Dia.. Pilihan Untuk Ku

Dia.. Pilihan Untuk Ku
SAH


__ADS_3

Flashback.


Solo. Ratislo. Beberapa hari setelah Insiden Naya.


Bayu kebingungan menghubungi Naya, sejak live sabtu pekan lalu, staff inti nya itu seakan menghilang entah kemana rimbanya. Hingga suatu hari datang pria bersetelan jas rapih menemui nya di Ratislo memberikan kejelasan.


" Saya Kusno, ingin menyampaikan bahwa staff anda, Kinoy dinara atau Raden Roro Ainur dinarabraja alias Ainnaya Misbach Shaki, tidak dapat melanjutkan kontrak kerja sama kembali dengan Ratislo di karenakan beliau akan segera menikah dan akan mengikuti suami nya pindah keluar kota.. ".


" Pantas saja, tapi akan ada kompensasi atas pemutusan kontrak sepihak terhadap Ratislo.. ". Ucap Bayu kemudian.


" Jika membaca draft kontrak yang di sepakati, masa berkahir kontrak awal adalah Tiga bulan, sudah dilewati oleh Ndoro kami.. Draft kontrak kedua, belum di tandatangani beliau.. Namun, kami akan tetap memberikan kompensasinya ".


" Sebetulnya kerugian Ratislo bukan materi, namun im-materi.. Member akan kehilangan idola nya dan pasti performa radio juga akan kena imbas ".


" Itu tugas anda sebagai pemilik.. Ndoro kami sudah berkontribusi besar disini... Jangan mempersulit bila kegiatan anda ingin dimudahkan di masa depan ". Ancam Kusno.


" Baik.... Apa daya ku... Silakan di baca kembali Tuan Kusno ". Bayu menyerah, ia membayangkan akan bagaimana fans Naya nanti tapi daripada kehilangan mata pencaharian lebih baik mengikuti keinginan pria di hadapannya.


***


Limasan Gandarani, Setelah Ashar.


Setelah sedikit tenang, Mahen kembali menghubungi Mama. Panggilan nya di jawab Mama langsung setelah dering pertama.


" Assalamu'alaikum... Maaaaaa, aku.... Do'akan aku disini nanti ba'da maghrib yaa, restui aku dan Naya.. ". Mahen sudah tidak kuat menahan sesak karena haru bahagia yang teramat membuncah dalam dada nya.


" Abang... Mama dan Bapak, kedua adikmu sangat bahagia... Restu kami bersama mu selalu Kesayangan Mama... ".


" Aku memohon doa kebaikan untuk rumah tangga ku kelak, untuk anak-anak kami nanti dan untuk kelanggengan jodoh kami.. Yaa Maa... ".


" Iya sayang... Disini baru aja selesai pengajian ibu-ibu... Naya belum tahu yaa? jadi kalian terpisah tempat saat ijab? gak apa-apa yaa, yang penting sah dulu... Kalau bertemu besok nya kan jadi puas kangen-kangenan nya... ". Goda Mama.


" Iya terpisah.. Aku juga tidak tahu apa-apa.. Semuanya sudah disiapkan... Maa, terimakasih banyak atas semua do'a Mama untukku selama ini... Maafin Aku bila belum bisa jadi anak kebanggaan Mama... Besok, sudah ada Naya disisi ku jadi bila esok hari ada sesuatu, aku akan selalu membicarakan semua nya pada Naya lebih dulu.. ".


" Iya, Mama paham Abang... Meski Abang tetap anak Mama tapi Abang juga wajib menghargai istri Abang... Abang selalu jadi kebanggaan Mama Nak... Mama bahagia, sangat bahagia punya Abang... Sukses ijab qobul nya yaa Ganteng... Mama dan keluarga besar, melihat Abang dari jauh.. ". Mama Rosi pun menangis haru. Bapak yang mendengar percakapan kedua nya, tak kalah haru hingga airmata nya kembali turun.


