Dia.. Pilihan Untuk Ku

Dia.. Pilihan Untuk Ku
PERMATA HATI


__ADS_3

Semalam ternyata Mama menelpon nya tapi Mahen telah tidur padahal baru jam 9 malam. Berada didekat Naya, membawa nya ingin selalu bersentuhan fisik. Mahen tak menelpon balik Mama, ia sedang tidak ingin di ganggu oleh siapapun.


" Mau kemana? masih gelap, kamu ga boleh ngapa-ngapain disini ". Mahen menarik lengan istrinya kembali ke tempat tidur setelah subuh.


" Siapin sarapan kan mau ke Mama, siang nanti ada acara ".


" Ga usah, kan aku udah bilang breakfast pagi ini tuh kamu... ". Sepagi itu, dua insan yang sedang berada di puncak asmara mengulangi aktivitas panas layaknya kemarin siang.


Jam delapan pagi. Mahen yang telah bangun lebih dulu, membawa seikat buket bunga mawar untuk Naya. Ia memesan nya dari toko florist di lantai dasar Orchid Tower.


" Baby.... Bangun, kita bersiap ke Mama... Ka Abyan sudah Rey jemput di Bandara.. Ka Amir dan rombongan sudah mau masuk cikampek ". Naya masih terbaring, malas beranjak. Tubuhnya terasa sakit semua, Mahen tak sabar, ia kembali mengecupi bahu istrinya yang terbuka hingga Naya terbangun.


" Cape dan masih ngantuk........ Apa ini? ". suara serak khas bangun tidur nya mulai terdengar.


" Rose Pink nya ga restock... Buat kamu karena sudah sangat manis sejak kemarin... Kiss.. Kiss.. Makasih Baby ".


" Honey so sweet, makasih... ". Kepalanya menyembul dari dibalik selimut yang ia tarik untuk menutupi tubuh polosnya, lalu Naya tersenyum manis.


" Mandi yuk... Kita tunggu mereka di Jagorawi ".



*


Amir menanyakan lokasi penjemputan mereka pada Mahen saat telah memasuki kawasan tol Jagorawi.


" Mas, aku tunggu dimana? ". Amir menelpon Mahen dengan handsfree di mobilnya.


" Aku sudah di rest area sebelum masuk Jagorawi kak... Dunkins outlet dekat mushola.. Naya minta beli ice coffee disini ".


" Accord atau Camry yaa Mas? ".


" Hmmm, aku pake BMW Sport silver ka... Accord dan Camry mobil kantor.. Vios ku dipakai Rey jemput ka Abyan.. ".


" Banyak amat Mas, punya berapa sih? ... Nanti aku call lagi deh ".


" Cuma dua ka... Belum sebanyak Pak Jim atau Abah... ". Mahen mengakhiri panggilan dengan ka Amir seiring dengan Rey yang juga sedang di line tunggu.


" Bos, Ka Abyan sudah aku jemput... Sekarang menuju Rumah anda blok A ". Rey report.


" Ok Rey.. Disana ada Mba Tri dan Mang Arul. Aku udah noted ke mereka berdua... Kamu atur sisa nya ".


***


Sentul Green park.


Mahen tiba dengan rombongan Ka Amir, mobil mereka dipersilahkan masuk garasi.


" Assalamu'alaikum Abah, jauh yaa... Istirahat dulu disini sebelum ke Mama ". Mahen menyalami mertuanya yang baru turun dari mobil beserta tamu lainnya.


" Wa'alaikumussalam... Rumah siapa Mas? ". Tanya Abah takjub pada fasad depan rumah minimalis berlantai dua.


" Aku Bah... Ini dekat dengan rumah Mama hanya beda Blok saja... ". Abah hanya tersenyum dan mengikuti Mahen masuk kedalam rumah.


" Assalamu'alaikum.... ".


" Wa'alaikumussalam.... ". Abyan yang tiba lebih dulu menyambut dan memeluk Mahen.


