Dia.. Pilihan Untuk Ku

Dia.. Pilihan Untuk Ku
MOMENT MANIS


__ADS_3

Setelah 20 menit terlibat pembicaraan serius, akhirnya mereka sampai di butik yang dimaksud oleh Mahen. Seorang wanita membukakan pintu untuk mereka, setelah menyadari siapa yang datang ke butik nya, wanita ini langsung membungkuk sopan.


" Tuan Rey, gaun serta perlengkapan yang Anda minta sudah siap, silakan di cek terlebih dahulu, mari ikut aku Tuan ". Ucap wanita ini ramah. Mahen hanya mengikuti mereka dari belakang menuju ke sebuah ruang tunggu ekslusif.


" Silakan Tuan Rey, untuk gaun malam senada dengan vest jas nya. Untuk acara siang, kemeja batik nya senada dengan kain berbentuk skirt agar lebih mudah dipakai oleh Nona ". Jelasnya lagi.


" Bukan untukku ". Rey meluruskan kesalahpahaman.


" Maaf, untuk.... ? ". Tanya wanita tadi.


" Bos, silakan di cek dulu, sudah sesuai kah? ". Rey melirik bos nya yang sedari tadi diam memandangi kedua gaun untuk gadisnya. Sebuah kebaya dengan panjang dibawah lutut berwana hijau mint doff, lengan tiga perempat cutting terompet yang tidak terlalu lebar dan kain batik bermotif burung merak senada dengan kemeja yang akan dia kenakan. Ia tak sabar melihat Naya mengenakan nya saat acara siang lusa nanti.


" Yang penting ukuran nya sama dengan gaun malam hitam lalu, untuk aksesoris malam hari nya mana? aku mau lihat ". Jawab Mahen.


" Silakan Tuan. Maaf aku tak jeli mengenali anda.. Ini set perhiasan design simpel berwarna biru seperti permintaan anda senada dengan gaun malam dan sepatu nya ". Wanita ini menyerahkan kotak perhiasan berwana hitam ke Mahen.


" Sesimpel dia ". Mahen nampak puas dengan perhiasan yang dipegang nya.


" Rey ". Mahen memberi kode pada Rey agar membereskan semua nya.


" Tolong semuanya dikemas rapih ". Pinta Rey pada wanita tadi.


" Terimakasih banyak, aku harap anda tak keberatan jika aku meminta sesuatu yang mendadak suatu saat nanti ". Ucap Mahen sambil menyerahkan kembali kotak perhiasan tadi.


" Baik Tuan, terimakasih atas kepercayaan anda telah menggunakan jasa dan karya kami. Semoga acara anda dan Nona berjalan lancar. Mohon tunggu sebentar, akan kami siapkan semuanya ". Jawab wanita tadi, ia pamit undur diri untuk membereskan semua pesanan Mahen.


" Rey, pakai ini saja, jangan dari kantor ". Mahen menyerahkan sebuah kartu platinum miliknya.


" Tapi ini untuk kepentingan anda bos ".


" Aku membawa Naya untuk kepentingan pribadi ku ". Mahen bersikeras, ia tak ingin saat audit nanti, pengeluaran untuk Naya ikut dicantumkan. Mahen menganggap Naya sudah menjadi bagian dari tanggungjawab nya kini.


" Baik bos ". Tak seperti biasanya anda menolak fasilitas yang Exona berikan padahal anggaran bagi teman wanita yang menemani anda untuk kepentingan kantor sudah Exona siapkan. Sekali lagi, anda terlalu hati-hati memperlakukan Nona.


Setelah beberapa menit berlalu akhirnya semua barang-barang kebutuhan Mahen dan Naya selesai dikemas dan dirapihkan dalam bagasi. Mereka berdua lalu kembali menuju hotel untuk beristirahat sejenak sebelum Mahen menjemput Naya jam 21.00 nanti malam.


***


Jam 21.05 pelataran parkir mall.


" Naya, aku sudah di bawah ". Mahen mengirimkan pesan.


" Serius? aku mau briefing dulu, lama lho, kembali ke hotel saja ". Balas Naya sedikit enggan untuk menemui Mahen.


" Kamu tidak sedang menghindari ku kan? ".


" Keliatan yaa? ". S*al, dia tau aku menghindari nya. Pikir Naya.


" Aku cuma nebak, baguslah kalau kamu jujur, selama apapun briefing nya, aku bakal tunggu ".


" 10 menit lagi ". Balas Naya singkat.


" Baik nyonya.. ". Ckck susah sekali mendekati gadis ini. Mahen membuka dashboard mobil nya, ia mengeluarkan sebuah botol dengan merk parfum yang biasa Naya pakai lalu menyemprotkan ke udara.


