Dia.. Pilihan Untuk Ku

Dia.. Pilihan Untuk Ku
TRAUMA


__ADS_3

Setelah insiden beberapa hari yang lalu, Anggara telah kembali menempati mansion nya yang mewah di ibukota. Luka dipaha nya akibat tusukan belati oleh Adnan sukses membuat nya harus mendapatkan 3 jahitan dari dokter pribadinya. Hari ini ia berniat akan datang ke kantor nya untuk menemui beberapa klien dari luar negeri bersama dengan ayah nya di sebuah restoran hotel bintang 5.


Ketika baru saja memasuki ruangan kantor yang lama tak ia sambangi, ia sukses dibuat terkejut oleh kehadiran sang Ayah yang sudah duduk di kursi kebesaran nya.


" Papa.. Selamat pagi, sudah lama? ". Sapa Anggara pada sang ayah.


" Duduklah... ".


" To the point Pa.. Waktu kita sedikit sebelum ke lokasi pertemuan ".


" Apa saja yang kau perbuat di sana? dari sekian banyaknya tender yang digelar disana dengan nominal fantastis, tidak ada satupun yang lolos selain sebuah proyek kecil, untuk skala perusahaan sebesar ini? Oh God.. Anggara.. yang benar saja ". Nada bicara sang Ayah yang semula tenang mulai berubah menjadi sebuah geraman.


" Kamu terlalu sibuk dengan wanita, Angga. Lepaskan gadis itu, jangan sampai Jimsey membuat mu menyesali perbuatan mu sendiri ". Ayah Anggara mulai tak sabar.


" Tapi Pa... ".


" Masih banyak wanita lain, Angga. Dan jangan pernah meremehkan Mahendra, dia itu bagai seekor singa yang tenang sedang menunggu mangsa nya. Hendaknya kasus Tristan Corp bisa kamu ambil pelajaran ". Pungkas sang Ayah.


" Kenapa dengan Tristan? dia bersekongkol dengan Danureksa jika Papa belum tau.. ".


" Apa isi otak dikepala mu itu.. ". Ayah anggara melemparkan sebuah koran pagi ke atas meja tepat dihadapan sang anak.


" Exona mengakuisisi saham kepemilikan atas Tristan Corp sebesar 45% ". Anggara membaca headline koran bisnis pagi ini dengan wajah masam.


" Diketahui menurut sumber terpercaya, Tristan Corp juga melakukan beberapa tindak kejahatan diantaranya kasus penipuan, penggelapan dana, kekerasan dan kasus suap beberapa proyek yang pernah ditangani nya ". Ia melanjutkan membaca paragraf berikut nya dari artikel koran itu.


" Menurut informan Papa, anak buah Mahendra yang mengumpulkan semua bukti atas kasus yang memberatkan nya kali ini karena Tristan pernah mencoba mengganggu gadis itu persis seperti yang kamu lakukan kemarin. Besutan Jimsey adalah orang-orang yang loyal. Anggara, kau camkan itu baik-baik ".


" Pa, apa papa tidak menyadari Danureksa punya maksud lain terhadap keluarga kita? ".


" Jangan mengalihkan topik Angga, lupakan gadis itu. Urusan dengan Danureksa, biar papa yang memikirkan nya. Adikmu Anggi, terlanjur tergila-gila pada Rendy, Papa tidak mungkin mengecewakan anak itu ". Ayah Anggara lalu beranjak bangkit dari tempat duduk nya dan berlalu keluar ruangan bersama Anggara. Mereka berniat melanjutkan agenda pagi itu menuju ke sebuah hotel untuk melakukan pertemuan bisnis.


*


Sementara di Rumah Sakit.


Hari ini Naya telah diperbolehkan pulang oleh dokter yang ditunjuk oleh Mahen sejak awal insiden ini.


Setelah medical check up terakhir beberapa jam yang lalu, kondisi fisik Naya secara keseluruhan telah pulih.


" Terimakasih banyak atas bantuannya, Dokter ". Naya mengucapkan banyak terimakasih pada dokter wanita ini.


" Jaga kesehatan yaa Nona Naya, semoga saat kita bertemu kembali, status anda telah berubah menjadi Nyonya ". Dokter menggoda Naya, namun hanya di balas senyuman manis dari sang Nona.


" Mohon doanya, Dok... Aku sekalian ingin mengajukan satu permintaan pada dokter bilamana Naya kurang fit, aku ingin hanya dokter yang menangani nya karena aku tak selalu ada disisi nya. Dokter bersedia? ". Kali ini Mahen yang menimpali.


