
Ba'da subuh. Saat Mahen sedang mendengarkan dzikir pagi dari laptop nya, ia teringat pada Naya.
" Assalamu'alaikum, selamat pagi. Naya bisakah aku minta tolong tuliskan bacaan dzikir pagi untukku? agar aku mudah menghafal nya ". Ponsel Naya masih tak aktif karena pesan yang dikirim Mahen masih belum ada report laporan dibaca.
" Aku jemput jam 7 yaa, kita breakfast di luar kemudian langsung berangkat ". Kirim nya lagi.
" Wa'alaikumussalam. Aku tunggu teman dulu jam 8, dia mau antar pesanan ku, Abang sarapan saja di hotel ". Balas Naya.
" Ok, jangan lupa yang aku minta tadi ".
" Aku bawakan copy-an punya ku yaa, aku baca itu setiap ba'da subuh dan maghrib ".
" Alhamdulillah, terimakasih ".
Tak berapa lama, pesan dari ka Amir masuk ke ponsel Naya.
" Neng, malam tahun baru Abah ngadain istighotsah dirumah, kamu pulang yaa ".
" Iya ka. Aku langsung pulang karena toko juga tutup jam 6 sore ".
" Jaga diri baik-baik yaa adiku sayang ".
" Sure.. ". Ka Amir, maafin aku ga bilang mau pergi, maaf yaa maaf... Aku janji akan menjaga diriku dengan baik. Batin Naya merasa bersalah tak jujur pada kakak kesayangan nya.
Jam 07.30 Naya sudah siap di depan gerbang kost-an menunggu sang teman yang membawakan pesanan nya. Ia tampil segar dengan kaos rajut berwarna kuning kunyit dan celana katun hitam longgar. Rambut nya ia biarkan tergerai begitu saja. Tak lama sang teman datang bersamaan dengan mobil Mahen yang terlihat memasuki kawasan kost-an Soka.
Mahen turun tepat setelah transaksi Naya dengan teman nya usai. Naya buru-buru masuk ke dalam untuk mengambil tas ransel yang di dalam nya hanya terdapat 1 baju ganti dan perlengkapan pribadi nya.
" Sudah siap? aku pamit ke Bu Rahma dulu yaa ".
" Aku sudah izin tadi, aku ga bawa apa-apa nie yaa, sesuai yang Abang bilang ". Ungkap Naya.
" Iya, ga usah. Sebentar aku pamitan dulu ". Mahen lalu berjalan ke rumah belakang untuk izin pada Bu Rahma karena kemungkinan membawa Naya pulang larut malam ini atau mungkin esok pagi.
Beberapa saat kemudian, Mahen keluar dari rumah belakang ditemani oleh Bu Rahma. " Non, hati-hati yaa. Nak Mahen, jangan kecewa kan Ibu lho yaa, Naya itu anak Ibu juga, saling menjaga yaa kalian jangan berbuat macam-macam disana ". Pesan Bu Rahma.
" Iya Bu, Naya pamit dulu yaa ". Jawab Naya sambil mencium tangan Bu Rahma.
Mahen membukakan pintu kursi belakang agar Naya segera masuk.
" Cantik banget sih ". Bisiknya pelan saat Naya mendekat. Tak lama ia pun masuk menyusul Naya duduk di kursi belakang.
" Lho Abang ko disini? sono gih didepan, tuan Rey kasian sendiri lho ".
" Rey sudah biasa jomblo ". Sahut Mahen santai.
" Jalan Rey, liat apa kamu? ". Mahen melihat Rey mencuri pandang pada gadisnya dan ia tak suka itu.
" Uhuk.. Selamat pagi Nona ".
" Pagi tuan Rey ". Balas Naya.
" Tadi siapa? ". Tanya Mahen saat melihat seorang laki-laki bersama Naya ketika dia tiba di kost-an.
" Teman, tadi kan sudah bilang ada yang mau antar pesanan aku ".