" Demi apa, aku tergila-gila dengan wangi kamu sayang.. Ainnaya please, lihatlah aku ". Mahen bermonolog. Hampir 5 bulan sudah sejak pertemuan pertama nya dengan Naya, ini adalah masa terpanjang bagi nya dalam mendekati seorang wanita. Hingga saat ini, Naya bahkan tak pernah menganggap dia ada, tapi ia bertekad akan terus berusaha berdiri disamping gadis itu. Ia ingin memeluk nya, menjaga nya agar tetap aman dan nyaman dalam perlindungan nya mengingat bahaya bisa datang kapan saja selama Danureksa belum mengakui kejahatan nya. Ingin rasanya Mahen menyeret Danureksa ke jalur hukum, tapi ia tak punya cukup bukti. Jadi yang bisa Mahen lakukan saat ini hanyalah melindungi Naya dengan segenap hati.


Lamunan Mahen terhenti ketika ponsel nya berbunyi. Ia kemudian keluar dari mobilnya dan melambaikan tangan memberi kode pada gadis yang sedari tadi mencari nya.


" Ko Abang ga bilang parkir disebelah mana, aku daritadi nyari ". Protes Naya ketika sudah masuk ke dalam mobil.


" Sengaja biar kamu yang sesekali datang ke aku ". Jawabnya asal, padahal Mahen lupa karena asik melamun.


" Ish.... Ga lucu ".


" Makan yuk, aku laper. Makan dimana? "


" Halo iya Ta, diih Agus jemput emang? ga ada tadi, aku malah sama Abang nieh. Bentar balik ko, oke nanti aku belikan sekalian pulang. Iya Vita, aku bakalan ceritain juga, bawel, dadah ". Naya menerima telpon dari Vita yang menanyakan jika Naya akan pulang, Vita meminta nya membelikan obat sakit kepala.


" Siapa? ". Tanya Mahen tak suka.


" Agus? temen kampus aku, Abang pernah ketemu ko waktu Bagas mabuk itu. Dia mo jemput aku tadi biar ga jalan jauh karena beli obat sakit kepala dulu buat Vita ". Naya menjelaskan.


" Kamu belum jawab pertanyaan aku tadi ". Mahen memilih tak menanggapi penjelasan Naya, ia kesal, banyak sekali saingannya.


" Makan? abang mau makan apa? "


" Kamu yang pilihkan, aku ikut ".

__ADS_1


" Soto betawi yang di depan kantor PLN yuk, teh jahe nya juga enak ".


" Siap nyonya.. Ke arah mana? ". Mahen memutar mobilnya keluar area mall dan menuju ke tempat yang Naya tunjukkan tadi.


Setelah mereka tiba di tujuan, " Kamu ga makan, Yang? ". Tanya Mahen saat Naya hanya memesan 1 porsi makanan.


" Engga, aku masih kenyang, tadi sore kan Abang antar makanan buat aku lembur. Jadi aku mau ngemil aja ".


" Aku makan sendiri donk yaa? ga asik banget, suapin yaa ". Pinta Mahen usil.


".......... ". Kebiasaan, batin Naya.


Setelah pesanan mereka datang, Mahen sengaja tak menyentuh makanan nya. Ia pura-pura sibuk dengan ponsel nya, sedangkan Naya terlihat sangat menikmati cemilan nya.


" Ko kamu ga peka sih sayang ". Batin Mahen.


" Abang makan dulu, udah malem nanti aku ga dapat pintu masuk lho ". Naya sebal, sepertinya Mahen mengulur waktu agar Naya pulang lebih lama.


" Aku lupa belum laporan ke kantor hari ini, ridho menunggu ku jadi aku harus cepat menyelesaikan ini ". Mahen melancarkan aksinya.


" Buka mulut nya.. aaa ". Akhirnya Naya mengalah, lagi...


Mahen berhenti sesaat dengan aktivitas nya, lalu ia tersenyum sembari membuka mulut nya. " Makasih sayang, baik banget sih ". Ucapnya bahagia.


" Terpaksa yaa, bukan baik, demi biar aku dapat pintu masuk ke kost-an ". Balas Naya sebal.


" Gapapa deh, di omelin orang cantik, ga rugi ". Jawab Mahen tertawa.


Hingga suapan terakhir habis. Naya baru menyadari bila sedari tadi Mahen asik memainkan game di ponsel nya, bukan mengirim laporan seperti yang ia bilang diawal tadi. Naya langsung beranjak pergi merasa telah dikerjai dan masuk ke mobil. Mahen yang menyadari Naya ngambek, malah merasa senang.


" Abang tolong mampir ke apotek dulu ya di depan, aku mau beli pesanan Vita ". Pinta Naya masih dengan nada kesal.


" Ok ". Mobil mereka lalu belok kanan dan parkir di apotek 24 jam.