" Abang, ga usah... Apaan sih? ". Naya tak enak hati, Mahen rasanya terlalu berlebihan kali ini.


" Naya, ini penting buat kamu.. ". Mahen menepuk tangan Naya pelan agar ia tenang.


" Oh mengenai itu.. Anda punya kontak saya, Pak Mahen, silakan ".

__ADS_1


" Dengan syarat, menjaga kerahasiaan kerjasama kita tentu nya. Rey, surat Perjanjian nya ". Mahen tak ingin setengah-setengah, kejadian kemarin cukup membuat nya shock. Setidaknya jika Naya sakit, ia punya dokter yang bisa dipercaya untuk memberikan pertolongan pertama pada gadisnya itu.


Sang dokter terlihat terkejut, Mahen sampai membuat perjanjian kerja dengan nya. Ia menerima map yang di sodorkan oleh Rey padanya, setelah membaca seksama semua poin yang tertuang di draft perjanjian ini ternyata banyak poin-poin yang menguntungkan pihak nya, salah satu diantaranya adalah jaminan pembayaran jasa full satu tahun, di tahun pertama. Namun, jauh didalam lubuk hatinya, ia tak ingin menodai sumpah suci nya saat memutuskan untuk memakai seragam putih kebanggaan nya ini.


" Pak Mahen, aku minta revisi di poin ini. Aku menjadi seorang dokter bukan hanya untuk mengejar materi, mohon maaf bukan naif. Aku terpilih menjadi bagian dari team anda saja, itu sudah membuatku sangat bahagia. Aku tak butuh ini semua. Aku tulus menjadi dokter pribadi tunangan anda, Nona Ainnaya ".


" Alasan nya, Dok? ". Mahen merasa jarang bertemu orang yang seperti ini.


" Karena aku penasaran dengan orang-orang loyall disekitar anda. Apa yang anda berikan pada mereka, Pak Mahen? karena tidak ada kesetiaan seperti itu yang muncul secara natural selain hasil dari limpahan kasih sayang atau balas budi ". Nampaknya dokter ini mengamati sejak pertama kali, ia melihat Candi, Adnan dan Alex, disusul Rey dan beberapa orang lainnya begitu setia dan telaten melayani pasangan dihadapan nya ini.


" Tidak ada yang spesial, Dok. Baiklah, aku menangguhkan ini sementara untuk di revisi, dilain waktu aku ingin mengesahkannya dan ku harap dokter bersedia menerima nya. Terimakasih banyak, Dok ". Mahen dan Naya lalu berjabat tangan dengan sang dokter kemudian pamit keluar ruangan dengan interior serba putih itu.


Sementara itu, Candi telah siap menunggu mereka di basement rumah sakit untuk membawa mereka menuju markas sesuai instruksi Mahen semalam. Penampilan Candi kali ini 180 derajat berubah, sangat formal dengan setelan celana panjang dan blazer serba hitam. Ia lantas tak menggubris pandangan Naya yang menatapnya lekat dari ujung kepala hingga kaki.


" Nona silakan masuk.. ". Candi membukakan pintu belakang mobil.


" Mega, panggil aku seperti biasa.. Naya tanpa Nona ". Jawab Naya masih menatap nya lekat.


"........... ". Mega tak menjawab, hanya sekilas melirik ke arah Mahen yang hendak masuk mobil saat Rey membukakan pintu bagi nya.


" Mega, ponsel aku mana? ". Tanya Naya lagi.


" Oh maaf Nona, ini.. Sudah aku aktifkan namun semua pesan aman ". Mega menyerahkan tas kepunyaan Naya.


" Harusnya kamu buka, Can.. Siapa tau ada pesan dari fans Naya yang lain ". Sahut Mahen.


" Maaf bos.. lain kali aku lebih teliti lagi ". Mega alias candi menimpali Mahen.


" Curigaan amat.. Nih baca sendiri ". Naya tak suka di curigai, terlebih dituduh. Ponsel yang baru saja di raihnya dari dalam tas, ia lemparkan ke pangkuan Mahen. Ah mood nya padahal baru saja membaik tapi dirusak oleh pria disebelah nya ini. Untung saja Abang tampan, keluhnya konyol.


Setelah perjalanan panjang di sponsori percakapan yang lumayan membuat telinga kedua orang di depan pasangan itu panas dingin, akhirnya mereka tiba di lokasi.


