Dia.. Pilihan Untuk Ku

Dia.. Pilihan Untuk Ku
MAHEN VS DUA PRIA


__ADS_3

Didalam kamar hotel, hingga hampir tengah malam Mahen masih memandangi ponsel nya yang sudah low batt. Ia masih berharap Naya akan terbangun lalu mengucapkan selamat malam untuk nya. Demi apapun, semenjak Naya resmi menjadi kekasihnya, rutinitas yang tak pernah Mahen lewatkan setiap malam adalah menelpon gadis itu meski hanya untuk sebuah ucapan selamat malam. Bagi nya, suara Naya sudah bagai candu yang jika saja ia melewati malam tanpa ditutup dengan suara Naya, seakan-akan ada yang kurang, hatinya tak tenang apalagi jika dipaksa harus memejamkan mata, sudah dipastikan tidurnya jadi gelisah sepanjang malam.


" Bos, Candi bilang terlihat dari nano cam yang dipasang dikamar Nona, ia sudah tidur sejak pulang tadi ". Rey yang melihat kelakuan absurd bos nya akhirnya angkat bicara.


" Candi juga bilang, saat Nona pulang tadi, ia menerima sebuah benda mirip sebuah undangan. Diketahui, ternyata itu adalah undangan party dari hotel Bintang esok pagi. Candi mengkonfirmasi bahwa ini bagian dari ulah Anggara ". Rey kembali melaporkan hasil penyelidikan candi pada Mahen.


" Biarkan saja Naya datang dan jangan lupa minta Candi menemani nya. Aku akan datang menyusul nya namun tergantung dari sikap dan mood yang Naya berikan padaku esok pagi ". Mahen berbicara dengan muka datar tanpa ekspresi sambil tetap memandangi layar handphone nya.


" Maksudnya gimana bos? " . Rey tak mengerti dgan perkataan bos nya itu.


" Kalau Naya mau, aku ga akan melarang. Kita lihat saja besok apa yang akan terjadi ". Jawab Mahen singkat penuh dengan misteri.


Nampaknya usaha nya dalam menunggu balasan pesan dari Naya atau pun panggilan balik, tak Mahen dapatkan malam ini. Ia lalu turun dari ranjang nya, berjalan gontai menuju meja dekat televisi yang terletak di tengah-tengah ruangan, diantara kedua sisi tempat tidur mereka. Memasang kabel charger dan meletakkan ponsel nya begitu saja tanpa memastikan apakah sudah terpasang dengan benar atau tidak. Rey yang melihat bos nya sedemikian acuh, mau tak mau ikut turun dari ranjang nya, memastikan kembali bahwa ponsel majikan nya itu sudah benar sedang terisi daya.


" Selamat malam dariku, tidak cukup ya bos ". Goda Rey kemudian.


" Enyahlah Rey.. ". Mahen menelungkupkan wajahnya di kasur, menutupi semua bagian kepalanya dengan bantal. Tak cukup sampai disitu, Mahen lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh badan nya.


" Bos, Nona mengirim pesan padaku. Ia bilang : Maaf aku ketiduran, ponsel Abang sudah ga aktif, jadi tolong sampaikan selamat malam untuknya yaa Tuan Rey ". Rey sengaja bersuara sedikit kencang untuk melihat reaksi bos nya itu, Rey bahkan mulai berani berpikir mungkin menggoda bos nya akan jadi hiburan tersendiri bagi nya.


Mahen yang mendengar Rey mengucapkan sederetan kalimat tadi untuknya, mendadak langsung membuka selimut nya kembali dan meraih ponsel Rey dengan tiba-tiba. Ia mengecek pesan yang Rey sebutkan tadi, namun ternyata nihil. Merasa bahwa Rey telah mengerjai nya, ia pun balik mengerjai asisten pribadi nya itu dengan berkirim pesan pada Candi.


" Can, kalau aku bilang suka sama kamu, gimana? ". Tulis mahen pada pesan yang langsung ia kirimkan pada Candi. Binggo, pesan nya langsung dibaca oleh Candi. Mahen tergelak, merasa impas membalas Rey.


Sedangkan Rey yang kelabakan, menyadari bos nya itu telah berbuat sesuatu berusaha mengambil ponselnya dari genggaman tangan nya.


" Bos please ". Saat ponsel telah ditangan nya kembali, Rey menerima satu pesan masuk dari Candi. " Are you serious...? ".


