
Mahen belum bisa memejam, ia masih sibuk merevisi beberapa design perhiasan yang akan mengisi ruang wardrobe Naya dikamar mereka.
Setelah memastikan Martha, sekretaris Pak Jim yang bersedia membantu nya memilihkan beberapa helai gaun tidur dan telah menggantung nya dilemari, Mahen lega. Ia hanya ingin ketika Naya masuk kedalam rumah nya, semua perlengkapan untuknya telah tersedia.
"Jangan yang aneh-aneh Tha, kamu tahu selera istriku, simpel namun elegan."
"Aku paham Pak. Nanti aku akan hias bednya juga, semoga suka." Martha mengirimkan beberapa foto gaun tidur yang telah dibeli nya.
"Good job, Martha. Thanks, aku sudah transfer sekalian titip buat jajan Maurel yaa. Sampaikan juga maaf ku pada Jeffrey, aku telah menyita waktu istri nya." Mahen berterimakasih atas bantuan Martha, juga untuk Maurel batita dengan mata sipit menggemaskan.
Akhirnya semua sempurna tepat pukul satu dini hari.
...***...
Exona Landscape and Building.
Senin pagi semua staf yang mengenal baik Wakil Direktur Mahendra riuh atas kabar terupdate pagi itu.
"Oh jadi Wadirut ga masuk kantor beberapa lama karena cuti menikah di Solo?
"Pak Mahendra menikah dengan Bangsawan? Rabu, resepsi di Cirebon lalu sabtu resepsi di Bogor? orang kaya enak yaa, pesta ga cuma satu kali."
"Wadirut nikah sama abege dan masih kuliah loh."
"Wadirut dapat gelar kehormatan dari Kasultanan."
"Bos Mahen, nikah sama anak pengusaha batik terkenal di kotanya."
"Kabarnya istrinya itu bekerja sebagai staff mall, event, dan penyiar radio juga. Gila, kayak apa sih, penasaran."
"Kayak apa sih istri nya, sama Sandra dan Citra yang bintang Exona aja dia ga lirik."
Begitulah gosip yang terdengar di lingkungan kantor, bahkan divisinya sekalipun.
Undangan berwarna merah marun tua dengan tinta emas, terpajang di layar besar lobby lantai dasar Exona. Menampilkan beberapa slide foto kedua mempelai.
Mahen sendiri tidak tahu konsep ini, semua dikerjakan oleh Rey yang mengambil gambar keduanya candid.
Ruangan Jimsey.
"Ridho, bagikan undangan kepada para pemegang saham bahwa kita akan menggelar RUPS untuk mengenalkan pemegang saham baru. Tentang pengalihan beberapa asset Exona kepada beliau kita lakukan di depan notaris nanti setelah rapat RUPS, Senin pekan depan."
"Baik Pak...." Ridho masih bertanya-tanya, semua nama yang ada dalam dokumen pengalihan itu, terasa asing baginya. Hanya satu nama, ia merasa pernah membacanya atau mendengar nya, tapi dimana? Ridho lupa.
...***...
Kamis. Ba'da subuh, kediaman orang tua Naya.
Pagi ini, pukul sembilan Mahen berencana akan pulang ke Jakarta lebih dulu karena besok acara ngunduh mantu di rumah Mama. Ia ingin sejenak mempunyai waktu berdua dengan istrinya sebelum kembali disibukkan dengan berbagai rangkaian acara.
Di teras depan, Amir mengajak Mahen mengobrol sejenak.
"Aku tau Mas sayang dengan adikku melebihi sayang kami padanya. Namun, bila suatu hari nanti rasa sayang Mas terkikis atau bahkan telah habis untuknya. Aku mohon, jangan terlalu lama menyakiti nya, dia adikku satu-satunya."
"Bila saat itu datang, meski aku berharap tak akan pernah ada. Bilang padaku yaaa, aku yang akan menjemput nya kembali...." Amir tercekat mengatakan kalimat kekhawatiran nya. Ia menyayangi Naya, hanya pada dialah adiknya itu terbuka. Ia berat melepas Naya namun ia tau adiknya sudah menemukan bahagia nya dengan Mahen.
