
Lewat tengah malam, Mahen baru sampai di apartemen nya. Ia tak langsung membersihkan diri melainkan sibuk mengecek ponselnya yang sedari tadi sunyi tak ada tanda bunyi notif pesan masuk.
Rey yang malam ini menginap di tempat Bos nya itu terheran, sejak keluar dari hotel tadi, Bos nya itu nampak murung dan berkali mengecek ponselnya, ia bahkan tak rela shut-off meski baterai ponselnya sudah lowbatt, memaksanya agar tetep menyala meski sambil di charge.
Rasanya pagi tadi pasangan itu terlihat baik saja bahkan masih sangat hangat satu sama lain. Dan pemandangan yang matanya tangkap saat ini seperti tengah terjadi konflik memanas bagai embargo di timur tengah. Batin Rey.
" Rey... Kenapa kamu ceroboh? "
" About? ". Rey menaikkan alisnya.
" Kuliah Naya, administrasi pengobatan, hotel, dokter ".
" Oh god, pantas saja.. Is gone, ternyata diambil Nona? ".
" Hem... Dia tau semuanya, Abahnya bahkan mengirimkan semua uang yang aku keluarkan.. 30 juta, too much.. Ayah dan anak sama-sama tidak mau berhutang pada siapapun ". Mahen mengatakan semua kekecewaan nya dengan suara lirih dan lemah, matanya memejam dengan kepala bersandar pada sofa di depan ruang televisi apart nya itu.
" Aku akan bereskan, Bos... Maaf, bukan membela diri tapi aku yakin meletakkan ditempat yang Nona tidak tahu.. ".
" Naya.. Kemampuan menganalisa nya sangat baik... Dia menemukan beberapa lembar slip transaksi dibawah jok kemudi, mungkin slip nya jatuh saat kamu mengambil sesuatu ".
" Sorry Bos... ". Rey berpikir keras, ia tak pernah seceroboh ini sebelumnya. Rey curiga, apakah candi yang membantu Naya kali ini?.
" Naya minta putus... ". Mahen melanjutkan kembali.
" Whaaatttttt......!!! ".
" Heyyy... Aku ga tuli... Reyog!! ". Mahen mendengus kesal.
" Maaf bos.. Aku kaget, Nona ga salah tuh? ".
" Prinsip..... Ah sudahlah, aku mau tidur.... ".
Mahen meninggalkan ruangan tv dengan langkah gontai, selain lelah fisik ia juga lelah hati dan pikiran. Terlebih malam ini ia tak bisa lagi mendengar suara dengkuran halus Naya menjelang tidur yang sudah bagai lagu Nina Bobo bagi nya. Dan malam-malam seperti ini entah sampai kapan akan ia lalui. Langkah Mahen semakin terseok menuju kamarnya.
" Bos report... Besok Nona akan pulang ke rumah. Sepertinya memang menghindari aku juga ". Candi memberikan laporan.
Keesokan pagi nya. Orchid tower, Cibubur.
Hal yang jarang Mahen lakukan setiap pagi adalah mengecek ponsel nya lebih dulu. Biasanya Mahen melakukan hal ini sesaat setelah ia rapi berpakaian. Kali ini tidak, tidurnya tak tenang, bahkan nyaris tidak tidur karena memikirkan Naya. (uhulk)
Diraihnya ponsel diatas meja nakas sebelah ranjang nya. Jarinya langsung membuka kotak pesan, benar saja dugaan nya. Naya tak ingin keseharian nya diketahui oleh siapapun termasuk Candi maka ia memutuskan pulang kerumah.
" S*aaalll... Aku ga bisa tau kegiatan dia dengan detail kalau begini.. ".
" Can, usahakan masuk yaa.. Apapun cara nya ". Mahen membalas pesan Candi pagi itu.
" Siap Bos... ". Balas Candi cepat.
*
Exona landscape and building.
Naya benar-benar mempengaruhi mood Mahen hingga siang hari. Semua team internal nya terkena amukan Mahen meski karena hal sepele, tak terkecuali Dewi sang sekertaris nya itu. Ia bersungut-sungut dan mengadukan perlakuan bos nya itu pada Rey saat jam makan siang.
" Assisten Rey... Bos anda kenapa? apa dia sarapan mercon pagi tadi? pedas sekali omongan nya? ".
" Hah, bukan nya kamu terbiasa? pekerjaan kalian kurang becus, wajar jika beliau murka ". Rey menimpali santai keluhan rekan kerja nya itu.
" Asisten dan bos, sama saja. Kulkas berduri ". Dewi meninggalkan begitu saja mahluk menyebalkan itu.
Mereka semua bekerja dalam situasi yang tidak nyaman, bagai sedang menunggu putusan palu hakim akan hukuman yang menanti. Mahen membuat semua team nya lembur malam itu tak terkecuali dirinya. Sengaja bertahan di ruangan kantor nya hingga malam demi agar ia bila mengalihkan pikiran nya dari bayangan Naya.