" Sekalian ini mba, jadi satu ". Mahen mengambil 2 buah botol suplemen untuk Naya. Dan menyerahkan 2 lembar uang cash seratus ribuan ke kasir.


" Aku bayar sendiri ". Tolak Naya.


" No, atau kita ga akan pulang ".


" Aku juga, ga suka ditolak. Mau pulang atau kita debat disini? ".


" ........ serah deh ". Naya kesal.


" Bilang sama Vita, aku menitipkan vitamin untuk di minum sahabat baiknya, dia adalah orang yang membelikan Vita obat.. Sampaikan, itu amanah dari aku ". Mahen mencoba mencairkan suasana kembali.


" Aku donk ". Naya menunjuk mukanya sendiri.


" Baguslah kalau kamu sadar ". Mahen tertawa. Lalu mereka melanjutkan perjalanan pulang ke kost-n Naya dalam diam.


Keesokan pagi nya.


" Naya, aku ga bisa anter kamu pagi ini karena harus pergi dengan Rey ke balongan sebentar untuk survey project lelang kemarin, sampai ketemu nanti sore yaa ". Mahen berkirim pesan saat ia turun ke lobby.


" Hari ini aku masuk kerja tapi sampai jam satu siang, sebagai gantinya besok aku off ". Balas Naya.


" Kalau gitu kita lunch bareng, jam satu siang aku usahakan sudah kembali ".


" Aku mau tidur Aaaa-baaaang". Balas Naya.


Mahen tak lagi membalas pesan Naya, otaknya ingin segera menyelesaikan pekerjaan yang di rasa menggangu cuti nya kali ini. " Reyyyyyyyyy ". Mahen berteriak kencang saat Rey baru saja menjawab panggilan telpon nya.


" Aku sudah di lobby bos ". Rey menjawab sambil menjauhkan ponsel dari telinga nya.


" Lambat sekali kamu akhir-akhir ini, cepatlah, aku sudah harus kembali jam 1 siang ini ". Omel Mahen saat ia sudah masuk ke dalam mobil.


" Anda yang selalu terburu-buru bos, karena ingin selalu bersama Nona, ckck aku yang jadi korban ". Rey tak kalah ngedumel sementara Mahen menanggapi dengan muka datar nya.


***


Siang hari, Naya sudah ada di kost-an nya dan bersiap akan tidur saat pintu kamar nya diketuk Bu Rahma.


" Non, ada calon nya di bawah. Bawa makan siang banyak buat anak-anak sini juga lho, sana temani sebentar ". Ucap Bu Rahma.


" Ogah, aku mau bobok, ngantuk ibu, aku kurang tidur dua hari ini ". Balas Naya tak membuka pintu. Ponsel Naya berbunyi, sudah ia duga pastilah Mahen yang menelpon nya dan Naya enggan merespon kali ini. Tak berapa lama, ting suara notifikasi pesan masuk.


" Maaf terlambat, aku langsung ke mall tapi kamu sudah pulang. Jadi aku mampir kesini berharap kamu belum lunch tapi kayak nya sudah makan yaa? selamat istirahat kalau begitu, aku balik ke hotel ". Mahen kesal, telepon nya diabaikan Naya.

__ADS_1


Naya membaca pesan dari mahen, ada sedikit rasa bersalah menghampiri nya. " Abang belum makan siang? ". Akhirnya Naya membalas pesan mahen.


" Belum.. kan aku bilang tadi langsung cari kamu ". Balas Mahen yang hendak melangkah pergi keluar kost-an.


" Aku turun, tunggu ". Naya menelpon Mahen. Naya yang sudah memakai baju tidur motif beruang langsung turun ke ruang tamu dimana Mahen menunggu nya. Melihat gadisnya turun dengan baju tidur, Mahen tersenyum simpul. Mau pakai baju apapun Naya selalu terlihat imut dan manis. Saat menemani nya makan, Mahen melihat Naya yang menguap beberapa kali membuatnya tak tega, akhirnya setelah makan siang Mahen langsung pamit.


" Bobok gih, aku ga akan ganggu, makasih sudah mau nemenin aku lunch ".


" He em... Bye Abang ". Naya langsung nyelonong naik kembali ke kamar nya.


" Ya ampun, selalu begitu ga ada basa basi nya ". Mahen menggelengkan kepala heran dengan sikap cuek Naya.


Hingga malam menjelang, Mahen tak berani berkirim pesan lebih dulu. Tapi ia merasa bosan, Rey dari siang tadi menghilang entah kemana. Dan pada akhirnya..


" Naya ". Lama ia menunggu balasan hingga 30 menit kemudian.


" Apa ".


" Galak amat. Sudah packing untuk besok? ".


" Belum, emang aku harus bawa apa? ".


