Dia.. Pilihan Untuk Ku

Dia.. Pilihan Untuk Ku
MELACAK MATAHARI


__ADS_3

Kakek buyut khawatir, sejak malam hingga menjelang siang hari ini Naya tak keluar kamar kecuali jika akan berangkat siaran di Ratislo.


" War, Naya mana ? ". Tanya nya ke asisten yang ia tugaskan menjaga cicitnya itu.


" Didalam kamar, Ndoro.. Sudah makan tadi, sekarang sedang mengerjakan tugas kuliah nya.. Biasanya lepas ini, Den Roro tidur siang hingga dzuhur ". Jelas nya.


" Dia sedang marah padaku... ".


" Mau saya panggilkan Ndoro? ". Warni menawarkan.


" Biar aku saja.... ".


Tok tok.. Bunyi ketukan di pintu kamar Naya.


" Masuk saja, aku ga tidur ". Sahut suara dari dalam.


" Nduk, kamu marah sama Uyut? ". Danarhadi duduk di sofa kamar itu menghadap cicitnya yang sedang memandang laptop di atas pangkuan nya.


" Engga, kesal saja... Uyut ga ngerti perasaan aku, kalau dulu uyut dijodohkan.. Aku ga mau, pokoknya jawaban ku tetap Abang ".


"................ ". menghela nafas.


" Dia cakap, kamu pinter milih meski dia cacat.... Tapi itu nduk, Uyut masih berat melepaskan kamu ".


" Abang ga cacat.... Dia hanya kehilangan bagian kecil tubuhnya, lagipula tidak kentara karena Abang memakai kaki sintetis... Dan dia menjadi seperti itu karena menyelamatkan seseorang ". Sergah Naya.


" Iya Iya, Uyut tau... Hasbi mau kesini, lusa.. Kamu temui dia yaa ".


" Kalau aku menolak? ". Naya tak suka.


" Ga sopan sama tamu nama nya Nduk, jauh-jauh datang ko ditolak.. Uyut temani kamu nanti ".


" Aku ga minta dia datang kan.... Uyut yang mengundang mereka ". Masih dengan sikap cuek Naya.


" Witing tresno jalaran soko kulino, lunture tresno jalaran ono wong liyo... Kamu suka sama dia karena terbiasa, kehadiran Hasbi bisa menghapus nya Nduk ".


" Tresno iku mergo ati, ora bakal owah tekane mati... Abah mencintai Ummi, tapi Ummi tidak meski melakukan kewajiban nya dengan baik sebagai seorang istri hingga lahir lah aku.... Tapi didalam hati kecil nya, tidak ada Abah disana... Uyut mau aku seperti orang tua ku?.... Baik, jika memang itu keinginan Uyut, mulai hari ini aku serahkan jiwa raga ku semuanya pada Uyut ". Naya menatap tajam sosok bersahaja di depan nya.


" Nduk, bukan gitu maksudnya.. ".


" Pembahasan tentang ini, aku ga mau lagi... Terserah Uyut saja, aku manut daripada di bilang durhaka seperti Abah... Dan lagi, mungkin akulah yang harus mengikuti jejak orang tua ku... ". Naya menutup laptop nya lalu beranjak ke dalam kamar mandi untuk berwudhu. Hatinya sakit, baginya tidak ada tempat lagi mengadu selain Yang Maha Kuasa, Satu-satunya sandaran hati nya di dunia ini, kembali terenggut paksa.


" Nduk.... Kita bicara lagi kalau kamu sudah tenang... Pancen anak Sesa, sama keras nya ". Danarhadi bangkit dari duduk nya dan melangkah keluar kamar Naya.


Awalnya Naya bahagia bertemu Kakek Buyut nya, namun semua berubah ketika Kusno mengetahui semuanya. Bukan Naya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi diluar sana dengan orang-orang suruhan kekasihnya.


Sedikit rasa bangga sekaligus haru, mengetahui bahwa Mahen masih mencarinya hingga kini. Ia akui, selama berjauhan dari nya rasa sayang dan cinta yang awalnya ragu terhadap pria itu perlahan menguat dengan sendirinya. Terkadang memang, kekuatan hadir disaat berjauhan.


