
Menjelang sore, Joglo Ageng.
Ketiga orang terapis yang di hadirkan oleh Kusno atas permintaan Wisesa dan Kyai Maksum sudah memasuki kamar tamu yang didalam nya telah duduk dengan manis di masing-masing sofa single, Naya dan Hasbi.
Ketika di berikan satu pertanyaan apa yang Naya takuti, ia menjawab dengan lugas.
" Terhina.... ". Respon nya lirih.
" Siapa yang menghinakan Den Roro? ". Terapis satu.
" Dia... Dia... ". Naya gelisah.
" Naya, tenanglah ada aku... Kita coba yaa, ceritakan yang menjadi ketakutan mu.. ". Hasbi berusaha menenangkan.
Naya masih tetap saja gelisah, tangan nya ia remas hingga terlihat basah akibat keringat. Matanya tak fokus karena merasa tertekan. Hasbi tak sanggup membuat nya tenang.
" Nona, silakan anda gambarkan dalam sebuah objek saja... Jika tak ingin membagi ". Terapis dua.
Naya menggambar abstrak dengan crayon yang diberikan oleh terapis kedua. Naya menggambar dengan banyak ekspresi, kadang ceria bahkan ia tak jarang menekan crayon nya hingga patah.
Setelah selesai menggambar, Terapis satu menanyakan kembali.
" Adakah orang yang membantu Anda saat itu Den Roro? ".
Naya mengangguk.
" Silakan gambarkan kembali Nona ". Sambung Terapis kedua. Terapis ketiga hanya mengamati, pertanyaan nya telah ter wakilkan oleh kedua rekan sejawat nya. Ia hanya melihat gestur yang ditunjukkan pada saat gelombang emosi tanpa sadar Naya perlihatkan.
" Nona... Apa anda familiar dengan nama Anggara? ". Tanya terapis dua.
Sontak mata Naya menajam, crayon yang dipegang nya patah, kertas yang ia gambar diremas.
" Tidak... Aku tidak... Tidak... ". Naya mulai terlihat emosi kembali. Kali ini keringat dingin muncul di dahi nya, tampak mengucur.
" Naya, lihat aku... Anggara tidak akan bisa menyentuh mu lagi ".
" Kamu bukan Abang....!!! ". Serang nya marah.
" Raden Mas Hasbi, cukup ". Kali ini terapis tiga angkat bicara.
" Nona.... Lihat ini, fokuslah... Hanya suaraku yang Anda dengar... Tarik nafas... Dalam hitungan ke tiga, anda akan melupakan ini... Anda akan tertidur dan kembali terbangun dengan perasaan bahagia seperti baru bangun dari tidur panjang.. Ok... Satu, dua, tiga ". Terapis ketiga, melakukan tehnik hypnotherapy seperti Mama Aruna.
" Den Mas Hasbi, silakan anda keluar ruangan dahulu... Kami akan mendiskusikan apa yang kami dapatkan hari ini ".
" Tapi dia... Bagaimana? ".
" Den Roro aman... ".
Hasbi terpaksa bangkit meninggalkan Naya yang masih terlelap dalam pengaruh terapi.
Ketika Hasbi keluar kamar, Kyai Maksum menanyai nya kembali.
" Gimana Mas? ".
" Entah Buya... Kita dengar kesimpulan Para dokter nya saja ". Jawabnya lesu, ia sesungguhnya merasa bahwa memang untuk kasus ini, kehadirannya tak berarti bagi Naya.
Harapan lamaran nya diterima, pupus sudah. Cinta nya memang baru bersemi sejak pertemuan mereka di kereta beberapa bulan silam, ia yang takjub dan terpesona pada kecantikan alami Naya tak dapat memungkiri bahwa hati nya merasa bahagia kala Naya memberinya sebuah nomor handphone meski ia teramat jarang menghubungi nya.
" Mas... Berdoa saja, kalau takdir pasti sampai ". Tepuk bahunya oleh sang Abuya.
Wisesa dan Danarhadi tetap duduk tenang di tempat nya di ruangan megah Joglo Ageng milik sang Tumenggung.
Tiga puluh menit kemudian. Mba Warni masuk ke dalam kamar untuk menemani Naya yang telah sadar dari terapi pengobatan nya namun dia memilih tidak mau keluar ruangan kembali, tempat semua orang berkumpul.
Ketiga orang terapis mengutarakan hasil pengamatan nya sore itu kepada semua yang ada disana.
" Adakah sosok Abang yang di maksud oleh Den Roro di sini? ". Tanya salah satunya.
" Tidak ada ". Danarhadi yang bersuara.
" Namanya Mahendra, aku mengenal nya.. Kini dia ada di kediaman sepupu ku.. ".
