
Tiga hari berlalu.
Mahen dan kedua adiknya bergantian menjaga Bapak yang baru dipindahkan ke ruang perawatan. Mahesa dan Mandala, diam-diam mengembalikan semua pengeluaran yang sudah Mahen bayarkan untuk sang Ayah.
" Bang, giliran kita.. Izinkan kita berdua ambil bagian.. Abang sudah terlalu banyak, kita juga mau pahala nya ". Sahut Nanda, sang adik bungsu.
" Untuk Mama saja, biarkan aku ". Mahen menimpali sambil tetap mengerjakan sesuatu di laptop nya.
" Udah kita transfer ke Abang via Mas Rey.. Kalau Abang ga mau, anggap itu dari kita buat sewa WO.. Kami ingin, ketika Abang menikah nanti.. Semua memakai fasilitas terbaik, seperti Abang memperlakukan kita berdua saat menikah dulu... Kita tau, Abang sangat mampu, tapi balik lagi izinkan kami ambil bagian... Boleh yaa ". Nanda memaksa.
Mahen menghentikan sejenak pekerjaan nya, menatap kedua adiknya yang mulai beringsut takut karena tatapan tajam sang kakak.
" Istri kalian tau tentang ini? kebutuhan mereka sudah terpenuhi ".
" Tau... In sya Allah sudah, Abang sering ingetin kami kan ". Jawab keduanya
" Kalian sudah punya keluarga, memang hak kalian memberi pada orang tua.. Tapi kalian juga harus menjaga perasaan istri, terbuka, biar sama-sama ridho... Aku ga mau tiba-tiba Fany, Marsha mengadu padaku lagi... Ingat, aku punya Naya meski dia belum menjadi istriku, lagipula status istri kalian adalah ipar bagi ku, orang lain... Aku ga mau Naya curiga atau hadir perasaan kesal lainnya, meski dia tidak... Aku sedang belajar hal-hal kecil tentang nya, menghadapi Naya didepan mata pasti akan banyak perbedaan dibanding saat berjauhan ". Mahen sering mendapatkan pesan atau panggilan, curhatan istri kedua adiknya dan itu kerap membuatnya jengah.
" Boleh kita lihat foto Naya... Bang? ". Kedua adiknya memang belum pernah melihat foto calon kakak iparnya itu, karena Mama kerap melarang keduanya memasuki kamar Mahen apabila sedang ada dirumah.
" Dia........ ". Mahen memutar laptop nya, menampilkan wallpaper desktop foto Naya pada kedua adiknya.
Degh.. Keduanya menatap foto didepan mata mereka.
" Cantik, masih muda banget... Eh maaf Bang ". Mahesa kelepasan.
" Ckck... Ini yang bikin Abang kita balik ". Nanda mengagumi.
" Dia sulit di dekati bahkan hingga saat ini, ada saja halangan nya, status nya terlalu tinggi.. Sampai saat ini kadang aku masih ada sedikit ragu, apakah aku pantas untuk nya? ".
" Status? ". Mahesa bingung.
" Bangsawan murni, cicit pejabat Kasultanan ".
" Pantas saja... Dan lagi, incaran banyak pria... Bibit Unggul Bang ". Keduanya menganggukkan kepala.
" Aku ga berharap banyak... Biasanya Bangsawan murni harus dengan yang sekufu... Entahlah, jikalau kami tidak harus bersama setidaknya aku bisa melihat nya lagi, memastikan ia aman, nyaman dan bahagia untuk terakhir kali nya ". Mahen menerawang jauh, benarkah hatinya akan mudah melepaskan, sanggupkah ia melupakan? Ini saja sudah membuatnya gila, bagaimana bila dia selamanya berpisah dengan Naya.
" Bang.... ". Nanda baru kali ini melihat kakaknya sendu.
Ketiga nya jarang berkumpul bila tidak ada urusan yang mendesak atau karena keinginan Mama. Mahen menghindari Mahesa dan Marsha, ia tak mau jika rumah tangga mereka sedang memanas, Marsha mencari perlindungan pada nya karena mereka berdua pernah dekat.