" Abang, dimana ini? ".


" Markas Exona diperbatasan sayang. Masuk yuk, kita tengokin sahabat kamu lagi apa didalam ". Mahen sudah tak sabar, rasanya ia ingin men*mpar pipi gadis itu dengan tangan nya sendiri.


" Ya Allah... kuatkan aku ". Bisik Naya lirih menguatkan diri nya sendiri.


Mahen menggandeng tangan Naya yang kali ini tanpa penolakan seperti sebelumnya. Memasuki lorong yang disamping kanan kiri nya adalah sebuah kamar introgasi. Mahen terus membawa Naya hingga ke ujung sebuah bangunan ini, ketika memasuki ruangan yang besarnya tak lebih dari kamar kost nya itu, Naya heran, hanya ada sebuah sofa panjang dengan meja yang menempel pada salah satu dinding, diatas nya hanya terdapat beberapa gelas dan dispenser air minum.


" Duduklah disini.. Kamu haus? ".


" Engga.. Abang, apa ini? ". Naya terheran dengan sekelilingnya.


" Rey.... ". Mahen menekan tombol dijam tangan nya. Lalu perlahan, dinding didepan sofa tempat Naya duduk, terbuka dan menampilkan sebuah kaca besar mirip cermin. Tak lama, lampu ruangan ini meredup disusul lampu ruangan yang berlawanan dengan cermin tadi, menyala.


Tampaklah dihadapan Naya kini, dua orang yang pernah dia lihat saat kesadaran nya belum hilang. Wanita itu, yang membuka seluruh pakaian nya dan mengganti nya dengan pakaian yang entahlah Naya tak ingat. Yang dia tau, tubuhnya merasakan dingin menusuk tulang, makna nya baju yang dia kenakan saat itu mungkin sebuah lingerie yang menjijikkan untuk dibayangkan.


Mahen melihat reaksi Naya yang memeluk tubuh nya sendiri dengan ekspresi gelisah, ia lalu perlahan mendekati nya.


" Sayang.. Kita tuntaskan disini, lalu kita terapi yaa.. Kamu ok? atau keberatan? ". Tanya Mahen hati-hati.

__ADS_1


" Iya.. Ok, aku ga mau sakit mental ". Naya mengurai tangan nya yang sedari tadi seakan tengah melindungi tubuhnya. Ia membuka telapak tangan nya sambil memandang wajah Mahen yang tengah berlutut dihadapan nya.


" Kuat yaa.. Ada aku ". Mahen meraih telapak tangan Naya yang terbuka, menyelipkan jemari mereka dan menggenggam nya erat.


" Demi Tuhan.. aku hanya diminta oleh tuan Anggara untuk mengganti baju Nona itu. Aku tak punya banyak waktu jadi aku tak begitu memperhatikan tubuh nya, ampuni aku, Tuan ". Pengakuan wanita itu berulang-ulang hanya sampai disini. Rey lalu melanjutkan ke saksi kedua.


" Aku ditugaskan untuk mensetting kamar dengan kamera. Saat kamera On, kami sudah harus pergi dari sana namun saat kami akan melakukan tugas itu, kamar sudah didobrak paksa. Aku jujur ketakutan hingga lari bersembunyi dalam lemari toilet Tuan ".


" Apa saja yang telah Anggara lakukan pada Nona kami? ". Tanya Rey sambil mengacungkan sebuah p*sau dan menempelkan nya pada alat v*tal pria itu.


" A-ku... A-ku... ".


" Jawab!!!! ". Rey menusukkan p*sau yang dia pegang hingga merobek celana pria itu.


" Ampun Tuan.. Jangan... Aku melihat nya meraba tubuh Nona itu, memandangi nya sesaat sebelum Tuan Anggara melepas bajunya.. Hanya itu Tuan, hanya itu, lalu kalian masuk ". Teriaknya kencang.


Naya yang mendengar pengakuan dari pria itu, seketika menangis, kaki jenjang nya ia naikkan ke atas sofa untuk menyembunyikan kepala diantara lututnya, sedangkan kedua tangan nya menutup daun telinga.


" Sayang... Naya... Jangan begini please... Lihat aku Naya.. ". Mahen panik melihat reaksi Naya yang tak terduga.


" Aku kotor.. Aku kotor.. Jangan dekati aku ". Teriaknya berulang kali.


