
Sentul International Hospital. Sudah menjelang weekend
Di VIP 2 Lantai 5. Kamar dimana ayah Mahen dirawat, saat ini ayahnya baru saja minum obat dan tertidur pasca kunjungan dokter siang tadi.
Mahen tidur dan bekerja dari sini, bilamana ada hal yang mengharuskan ia meninggalkan rumah sakit pastilah ada orang nya yang bergantian berjaga. Ia tak mengizinkan Mama tidur menemani nya karena kondisi Mama juga rentan kelelahan.
" Bram, ada siapa didalam? ". Tanya mahen kala baru saja tiba kembali dirumah sakit. Ia keluar sebentar karena ada meeting yang tidak bisa ditunda.
" Adik ipar anda, Adik dan Mama serta keponakan anda baru saja menuju cafetaria di lantai dasar Bos ". Bram menjelaskan.
" Aku menyusul mereka saja ke bawah ". Mahen malas bila harus berhadapan dengan Marsha.
Ceklek, suara pintu kamar dibuka dari dalam.
" Bang... Daritadi? ko ga masuk? ".
Baru saja Mahen akan melangkahkan kaki menjauh, Marsha memanggilnya.
" Aku akan ke bawah Cha ". Sahutnya tanpa melihat ke arah Marsha.
" Aku mau bicara, boleh? 10 menit ". Pinta nya kemudian.
" 5 menit, ditaman... Aku ga mau Esa salah paham ".
Mereka berdua menuju taman kecil di tengah paviliun kamar VIP.
" Silakan bicara, waktu mu tak banyak ". Ujar Mahen dingin.
" Kamu yakin akan menikah dengan anak itu? yakin dia sayang sama kamu? Jangan-jangan hanya ingin pansos saja... Bisa apa dia hingga kamu begini? ".
" Maksudmu, dan juga apa urusan mu?.. Katamu Naya bisa apa? apa aku harus jujur meski menyakiti mu? ". Mahen mengernyit heran.
" Sejujurnya aku menikah dengan Mahesa, karena aku ingin tetap dekat dengan kamu... Bang, kamu masih sayang kan sama aku? jujur.... ".
" Kamu waras Cha? non sense... Aku pergi ". Mahen mengernyit tak habis pikir.
" Mahendra.. Sewaktu kamu dengan Melissa, setidaknya aku tak tersisih dari sisi mu meski status ku adik ipar... Aku masih sayang sama kamu... Tapi melihat mu begini dengan gadis itu, aku ga mau kamu lupain aku... ".
" Jaga ucapan mu... Kamu dan Naya, tidak sepadan... Perbaiki hubungan mu dengan adikku, jangan kamu sia-siakan Mahesa yang tulus mencintaimu Cha... ". Mahen beranjak pergi meninggalkan Marsha meski ia memanggilnya beberapa kali.
Didalam lift, Mahen tak habis pikir. Bisa-bisanya Marsha begitu, inilah alasan mengapa ia enggan pulang meski Mama kerap meminta nya berkumpul saat weekend, karena Marsha pernah mengatakan padanya bahwa ia menyesal dahulu telah memilih Mahesa, adiknya itu.
" Sayang, ketika banyak fitnah yang berdatangan... Aku makin kangen kamu... Kamu tempat berdiskusi hal-hal yang kurang aku mengerti... ". Mahen berkata lirih.
Niatnya yang hendak menyusul Ibunda dan melihat keponakan nya, ia urungkan. Mahen mengayunkan langkah kaki nya menuju ke basement, menunggu didalam mobil nya hingga Mahesa pulang sembari berkoordinasi dengan team Shadow.
" Bram, aku besok menyusul Rey, siapkan semua nya untukku ". Tulis nya pada pesan yang dikirim ke asisten nya itu.
" Baik Bos, clear area, konfirm ".
Semalam Rey telah menyampaikan kabar terbaru tentang Anggara yang telah tiba disana. Tentang Kusno Kalani meski Adnan juga sudah merinci sepak terjang nya dan melaporkan pada Mahen, tak lupa analisa sementara yang terpikirkan oleh Rey.
" Rey, aku menyusul, tak ada yang tahu aku akan pergi esok, hanya kamu dan Bram... Jaga semuanya untukku ".