Sementara dengan Nanda, adik bungsu nya itu kerap mengganggu nya dengan mengenalkan teman wanita nya dari lingkungan yang kurang Mahen sukai.
Kali ini, ketiga nya berkumpul terlibat perbincangan hangat. Mama yang melihat keakraban yang sudah lama hilang, menangis haru dalam diam di samping brangkar sang suami. Naya, sekali lagi membawa banyak perubahan positif dalam keluarga nya. Mahen kerap mengingatkan ini dan itu pada kedua adiknya. Jika ditanya, tahu dari siapa pastilah jawaban nya, tahu dari Naya.
__ADS_1
" Semoga Allah takdirkan yaa Bang... Aamiin ". Mama menimpali obrolan mereka.
" Aamiin... ". Suara ketiga nya.
***
Solo.
Naya merasa hatinya gundah, gelisah. Biasanya jika merasakan perasaan demikian, ia akan menelepon Mahen. Hanya dia yang bisa menenangkan nya, namun kali ini ia bingung karena tak dapat melakukan hal itu lagi.
" Nduk, ngelamuni sinten? ga baik anak gadis bengong ". Suara kakek buyut.
" Uyut, aku kangen dia... Disini, sesak.... ". Naya meraba hati nya, berusaha terbuka agar restu nya turun.
" Ga bisa Nduk, dia bukan kita.. Kamu akan kehilangan hak mu nanti.. Uyut ga mau.. ".
" Aku ga mau itu... Aku cuma mau dia, hiks ". Naya merebahkan kepalanya dipangkuan Uyut nya.
" Apa istimewa nya dia, Nduk?.... Raden Ahmad Hasbi pilihan yang lebih baik, dia bilang pernah ketemu kamu dikereta yang sama saat kamu ke Jakarta, kamu ingat Ahmad Hasbi? ". (eps.50)
" A Hasbi, Ahmad Hasbi putra Kyai Maksum, Raden? ".
" Iya, Kyai Maksum itu masih mengalir darah Bendara dari garis keturunan diatas nya tapi ga mau make embel-embel.. Uyut kemarin ketemu mereka di acara pernikahan, disana akhirnya Uyut ketemu dengan banyak orang kita yang sudah membaur dengan masyarakat... Ketika uyut cerita baru saja menemukan mu, dan menunjukkan foto mu, Kyai Maksum dan Hasbi mengenal mu ". Kakek buyut mengelus kepala Naya lembut.
" Hasbi mengutarakan keinginannya berniat meng-khitbah kamu, tapi karena Kyai Maksum sakit jadi niatnya tertunda.. Dan kemarin, dia langsung meminta mu pada Uyut... Gimana, nduk? Uyut rasa, tidak terlalu sulit karena kalian sudah saling mengenal.. ". Sambung kakek buyut lagi, menunggu jawaban Naya atas lamaran Raden Ahmad Hasbi.
" Mau? Kabarnya dia akan kerumah mu kalau kamu setuju untuk melamar secara resmi, Uyut minta ke mereka sementara jangan bilang kamu ada disini ".
" Entahlah... Naya mau Abang... Abang sudah banyak melakukan segala nya untukku, menjaga ku, menemani ku, berkorban untukku, dia... Aku memilih nya ". Naya bangkit, menatap buyut nya dengan airmata mengalir dipipi.
" Uyut ga bisa, Nduk.... Maaf ". Kakek buyut nya menatap sang cicit dengan rasa iba, ada bagian hati nya yang terasa sakit. Apakah ini artinya aku lemah? aku berusaha menjaga kemurnian keluarga ku... Batin nya.
" Apa gunanya aku hidup bila tak pernah punya pilihan? aku bahagia ketemu Uyut, keluarga ku yang tak pernah aku tahu... Tapi bila harus seperti ini, aku rela menjadi biasa saja, aku juga menyesal menginginkan ingatan yang hilang itu kembali... A-aku... A-aku menyesal bertemu Uyut ". Naya berlari pergi menuju kamar nya, membanting pintu nya keras.