" Sayang, maaf aku harus melakukan ini.. Aku terpaksa, maaf yaa... ". Pertahanan Mahen jebol sudah, ia kini memeluknya, terpaksa memeluk nya dan mengangkat tubuh Naya ke pangkuan nya untuk mengurai kuncian pada tubuh Naya.


" Tenanglah... ada aku, aku yang akan menghapus jejaknya dari mu... Ok? tenanglah ". Tubuh Naya bergetar hebat dalam pelukan Mahen, tangan nya mencengkeram erat jas yang Mahen kenakan. Naya trauma, sudah Mahen duga ini akan berdampak pada mental nya. Jika saja Naya tak mengigau siang itu dengan menyebut " ... lagi disana... " berkali-kali, Mahen tak akan membawa nya kemari.


Sebelum kesadaran nya kembali, alam bawah sadar Naya kerap membuat nya terbangun dan berteriak beberapa kali ditengah malam " Lepaskan aku, Jangan sentuh aku.. Abang akan membunuh mu bila kau sentuh aku ".


Dan disinilah mereka berada. Mahen merasa luka batin ini harus ia sembuhkan agar tak berdampak di masa depan, melepaskan segala yang menyakitkan memang tak mudah namun bukan berarti tidak bisa. Ia yakin bisa melewati ini karena Naya gadis nya yang kuat, yang selalu memberikan sumber kekuatan baginya disaat dia pun tengah merasakan kecewa mendalam.


" Sayang, dengar aku?... Mungkin kali ini sahabat mu yang akan Rey minta kesaksiannya.. Kamu siap? ". Mahen masih memeluknya.


" Abang akan ninggalin aku kan habis ini ". Suara Naya tercekat, ia merasa tak sanggup melewati ini bila mahen memilih meninggalkan nya juga.


" Ainnaya, dengar aku, ayo kita menikah... Aku ga sanggup liat kamu begini ". Mahen membelai lembut kepala gadis yang sedang dalam pelukan nya itu.


"................ Abah? ".


" Aku siap apapun syarat yang akan Abah berikan.. Sekarang, sudah siap dengan kesaksian sahabat mu? masih sanggup untuk melihat nya.. ". Tawar Mahen. Naya menganggukkan kepala nya meski masih bersembunyi dalam hangat nya dekapan Mahen, ia merasa aman dan nyaman.


" Rey.. lanjutkan... Naya sudah siap ".


" Nona... Aku tak percaya anda mampu melakukan semua ini di belakang sahabat anda sendiri? Ckck tega yaa... ". Rey mendekatkan wajah nya nyaris bersentuhan dengan bibir gadis itu. Sebelum dibawa kemari, Dia tidak menyadari bahwa minuman yang telah di teguk nya tadi adalah minuman sama yang berasal dari botol minum Naya yang telah ia campur dengan obat sialan itu di hari naas bagi Naya. Kesadaran nya saat ini nampaknya masih bisa ia kuasai karena reaksi obat belum bekerja.


" Jangan basa basi.. Aku tak menyesal melakukan nya ". Sahut nya lantang menantang Rey.


" Suara Nur... ? kamu.... kamu tega sama aku, apa salah aku... ". Naya mulai memalingkan wajah nya ke arah cermin.. Naya kembali berontak saat ia mengetahui bahwa Dia lah yang telah mencelakai nya. Mahen kesulitan mengendalikan emosi gadis nya, reaksi wajar yang diperlihatkan oleh Naya saat sahabat nya sendiri membuatnya harus mengalami peristiwa yang menjijikkan.


" Apa alasan mu? ". Tanya Rey lagi.


" Hanya Iri.. Dia di gilai banyak kaum pria, termasuk Tristan. Aku yang mengenal Tristan lebih dulu, aku mencintai nya, namun kenapa justru ia berpaling mencintai Naya hanya dalam sekilas pandang?.. Tak cukup puaskah dia hanya dengan satu pria? apa karena kekasihnya cacat dia mencari pelampiasan pada pria lain? dia tak seseksi aku, aku juga sama cantik nya dengan Naya.. tapi kenapa Tristan tak melihat ku? bahkan dia asik bersenang-senang saat aku tau adikku menderita penyakit kebocoran jantung dan harus di transplantasi... Kemana Naya yang katamu bak malaikat itu,, haaaaahh ". Dia mengeluarkan segala kekesalan, amarah, rasa cemburu nya terhadap Naya.

__ADS_1


_____________________________


Sakiiittttttt.... 😢


__ADS_2