***


Jogja.


Saat hanya Rey yang datang sendiri pasca Adnan kembali ke kota nya untuk menemani sang istri yang akan bersalin, Simon tak habis pikir.


" Reynan Lee, lama tak jumpa Bro, makmur hidup kau dengan Abang mu itu! ". Sapa Simon dengan logat khasnya.

__ADS_1


" Makmur donk, kau tau lah Abang ku siapa ".


" Tuan besar sungguh sayang padanya, sampai aku disuruhnya turun ".


" Baaahhh!! memang kau Sims-panse sesekali wajib turun biar kau rasakan nikmat dunia bawah.. ".


" Hahahaha.... ". Keduanya tertawa melepas kerinduan. Dibesarkan bersama dalam asuhan Jimsey Exona meski berbeda tugas dan pekerjaan tak ayal membuat mereka terpisah sekian lama.


" Perkataan mu tempo hari, tentang Regina.. Apa maksudnya? ". Rey masih kesal difitnah oleh Simon.


" Regina sudah meninggal, Overdosis tapi dia sedang mengandung... Siapa tahu anak mu... Hahahaha ". Simon terbahak.


" Si*alaaan.... Aku tidak menyentuh nya ".


" Aku tahu, aku hanya ingin menjatuhkan mu di depan Abang mu saja... Anak pacar nya, pria itu mengakui nya sendiri ".


" Kau tau banyak.... Jangan-jangan kau ikut andil ". Tuduh Rey lagi.


" Aku menyelesaikan kasus mafia obat.. Jomblo tua, jangan asal bicara ".


" Cihh, Sims-panse..... Bagaimana Anggara? Nona? ". Tanya Rey kemudian.


" Aku menemukan seseorang yang sama seperti ku, Adnan bilang selintas mengenal nya... Kusno Kalani dari Matahari... Kau tau dia?... Tentang Tuan Muda Anggara, dia senasib dengan kita, disingkirkan oleh orang yang sama termasuk agent Macau itu juga ". Simon menjelaskan.


Degh..... Rey pernah mendengar Tuan besar satu kali menyebut namanya, saat seleksi anggota untuk membentuk Blackshark.


" Hmm, aku tidak... Lalu bagaimana dengan tugas kuliah Nona? seharusnya ia masih mengirimkan tugas-tugas nya by e-mail.. Kau dapat IP address nya? ".


" No, clear... Orang ini punya alat canggih, aku dan Adnan sempat dibuatnya berputar di satu tempat, dia cerdik... Aku pernah battle dengan nya and getting closer tapi dia mematikan listrik satu blok dan wush.. hilang... Lokasinya seperti tidak ada dalam peta, misterius ". Simon takjub pada strategi nya.


" Ratislo..... Bagaimana? Adnan menemukan Nona disana bukan? ".


" Kita berangkat sekarang.. Pastikan Anggara tidak tau pergerakan kita ". Rey meminta.


" Sudah aku siapkan... Tenang saja, kau tinggal ikuti arahan ku ". Sahut Simon yakin.


Sebelum petang menjelang memasuki pekatnya malam, mereka berdua telah bergerak memasuki kota Solo kembali. Simon sedikit tahu lebih banyak tentang karakter musuhnya.


" Malam ini sedang ada pagelaran seni besar-besaran disana.. Para pejabat hadir, mereka pasti akan fokus disana dan melonggarkan pengawasan nya pada kita ".


" Cerdas.... ". Rey mengakui kemampuan Simon dari dulu dalam hal pengintaian. Tak salah Pak Jim memilih nya untuk misi kali ini.


Mereka menepi di sebuah warung yang tidak terlalu mencolok malam ini, lokasi strategis untuk mengintai. Agar tidak merasa bosan, Simon menyalakan Radio mobilnya.


" Aku suka program sebuah Radio di sini... Kurasa kau juga akan menyukai nya ". Tangan nya menekan tombol menyalakan Radio didalam mobilnya.


" Apa yang kau cari, daritadi tak kunjung dapat ". Rey mulai risih.


" Aku tak taulah apa namanya itu Radio, baru pertama kali pula aku dengar itu suara tapi suka... ". Simon pun mulai kesal.