Braaaaakkkkk.
" Gusti.... Pripun, salahkah aku? ". Kakek buyut menatap kepergian cicit nya.
" No, Kusno... Jangan sampai orang-orang suruhan kekasih Naya tau kediaman ku, siapa nama nya? ". Danarhadi memanggil tangan kanan nya.
" Mahendra Guna, wakil direktur di perusahaan Raden Mas Galuh. Profile nya sudah aku siapkan di meja kerja, Ndoro ".
" Bagus? ". Tanya nya lagi
" Cakap, tampan, mapan, ibadah nya benar, berasal dari keluarga baik.. Ibunya guru dan ayahnya purnawirawan tapi..... ".
" Apa? ".
__ADS_1
" Sedikit... Cacat, pergelangan kaki kirinya diamputasi akibat kecelakaan akibat membawa mobil Raden Mas Galuh.. Satu lagi, dia menyelamatkan kehormatan Den Roro dari orang-orang yang kita singkirkan tempo hari, sepertinya musuh Mahendra Guna.. Dia juga yang menemani terapi mental Den Roro hingga tuntas ".
" Siapa namanya? ".
" Anggara Sumitra, putra sulung Sumitra Land, rival bisnis Raden Mas Galuh ".
" Galuh lagi, ckck anak itu banyak sekali membawa masalah dari masa lalu nya. Pantas saja kemarin dia memintaku merestui mereka berdua... Rupanya Galuh ingin membalas budi pada Mahendra.. Bereskan orang-orang yang mengganggu, aku ingin tahu seberapa besar perjuangan Mahendra untuk cicit ku ". Danarhadi Kusuma melangkah pergi dari taman bunga menuju ruang kerja nya.
" Sendiko dawuh Ndoro ". Kusno lalu memberi perintah baru untuk team nya.
Danarhadi Kusuma, melihat profile Mahen di atas mejanya. Ia membaca banyak latar belakang kontribusi nya di beberapa proyek pemerintah. Ia juga membaca tentang hak paten yang di miliki Mahen tentang alat sensor keamanan. Juga membaca sebuah artikel bahwa dia termasuk salah satu dari 100 orang pemuda berpengaruh di negara ini versi majalah bisnis.
" Sayangnya kamu itu ga sekufu dengan kami... ". Gumam nya lirih, memijat kening nya yang sudah mengeriput.
" No, Profile anak nya siapa tadi? musuh nya pemuda ini dan Galuh? siapkan juga profile Hasbi ".
" Nggih, Ndoro ". Balas Kusno.
Raden Ahmad Hasbi dengan Mahendra Guna, siapa yang akan memenangkan hati kakek buyut Naya?
***
Kediaman Orang tua Naya. Cirebon.
Abah dan Ka Amir mendapatkan kabar dari Mahen bahwa Naya ada di solo. Seketika abah merasa bahwa ini ada campur tangan kakek nya.
" Mir, kalau Abah harus kembali kesana, kamu gimana disini? ".
" Aku gak apa-apa, kan Abah juga bisa memantau aku dari sana ".
" Baiknya kamu sudah menikah saat itu... Adakah wanita pilihan mu saat ini? ".
" Ada tapi dia belum tentu mau denganku, putri Pak Kyai... Lagipula aku takut tidak pantas ".
" Siapa? Abah akan melamarkan untukmu ".
" Nanti saja, setelah urusan Naya beres.. Kasihan Mahen juga digantung anak itu ".
" Sepertinya ini akan sulit, jalan keluar terbaik mungkin aku dan Galuh yang akan turun tangan nanti meski hasil akhir nya masih belum jelas ".
" Semoga semuanya membaik ".
Apakah cinta serumit ini? apakah cinta harus banyak berkorban? lalu apa bedanya cinta dengan nafsu?
________________________
🤧 pusing....
__ADS_1
Obatin pake vote, like dan follow yaak 🥰