon.
" Sonny, setelah penandatanganan proyek hari ini aku akan mengunjungi seseorang. Siapkan segalanya tanpa diketahui oleh orang-orang di sekitar Mahen ". Ujarnya memberi perintah pada asisten pribadinya.
" Rute arah kediaman Raden Mas Braja wisesa telah aman Tuan ". Sonny memberikan laporan singkat.
" Baik, terimakasih ".
Jam di pergelangan tangan kanan nya masih menunjukkan angka pukul tujuh pagi. Agaknya Jimsey masih mempunyai sedikit waktu untuk sekedar menyapa sahabat lama nya, Sumitra.
" Selamat pagi Tra ". Sapa Jimsey setelah nada suara ponselnya terhubung dengan seseorang diseberang sana.
" Pagi Jimsey... Selamat atas tender baru nya. Aku mengakui team mu memang tiada lawan ". Balas nya sambil terkekeh pelan.
" Terimakasih. Namun sayang nya, Mahendra anak kesayangan ku, tidak bisa ikut andil karena khawatir dengan keselamatan tunangan nya sebab ulah anak mu... Ckck Anggara masih kekurangan wanita kah ? atau kau yang tak mampu menyediakan pelampiasan nafsu untuk anakmu itu, Tra? ".
Degh....
" Jim... Aku tak menyangka dia bertindak sejauh itu. Aku baru tau jika gadis itu adalah...... I'm so sorry Jimsey ". Elak Sumitra halus.
" Aku peringatkan.. Awasi anakmu atau aku yang akan mengawasi nya, kau tau kan maksud ku?... Tra, ingatlah kisah tentang posisi mu kini, dahulu siapa yang memberi nya.. ". Tegas Jimsey.
" Kau mengancamku? ". Sumitra gusar.
"Tidak, aku hanya mengajak mu mengingat masa lalu.. Jangan bersikap layaknya kacang yang lupa pada kulit nya, Tra.. Selamat pagi ". Tutup Pak Jim mengakhiri percakapan nya dengan Sumitra, sahabat lama yang pernah ia selamatkan dahulu.
Setelah Jimsey menyelesaikan urusan pekerjaan nya. Ditemani oleh Sonny dan beberapa bodyguard nya, mobilnya melaju menuju kediaman sang sepupu. Sepupu Satu-satunya yang pernah ia lukai dimasa lalu, hingga akibat kenakalan nya itu tak sengaja telah membawa petaka bagi seseorang, yang baru saja ia ketahui kehadiran nya belum lama ini karena anak kesayangan nya menaruh hati pada gadis itu.
Setelah sampai di tujuan, ia memandang fasad depan rumah yang begitu asri, persis kediaman masa kecil nya meski tak seluas rumah pendopo orang tua nya. Jimsey mengumpulkan keberanian nya, ia menarik nafas panjang sebelum akhirnya mantap menjejakkan kaki memasuki halaman dan mengetuk pelan pintu rumah itu.
" Assalamu'alaikum ". Ia menunggu beberapa saat hingga pintu rumah terbuka.
" Wa'alaikumussalam.. ". Ka Amir yang menjawab salam.
" Maaf, dengan siapa Pak? untuk keperluan apa yaa? ". Tanya ka Amir lagi.
" Ayah mu ada? tolong sampaikan padanya, Galuh Baratayuda ingin silaturahim ". Pemuda ini seperti mengenali nama ku, apakah Dia telah menceritakan masa lalu kami? batin Jimsey.
__ADS_1
" Om Ga-luh.... Silakan masuk, aku akan panggilkan Abah ". Sepupu Abah datang setelah sekian lama kami bersembunyi di sini. Ada apa gerangan, semoga tak ada kejadian buruk menimpa. Amir lalu memanggil Abah yang tengah sibuk memberikan contoh cara packing yang betul bagi pegawai baru di gudang sebelah rumah.
Amir menceritakan pada Abah bahwa ada seseorang di ruang tamu yang sedang menunggu nya, mengaku bernama Galuh Baratayuda. Abah terlihat terkejut namun sedetik kemudian nampak sudah bisa menguasai dirinya kembali. Mereka berdua lalu kembali menuju ruang tamu dimana Galuh menunggu nya.
" Assalamu'alaikum ". Sapa Abah sopan.
" Wa'alaikumussalam... Sesa ". Galuh menghambur begitu saja memeluk Abah dihadapan nya yang tak lain adalah Braja Wisesa, sepupu nya.
" Maafkan aku baik di masa lalu maupun saat ini.. Aku akhirnya menemukan mu lagi setelah pertemuan pertama kita beberapa tahun yang lalu ".
