Dia.. Pilihan Untuk Ku

Dia.. Pilihan Untuk Ku
TERAMAT RINDU


__ADS_3

Jakarta, Sumitra Land.


Meeting direksi baru saja dimulai, Sumitra land akan memulai Mega proyek pulau buatan di Semenanjung Jawa Timur. Anggara sebagai lead project manager melakukan presentasi atas penawaran nya pada investor yang tergabung dalam Mega proyek garapan mereka.


Dua jam berlalu, meeting yang alot. Anggara kembali menuju ruangan dan duduk di kursi kebesaran nya.


Sudah tiga bulan lamanya ia mengikuti pergerakan team profesional Mahen. Entah team yang dia miliki tidak kompeten ataukah team Mahen yang terlalu perfect dan profesional sehingga tak sedikitpun tersedia celah bagi mereka untuk mendapatkan informasi keberadaan gadis incaran nya itu.


Teringat pesan terakhir sekretaris nya.


" Orang Tuan Mahen bagai shadow, sangat gesit tanpa jejak, berpindah satu tempat ke lainnya. Team kami dibuat terseok dan berceceran mengikuti mereka, Bos ". Keluh sekretaris nya.


Anggara murka, selain pekerjaan yang sangat menyita waktunya. Ia marah karena tak jua menemukan titik terang akibat kesalahan Melissa yang menyuruh Naya pergi tanpa memberikan penawaran lokasi untuk menetap bagi nya.


" Siaaaaallll, Bitchy Melissa.. Rasakan pembalasan ku nanti. Kau sudah ku bayar mahal tapi tanpa hasil.. Lihat saja nanti, karir mu akan seperti apa... ". Gebrak nya dimeja ruangan.


" Selidiki perusahaan suami Melissa, beri peringatan ". Titahnya pada sang asisten.


" Baik, Tuan Muda ".


" Ainnaya, sejak mengenal sosok mu aku selalu tak bisa menghabiskan malam ku seperti sebelumnya... Kamu merusak imajinasi ku... You will be mine, lihat saja nanti... Aku bersedia menjadi pria yang kau inginkan sayang... Aku akan berubah untuk mu, Ainnaya ". Tatap nya tajam pada wajah yang dia bingkai indah di meja kantor nya.


" Kesempatan bagiku untuk berada dekat dengan mu jika Mega Proyek itu berjalan.. Aku persembahkan sebagai hadiah pernikahan untuk mu bila engkau menjadi istriku kelak ". Teguh hatinya.


Anggara lalu menekan deretan angka, sebuah nomor dengan kode luar negeri, ia menghubungi sahabat karibnya dulu.


" Bantu aku..... ". Adu nya pada sang sahabat.


***


USA.


Sudah lebih dari dua pekan Pak Jim menemui istrinya, Maharani, yang sedang dirawat intensif di sebuah rumah sakit elite USA, Allegheny General Hospital. Ia mengabarkan tentang awal perjumpaan nya dengan Braja wisesa dan rencana nya yang akan dia susun dan rubah. Tentang asset yang dia simpan dan akan dilakukan pengalihan secara resmi bila apa yang sedang ia upayakan terjadi.


" Honey, ini jalan bagi kita menebus semua kesalahan di masa lalu ".


" Sure, Tuhan Maha Baik. Sebelum aku menutup mata, Tuhan mengizinkan untuk menebus dosa... Terimakasih, aku mendukung mu sayang... Maafkan aku belum bisa meninggalkan negara ini untuk kembali ke tanah air... Ini hukuman Tuhan untuk ku ".


" Rani, ini murni kecelakaan... Mila dan Sesa tidak mendoakan keburukan bagi kita, mereka bukan orang seperti itu.. Kamu akan sehat sayang, dan semuanya berakhir baik.. Aku akan menghabiskan waktu lebih banyak dengan mu disini.. Promise me, lanjutkan pengobatan mu yaa ".


" Aku ingin melihat nya, Galuh... Aku ingin memeluk nya ".


" Akan aku ajak dia kemari, bertahanlah... ".


" I will.... Aku selalu berjuang, untuk kita bukan? ".


" Untuk kita ". Galuh menciumi tangan istrinya mesra.


Kedua paruh baya yang masih terlihat sangat gagah dan ayu itu kini sedikit merasa lega. Luka masa lalu yang mereka lukis dan ciptakan, akan mereka tebus. Maharani di vonis menderita pelemahan syaraf vertebra akut akibat nyeri punggung yang kerap ia abaikan, bila tidak mendapatkan perawatan dan pengobatan intensif maka pasien berpotensi menderita kelumpuhan.