" Baik Bos ". Balas Rey singkat.
" Alex... Keluarga Naya, jagalah lebih ekstra mulai malam ini, aku titipkan mereka padamu ". Kali ini Mahen berkoordinasi dengan Alex.
" Copied Bos, aku dan Candi masih melakukan tugas terakhir yang anda berikan ". Alex diberi misi rahasia oleh Mahen selama kurun waktu pencarian Naya.
" Thanks guys... ". Mahen mengirimkan pesan beruntun pada semua team nya.
__ADS_1
Ia memijat pelipisnya pelan, hati dan otak nya harus tetap jernih, selangkah lagi untuk menjemput wanita nya kembali dengan meminimalisir resiko karena bukan tidak mungkin, ancaman itu masih akan berlaku.
Jok mobilnya ia rendahkan, agar bisa merebahkan badan nya lebih landai dan nyaman sembari memutar rekaman suara kekasihnya yang Adnan kirimkan pekan lalu.
" Sayang......... Kamu mudah untuk dicintai, semoga hati mu tetap menjadi milikku... Ainnaya ". Mahen menikmati suara gadisnya yang merdu saat live cover lagu.
Entah terbawa suasana syahdu, Mahen terlelap didalam mobil nya hingga suara ponsel nya lah yang membangunkan.
" Ya halo,..... ". Matanya masih terpejam namun tangan nya telah menekan sebuah tombol disana.
" Abang dimana? katanya sebentar, sudah mau ashar ini, sudah makan belum? ". Suara Mama.
" Eh, jam berapa? aku di basement sama Naya... ".
" Naya disini? ". Suara Mama sumringah.
" Eh maksudku, suara Naya.. Belum, sebentar lagi dia disisiku.. Doain Ma.. ".
" Selalu... Ya sudah sini, Esa sudah pulang, Abang kenapa masih menghindari adikmu? ".
" Marsha Ma, bukan Esa... Nanti aku cerita, jika sudah ada Naya , sekalian melihat respon nya juga ".
" Ya sudah, lekas kemari Bang... tadi dokter ada berita tentang Bapak ".
" Aku naik... ".
10 menit kemudian Mahen telah berada dalam kamar perawatan sang ayah.
" Dokter bilang, Bapak sudah boleh pulang.. Sambil terapi seminggu dua kali, senam jantung ringan dan sebagainya.. Menurut Abang gimana? ".
" Yang penting aktif bergerak namun tidak olahraga berat, untuk asupan nutrisi Bapak, aku sudah minta untuk dibuatkan daftar menu satu bulan ke ahli gizi nya Ma... Selama 2 minggu, akan ada suster ke rumah untuk rutin kontrol Bapak ".
" Abang, kamu itu selalu bekerja lebih dulu sebelum diminta ". Mama terharu.
" Pergilah, pergilah temui dia Nak... Lama disana pun Mama redho, ada Nanda dan Esa disini... Sudah waktunya Abang pikirkan masa depan Abang... Jangan repot demi kita lagi... Yaaa! ". Mama membelai wajah tampan anak sulung nya itu.
" Alhamdulillah, doanya ya Maa... ".
" Istirahat Bang... Biar besok segar, mau ketemu kan, jangan sampai Mama di komplain ga bisa ingetin Abang buat jaga diri selama alarm Abang jauh.... ".
" Alarm.... ".
" Naya itu alarm Abang... Rem nya Abang... Bener kan? ".
".......... ". Mahen hanya tersenyum cerah.
" Salam dari kami, kalau ketemu Naya, Bang ". Suara Bapak menimpali.
" Sampaikan maaf kami pada keluarga Naya juga belum bisa silaturahim ke sana ". Sambung nya lagi.
" Aku sambungkan dengan Ka Amir, mau Pak? ".
" Mama saja yang bicara, Bapak belum boleh banyak bicara ". Sambut Mama.
Mahen mencoba melakukan panggilan ke nomor Ka Amir, tapi nampaknya Ka Amir sedang sibuk hingga panggilan Mahen berakhir pun masih tidak terjawab.
" Ga dijawab Ma, biasanya ka Amir lagi keluar atau sedang ngajar di Majlis.. Dia kadang sama kayak aku, sesekali ponsel nya hanya mode getar ".