" hiks..... ". Mahen kembali meneteskan airmata nya. Ia menjadi pria melow sejak siang tadi. Allah memberinya nikmat rezeki begitu besar seakan obat bagi setiap jengkal luka yang pernah ia rasakan.


***


Joglo Ageng.


Sejak Rabu pagi, Naya sudah di beritahu oleh buyut nya bahwa ia akan menikah nanti malam. Perias akan mendandani nya untuk siraman, pengajian dan menyambut sebagian tamu keraton yang bertandang ke kediaman sang Tumenggung.


Naya bingung, wajahnya datar tanpa ekspresi. Abahnya seakan menghindari nya sejak pagi setelah ia minum obat tadi. Pagi ini Naya sudah cantik memakai kebaya coklat dengan cepol rambut simple untuk menyapa para tamu buyut nya.


Siang setelah siraman, dilanjutkan dengan Prosesi Paes Ageng yang akan dipakai sejak akad nikah dan Ramah tamah setelah akad nanti.


Tidak ada yang mau memberitahukan siapa calon suami nya. Yang jelas mereka bilang, calon suami nya adalah yang kemarin melamar nya. Naya ingin protes, namun yang bisa ia lakukan hanyalah mengurung diri di kamar.


" Abang....... Maafkan aku, pada akhirnya harus begini.. ". Naya terisak mengunci diri didalam kamar nya.


" Nduk... Buka dulu, kasihan ini semua nungguin kamu.. ". Danarhadi tak lelah membujuk.


Naya akhirnya membuka pintu kamar nya pelan, mengingat Buyut nya baru saja pulih. Ia lalu menyilakan Buyut nya masuk.


" Siapa calon suami ku? " Tanya Naya..


" Sabar, yang ikhlas.. Uyut di kuat-kuatin ini lho demi kamu meski masih lemas semua rasanya ".


" Waktu kamu dan uyut sakit, Mas Hasbi kemari, dia bilang akan tetap menikahi mu apapun kondisinya... Tapi Kyai Maksum... ". Danarhadi sengaja menggantungkan kalimat nya.


" Jadi......... Hiks ".


" Mungkin kamu belum ingin menikah tapi calon suami mu sudah sangat pantas Nduk... Sangat mapan, ganteng pula... Yang ikhlas, senyum... Uyut sudah merestui kalian lho, kudunya kamu seneng ". Danarhadi memberikan senyum nya. Senyum penuh arti, bahagia menggoda sang cicit.


" Ayok, di paes... Sudah sholst ashar kan.. Kamu akan dikenalkan dengan utusan sinuhun dulu... Uyut temani disini ".


__ADS_1


(ketika menghadap utusan Sinuhun).


Sedari uyut nya menjelaskan, Naya diam tidak bicara apalagi tersenyum.


Hatinya tak merasakan apa-apa lagi. Sungguh hampa.


" Abah, kenapa... Kata Abah, semua aku yang memutuskan... Kenapa seperti ini? ". Naya bergumam lirih. Buyut nya sedang berbicara serius dengan para pejabat keraton. Ia hanya mendengarkan meski tak paham apa yang di bicarakan. Bagi Naya, dirinya hanya boneka.


Tibalah saat yang tidak ingin Naya lewati, waktu maghrib menjelang.


Naya telah siap kembali dikamarnya dengan tatanan paes yang berbeda untuk akad nikah. Dan ia tidak di perkenankan keluar kamar saat prosesi ijab kabul nanti.


...***...


Limasan Gandarani.


Setelah sholat maghrib berjama'ah dengan banyak pria paruh baya berseragam Jawa lengkap, yang Mahen ketahui mereka adalah sebagian pejabat keraton.


Ia di tuntun kembali masuk kamar untuk bersiap dibantu oleh Rey dan ka Amir.


" Bos, akhirnya... ". Rey berjongkok meletakkan selop dekat kaki Mahen.


" Berdiri dulu Mas... ". Amir menyelipkan aksesoris di belakang pinggang.