" Pesanan apa? ".
" Rahasia ". Ucap Naya sambil mengeluarkan pelembab untuk wajah nya, tadi dia lupa belum sempat memakai skincare.
" Udah cantik, ga usah diliatin terus nanti kaca nya yang malu ". Mahen mulai usil.
Naya tak menanggapi, " Oiya, ini copy-an yang aku bilang tadi pagi. Abang bisa baca nya kan? ". Ia menyodorkan selembar kertas.
"..................... benar begitu? ". Mahen membaca baris tulisan ayat Al-Quran dan dzikir dikertas itu dengan lancar dan benar.
" Alhamdulillah, bisa yaa, keren maa sya Allah, semoga istiqomah mengamalkan yaa ".
" Doain aku yaa ".
Naya hanya tersenyum, senyum yang membuat hati Mahen tak tenang. Karena perjalanan masih panjang, Naya memilih memasang headset dan memejamkan mata.
" Kamu hobi banget tidur, ga baik lho sayang pake headset sambil tidur ". Mahen melepas satu headset dari telinga Naya lalu menempelkan ke telinga nya.
"......... murottal... kamu hafalin ini? ". Tanya mahen takjub.
" He em.. Lagi belajar ".
__ADS_1
Akhirnya sepanjang perjalanan yang terdengar hanyalah suara hembusan nafas mereka. Kedua nya larut dalam suasana damai karena mendengarkan lantunan ayat suci.
Satu setengah jam kemudian mereka sampai di sebuah kawasan hotel dan resort mewah tempat berlangsung nya acara. Rey bergegas mengurus registrasi kedatangan bos nya yang termasuk dalam jajaran tamu VIP malam nanti. 15 menit kemudian, room boy menghampiri mereka dan mengantar menuju kamar yang telah disediakan oleh panitia acara. " Silakan tuan dan nyonya Mahendra, ini kamar anda, di sebelah kanan, kamar tuan Rey.. Jika tidak ada yang diperlukan lagi, aku permisi ". Ucap room boy yang mengantar mereka.
Naya memandang Mahen heran, " Ko kita satu kamar? "
" Engga, ini kamar kamu, aku dan Rey di sebelah. Istirahat dulu gih nanti siang kita ada acara ". Mahen pamit menuju kamar nya.
Baru saja Mahen beranjak pergi, Naya lalu melangkah masuk, namun seketika hawa dingin menyergap tengkuk nya dan bau amis menyeruak menusuk hidung nya. Ia tau, ada yang tak beres dikamar ini. Bukan Naya, kamu ga akan lihat apa-apa disini. Jangan dengarkan mereka. Naya menarik nafas panjang, lalu mencoba berwudhu dan istighfar. Saat ia keluar dari kamar mandi, ia dikejutkan dengan sekelebat sosok hitam nan bau amis melayang dan berputar diatas kepala nya lalu sosok itu perlahan turun, berjongkok di sudut ruangan sambil menatap Naya lekat.
" Aaaahhh, astaghfirullah... Aaabbbaaaaannggg.. ". Naya langsung lari ketakutan keluar kamar menuju kamar Mahen dan dengan panik mengetuk pintu nya.
" Abang hiks Abaaaaaang, bukaaa, hiks... bukaaaaa cepat bukaaaaa Abaaang ". Naya histeris.
" Naya, kamu kenapa? ". Tanya Mahen ketika membuka pintu kamar, Naya langsung berlari dan bersembunyi dibelakang badan nya sambil menempelkan kepala dipunggung Mahen. " Hiks, takut, itu di kamar ada sosok dengan badan bau darah terbang diatas ku, dia menatap ku, mukanya... mukanya... ". Naya menangis ketakutan.
" Rey tolong panggil manager hotel kemari ". Pinta Mahen sambil mengajak Naya duduk dan minum.