" Sudah hafal sampe ke saudara nya.... ". Bapak tersenyum.
Malam itu karena terakhir di rumah sakit, Mama menginap karena harus berkemas pulang sebelum Mahen pergi menyusul Naya.
__ADS_1
***
Joglo Ageng, Solo.
Sesuai perkataan Danarhadi tempo hari, rumah nya dikunjungi oleh dua orang kerabat jauh dari silsilah nya.
" Nduk, Hasbi dan Kyai Maksum sudah datang ". Suara Danarhadi didepan kamar Naya.
" Iya... Aku keluar sebentar lagi ".
" Assalamu'alaikum Naya... Kita ketemu lagi ". Sapa Hasbi ramah ketika Naya sudah ada didepan nya.
" Wa'alaikumussalam, Yai, A Hasbi... Dari tegal atau darimana? ". Tanya Naya basa basi.
" Dari tegal sengaja ke sini buat lihat dan lamar kamu ". Kyai Maksum menimpali.
" Aku sudah menyerahkan segala nya ke Kakek Buyut, tapi aku juga masih punya Abah, Yai... ". Naya mengkode halus, setidaknya Abah tau keinginan nya, dan Kyai Maksum mau tak mau harus meminta izin Abah dahulu meskipun Kakek buyut nya setuju.
" Nggih Nduk, Fahim.... ". Kyai Maksum mengangguk sambil tersenyum.
" Naya, bisa kita bicara sebentar? ".
" War.... Antar Ndoro mu ini ke paviliun ". Danarhadi meminta asisten Naya mengantar keduanya.
Paviliun.
" Naya, kamu keberatan? ". Tanya hasbi kemudian setelah mereka duduk.
" Hatiku, sudah ada penghuni nya A, bila harus memaksa masuk, akan terasa sesak disana karena aku tak mungkin mengeluarkan yang sudah bermukim lama ". Naya menunduk.
" Kita coba, mau? aku siap apapun resiko nya nanti... Setidaknya aku tidak menyesal, karena tahu kepastian nya... ".
" Mencoba untuk jawaban yang sudah pasti? apa tidak sia-sia?.... A Hasbi pasti punya banyak kenalan wanita yang memang sholihah dibanding aku atau bisa jadi, sudah banyak malah yang meminta mu ".
" Seperti yang kamu bilang, hati ku sudah ada pemilik nya.. Kamu ".
" Terserah kalau begitu... Toh aku juga tidak pernah bisa berbuat banyak ".
Naya dan Hasbi menghabiskan satu jam untuk mengobrol hal-hal yang mengganggu kedua nya. Hingga panggilan dari Danarhadi menghentikan obrolan mereka.
" Mas, pulang yuk sudah malam ". Suara Kyai Maksum mengajak anaknya mendekat.
" Nggih Buya..... Naya, bismillah yaa.. ". Hasbi terlihat berharap.
" Hem... ". Sahut Naya lirih.
" Pamit ya Nduk, sampai ketemu lagi ahad depan, in sya Allah kalau takdir ". Tegas Kyai Maksum.
" Nggih Yai... ".
Malam ini Naya gamang, pikiran nya berkelana. Ia sempat tak sengaja mendengar nama Sumitra Land disebut oleh Kusno tadi siang. Akankah Anggara yang dimaksud ada disini?
" Abang, abang dimana.... Apa Abang ga kepikiran bikin misi buat kita kabur gitu? Hiks... ".
" Eeh, jangan deng, keluarga ku, Mama.. Orang itu, ancaman itu.... Jangan-jangan, ya Allah aku becanda... Lindungi orang-orang yang aku sayang saja... Termasuk dia, dia ya Robb ku ". Naya sudah sangat gugup, panik, gelisah hingga bergumam, teriak, bahkan menangis sendiri didalam kamarnya.
Keputusan asa-an yang ia alami, kian mencengkeram erat seluruh nadi nya, malam itu.
" Apakah aku boleh meminta agar dia menjadi takdir ku, ya Robb? apakah aku serakah? ". Tangisnya pilu, terduduk dilantai bersandar disisi ranjang king size kamarnya.
______________________
__ADS_1
Mau ikut Abang ga? buru packing.... 😅
Vote, follow, like komen... Jangan sampai ketinggalan ya gess hihi.. ❤