" Terimakasih.. Aku nervous ".


" Tasbih aja biar tenang... Pake bahasa Arab kan? hati-hati kesleo ". Goda Amir.


" Kaa.. Bukannya support malah do'ain jelek iih ".


" Haha.. becanda.. Pasti satu kali langsung sah... Aamiin.. ".


" Aamiin.. ".Ucap ketiga nya.


Pintu kamar diketuk. Salah satu Abdi dalem memanggilnya agar segera keluar melakukan ijab kabul.


" Saksi nikah pihak laki-laki oleh Raden Mas Galuh Baratayuda dan Reynan Lee.. Saksi nikah pihak wanita Raden Mas Braja Wisesa dan Ki Jaka.. Yang menikahkan adalah Kyai Jazuli.. Mahar sudah siap nggih... Kita dengarkan pembacaan ayat suci Al-Quran dahulu oleh Raden Mas Amirzain Zaidi, putra kedua Raden Mas Braja Wisesa... Monggo Den Mas dimulai ". MC menyilakan rangkaian acara yang sudah sejak tadi di mulai sebelum Mahen keluar kamar.


Setelah ka Amir membacakan petikan ayat suci Al-Quran. Tibalah giliran Kyai Jazuli memulai prosesi ijab kabul setelah beliau serah terima ijab perwalian nikah dari Abah.


" Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Raden Panji Mahendra Guna bin Gandabayu dengan seorang gadis yang bernama Raden Roro Ainur Dinarabraja alias Ainnaya Misbach Shaki binti Raden Mas Braja Wisesa alias Ahmad Zaid Sanusi, sebagai orang yang mewakilkan kepada ku dengan mas kawin berupa uang sejumlah 3.110.109, dibayar tunai ".


" Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha alal Mahril Madzkuur wa Radhiitu bihi... ". Mahen mengucapkan dalam satu tarikan nafas.


" SAH... SAH.. SAH.. ". Riuh suara para hadirin.


" Alhamdulillah... Alhamdulillah... ". Ucapan lega.


" Baarakallahu likulii wahidimmingkumaa fii shaahibihi wa jama'a bainakumma fii khayrin ". Kyai Jazuli mengucapkan doa.


Layar besar di ruangan utama kediaman Galuh, yang diletakkan di samping Mahen menampilkan rangkaian acara itu dengan sangat jelas, disiarkan secara streaming didua kediaman lainnya.. Sentul dan Joglo Ageng.


Keluarga Mahen yang berkumpul di rumah Mama pun tak kalah haru dan lega setelah menyaksikan sang anak, sang kakak, dengan lancar mengucapkan ijab kabul nya.


Mama meneteskan airmata bahagia dan dipeluk kedua anaknya yang lain, Mahesa dan Mandala.


*


Sementara di Joglo Ageng.


Semua orang di ruangan Joglo Inggil, berseru dan riuh mengucapkan doa setelah akad nikah yang telah diputuskan SAH oleh para saksi di sana.


" Den Roro, selamat... Sudah jadi istri ". Ucap perias yang mendampingi Naya di kamar.


"............. ". Istri siapa, aku juga tidak tahu lalu apa guna nya bagi ku. Batin nya.


" Ayok keluar, suami Ndoro tidak disini, jadi beliau meminta melihat istrinya dari layar saja ". Ajak perias pada Naya menuju ruang keluarga yang hanya dihadiri oleh para Abdi dalem wanita.


Dari limasan Gandarani, Mahen hanya bisa melihat kecantikan istri yang baru saja ia nikahi dari layar besar di hadapan nya. Kejutan sedemikian rupa, ia khawatir bila Naya disana justru tertekan, terlihat dari gestur tubuhnya yang merasa sangat tidak nyaman.

__ADS_1


" Sayang.... Kamu istriku ". Ucapnya lirih namun terdengar oleh Rey yang duduk disamping nya.