" Aaaahhhh, dia kesini... Abang, hiks takutttt, aku takuuuuttt.. mukanya, badan nya banyak darah ". Naya kembali bangkit dari kursi dan menangis histeris. Kali ini dia sudah memeluk erat mahen dari belakang. Mahen merasakan badan Naya yang gemetar hebat, tapi Mahen tak berani menarik Naya dalam pelukan nya hingga kemudian Rey datang dengan manager hotel.
" Pak Manager Rusli, Naya melihat sesuatu di kamar kami, dapatkah anda ceritakan peristiwa apa yang terjadi disana? Naya tak pernah begini sebelumnya ". Mahen nampak sedikit emosi kali ini.
" Maaf Pak, kami sedang menunggu orang pintar sebentar lagi ". Jawab manager takut.
" Perjelas maksud anda ". Kali ini Rey yang bersuara dengan penuh tekanan. Sementara Mahen masih menenangkan Naya yang tak mau membuka mata dan masih menutup hidung nya.
" Takut Abang, bau banget ". Naya masih terisak dan hanya mengulang-ulang kalimat ini hingga orang pintar yang ditunggu pun datang kemudian memulai prosesi yang tak di mengerti mereka bertiga.
" Pak, istrinya punya six sence ya, saya berkali-kali ingin memindahkan nya tapi dia sulit muncul. Istri bapak luar biasa bisa menarik dia muncul ".
" Bereskan ini segera. Naya tak pernah begini, apa maksud anda ". Terdengar nada bicara Mahen penuh emosi, ia tak suka gadisnya di katakan indigo oleh orang itu.
" Istri anda, punya aura positif yang kuat, -Dia- ini seakan hendak minta tolong pada istri anda, karena sebenarnya dia pun tersiksa. Dia korban p*leceh*n dan kekerasan jaman dahulu dan porosnya di kamar tadi. Hanya dia yang tersisa dari gedung ini, lainnya sudah aku pindahkan ". Jawab pria tua ini. Manager hotel meminta maaf pada Naya dan mengganti kamar mereka dengan yang lebih baik sebagai kompensasi. Setelah keadaan kembali tenang, Mahen mencoba membujuk Naya kembali.
" Ayok aku antar ke kamar yang baru, biar kamu bisa istirahat sebelum kita pergi ".
" Mau tetap di sini, aku masih takut ". Naya masih gemetar.
" Ya sudah kamu di sini, aku kesana yaa "
" Ikut aku? Sayang, aku ga jamin tetap tenang kalau kamu ikut aku lho, liat kamu gini aku jadi ngerasa ga guna.. ".
Naya hanya diam dengan wajah makin menunduk, Naya menangis, ini kali pertama nya dia melihat mahluk dengan penampilan mengerikan. Tangan nya masih memegangi baju mahen membuat nya jadi serba salah.
" Bos, kamar pengganti double bed ko. Anda bisa kesana dengan Nona, biar aku disini ". Rey datang membawa berita baik.
Mahen mengusap kepala Naya pelan. " Ayo kita pindah kamar, maaf yaa tadi aku hanya khawatir liat kamu gini, aku pengen meluk tapi kan ga bisa karena kamu bakal ngamukin aku nanti ". Mahen menarik pelan pergelangan tangan Naya.
" Sudah dhuha belum? atau mau langsung tidur dulu, aku ga akan kemana-mana ". Sambung Mahen setelah mereka ada dalam kamar yang baru.
" Td udah duha di kost-an, mau tidur aja sebentar ". Naya langsung berwudhu, tak lama kemudian terdengar lirih Naya melantunkan doa hingga perlahan melemah dan ia tertidur. Tok tok, pintu kamar diketuk seseorang dan ternyata Rey yang datang.
" Bos, ini baju Anda dan Nona. MUA datang selepas dzuhur dan maghrib nanti ".
" Rendahkan suaramu Rey, Naya sedang tidur ". Mahen berkata sambil berbisik.