Rey memilih tak membalas nya, karena ia kini sibuk menetralkan debaran jantung nya yang seakan hendak terlepas dari tempat nya. Bos, anda membalas ku tepat di jantung ku. Kita impas bos, sama-sama tak bisa tidur.


" Kita impas Rey, bila perlu begadang sama-sama ". Tawa kemenangan Mahen terdengar puas.


*


Sudah lewat tengah malam, Naya terjaga dari tidur lelap nya sebab ia merasa haus. Namun Ia lupa, air dalam gelas nya kosong. Saat akan turun dari ranjang, tangan nya tak sengaja menyenggol ponselnya hingga terjatuh. Sedikit terkejut dengan suara benda yang jatuh di dekat kakinya, Naya lalu meraih ponselnya dan ia baru menyadari jika banyak sekali notifikasi panggilan dan beberapa pesan dari sang kekasih. Dalam hatinya dirundung rasa bersalah. Ia juga belum membalas semua pesan seharian tadi, termasuk pesan dan panggilan dari kedua kakaknya.


Rasa haus nya seketika menguap seiiring rasa cemas yang menghampiri nya. Ia tau bahwa sesungguhnya Mahen pasti tak bisa tidur malam ini. Maka Naya berinisiatif untuk melakukan misscall namun usahanya sia-sia. Ponsel sang kekasih tidak aktif, yang ia bisa lakukan kini hanya mengirimkan sebuah pesan.


" Abang, maaf aku ketiduran.. Selamat malam.. Eh pagi, semoga Abang bisa tidur lelap malam ini ". Naya mengirimkan sebuah pesan ke nomer Mahen sekaligus membalas pesan dari kedua kakaknya.


Setelah selesai membalas semua pesan masuk, Naya bangkit dari sisi ranjang nya lalu berjalan menuju ke meja nakas disamping meja rias nya. Saat akan menuangkan air, ia kembali melihat undangan yang baru saja dia dapatkan sore tadi, sebuah undangan privat party.


Naya tak berniat untuk hadir kesana, ia bukan saja tak mengenal sang pengundang yang misterius tapi juga karena merasa segan, aahh lebih tepatnya malas menghabiskan waktu nya sia-sia di tempat yang tak ia sukai.


Justru senyum nya terbit ketika ia membayangkan esok pagi bisa sarapan bareng Mahen dan menghabiskan waktu hingga menjelang jam kerjanya tiba siang nanti. Malam nya jika Mahen masih disini, Naya berencana akan mengajaknya makan di saung seafood dekat deretan bangunan tua di pesisir pantai.

__ADS_1


Naya masih membayangkan moment manis yang akan dia rencanakan esok pagi bersma Mahen. Setelah rasa hausnya hilang, mata Naya melihat kearah jam weker di meja rias nya, sudah pukul 1 dini hari. Baiknya aku istirahat kembali. Batin nya.


*


Kost-an Soka, Pagi hari.


" Neng Naya belum turun, anda dilarang masuk. Lagipula anda ga bisa menerobos begini, saya bisa lapor polisi lho ". Bu Rahma tak terima karena bodyguard Anggara memaksa masuk dan hendak naik ke kamar Naya.


Mega yang melihat semua nya dari dalam kamarnya, mengirimkan sebuah pesan pada Naya agar hati-hati karena dibawah ada beberapa pria yang akan membawa nya paksa. Mega juga mengatakan bahwa ia punya rencana akan menemani nya hari ini jika mereka memaksa membawa Naya.


" Makasih Gha, ok aku akan bersiap ". Balas Naya pada pesan yang Mega kirimkan.


" Abang, selamat pagi. Bu Rahma sedang menahan beberapa orang pria dengan tubuh kekar agar tak naik ke kamar ku. Jika biasanya aku merasa takut, kali ini entahlah aku merasa biasa saja. Mungkin karena aku tau ada Abang yang akan menjaga ku ".


" Assalamu'alaikum, ka Amir, aku kabari nanti jika urusan ku telah selesai. Iya, kemarin aku nyekar juga ke makam ummi ".


Naya mengirimkan beberapa pesan pada orang-orang tersayang nya pagi ini sebelum ia keluar kamar, ia berharap cemas, semoga rencana nya berhasil. Bu Rahma sudah Naya beritahu bahwa ada rencana yang harus ia lakukan kali ini akan membutuhkan bantuan Bu Rahma.