" Maaf ya Mas, aku ga hadir saat di Solo dan lamaran kemarin... Malam tadi baru balik safar dengan mertua dan langsung flight ke sini.. ".


" Gak apa ka, makasih udah datang hari ini.. Ada Mba Tri dan mang Arul, bisa dimintai tolong kalau perlu sesuatu yaa... Jangan sungkan, silakan istirahat semuanya... ".


Kedua ART Mahen sigap menyiapkan segala sesuatu nya. Rombongan lalu langsung beristirahat random, ada yang dilantai bawah sebagian lagi diatas.


Mahen bersama staff EO nampak sibuk menyiapkan keperluan untuk keluarga Naya.


" Sayang... Aku ke Mama yaa, kalau butuh sesuatu minta ke Mba Tri.... Kamu ga usah kerjain apa-apa ". Kecup nya di bibir Naya beberapa kali meski ada kedua kakak ipar di depan mereka.


" Jomblo jadi obat nyamuk.. Uhulk ". Celoteh Amir.


" Aku ga lihat ". Seru Ka Abyan berpura acuh meski sedang berbincang dengan adiknya itu.


" Hahaha.. Maaf, kelepasan... Aku tinggal dulu ya kak.. ".


Mahen meninggalkan kediaman nya di cluster A menuju rumah Mama mengingat waktu nya semakin sempit untuk dia bersiap.

__ADS_1


*


Ba'da Sholat Jum'at rombongan Naya tiba di kediaman Mama Rosi, nuansa seragam keluarga Naya serba hijau pupus doff menambah kesan anggun, sejuk dipandang terlebih keluarga Naya pusat perhatian karena selain cantik dan tampan mereka juga kalem khas orang Jawa.


Rangkaian prosesi acara telah di mulai oleh MC. Hingga tibalah saat nya penyerahan secara resmi Naya pada Bapak dan Mahen untuk menjadi bagian keluarga mereka.


" Aku titipkan, jiwa raga anakku yang bernama Raden Roro Ainnur Dinarabraja atau Ainnaya Misbach Shaki pada keluarga Anda dan suami nya Raden Panji Mahendra Guna, untuk di bimbing dalam ketaatan, berbakti pada suami dan mertua nya sebagai jalan ibadah mencari ridho Allah untuk menuju Jannah-Nya... Pun untuk di sayangi dan dihargai sebagai bagian anggota keluarga... Mohon di maafkan, ditegur dengan lembut, bila ia salah... Kembalikan kepada kami apabila anakku tidak dapat menunaikan tugas nya untuk menjaga kehormatan diri dan keluarga sebagai anak, sebagai istri dengan baik atau bilamana Den Panji sudah tidak menyayangi ny lagi di kemudian hari... Aku akan menerima nya kembali ". Abah mengatakan kalimat panjang nya dengan suara parau.


" Aku Gandabayu menerima Raden Roro......... sebagai anakku, menantu ku dan istri dari anakku Raden Panji.... Akan kami sayangi ia dengan segenap hati ".


Suasana haru terasa, terlebih saat Ka Abyan memberikan nasehat nya.


" Nduk Naya sayang, kakak tau kamu telah menemukan bahagia mu... Kami ikhlas melepasmu disini untuk beribadah sepanjang hayat, jiwa raga mu sudah tergadai di tangan suami mu, ikutilah ia baik buruknya jangan kau umbar keluar dari kamarmu... Titipkan cinta dan sayang mu hanya pada Allah, biarkan Yang Maha Rahiiim menjaga cinta kalian.. ". Abyan mencium kening Naya lama, ia meneteskan airmata nya. Abyan yang tegas dan terkesan dingin, luluh melepas adiknya berumah tangga.


" Mas... Aku titip dia, tulang rawan yang bengkok... Pelan kan suaramu, rendahkan tubuh mu saat ingin membuatnya sedikit melunak... Aku yakin adikku akan mendengar suami nya ". Abyan beralih pada Mahen.