Kedua putra putri mereka memang sangatlah mandiri. Mathew yang memegang kendali perusahan agency yang dirintis Maharani belasan tahun silam, kini sudah berkembang sangat pesat, ditambah dengan campur tangan dingin dari sang adik, Melinda yang berprofesi sebagai designer semakin menambah pundi aset keluarga mereka.


Akan ada saat nya bagi mereka berdua, Galuh dan Maharani mengembalikan semuanya ke posisi semula. Dan hari itu akan mereka jelang, sebentar lagi.


Keduanya masih larut dalam kenangan masa lalu, yang bersimbah airmata beberapa keluarga juga saudara sedarah.


***

__ADS_1


Solo.


Semalam, Naya tiba di mess Ratislo menjelang jam dua pagi. Rhena dan Retha yang menunggu nya sukses di buat cemas oleh gadis itu. Ponselnya mati, mereka bingung harus mencari kemana karena malam itu hujan deras mengguyur kota Solo.


Setelah menunggu sedikit lebih lama, Naya muncul dengan badan basah kuyup, mata nya terlihat sembab, entah karena hujan atau karena menangis. Retha dan Rhena hanya menatap sahabat rekan kerja nya itu dengan saling melirik melalui ekor mata mereka.


" Noy, ganti baju nya ".


" Iya Tha, thanks ".


" Makan? kali habis mewek, Lu lapar Noy ". Rhena memancing reaksi.


" Haaa, Lu tau aja.. Gue laper, ada makanan? ". Naya memaksa tersenyum.


" Jam segini, Noy... Ga baik buat perut kamu ". Retha melarang.


" Gih istirahat, besok kita lari pagi ". Sambung Retha.


" He-em... Thanks gengs... ". Naya berkaca-kaca.


" Gue tau, Lu sedang ga baik-baik aja eh ralat, selalu tidak baik-baik saja... Sudahi program itu bila kamu tersiksa, Noy .... Fu*ck dengan uang Bayu, kamu sakit ". Rhena tersenyum kecut.


".......... aku menjual perih ku Rhen ". Naya berlalu melewati nya.


" Ladies, tidur... Rhen, kita ga tau seberapa besar masalah Kinoy... Yang kita tau, dia datang kemari tentunya ingin menata hidup yang baru, waktu yang akan mengikis luka meski tetap akan berbekas... Kita berdua, bakal jadi saksi kamu bangkit... OK Rhen... ". Rheta berusaha menghibur.


" Peluk.... Sini Noy ". Rhena luluh. Ia tak tega melihat Naya, ia melihat rekan nya gadis tangguh. Tak pernah terlihat melow selain di acara yang kerap ia bawakan. Rhena menduga, Naya dengan look nya yang modern, datang ke kota ini tentunya ada alasan kuat yang berhubungan dengan cinta.


Mereka berdua memeluk Naya yang mulai terisak kembali.


" Aku rindu dia... Aku rindu dia... Apakah Abang baik-baik disana, Tha, Rhen....? Hiks, hatiku sakit, aku sangat rindu... Rindu dia... Hiks hiks.... ". Lolos juga, beban luka hati yang tiga bulan ini ia pendam pada dua sahabat nya. Bendungan airmata itu akhirnya tumpah ruah menjebol pertahanan nya.


" Hiks... Hiks... Kamu tangguh Noy... ". Rheta ikut terisak.


Mereka bertiga berpelukan, tidur beralaskan kasur yang ditarik ke bawah dari tempat nya, sambil merasakan kehangatan satu sama lain.


" Terimakasih ya Allah, Engkau penuhi doaku.. Memberiku keluarga pengganti, Ratislo ". Batin Naya sebelum ia terpejam.


Keesokan pagi.


Naya tak bisa tidur nyenyak, otaknya penuh dengan bayangan Mahen. Senyum nya, nasehatnya, ketegasan nya yang kerap melarang ini dan itu, pelukan hangat nya, genggaman tangan mereka yang membuat hatinya berdesir, telebih sayang dan cinta Mahen untuk Naya, semua perlakuan manis dari nya tanpa perlu bersusah payah meminta.


Rindu Ka Amir, yang selalu mendukung nya dengan menjadi pendengar yang baik kala ia bercerita tentang aktivitas nya, cinta dan kangen yang gengsi Naya ucapkan.


" Selamat datang pagi.... Abang lagi apa yaa? ". Biasanya minggu pagi dia selalu ngegym, selalu mengusik pagi hari ku agar berolahraga.


" Hai Abang.. Pagi ini kita olahraga bareng, lari pagi yuk.... ". Naya bersiap.