" Nah... Nah... ini dia, aku suka cara dia bawakan lagu, sapa-sapa pemirsa nya ". Simon memuji.


" Audiens, pendengar.... Pemirsa, kau kira tivi apa? ". Rey kesal.


" ...... Anda sangat berkembang pesat disini, suara Anda terdengar lebih dewasa dari sebelumnya... ". Rey mendengar suara Naya saat siaran dan ia merekam nya.

__ADS_1


" Siapa yang kau maksud.... ".


" Ckckck Sims-panse.... Kau belum diberitahu oleh Adnan? Nona adalah penyiar di Ratislo? suara yang kau kagumi itu.... Suara orang yang kau cari selama ini.. ". Rey tak habis pikir.


" Haa.... What the.... ". Sukses dibuat melongo oleh Rey.


" Makanya punya handphone di pakai, heran, ini yang dinamakan Highlight nya Blackshark? tidak update ". Rey mencibir.


" Youuuuu!! ". Tatap nya tajam.


Lama mereka mengintai hingga akhirnya dini hari sebuah iringan mobil keluar dari Ratislo. Rey dan Simon kali ini dibuat heran, ada 3 iringan mobil yang sama.


" Shiiiiiiittttt.... Kita harus ikuti yang mana? ". Keduanya berbarengan.


" Wait, mobil asing selain kita..... ". Simon melihat ada mobil mengikuti iringan tadi.


" Anggara, Sims... ". Rey menyimpulkan.


" Heeyy, kenapa diam, ikuti.... ". Rey menepuk bahu Simon agar menyalakan mobil.


Namun Simon malah terlihat asik dengan gawai nya, Rey naik pitam melihat aksi nya itu.


" Aku sedang menyalakan mini-spy ku, kemarin aku meletakkan pelacak tidak dapat berfungsi... Mini-spy ku mengikuti dari belakang, semoga lolos... ". Simon melihat gawai sebagai monitor untuk memantau alat nya.


" Aku yang mengemudi, jangkauan signal nya berapa jauh... ". Rey bertukar tempat.


" 2 kilo, lets go.... ". Semangat nya.


Saat hampir mendekati target sasaran, tiba-tiba mini-spy Simon yang berbentuk mobil mainan, teronggok ringsek di tengah jalan.


" Si*aaaaall, ku bilang juga apa kan Rey ". Pekik nya marah.


" Ckckck.... Kau pindai plat nomor nya kan? kita lacak dari sana atau pindai jenis Ban dan body nya saja.. Fasilitas mewah hanya dimiliki kaum tertentu dan pasti terdata... Kecuali mereka mendapatkan nya secara ilegal ". Rey menganalisa. Simon mengabaikannya.


" Haha, rasakan kau Anggara... Nasib mu sama dengan ku ". Simon melihat dari mini-spy satunya yang mengikuti mobil asing tadi, ternyata Anggara juga serupa dengan nya, kehilangan jejak.


***


" Clear, Jend..... ". Suara salah satu pria.


" Back to markas ".


Tuan Mahendra, Tuan Anggara.. Kalian tidak akan bisa semudah itu menembus pertahanan ku, Kusno Kalani Sang Matahari.


" Ndoro, Profile yang Ndoro minta sudah aku letakkan di meja kerja ".


" Aku pulang, siapkan jalur aman ". Suara perintah diseberang.


" Den Roro, aman... Misi selanjutnya, move ". Jawab Sang Jendral cepat.


Aku masih menunggu Anda datang, Mahendra Guna. Aku sangat penasaran dengan kemampuan analisa mu itu yang kerap Raden Mas Galuh bicarakan. Batin Kusno saat menatap Rey yang berjongkok di bahu jalan, memeriksa jejak ban yang menggilas mini-spy Simon, dari pantulan monitor cctv yang berhasil dia dapatkan.


_________________________


Sebok munggahan gaes, telat upload, hihi..

__ADS_1


Kemampuan analisa Rey, diturunkan dari Sang Abang.. Lekaslah datang, Bang... 🥰


Biar Mama kuat jemput Abang, jangan lupa vote, follow juga ig mama_qiev yaa.. Tengkiu gess...


__ADS_2