Naya sudah sangat terisak menundukkan kepala nya, Mahen hanya bisa menggenggam jemari istrinya sesekali mengusap kepalanya sayang.


" Nduk... Ka Amir akan tetap sama... Salah ya salah, benar yaa benar... Jaga diri, jaga kehormatan dimana berada yaa, ka Amir tahu Naya itu anak manis apalagi sudah ketemu pawang nya... Jangan nangis, yang ikhlas biar kami juga ringan melepas mu.. Yaa !! ". Amir mengusap airmata di wajah mungil nan Ayu dengan tangan nya. Naya tak kuat, ia memeluk kakak bagai malaikat nya itu.


" Dek, semangat jadi istri dan anak yang sholihah, ibu yang hebat bagai Sayyidah Maryam dan Fatimah... Lembut dan teguh bagai Sayyidah Khadijah... Mba mendukung mu ". Qonita, istri Abyan menciumi wajah Naya adik ipar kecilnya yang manja.


Tidak ada netra yang tak basah melihat betapa lembut keluarga Naya merelakan anak gadis kesayangan mereka dengan segudang nasehat yang meneduhkan hati.


Mama Rosi menarik dan memeluk Naya erat dalam dekapan. Membelai kepala menantu nya sayang.


" In sya Allah, Naya akan jadi anakku yang sholihah... Permata hati kalian akan kami jaga dengan sebaik nya ". Mama Rosi ikut bicara.


Setelah sesi mengharu biru, MC melanjutkan acara dengan ramah tamah dan jamuan yang telah disediakan. Ka Amir dan Abyan terlihat berbincang dengan kedua adik Mahen. Sementara Abah asik bernostalgia dengan Bapak dan Om Gatra. Mama Rosi sibuk dengan tamu lainnya.


Ashar menjelang, Bapak meminta Abah menjadi Imam sholat Ashar bagi semua tamu di kediaman nya. Namun Abah menyerahkan pada Abyan, dan Abyan sengaja menyerahkan pada Amir. Ia rindu mendengar suara adiknya saat melantunkan ayat Allah.


Setelah Abyan iqamah, Amir menjadi imam sholat di kediaman Mama Rosi. Suaranya yang merdu dan lembut, dengan makhrojl huruf yang sangat baik dalam melantunkan bacaan sholat membuat Naya terisak lagi. Suara ini akan ia rindukan, suara ka Amir yang kerap murojaah ditemani oleh nya, ia yang kerap tadarus di majlis rumah nya.


Menjelang Maghrib, keluarga Naya pamit kembali untuk beristirahat di rumah Mahen.


" Aku ikut yaa... ". Naya memohon pada suaminya dan Mahen mengizinkan.


" Aku susul nanti malam yaa sayang, puas-puasin disana sampe malam... Teman-teman ku akan datang ba'da maghrib ". Mahen mengecup kening Naya sebelum ia masuk ke mobil yang ka Amir kendarai.


***


Pengacara Anggara kesulitan untuk mengeluarkan tuan muda mereka dari jeruji besi. Anggara tidak dapat bebas bersyarat atau bebas dengan jaminan karena dugaan kasus berat yang menjerat nya.


" Kami akan upayakan untuk menjadi tahanan rumah Bos ". Asistennya memberi info terbaru saat jam besuk.


" Kelamaan, mana Papa ".


" Papa anda sedang berusaha mengambil langkah lain demi Anda... Saudara anda, nona Anggi shock dan sedikit mengganggu kehamilan nya Bos... ".


" What.... Gimana Anggi sekarang? ".


" Baik.. Tuan muda Rendy setia disamping nya... ".


" Bos, sudahi saja... Menyerah lah... Akuilah salah mungkin hukuman anda akan berkurang ".


" Panggilkan kuasa hukum ku besok... Mahendra, aku akan buat perhitungan dengan mu nanti ".


" Bukan Tuan Mahendra Bos,... Tapi Jimsey Exona yang melayangkan gugatan pada Anda.. ".