Bu Rahma yang melihat Naya baru saja turun langsung menghampiri dan melindungi gadis itu dengan menjadikan tubuhnya sebagai tameng. " Non, masuk saja lagi, jangan diladenin ". Saran Bu Rahma sedikit merasa takut.


" Ga apa Bu, Naya penasaran siapa yang mengirim mereka ". Jawab Naya berpura-pura.


" Maaf anda siapa dan ada keperluan apa dengan aku? ". Tanya Naya kemudian pada dua orang bodyguard yang berdiri didepan nya. Kedua pria itu hanya berdiri tanpa bersuara ataupun menjawab pertanyaan Naya, selang beberapa menit kemudian masuklah dua orang wanita dengan pakaian formal rapih lengkap dengan beberapa tas yang terlihat seperti sedang membawa peralatan make up dan sebuah kostum atau pakaian ganti.


" Sampaikan pada klien anda. Aku tak mengenal nya dan berterimakasih atas perhatian nya, tapi mohon maaf aku tak berniat untuk datang ke acara klien anda ". Sahut Naya sambil berusaha pergi dari sana.


Saat akan melewati gerbang kost-an, ia dihadang oleh dua orang bodyguard tadi. Pak satpam dan Bu Rahma terlibat aksi saling dorong dengan kedua bodyguard tadi, demi membantu agar Naya bisa keluar dari sana. Namun nahas, Bu Rahma jatuh terjerembab ke lantai semen, tangan nya terluka tergores permukaan kasar sisi lantai. Naya tak tega melihat nya, ia berjongkok membantu Bu Rahma berdiri kembali. Saat itulah, Naya dihampiri oleh wanita berambut cepol tadi, ia lalu menyerahkan sebuah ponsel nya pada naya dan meminta Naya menempelkan nya ke telinga. Nampaknya ada seseorang di seberang sana yang ingin berbicara pada Naya kali ini.


" Naya, aku tak ingin memaksa tapi nampaknya kamu susah didekati. Waktu ku tak banyak sayang, bekerja samalah.. aku hanya ingin melihat mu. Datanglah kemari, aku janji setelah ini tak akan menggangu mu lagi ". Suara Berat Anggara mendominasi pendengaran Naya.


" Siapa dia? aku tak mengenal nya ". Tanya Naya kembali.


" Nona cepatlah atau kami akan dipecat oleh manager hotel bila gagal menjalankan tugas ini. Kami mohon, ada keluarga yang harus kami penuhi kebutuhan hidup se hari-hari ". Mereka berdua memohon pada Naya dengan wajah memelas. Akhirnya Naya mau tak mau mengikuti permintaan mereka.


" Dia hanya ingin kehadiran ku kan? baiklah aku akan datang ". Ucapnya lagi. Mereka bertiga lalu bersiap menaiki anak tangga menuju kamar Naya. Bersamaan dengan itu, seorang wanita sedang berusaha memanjat dahan pohon rambutan di halaman belakang kost-an lalu menjulurkan sebuah tali panjang melewati tembok. Dia lalu mencoba turun perlahan, ini adalah pengalaman seru dan pertama kali baginya sekaligus memacu adrenalin. Setelah menginjakkan kaki nya di tanah kembali, Ia lalu menyusuri gang sempit yang hanya muat seukuran badannya. Ia berjalan miring sepanjang himpitan kedua tembok itu hingga tiba di sebuah jalan kecil yang lengang. Gadis ini menghela nafas lega, ia celingukan mencari seseorang yang di maksud oleh temannya tadi bahwa telah ada seseorang yang sedang menunggu nya disini.


" Aaahhhhhh.... ". Teriak nya kencang sambil tangan nya menutup mulut.


" Naya, ini aku... Kamu lagi apa disini sendirian celingukan? ". Tanya Pria ini heran, bukankah kost-an Naya ada diseberang jalan sana, pikirnya.


" Lho ka Nirwan yaa. Syukurlah, kita pergi dari sini dulu kak ". Pinta Naya sambil berlari menyebrang ke sisi jalan lainnya diikuti oleh Nirwan.


" Naya.. Naya.. kita kost-an Nurma saja, lewat sini ". Ajak Nirwan kemudian.