" Ga usah, sudah aku siapkan semuanya. Sayang.... Aku pengen manggil kamu begitu, kapan diperbolehkan? ".


" Tumben nanya, biasanya trabas aja ".


" Kan panggilan spesial itu, jadi yang dipanggil pun harus menerima ". Mahen berdebar menunggu respon Naya kali ini.


" Abang, aku sudah bilang kan jangan berharap pada ku ". Balas Naya, ia merasa cemas sekaligus bahagia saat mahen memanggilnya dengan sebutan sayang.


" Aku ga masuk dalam kriteria kamu yaa? atau kamu malu jalan sama aku yaa? ". Mahen mulai insecure.


" Bukan begitu, ish, justru aku yang ga pantes kalau jalan sama Abang. Masa seorang Co-CEO jalan sama anak mall, duh ga selevel banget kan ". Balas Naya pada akhir nya ia mencoba jujur.


" Lucu yaa, aku minder ngadepin kamu tapi kamu malah sebaliknya ".


" Ya aku merasa kayak gitu. Abang ga malu apa kemana-mana minta di temani aku? ".


" Aku happy, bangga ditemani kamu, aku jujur ". Mahen mulai berani mengutarakan maksudnya pelan-pelan.


" Duh ko bisa sih? apalah adek Bang, hanya remahan cookies ". Balas Naya sambil cengengesan.


" Kamu itu yaa, ga sadar kalau cantik, cuek nya kebangetan, terlalu mandiri sampai lupa bahwa badan kamu kadang sudah lelah, ga peka kalau ada yang ngarep jadi sandaran kamu. Tau ga, kemarin aku ceritain kamu ke Mama dan respon Mama ingin ketemuan sama kamu ".


" Maa sya Allah, Abang masih punya Mama? Ya Allah, jangan berharap sama aku. Selain egois dan idealis, aku punya mimpi yang ingin dicapai jadi untuk sementara ini aku ga mikirin untuk menjalin hubungan dengan siapapun. Abang paham kan maksudnya. Bukan ke ge-er-an sih tapi aku takut ga bisa kontrol hati aku nanti mengingat tuntutan dari Abah kan banyak ".


" Alhamdulillah masih ada Mama dan Bapak.. Naya, aku temani kamu menuju mimpi mu yaa, kita sama-sama ".


" Ga tau deh, aku takut melukai orang lain sementara aku aja ga mampu jagain diri aku sendiri biar ga terluka ".


" Jangan menjauh yaa Ainnaya. Aku sudah sangat nyaman sama kamu, tapi kalau kamu ragu, aku akan buktikan, beri aku petunjuk harus bagaimana agar aku bisa menemui Abah kamu ".


" Tetap jadi orang baik, melakukan kewajiban sebagai seorang muslim dengan taat ".


" In sya Allah, doakan aku selalu yaa ".


" Abang, maaf.. Apa aku sebagai pelarian abang untuk melupakan Melissa? ". Naya memilih to the point.


" No, aku mengenalmu setelah berakhirnya hubungan ku dengan Melissa. Kamu mengganti hati aku, bukan mengobati luka akibat Melissa. Kamu mengisi hati aku yang baru dengan hal manis tentang kamu, bukan menghapus jejak nya. Karena sebuah jejak tak akan bisa terhapus bersih kecuali kamu mengganti media nya. Paham Naya? Aku sayang kamu, sungguh ". Saat menulis ini, hati Mahen berdetak kencang, gelisah menunggu respon Naya.


" Aku belum 21 tahun, jadi ga paham perkataan berat ala orang dewasa hahaha ". Balas Naya kocak.


" Huft, aku panas dingin, kamu begini, awas besok yaaa.. ". Balas Mahen kesal.


" Abang, maaf satu lagi, betul belum pernah menikah? aku boleh mencari tau? ". Naya menggigit kuku nya karena cemas takut akan respon Mahen.


" Ini nomer adikku Mahesa dan Nanda atau Mandala.. Ini juga nomer Mama dan kedua adik ipar aku.. Nomor pak Jim mau juga? kamu boleh tanya mereka sesuka mu, aku tidak menyembunyikan apapun dari kamu sejak awal Naya ". Mahen mengerti kecemasan Naya mengingat usia nya yang seharusnya memang sudah berkeluarga.


" Terimakasih banyak. Aku sudah ngantuk "


" Bobok gih. Kamu berhutang banyak jawaban padaku Naya, aku akan menagih nya besok ".


" Abang juga ". Entah kenapa Naya menulis demikian, hatinya panas dingin menerima pengakuan dari Mahen. Entahlah ia akan bersikap bagaimana saat menghadapi besok.


______________


Kurang manis, karena bukan gula 😌.

__ADS_1


__ADS_2