" A-ppaa.....!!! ". Anggara tak menyangka, peringatan Papa nya menjadi nyata, audit menemukan kebocoran dana pada proyek-proyek besar yang ternyata baru ia ketahui bahwa perusahaan yang ia kelola adalah milik Exona. Papa nya benar.... Ia salah langkah dan ini akibat nya.


" Shiii*ttt... Tamat sudah ".


" Besok Tuan Jimsey, akan mengunjungi anda... Bos, berkelakuan baik lah dihadapan nya... Aku mohon... ". Pinta sang asisten.


"..,..... ". Anggara hanya diam, ia gamang, antara gengsi dan kekuasaan. Keduanya tak dapat ia pilih.


***


Setelah kepergian rombongan besan nya itu, Bapak menarik Mahen bicara di ruang keluarga lengkap dengan kedua anak dan menantu nya yang lain.


" Abang, jaga Naya baik-baik disana nanti yaa... Ia bagai pualam bagi keluarga nya... Abang dapat harta karun, Bapak titip Naya... Jadikan ia penyejuk hati kami, meski tumbuh tanpa Ummi nya, semua anaknya teguh terhadap agama dan sangat santun... ".


" Sering-sering bawa Naya nginep sini, Mama juga mau belajar ngaji sama dia... Keluarga nya Maa sya Allah semua, apalagi Mas Amir, udah tampan dan kalem, suaranya bikin merinding... Happy banget pasti yang jadi istrinya ".

__ADS_1


" In sya Allah, doakan kami Pak... Ka Amir itu niat mau Mahar bacaan Al-Quran 30 juz bil ghoib nanti Maa, makanya dia kejar hafalan 10 juzz lagi ".


" Kakak sulung nya itu ustadz yaa Bang... ". Mahesa menimpali.


" Iya.. Calon pengganti mertua nya pemilik pondok di Semarang ".


" Pantes... Pantes aja, limbung setengah mati kemarin yaa Ma... Ternyata Mba Naya memang High Quality Jomblo ". Suara Nanda.


" Mba Naya cantik Bang... Fany mau deketin tapi masih segen tadi, jadi belum sempet kenalan padahal beberapa kali Mba Naya senyum ke Fany.. Senyum nya nyandu, mata nya emang gitu yaa? coklat agak oren kayak mata kucing, cakep banget.. ". Fany, istri Mandala terkesan pada look Naya.


" Coba deh kenalan Fan, hati-hati bisa jadi sohib... Mata Naya tuh kadang coklat tua, kadang yang kayak tadi kamu bilang, Mata Amber... ".


Adzan Maghrib berkumandang. Mahen diminta menjadi imam sholat bagi keluarga mereka. Mama yang lama tak mendengar anaknya mengaji, meneteskan airmata saat Mahen membacakan surat demi surat, bacaan sholat dengan sangat baik, tartil wa tahsin.


Benar adanya, istri adalah cerminan suami begitupun sebaliknya. Mahen mendapatkan Naya dengan latar belakang keluarga sedemikian religius mampu menarik nya kembali mendalami ajaran agama yang ia yakini.


Pukul sepuluh malam, Mahen menjemput Naya ke rumah nya. Abah telah tidur, menyisakan ka Amir dan beberapa pria paruh baya sedang menonton TV dilantai bawah.


" Naya lagi makan Mas, daritadi makan mulu dia..... Nduk, suami mu datang ". Tegur ka Amir saat melihat Mahen datang.


" Pulang yuk sayang.. Udah malem, besok aku antar kesini lagi ". Belai rambut Naya. Tanpa penolakan Naya ikut Mahen kembali, setelah berpamitan dan meminta pada Mang Arul agar mengunci pintu, keduanya pamit.


*


Mama sengaja menunggu menantu nya pulang. Ia ingin menyiapkan segala keperluan nya menjelang tidur.


" Neng, mandi yaa... Udah Mama siapkan air ".


" Maa, Naya bisa ko... Ada Abang juga yang bisa dimintai tolong... Anak Mama kan bukan cuma Naya, nanti yang lain cemburu terlebih Ka Marsha ".