" Lho Nurma sekarang ngekost ka? sejak kapan? ko aku ga tau? ". Tanya Naya penasaran sebab sahabat nya itu biasanya pergi pulang meski jarak kampus dan rumah nya lumayan jauh.

__ADS_1


" Baru 2 hari lalu, kita masih sibuk pindahan jadi belum sempat ngabarin kamu. Tadinya Nurma ingin satu kost-an sama kamu, tapi disana sudah full yaa terpaksa kita pilih disini, tak apalah yang penting masih bisa deketan kan jadi aku juga ga khawatir ". Jelas Nirwan panjang lebar mengajak Naya ngobrol hingga tak terasa merek telah tiba di kost-an Nurma.


" Hai Sandy, ko ga ngabarin mau kost ". Naya memukul bahu Sahabat nya itu.


" Sorry Bob, aku ga sempat karena ini mendadak. Eh ko bisa ketemu kakak ku? kan tadi kakak mau pulang katanya, ko balik lagi? ". Tanya Nurma heran.


" Tadi ketemu didepan ". Jawab Nirwan.


" Bob, happy birthday yaaa wish you all the best honey bunny sweety my SpongeBob, maaf kemarin aku ga ada pulsa, ka Nirwan belum kirim pulsa soalnya hehehe ". Nurma memeluk naya erat sambil menggoyang kan badan mereka bersama.


" Makasih Sandy, kamu sahabat terbaik aku ". Balas Naya tak kalah keki.


" Eh Naya ultah yaa? selamat hari lahir Naya, jadilah wanita cantik cerdas dan anggun hingga banyak kumbang berebut meminang mu nanti ". Nirwan memberikan ucapan selamat dengan kalimat yang terdengar sangat manis. Mereka bertiga lalu mengobrol seru sambil membantu Nurma menata kamarnya.


*


Sementara di sebuah hotel. Anggara menyadari bahwa ia telah di bodohi oleh Naya. Ia murka, wanita yang dibawa oleh bodyguard dan staff hotel ternyata bukan gadis yang ia mau. Anggara mendekati gadis ini, dia meraih dagu nya, mencengkeram nya kuat dengan tangan kekar nya, lalu di hempaskan tubuh mungil itu hingga membentur sudut meja didalam Ballroom. Dahi gadis ini terantuk dan terlihat sedikit memar, pinggang nya sakit karena tulang nya bertabrakan keras dengan kayu jati meja ini.


" Siapa kamu? berani sekali kalian membodohi aku. Dimana Naya? ". Tanya Anggara dengan suara menggema.


" Ainnaya ". Jawab nya


" Plaaakkkkk.... plaaakkkkk ". Anggara menampar dua kali pipi gadis ini hingga sudut bibirnya berdarah.


" Cih, hanya segitu kemampuan mu Tuan? ". Gadis ini menantang singa yang sedang mengamuk rupanya.


" Ka-mu...... "....


***


Mahen yang mendapat kabar bahwa Naya tak bersama Candi, panik. Sedangkan Rey sibuk mencari tau bagaimana nasib Candi ditangan Anggara. Mahen dan Rey tak menyangka kedua gadis itu memiliki rencana demikian.


Tak lama kemudian, Rey nampaknya lebih dulu medapatkan kabar dari Alex tentang keberadaan Nona nya itu.


" Bos, Nona ada di kost-an sahabat nya Nurma, 2 gang setelah kost-an Nona. Ia ditemukan oleh Nirwan, beberapa menit sebelum team kita datang ". Rey memberikan mahen informasi yang ingin didengar bos nya itu.


" Aku kesana Rey, kamu urus Candi dulu ". Mahen bergegas keluar kamar lalu turun ke basement dan membawa mobilnya keluar dari hotel menuju kost-an yang dimaksud oleh Alex.


" Naya, kamu selalu bikin aku sport jantung. Sayang please.. Jangan tinggalin aku ". Mahen gelisah sepanjang jalan.


20 menit kemudian saat Naya baru saja selesai meletakkan gelas juice jeruk nya di meja nakas kamar Nurma. Tiba-tiba ibu kost datang memberitahu bahwa ada yang mencari teman Nurma, Naya nama nya, sahut ibu kost.


Naya dan Nurma serta Nirwan akhirnya keluar kamar kost menuju ruang tamu untuk melihat siapa yang datang menemui Naya disini.


" Nirwan............ ". Batin Mahen.

__ADS_1


__ADS_2