"Ka, In sya Allah, hanya dia yang aku mau hingga akhir hidup ku. Aku memang hanya manusia biasa, tapi aku akan berusaha menjaga ikrar ku sewaktu akad lalu. Do'akan kami." Mahen tak kalah berat, ia tau keduanya dekat.
"Dan ini, sandi Handphone wanita yang kak Amir temukan. Nama nya Almahyra Firdaus, usianya dua tahun diatas Naya. Keponakan pemilik pondok pesantren putri di Semarang, Al-ishlah. Pernah gagal menikah karena calon suaminya meninggal saat study di Kairo. Penyuka warna Hijau, persis casing handphone nya. Fasih berbahasa Arab, diasuh pamannya sejak usia 10 tahun. Go on ka, semoga jodoh, dia free belum ada yang melamarnya lagi."
"Wuah, keren. Gimana caranya dapat semua info itu Mas...."
"Ehm, rahasia. Aku bantu yaa biar dekat."
"Hmm jangan-jangan, ke Naya juga gitu yaa. Udah di incer lama."
"Betul, aku mencari tahu dan berusaha mendekatinya selama enam bulan, waktu terlama bagiku mendekati seorang gadis. Untuk mendapatkan sikap manis Naya padaku yang seperti ini, sangat banyak perjuangan. Karenanya aku ga akan mempermainkan hati Naya, juga hati kedua keluarga, do'akan kami yaa." Mahen menatap kakak iparnya sungguh-sungguh.
"Ridho Allah ada pada ridho orang tua. Keluarga ku dan Mas, Sama-sama redho, insya Allah banyak rahmat dan keberkahan didalam nya, aamiin."
Keduanya larut dalam obrolan sesama pria hingga waktu duha datang. Tak lama setelah menunaikan sholat duha, Mahen pun bersiap pamit.
"Kabari kalau sudah sampai ya Mas. Besok abah nyusul kesana. Nduk, ikuti kata suami mu. Bakti sama suami dan mertua mu disana. Inget yaa jangan ngambekan lagi, telaten sabar, udah jadi istri...," Pesan Abah.
"Iya." Naya memeluk Abah nya lama, bergantian dengan sang kakak, tangisnya pecah.
...***...
__ADS_1
Jam satu siang, Rey yang telah kembali ke Jakarta kemarin menjemput mereka di Gambir dan langsung mengantar ke Orchid, Cibubur.
"Bos, Mba Susi aku minta full time dan sudah ada di Orchid sejak pagi ini."
"Thanks Rey."
"Sayang, masih pusing?" Mahen melirik Naya yang sedari tadi hanya diam.
"Engga. Ngantuk. Vitamin dokter Maura bikin aku makan tidur terus yaa. Melar deh."
"Tubuh kamu, terlalu lelah dan butuh recovery. Biar lekas sehat maka butuh di istirahatkan."
Orchid Tower, Cibubur.
Rey tak ikut Mahen naik, ia menuju kantor administrasi lebih dulu untuk menyerahkan dokumen kepindahan dan status Naya agar dapat memiliki kartu akses masuk ekslusif.
"Aku gak berasa pindahan. Gak bawa apa-apa kesini."
"Banyak toko di bawah, Sayang, kita beli baju nanti malam yaa. Lagian sekarang kamu ga butuh baju," bisik Mahen nakal saat menaiki lift menuju lantai 10, unit tempatnya tinggal.
"Ish. Mesum...."
"Mesumin kamu tuh banyak pahala nya. Why not." Tawanya renyah seiring bunyi lift yang terbuka, beda hal nya dengan Naya yang nervous.
"Sampai. Welcome Home Baby. Satu-satunya Wanita yang pernah masuk ke sini, cuma kamu ... Istriku." Mahen menekan password unitnya sembari tangan kirinya mengusap kepala Naya dan menggandeng masuk.