" Sayang..... Marsha bilang apa sama kamu? ". Mahen curiga chacha berkata sesuatu.


" Aku ngerasa ka Marsha ga suka sama aku dari gestur nya, tatapan mata nya tapi entah mungkin hanya rasa ku saja ". Naya mengendikkan bahu.


" Abang, ceritain... Ini waktu yang tepat.. Naya ga cape kan? ".


" Naya dah makan banyak Maa... Kuat ngadepin kenyataan nih... ". Naya justru tergelak atas ucapan nya sendiri.


" Sayang, aku dan Marsha pernah dekat, aku pernah menyayangi nya sebelum ia memilih Mahesa daripada aku.. Bahkan ia secara terbuka mengaku masih sayang padaku... Kejadian di rumah sakit saat Bapak opname, Ma.. ". Mahen menggenggam jemari Naya.


" Aku tidak pernah menanggapi perasaan nya sejak keputusan nya menjauhi ku... Aku menghormati Esa, menghargai pernikahan mereka... Mama paling tahu aku menghindari Marsha bila tidak ada Esa disamping nya... Mama ada disini, kamu boleh tanya ke mama ". Mama mengangguk membenarkan penyataan Mahen.


" Nanya apa? aku menghargai Abang sudah jujur padaku... Biarlah masa lalu ada di waktu lalu, ga usah dibawa maju lagi... Aib ku masih Allah tutupi, karena nya Abang tidak tahu... Aib Abang juga Allah masih lindungi, jadi buat apa mencari tau bila Allah saja menutupi keburukan hambaNya?... Lagipula aku percaya suami ku ". Naya harus belajar menerima masa lalu suaminya sebagaimana Mahen menerima segala kekurangan nya.


" Maa sya Allah Naya... Sayang, kamu, Aaah anak Mama... ". Mama menciumi pipi Naya begitu saja.


" Aku ga bisa menghapus masa lalu tapi aku bisa mengendalikan hati ku, seperti kata Ka Abyan, aku menitipkan cinta sayang ku pada Allah... Allah adalah sebaik-baik penjaga amanah... Bila Allah menjaga suamiku, lalu apa yang aku khawatirkan... Betul kan Maa? ".


" Iya sayang.... Betul ". Mama terharu, diumur nya yang segini, Naya begitu dewasa.


" Dapat darimana sifat kamu yang ini sayang? ini yang tidak orang lihat dari kamu... Terimakasih Naya... ". Mahen memeluk istrinya erat, sungguh dadanya bergemuruh rasa bahagia yang teramat tinggi.


" Mama lega... Abang tadinya kuatir kamu marah sayang.. Dah malem, istirahat yaa... ". Mama mengecupnya lagi daan meninggalkan kamar mereka.


" Ganti baju, lalu tidur yuk... ".


Dalam temaram lampu kamar, ketika keduanya saling menempel mengalirkan gelombang cinta dibawah selimut yang sama, Naya berbisik.. " Ahabbakalladzi ahbabtani lahu... ". (semoga Allah mencintaimu, Dzat yang telah menjadikanmu mencintai aku karena-Nya).


Mahen hanya menghujani nya dengan ciuman. Hatinya tak henti memanjatkan syukur pada sang Khalik telah menganugerahkan mahluk ciptaan nya yang begitu Indah, obat dari segala luka dan penantian panjang nya.


.


.


.


- TAMAT -


________________________


Lunas yaaa... Ada extra part satu. Sebelum pindahan, huhu..


2308 kata, perjuangan pemula ga sangka bisa sampai 90 episode konsisten diatas 1500 - 2000 kata... Semoga suka karya perdana Mama yaa.. Luv buat kalian yang setia sampai akhir...


Mohon maaf bilamana banyak penulisan gelar yang kurang tepat.. Semangat belajar dan berproses, jangan lupa follow IG Mama_qiev buat update judul novel barunya.

__ADS_1


See you ditempat lainnya.... ❤


__ADS_2