Alarm adzan dzuhur membangunkan Naya, saat ia tak melihat Mahen dikamar, naya kembali histeris, " Aaaabaaaaang ". Teriak nya kencang sambil terisak. Mahen yang mendengar teriakan Naya bergegas keluar dari toilet.
" Sssttt aku disini, habis wudhu karena mau sholat dzuhur. Ayo, ambil wudhu dulu terus sholat dan kita keluar sebentar ".
" ...... ". Naya mengikuti saran Mahen lalu mereka sholat berjamaah. Saat mereka masih berdoa, terdengar suara ketukan kembali di pintu kamar, mahen bangkit dan melipat sajadah nya kemudian membuka pintu.
" Permisi Pak Mahen, aku keyko yang akan membantu Nona. Sudah siap? "
" Masuklah ".
" Sayang, ayo siap-siap. Aku ke kamar Rey dulu ganti baju nanti kesini lagi, ok ". Ucap Mahen berlalu keluar kamar. Naya hanya diam mengangguk.
30 menit kemudian.
" Nona, cantik banget sih. Udah ayu dari sana nya, ditambah pake make up flawless, makin oke bangeeeeeeettttt ". Ucap keyko kagum sambil merapikan rambut Naya dengan hair spray dan di bentuk agar sedikit bervolume. Keyko meminta Naya berdiri hendak merapihkan kain kebaya yang Naya pakai untuk disesuaikan dengan heels nya agar tak mengganggu saat berjalan. Disaat yang sama, pintu kamar dibuka oleh Mahen.
" Sayang................ ". Mahen tak berkedip, tak berkata apapun selain tatapan mata nya yang nampak memuja Naya. Ter-pe-so-na. Cantik sekali. Batin Mahen.
" Abang, rambut aku ga usah diapa-apain kan? gini aja cukup yaa ". Tanya Naya.
Mahen tak menjawab Naya, malah memberikan instruksi nya untuk keyko. Ia terlalu fokus pada gadis nya itu. " Tolong di rapih kan saja yaa mba keyko, dia sudah sangat..... Cantik ".
__ADS_1
" Setuju Pak.. Nona sudah sangat sempurna ".
Mahen tak henti nya memandang Naya yang memakai kebaya hijau doff yang sangat pas di badan nya. Kain yang senada dengan kemeja nya, rambut hitam sebahu yang dibiarkan tergerai, pergelangan tangan nya masih memakai gelang pemberiannya bulan lalu, Mahen bahagia, sangat bahagia. Hingga semua persiapan selesai dan mereka berdua keluar kamar menuju lobby hotel untuk menghadiri acara siraman di kediaman Wabup.
" Rey, jaga pandangan mu ". Mahen memberi peringatan pada Rey saat ia membukakan pintu mobil untuk bos nya.
" Hati-hati ". Tangan Mahen melindungi kepala Naya agar tak terbentur ketika hendak masuk ke dalam mobil. 30 menit perjalanan menuju tempat acara. Seketika kedatangan Mahen mengundang perhatian tamu yang telah hadir karena kehadiran gadis cantik disamping nya.
" Yuk masuk, Mahen menggandeng tangan Naya ".
" Tuan Mahendra, Nona Ainnaya maafkan kejadian tadi pagi yang diluar kuasa kami ". Asisten pribadi Wabup menyambut mereka.
" Naya sedikit shock tapi sekarang lebih baik, terimakasih ". Mahen menegaskan emosi nya.
" Maafkan kami sekali lagi.. Mari silakan menikmati hidangan sementara pengantin masih prosesi siraman ".
" Abang, anak nya pak wabup anak angkat yaa? ko itu kayak ibu nya, mirip banget ". Ucap Naya kemudian.
" Kamu lihat apalagi? istri wabup cuma satu sayang ".
" Abang, ibu itu melihat kesini. Senyum ramah sama aku, katanya titip salam untuk Saraswati, berbahagialah pesan nya ".