" Bos, Nona cantik banget, manglingi... Ciyee yang terpisah ga bisa gre*pe-gre*pe ". Bisik Rey ditelinga Mahen.


" Diam Rey...! ". Mahen mencebik kesal.


" Hahaha... Aku puas ". Rey kembali menggoda.


Bila Mahen di limasan Gandarani diajak Galuh dan Abah nya berkeliling menyalami tamu mereka. Beda hal nya dengan Naya.


Setelah perkenalan nya tadi, ia kemudian dibawa kembali menuju kamar mengganti baju untuk acara ramah tamah si Joglo Inggil.


Ditemani oleh Kakek buyut nya. Naya sangat anggun dan cantik dalam balutan gaun pengantin khas Jawa lengkap dengan paes Ageng nya melewati ruang keluarga di ikuti oleh para Abdi dalem wanita.


Setelah tiba di Joglo Inggil, Naya disuguhkan oleh tarian penyambutan dirinya yang sudah berlangsung sesaat ketika ia keluar dari pintu ruang keluarga.


" Aku sepi, hampa dan sedih di tengah keramaian ". Batin nya sesak.


Acara di kedua kediaman megah nan mewah berlangsung hingga pukul sepuluh malam.


Naya kini sudah masuk kembali ke kamar, dibantu perias ia melepaskan semua pernik yang dipakai nya sedari tadi.


Kepalanya terasa berat, ia mual karena hampir tidak dapat menelan makanan sedari siang tadi. Badan nya pun terasa agak meriang.


" Nduk, kamu makan dulu, sedikit, uyut suapin yaa ". Bujuknya saat semua tamu telah pulang.


" Ga nafsu yut, aku mau tidur ". Naya memunggungi buyut nya. Ia sangat marah, kesal tapi semua tidak dapat diubah lagi. Percuma.


" Ya sudah, istirahat.. Besok suami mu kemari pagi... Yang sopan, layani dengan benar... ". Perintahnya.


" Aku boleh lihat kebun dulu ga? aku kangen Ummi ". Mohon nya.


" Boleh, sebentar saja.. Ditemani Warni yaa ".


" Makasih Uyut... Maaf, aku lelah ". Pungkasnya membalikkan tubuh nya lagi.


" Kamu itu.... Besok pasti meluk Uyut, cium-cium Uyut, makasih -makasih sama Uyut... Anak Wisesa kalau ngambek persis Ibunya... ". Danarhadi membelai dan mencium kepala Naya sayang lalu ia beranjak keluar.


Sesayang itu Danarhadi pada Naya hingga gengsi yang ia teguh pegang, runtuh karena melihat perjuangan cicit dan cicit mantu nya untuk bersama.


Tok tok. Pintu kamar nya diketuk lagi. Kali ini Mban yang meminta izin masuk.


" Masuk mba... ".


" Ndoro putri, ini ada yang mau bicara... Jangan keras-keras suara nya yaa... Rahasia ". Bisik nya.


" Sayang... kamu disana kah? ". Suara Mahen diujung sana.


" A-abang.... Maafkan aku, aku telah menikah... Hiks, aku kangen Abang ". Naya terisak.


" Kamu ga salah.... Takdir pada akhirnya... Ikhlas yaa ". Mahen ikutan menggoda istrinya itu.


"........... ". Naya hanya menangis.


" Sayang, kita ketemu yaa besok.... Aku akan mencari mu ".


" Ga bisa, suami ku akan menemui ku besok ".


" Bisa, in sya Allah.. Percaya sama aku... Istirahat yaa, sudah mau tengah malam... Love you sayang ". Mahen menahan senyum sedari tadi.


" Iya aku percaya Abang, love you Abang ". Tutup nya masih Sembari terisak.


*


Dalam dua kamar yang berbeda. Satu sengsara memikirkan kesedihan nya. Sedangkan satu lagi merasakan kebahagiaan tak terkira meski berjauhan malam ini.


__________________________


Kondangan... Yeayyy 😅

__ADS_1


__ADS_2