" Ada apa ini Galuh?... duduklah dahulu ". Masih seperti dahulu, wisesa masih sangat ramah dan sabar.
" Begini, aku langsung saja yaa............ ". Galuh menceritakan segala nya tentang Mahen dan Naya, ia meminta agar wisesa merahasiakan ini sementara waktu.
" Aku sudah menduga jika anakku terlibat dalam satu konflik diluar sana. Tapi aku berusaha menghargai perasaan dan percaya padanya. Ia tidak akan bertindak dan bersikap diluar batas normal agama, karena aku baru saja berhasil memeluknya kembali dalam dekapan ku. Dan aku berusaha menghargai pula segala jenis tanggung jawab laki-laki yang menyayangi putri ku. Aku tau ini salah, membiarkan putri ku dalam pergaulan yang tak semestinya. Jika kamu memang berniat menjaga putri ku, seharusnya kamu juga meminta anak kesayangan mu itu agar menemui ku ". Ungkap Abah panjang lebar.
" Engkau begitu populer saat ini Galuh, mungkin memang sudah jalan nasib putri ku yang harus mengalami ini agar semua kerumitan ini usai, mengurai benang kusut akibat masa lalu ". Abah lalu menjamu sepupu nya itu dengan hidangan terbaik dirumah lalu mengajak nya ke makam istri tercinta nya, Jameela arthadarma.
Berpuluh tahun tak jumpa nyatanya satu sama lain masih saling memendam rasa rindu sekaligus rasa bersalah di hati masing-masing. Percakapan panjang yang terjadi diantara keduanya hari ini, nampaknya sedikit meleburkan kekakuan hubungan yang telah lama tak terjalin dengan baik, dimasa lalu maupun masa kini. Keduanya lalu kembali berpelukan sebelum berpisah arah mengambil jalur jalan pulang, Jimsey kembali ke hotel sedangkan Wisesa kembali ke kediaman nya.
***
Masa kini.
Sudah sepuluh hari Mahen dikota ini dan bolak balik ke kota Kuning untuk meninjau perkembangan disana. Hari ini adalah terapi ke empat yang dijalani Naya.
" Abang, aku mau itu boleh yaa "
" Rey.. menepi ". Mahen yang sedang fokus pada laptop nya mengikuti arah pandangan Naya.
" Nanas? ". Mahen memandang gadisnya bingung, seingat nya Naya belum pernah membeli buah ini selama kurun waktu hubungan keduanya.
" Iya, boleh kan ".
" Pergilah.. Hati-hati Naya ". Mahen melihat Naya turun dan berjalan ke belakang mobil menuju tukang penjual nanas tadi.
Tak lama kemudian ia membuka pintu bagian depan, seperti menyilahkan seseorang masuk untuk duduk disana lalu Naya membuka pintu belakang dan kembali duduk bersama Mahen.
" Aruna, tunjukkan jalan nya yaa, kakak akan antar kamu ke rumah mu karena kita satu jalur.. Abang, bolehkan aku ajak Aruna ikut sama kita ". Naya bertanya pada Mahen yang masih sibuk memandangi laptop nya.
Mahen dan Rey saling pandang, lalu menyadari apa yang sedang terjadi.
" Boleh sayang... Rey, jalan ". Mahen tau, Naya tengah melihat sesuatu yang tak bisa dilihat nya.
" Jalan mahoni, Tuan Rey. Padahal ga begitu jauh, kamu lupa jalan pulang yaa sayang? ". Naya bertanya pada gadis yang dia sebut Aruna, gadis yang tak kasat mata bagi mahen dan Rey. Naya masih berinteraksi dengan biasa hingga akhirnya di sebuah lampu merah, Ia memandang ke arah Mahen, kemudian membuka tangan kanan nya dan meletakkan di paha Mahen.
Mahen yang melihat ini, menyadari gadisnya mulai gelisah pertanda tengah melihat sesuatu yang mempengaruhi mental nya. Mahen menutup laptop nya dan meraih tangan Naya yang terbuka, menyelipkan jemari nya lalu menggenggam nya erat. Naya kemudian menutup mulutnya dengan tangan kiri karena merasa mual.
" Rey, ganti pengharum mobil dengan ini dan matikan AC nya, kita buka jendela saja yaa Naya ". Mahen memberikan pewangi dengan harum lemon.
__ADS_1
" Iya... Aruna, maaf yaa kakak mabuk kendaraan nih, tadi belum sarapan jadi nya pusing.. Maaf yaa jadi ga pake AC dulu ". Jelas Naya berbicara pada gadis kecil itu.
Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah Aruna, sebuah rumah megah. Naya berkata pada Mahen bahwa Aruna langsung masuk berlari kedalam rumah nya.
" Rey... Check ". Mahen penasaran, kali ini apa yang dilihat gadis nya.
" Baik bos.. "
" Hueekkk... ". Naya berlari ke belakang mobil, menundukkan kepala nya di sisi kebun kosong tak jauh dari rumah Aruna.
" Sayang.... Kamu lihat apa? ". Tanya mahen menyusul Naya, sambil memijat tengkuknya agar muntahan yang dia tahan dari tadi keluar.
" Awalnya aku ga merasa kalau dia adalah sosok astral karena energi nya berbeda. Tapi setelah melewati lampu merah itu, dia berubah, badan nya seperti remuk separuh, bau darah dari luka dikepala nya... Hueekkk... Wajah nya yang imut mendadak menyeramkan ". Naya kembali mual membayangkanya. Dugaan Mahen benar ketika Naya meminta ia menggenggam tangan nya di mobil tadi.
" Bos, anda diminta masuk oleh Ibu Aruna.. Ia penasaran dengan Nona ". Rey mendekati mereka.
" Sayang.. Mau masuk atau kita pergi? ". Naya mengangguk lalu mereka masuk dan duduk dirumah tamu mewah sang tuan rumah.
" Kenalkan saya Ibu Aruna, almarhumah Aruna, anaku yang meninggal 14 hari lalu akibat tertabrak truk saat menyebrang hendak membeli buah nanas, kesukaan nya ". Jelas mama Aruna.
" Abang... ". Naya kembali meraih tangan Mahen dan menggenggam nya.
" Dia pulang sekolah tak bilang padaku akan main, ia tersesat dan kebingungan menuju arah pulang. Aku sedang praktek diluar kota pun panik.. Tak lama, malam harinya aku mendapatkan telepon dari kepolisian bahwa anakku korban laka lantas ". Mama Aruna terisak kembali menceritakan peristiwa nahas tentang putri nya.
" Kamu yang bisa melihat putri ku? saat ini, dia ada dimana? apakah bersama kita? bisakah kamu sampaikan padaku apa yang dia ingin katakan? ".
" Kenalkan Nyonya, ini tunangan ku, Ainnaya dan aku Mahendra. Naya hanya mengantar nya kemari karena putri anda meminta padanya saat Naya hendak membeli buah nanas ditepi jalan yang kami lewati... Naya jarang bersikap demikian bila tak ada sesuatu.. Sayang, kamu mau cerita? sudah bisa lihat Aruna lagi? ". Mahen melihat naya lagi.
" Aruna sedang menulis diatas kertas, dia ada disamping anda, Nyonya.. "
" Apa yang di tulis nya... ".
" Abang.... Aku... ". Naya meminta persetujuan dari Mahen.
" Aku disini.. Bantulah mereka, sayang ". Naya masih menggenggam erat tangan Mahen. Naya mengangguk lalu mulai membacakan apa yang telah Aruna tulis.
" Mama.. Maafkan aku yang selalu membuat mama kesal. Aku anak yang tak patuh dan aku kini menerima akibat nya. Aku hanya ingin pulang kesini bertemu Mama dan berterima kasih karena Mama sudah merawat ku dengan penuh cinta. Aku sudah bahagia berkat kakak Naya. Bantulah kakak Naya yaa Mama, kakak sedang sakit. Aku tau Mama ku hebat banyak menolong orang. Jangan sedih Mama, aku sudah tenang disisi Tuhan ". Naya membacakan isi dari tulisan Aruna dalam sebuah kertas, yang jika dilihat oleh orang lain hanyalah sebuah kertas kosong.
" Aruna telah pergi dengan senyum, Nyonya.... Abang... aku sudah ga bisa lihat dia lagi ". Naya melihat ke arah Mahen dengan mata berkaca-kaca.
" Aruna........ ". Tangis Mama nya pecah. Suasana diruang tamu kembali muram dalam waktu lumayan lama, hingga mama Aruna tenang dan berkata :
" Kamu sakit? aku bukan dokter fisik tapi dokter kejiwaan, aku tengah menekuni sebuah metode yang belum banyak di terapkan di Indonesia.. Hypnotherapy.. Terkadang seseorang sakit karena sebab luka dari dalam, namun sedikit sekali yang menyadari nya.. ".
Mahen dan naya saling pandang. Mereka tak percaya, apakah ini bukan hanya kebetulan semata?
___________________________
😌 bentar lagi sembuh yaa Naya...
__ADS_1