__ADS_1
" Bolehkah kami bertemu? Beliau telah melakukan tehnik terapi pengobatan yang sangat baik terhadap Den Roro... Tubuhnya seketika rileks ketika kami mencoba tehnik terakhir... Hanya saja belum tuntas, karena ini menyangkut kepercayaan yang Den Roro yakini ".
" Tehnik apa? ". Tanya Hasbi.
" Menceritakan sosok nya, Den Mas ". Terapis tiga yang berbicara.
" Nona sangat rileks ketika di tanya tentang figur Abang ini... Emosinya sangat kontras terlihat perbedaan nya ketika kami menyebut nama Anggara saat Den Roro sedang bercerita tentang nya ".
" Kesimpulan nya? Jangan bertele-tele ". Danarhadi tak sabar.
" Den Roro hanya percaya bahwa Abang lah yang bisa menjauhkan Anggara dari nya... Ndoro ".
" Memang, ini kesimpulan kami sementara... Akan kami observasi beberapa hari kedepan, Ndoro ".
" Baik, sehatkan kembali cicit ku ". Danarhadi nampak lemas.
" Pripun Yai? masih mau melanjutkan atau bagaimana? ". Wisesa mengalihkan topik.
" Mas, pripun? ". Tanya Kyai Maksum pada putra nya.
" Aku menunggu emosi Naya stabil ". Hasbi lalu bangkit dari duduk nya dan meminta Abuya nya pamit.
" Kami pamit dulu, Ji... Besok semoga Naya sudah jauh lebih sehat dan bisa berpikir jernih dalam mengambil keputusan nya, nggih ".
" Ngiih Yai, maafkan yaa jadi begini.. ".
" Sedang menjalani skenario nya Allah.. Nrimo mawon... ". Jawab Kyai Maksum tenang sambil menepuk lengan sahabatnya.
Wisesa mengantar sahabat nya itu hingga halaman depan Joglo Ageng, hingga mobil mereka keluar dari gerbang tak terjangkau pandangan.
Ketika kembali kedalam, ia melihat kakek nya memegangi dada kiri nya sambil bercucuran keringat.
" Kakek....!! ". Teriak Wisesa sambil berlari.
" M-mas, sesek... Ambilkan obat ku ". Pinta nya. Wisesa sempat tertegun, kakek memanggilnya Mas.... Namun karena situasi genting, ia tak mengindahkan ucapan kakek barusan meski hati nya bahagia.
" Aku papah ke kamar kek... ". Angkat nya pelan dibantu seorang Mban.
Wisesa merebahkan tubuh renta itu perlahan didalam kamar mewah nya. Meladeni nya dengan sabar dan menunggu kakek nya hingga tertidur lelap dipembaringan nya yang bak Raja.
***
Exona Landscape and Building, Jakarta.
Kantor Exona pagi ini riuh karena amukan Anggara yang mencari Mahendra.
Sekretaris Mahen, Dewi telah menyampaikan ke lobby bawah via intercom bahwa Bos nya itu tidak ada ditempat saat ini.
Asisten kedua mahen, Bram yang melihat Anggara mengacau sepagi itu lantai dasar kantor menghampiri nya.
" Maaf, Permisi.. Tuan Muda Anggara? ". Tegur nya sopan.
" Jangan ikut campur ". Hardik nya sangar.
" Tuan, bila anda masih punya harga diri dan rasa malu, baiknya segera meninggalkan tempat ini sebelum aku menayangkan cuplikan kejahatan anda saat melukai pimpinan kami via layar televisi besar di sudut sana dan itu terkoneksi langsung dengan layar besar yang ada di Lampu Merah ujung blok ini ". Ancam Bram.
Ia mendapatkan potongan video aksi Anggara yang menusuk Mahen dari Rey. Sedangkan Rey mendapatkan nya dari Pak Jim. Meski pak Jim pun terheran, mengapa Kusno mengirimkan video itu begitu saja ke email nya menyempurnakan hasil pencarian Simon. Apakah Kusno kini membantu mereka? entahlah.
" Fu*ck Mahendra... Bilang pada Bos mu, aku akan membuat perhitungan dengan nya ".
Langkah Anggara dan anak buah nya yang kasar dan tergesa-gesa ketika keluar dari lobby sontak menabrak Ridho yang baru saja masuk dengan membawa banyak file di tangan nya.
Gubrakk. File berantakan diatas lantai.
Bram membantu Ridho segera sesaat setelah Anggara dengan acuhnya melewati anak itu.
" Dho, hati-hati... ".
" Dia nya saja, songong... Maaf Pak Bram, terimakasih... Ini file penting yang harus segera di letakkan di kantor Pak Jim.. ".
" Banyak sekali, Dho... ".