"Siang Den, Non. Selamat datang kembali...." Sapa Mba Susi saat mereka berdua baru saja masuk.
"Makasih Mba, ini Naya, Ainnaya. Istri ku."
"Non, saya Susi, yang betah disini yaa Non, tegur saya kalau salah, jangan sungkan."
"Hallo Mba Susi, sabar ngadepin aku yaa yang banyak ga tahu nya."
"Mba, nanti kalau Rey datang, tunggu di ruang kerjaku yaa. Aku ke kamar dulu. Yuk, Sayang." Mahen menarik lembut tangan Naya menuju kamarnya.
Cklaak.
"Ini kamar kita. Semoga kamu suka."
Naya hanya tersenyum manis. Kamar yang rapih, wallpaper hijau kombinasi kuning di satu sisi, dipadu dengan cat warna soft, cozy. Dengan mini balkon dan sisi ranjang menghadap kaca dengan pemandangan gedung pencakar langit disekitarnya.
"Abang, koleksi tas, sepatu dan perhiasan? banyak banget. Punya siapa? ".
"Kamu lah, siapa lagi. Honey, di masa depan akan banyak undangan bisnis yang harus aku hadiri, aku mau kamu ikut pun jika aku keluar kota, harus kamu temani."
Naya kembali tersenyum,"Aku ga sangka, Abang se perfect ini."
"Cuma buat kamu...."
Tok tok. Pintu kamar diketuk.
"Den, Pak Rey sudah di ruang kerja."
"Makasih Mba."
"Aku tinggal sebentar, ruang kerjaku di ujung dekat pintu masuk kalau kamu ga sabar." Mahen mengedipkan matanya.
"Apaan sih? Aku mau mandi dulu, gerah." Naya melangkah menuju bathtub meninggalkan Mahen yang beranjak keluar kamar.
Setengah jam berlalu, Naya masih sibuk mencari baju santainya. Hanya ada lingerie dan baju formal, serta gaun malam di sana. Naya bingung hingga Mahen masuk kamar pun tak ia sadari.
"Honey kamu kok sudah selesai mandi, kenapa ga tunggu aku?" Mahen memeluk dari belakang tubuh Naya, menghidu wangi di tubuhnya.
"Baju tidurku mana? kok gak ada?"
"Ga usah pake baju. Sayang, aku...." Mahen menarik tali bathrobe yang Naya kenakan perlahan, pria itu menginginkan sesuatu.
"Hmm, A-bang, sholat dulu."
"Tunggu aku sayang." Mahen bergegas mengambil wudhu lalu bersiap sunnah dua rokaat dengan istrinya.
Setelah salam, dia menarik Naya dalam pelukan, membisikkan doa serta harapan lalu mengecup mesra keningnya perlahan turun menghujani dengan sentuhan cinta di tempat lainnya.
Mahen mengangkat tubuh sang istri dan membaringkan di atas ranjang, memandangi wujud mahluk tuhan paling sempurna miliknya.
"Jangan. Jangan!"Naya masih terbayang tatapan Anggara yang melecehkannya.
__ADS_1
"Baby, Naya. Buka matamu, lihat aku. Aku yang akan menghapusnya, semuanya hanya akan ada jejak aku." Mahen menatap manik mata istrinya dalam, perlahan turun menyusuri setiap inci wajah. Tak lupa ia membisikkan doa di telinga Naya jika Allah memberikan amanah, ia harap menjadi keturunan yang sholih sholihah.
Siang menghangat di salah satu hunian kamar Orchid tower yang baru saja mendapatkan tambahan penghuni baru.
"Ainnaya. Love you, Sayang." Sang pria membubuhkan banyak tanda cinta untuk kekasih hati.
"Kamu milikku. Hanya milikku. Baby, jangan pernah tinggalkan aku lagi," bisiknya lagi.
"In sya Allah," balas Naya, memandang suami yang memeluknya kini.
Keduanya bergelung di bawah selimut yang sama, mengikis jarak, membawa cinta dan sayang nan membuncah dalam pelukan hingga keduanya tertidur.