Ponsel, headset, jaket, dompet telah siap di tempatnya masing-masing. Naya melangkahkan kaki nya, pemanasan di depan mess lalu mulai berlari kecil menyusuri gang menuju jalan utama, Kira-kira ia akan berlari menuju taman kota berjarak 5 kilometer dari tempat nya kini berada.


Jam 8 pagi. Dua jam total ia berlari menuju wilayah ini yang telah ramai dengan ibu-ibu komunitas senam, pejalan kaki, pedagang kaki lima serta keluarga yang mencari hiburan murah meriah. Naya yang terengah, menepi di sebuah kursi taman yang letaknya jauh dari keramaian.


" Ah cape... Abang, aku bisa lari jarak jauh ". Ketika akan membuka segel penutup air mineral yang baru saja di beli nya. Naya melihat seorang kakek yang kelelahan duduk tak jauh dari kursi nya.


Naya tak melihat kakek itu membawa sebotol air minum. Nampaknya beliau kehausan.


" Hallo, permisi... Minum kek, belum aku buka segel nya ko... Ini masih baru, tak perlu takut kuman... Hehe ". Sapa Naya ramah.

__ADS_1


" ...... ". Terhenyak kakek.


" Hem? Aku, Kinoy... Kakek minum dulu, mau Kinoy bukain? ". Tawar naya.


" Terimakasih, Nduk... ".


" Kakek sama siapa? sendirian? mau pulang atau gimana? Kinoy antar ".


" Aku sedang berolahraga, tubuh renta ya beginilah, mudah lelah.... Siapa nama kamu? Kinoy? Unyil nya mana? ". Gelak nya lepas.


" Hahahaha.... Unyil nya jualan cilok kek ".


" Hahaha.... Kamu darimana? ".


" Dari jalan Budiharso kek.. Iseng lari eh sampai sini, hehe ... Kakek sendirian? ".


" Aku telah lama sendirian.. Anakku meninggal lebih dulu, keluarga ku yang lain entah dimana.. Sudah ku cari, namun tak jumpa, mereka menghilang ". kenang nya.


" Maaf kek.. maaf, Kinoy ga sopan ".


" Kamu asli sini nduk? ".


" Bukan, aku terdampar disini kek.. Dari Cirebon, kakek jangan bilang-bilang yaa, cuma sama kakek aku jujur lho ". Naya tersenyum tulus.


Kakek ko liatin aku gitu yaaa, bagai melihat seseorang yang dia rindu. Tebak naya.


" Baik, rahasia yaa... Nanti aku akan cerita juga sama kamu, rahasia aku ya lain kali ".


" Kakek sering kesini? ".


" Tidak terlalu, hanya jika ingin... Minggu depan, kita ketemu disini lagi, mau tidak? ". Tawarnya.


" Mau mau... Aku kesini... Janji ya kek ". Naya mengulurkan jari kelingking nya membuat pinky promised.


" Apa itu? ". Kakek heran.


" Ish, janji kek... jari kelingking kakek mana, nih di tautkan ke jari aku... Gitu ". Naya sumringah, kakek ini tak seseram rupa wajahnya.


" Ooh, gitu.... Ok, aku tepati janji ku ".


" Kakek sudah enakan? Kinoy angkat telpon dulu yaa ". Naya menjauh dari tempat duduk mereka. Melangkah menjauh dan membelakangi nya sebab nada suara Pak Bayu tak jelas terdengar membuat naya sedikit mengeraskan suara untuk menjawab nya.


Ketika Naya membalik badan. Kakek itu telah tiada di tempat nya semula.


" Lho, kemana si kakek? ga kedengeran pergi nya ".


Setelah menyimpan kembali ponselnya. Ia melihat jam ditangan nya menunjukkan pukul 9, Naya lupa belum ada makanan yang masuk ke lambung nya. Ia bergegas mencari sarapan sebelum maagh nya kambuh, bisa repot nanti bila ia sakit.


***


" Honey, kali ini aku mengikuti saran mu, berlari kecil mengitari komplek orchid tower yang lumayan luas... Jangan lupa sarapan sayang, jangan sampai sakit disana yaa... Aku tidak bisa di dekat mu ". Mahen menyusuri taman orchid, ia meneguk minum nya dibawah pohon palem. Netra nya tak sengaja menangkap sepasang muda mudi yang sedang menyeka keringat pasangan nya masing-masing.


" Begitulah kita, nanti bila kamu ada disini... Honey, entah sampai kapan aku sanggup menahan rindu ku ".


__________________________


😭😭 mama baper, part ini #eeh... Clue, clue... 😌

__ADS_1


Vote, vote follow author yaaks... ig mama_qiev masih setia disono, boleh di tutul 😅


__ADS_2