" Naya, kamu jangan buat aku takut ".
" Abang, aku juga ga tau kenapa bisa begini? aku ga minta punya ini semua, tadi pagi adalah pengalaman pertama aku.. Kalau abang takut, dan menganggap aku aneh yaa gapapa ".
" Bukan sayang, bukan begitu, aku ga akan ninggalin kamu, titik ".
" Abang beneran masih mau temenan sama aku? aku aneh lho ". Tanya Naya lirih.
" Teruskan, kamu mau bilang apa ".
" Aku... Juga takut sebenarnya. Tapi aku jadi berani menerima dan menghadapi ini karena Abang tadi pagi bilang : Ini bisa jadi anugrah jika kamu menggunakan nya dengan baik atau jadi musibah bila kamu mengagungkan dan menyalahgunakannya ".
" Naya, aku tau kamu bisa. Kita hadapi sama-sama dan cari cara agar ini bisa ditekan dan tak terlalu ganggu kamu. Ok? ".
" Iya.. Aku mau ".
" Kamu mau nyampein pesan yang tadi ga? kita hampiri Saraswati atau wabup nanti ".
" Menurut Abang gimana? "
" Amanah sayang, sampein aja biar tanggung jawab kamu lunas ".
" Iya ".
Mahen mengambilkan Naya beberapa snack dan minuman selagi calon pengantin belum keluar untuk menyapa para tamu. Hingga tibalah saat yang ditunggu Naya. Saraswati berasa tak jauh dari tempat Naya berdiri.
" Kak Saraswati, maaf bolehkah aku minta waktu sejenak? aku Naya mau menyampaikan pesan bahwa tadi.......... ".
" Benarkah? kamu bisa lihat ibu kandung ku? apa dia cantik Naya? aku boleh minta nomer kamu? kita ngobrol lagi nanti yaa, kamu datang dengan siapa sayang? ". Saraswati bertanya antusias sambil berbisik.
" Abang.. eh.. mana yaa tadi.. Aku datang dengan.. "
" Dia kekasihku Saras ". Jawab Mahen menghampiri mereka berdua.
" Ya ampun Mahen, ini calon kamu itu yaa yang waktu di private party nya Tuan muda Rendy? Cantik amat sih, masih muda pula. Naya kamu ko mau sama dia sih? ".
" Ga usah gosip Saras. Selamat yaa, semoga bahagia dan langgeng sampai surga-Nya, aamiin ".
" Sayang, Saras ini teman kuliah ku dulu dia suka ngutang sama aku waktu kuliah karena hobi nya clubbing hahaha. Sekarang kamu tau kan alasan aku ajak kamu kesini, yaa buat nagih ke dia ini karena kalau aku yang nagih, dia ngeles terus ". Mahen tertawa.
" S*alan kamu Mahen. Kalau Papa tau bisa habis aku, pokoknya aku bakal balas budi deh, tenang aja ". Ucap nya sambil berbisik.
" Naya, kita ngobrol lagi nanti yaa sayang. Kamu imut banget sih, aku gemes liatnya ". Saraswati memeluk Naya erat.
" Hen, jaga adek aku yaa.. Naya mulai hari ini jadi adek aku lho ". Tegas Saraswati.
Selepas berbicara dengan Saraswati, Mahen mengajak Naya pulang ke hotel karena harus bersiap untuk acara inti nanti malam.
Sepanjang perjalanan pulang, mereka kembali diam sibuk dengan pikiran masing-masing.
" Naya, kamu mudah untuk dicintai oleh banyak orang .. semoga hatimu akan jadi milikku ". Mahen melirik Naya sekilas, ia tertidur lagi, perlahan jari tangan nya ditautkan dengan jemari Naya dan digenggam nya erat seakan takut kehilangan.
________________________
Titip clue lagi. Nulis tengah malam, jadi takut sendiri.
__ADS_1