Aktivitas ibadah halal yang mereka lakukan siang tadi membuat keduanya hampir melewatkan waktu asar.
"Honey. Ya ampun, sudah mau habis waktu salat Ashar. Aku duluan ya," ucap Naya menggeliat manja dalam pelukan hangat Mahen.
"Aku duluan." Putri Brajawisesa beringsut. Namun, Mahen menuju bathroom tak ingin sendiri.
Rasa hati ingin berendam akan tetapi waktu tak berpihak. Dia juga lalai, menunda untuk segera bersuci sehingga terlambat melakukan kewajiban lainnya.
Sementara menunggu Naya selesai, Mahen yang lebih dulu selesai mandi bergegas mengganti seprei akibat aksi mereka. Tak ingin privasinya terbuka, lelaki itu menuju lantai dasar untuk mencuci.
"Mba, makan malam sudah siap? tolong antar ke kamar yaa," pintanya pada ART saat dia akan melangkah ke ruang cuci. Tak rela bilamana moment manis sang istri terbagi dengan orang lain.
***
Club Malam.
Beberapa pasang mata mengawasi seorang pria perlente di sebuah meja. Anggara nampak sedang menyusun strategi penjegalan iringan mobil Naya saat akan menuju gedung resepsi. Kala semuanya ia yakini telah sempurna, segerombolan pria itu bubar. Namun nahas.
"Tuan Anggara, anda ditahan atas tuduhan penculikan, penyekapan, dan tindakan kejahatan melukai seseorang dengan sajam." Petugas menjegal laju rencana si pembuat onar.
"Apa-apaan ini. Hubungi pengacara ku!" protes Anggara pada petugas berwajib.
"Anda berhak didampingi oleh pengacara. Silakan ikut kami," kata petugas tegas meminta kooperatif.
"Aku menolak!" Anggara melenggang begitu saja.
"Maaf kan kami."
Brugh.
Dua orang petugas memborgol paksa. Bukan hanya Anggara, tapi semua yang terlibat dalam rencananya. Segerombolan pria tadi pun tak luput dari penangkapan malam itu.
Sementara di Kondominium megah Sumitra.
"Jim, aku mohon. Lepaskan dia." Sumitra melakukan panggilan dengan Jimsey memohon untuk sang putra mahkota.
"Aku sudah muak. Janji palsu. Kerahkan kemampuan mu jika kau mampu," Jimsey menutup panggilan Sumitra.
Sumitra panik, ia memanggil semua pengacaranya untuk membebaskan Anggara dari kantor polisi malam itu.
"Tahanlah dia, sampai resepsi dan pengumuman pemegang saham selesai." Perintah Jimsey pada seseorang.
***
"Sayang, beli bajunya besok lagi yaa. Sudah malam. Lagian kamu lemes gini." Mahen menciumi kepala istrinya. Kini pasangan pengantin sedang menjalin bonding sambil melihat program acara sebuah televisi didalam kamar.
"He-em."
"Capek yaa."
Naya melepaskan diri dari pelukan Mahen dan terburu bangkit berjalan menuju ranjang agar tubuhnya kembali rileks. Seketika bagian bawah tubuhnya berkedut nyeri.
"Kan.nPelan-pelan." Mahen lalu mengangkat tubuh Naya menuju ranjang.
"Bobok duluan. Love you sayang, makasih yaa."
Putri Brajawisesa perlahan memejam. Sementara sang menantu Kusuma sekilas melihat pesan Rey saat akan mematikan lampu kamar, mengatakan agar ia membuka email nya, perihal izin bagi Rey karena akan membuat video perjalanan kisah mereka untuk di putar saat resepsi nanti.
Juga, besok ada rencana foto prewedding indoor bila waktunya cukup.
_______________________
Yeaaay, potong pita, akhirnya... 😅
Pengen bikin yang panas, takut ga cukup... Sisa 1 part lagi...
__ADS_1
2175 kata di jam 00.00 malam... (revisi 25 Maret 2023 menjadi 1919 kata)