__ADS_1
" Ini sebagian salinan dari kuasa hukum Pak Jim.... Baiklah, aku duluan naik yaa Pak Bram, terimakasih banyak ".
***
Joglo Ageng. Disaat yang sama.
Wisesa terlihat lelah, dia harus bolak balik melihat kondisi putri nya dan sang kakek bergantian. Galuh pagi ini juga kembali datang membawa dokter keluarga yang di klaim nya sebagai dokter terbaik di kota ini.
" Bagaimana? Naya menolak lamaran itu kan? ". Tanya Galuh disela Wisesa menyeka keringat yang keluar dari dahi kakeknya. Setelah dokter selesai memeriksa tadi.
" Naya sudah menyampaikan keinginan yang menolak lamaran, tapi Mas Hasbi seperti memaksa.. Aku bisa apa? aku tak ingin Mas Hasbi trauma jadi sebisa mungkin aku ikuti kemauan nya dulu sembari menunggu dokter observasi kondisi emosi kejiwaan Naya ".
" Ckck... Lamban sekali, kelamaan Sesa... Kamu lebih berhak karena Wali sah Naya.. ".
" Jalan tengah terbaik, agar tidak ada kebencian lagi Galuh... Aku memilih menunggu hasil dari para dokter ". Pungkas nya.
" M-mas... ". Suara parau Danarhadi terdengar.
"............ ". Wisesa terdiam.
" Kakek panggil siapa? aku atau Sesa ". Galuh mencebik.
" Sesa...... ". Ucapnya lemah.
" Aku disini kek... Mau minum atau mau duduk? makan yaa sedikit lalu minum obat nya lagi.. Kata dokter kakek stres, lelah... Harus banyak istirahat ".
" Dengerin tuh kek... Orang yang kakek sakiti, justru yang merawat kakek sejak kakek pingsan kemarin bahkan Sesa tidak tidur sampai pagi ini... ". Sindir Galuh lagi.
" ....... Naya gimana? dia membenci ku? ".
" Mboten, Naya barusan tidur.. Jangan dipikirkan sekarang, kakek sehat saja dulu yaa... ".
" Raden Mas Braja Wisesa... Ahmad Zaid Sanusi, kamu jangan menjauh lagi dari ku ya.. Jangan bawa Naya ".
Degh. Kakek memanggil nya dengan nama lengkap. Apakah kakek mengakui ku?. Batin Wisesa.
" Mboten Kek.... Sudah, kami ga akan kemana-mana... Disini sampai kakek sehat lagi, yaa..!! ". Perasaan nya sedikit lega dengan banyak rasa bahagia bilamana sang kakek mengakui nya.
Mungkin akan mudah bagi Naya setelah hati Danarhadi melembut.
" Kusno bilang, Yai akan datang siang ini ya Mas... ".
" Iya kek... Keputusan ku tetap pada Naya, bahwa ia yang berhak menentukan... Nyuwun ngapuronipun Kek, aku lebih mementingkan kebahagiaan putriku ".
" Aku ngerti... ". Mata Danarhadi terpejam kembali.
Galuh menarik wisesa menjauh dari ranjang sang kakek, lalu berbisik lirih
" Sesa... Kamu percaya padaku kan? ". Kerling mata Galuh.
" Apa sih... Kamu kelamaan jauh sama Rani, genit begitu... Apa cacingan? ". Wisesa ikut berbisik.
" Ckckck, mertua Mahen lemot... ". Ia berlalu menuju ranjang kakeknya.
" Kek, aku pulang yaaa... Nanti aku kembali lagi dengan kejutan manis untuk kakek ". Kecup nya sayang di kening yang telah mengeriput itu.
Ketika Yai datang, Kusno membawa nya menuju kamar sang kakek. Sesa tidak ada dikamar Danarhadi jadi ia luput akan keputusan akhir tentang lamaran tersebut.
" Kaji Ahmad... Terimakasih banyak... ". Kyai Maksum mengirimkan sebuah pesan dengan kalimat menggantung.
" Punten, maksudnya gimana yaa Yai... ". Wisesa langsung membalas pesan nya namun tidak jua dibalas nya lagi.
Wisesa lalu berusaha mencari Kusno, nihil, manusia dingin itu malah seakan ditelan bumi. Semua Abdi dalem bahkan tak tahu kemana ia pergi.
Hati wisesa kembali gundah, satu cara terkahir bilamana kakek bersikukuh melanjutkan lamaran Hasbi, ia akan membawa Naya keluar paksa dari sini. Apapun resiko nya.
.
.
__________________________
__ADS_1
Siapin buah, jenguk kakek buyut ramean yuk... 😅
Vote yaa, rate juga boleh... komen kalau ga jempolnya ga puasa... 😁