" Sayang.. Aku rindu... ". Ucapnya lirih saat melihat pantulan bulan dari balik jendela kantor nya.
Ting, notifikasi pesan masuk berbunyi dari ponselnya. Mahen sungguh tak bersemangat melihat ponselnya hari ini, ia banyak menggeletakkan benda pipih itu begitu saja di meja nya. Matanya menatap malas pada layar, sembari menggeser tuts untuk melihat pesan masuk. Seketika ia terbelalak tak percaya pada deretan pesan masuk yang salah satunya dari kekasih yang ia rindukan itu. Ia membuka pesan nya pertama kali diantara pesan lainnya.
" Abang, aku izin pulang ke rumah. Aku kangen tidur dikamar ku, mungkin seminggu dirumah dan pergi kuliah kerja diantar jemput oleh ka Amir nanti.. Mungkin aku akan sibuk karena mengejar banyak ketinggalan jadi aku akan jarang mengabari... ".
Mahen masih tertegun tak percaya, Naya masih tetap meminta izin darinya jika akan melakukan sesuatu. Bukankah kemarin dia marah besar? .
" Jangan lupa minum vitamin nya, take care honey... I miss you, really miss you... Aku boleh telpon kan? ".
" No... Aku membenci mu ".
" Ko minta izin sama yang dibenci? its funny baby.. ".
" Betul... Dan aku kini menyesal ".
__ADS_1
" Sayang, becanda.... Maafin aku yaa... Kamu boleh lakukan apa saja sesukamu, asal hati-hati.. Janji? ".
" Thanks, kebetulan Nurma dan Ka Nirwan mengajakku mengunjungi kebun jambu mereka yang akan panen dan aku menyetujui nya karena Abah mengizinkan ".
" No, honey.... ".
" Tadi katanya boleh lakuin apa aja... Betul-betul omdo.. Selamat malam ".
" Sayang, maksudku... Ahh, sesuka mu lah. Aku memang bukan siapa-siapa kamu ".
" Sepertinya ini pesan terakhir aku.. Jaga diri baik-baik Abang... Sampai jumpa dilain waktu, semoga selalu sehat disana dan jika kita ketemu lagi, ku harap bisa bersikap biasa tanpa mengingat kita yang lalu ".
Mahen kaget membaca pesan Naya, ia lalu menelpon nya, berkali-kali hingga akhirnya perjuangan nya membuahkan hasil.
" Sudah malam, tidurlah ". Naya berkata lirih.
" Honey, apa maksud mu? kita bisa bicarakan ini semua bukan? ".
" Aku lelah... ".
" Istirahat dulu, nanti kita lanjutkan lagi.. Ok? jangan lepasin tangan aku sayang, sebegitu fatal kah salah aku sampai kamu sulit untuk lupakan itu? ".
" Hem... Entahlah ".
" Sayang, aku ga akan ganggu kamu, aku akan biarkan kamu tenang dulu... Beri aku kesempatan honey... Yaaa?! ".
" Jangan terlalu berharap, biar ga sakit nanti.. Bye Abang ". Naya memutuskan panggilan nya sepihak.
Tut.... Tut... Tut....
" Sayang, naya.... Aaaahh ". Mahen melempar ponselnya ke sembarang tempat hingga menimbulkan suara benturan keras yang terdengar oleh Rey yang saat itu sedang berada bersama Dewi diluar ruangan nya.
Bruaaakkkk...... Ponselnya hancur.
Rey yang mendengar suara, buru-buru masuk kedalam ruangan dan menemukan puing ponsel bos nya, ia lalu memunguti nya dan membawa nya keluar, Mahen yang melihat Rey melakukan itu semua memilih mengacuhkan nya.
" Bos, istirahat lah... Tenangkan diri anda ". Rey menepuk bahu bos nya pelan.
" Pergilah.. Aku tak ingin diganggu ".
*
Sementara, di dalam kamar.
Naya terisak kecil, percakapan nya dengan Mahen disaksikan oleh kakak kesayangan nya itu. Amir hanya menggelengkan kepala nya pelan sembari mengusap kepala adiknya dengan lembut.
" Kamu masih sayang, tapi begini... Nyiksa diri sendiri nama nya... Kalau salah, bicarakan baik-baik jangan pake emosi nduk ".
" Aku benci.... Sok banget dia itu ".
" Bukan sok.. Itu karena dia peduli dan tanggung jawab, aku pun akan melakukan yang sama bila menemukan orang yang tepat buatku. Jiwa laki-laki namanya nduk... Dia sayang kamu juga kan? selesaikan segera kuliah mu, segeralah menikah jangan kelamaan merusak pandangan ".
" Baru juga semester 4, masih lama ".
" Ambil D3 saja dulu, sisanya kejar disaat kamu sudah nikah.. Kan bisa kuliah dimana saja... Abah juga sudah minta aku bicarakan ini ke kamu dan Mahen... Ka Amir rasa, Mahen justru lebih siap ".
" Entahlah..... "
" Jangan sampai, keputusan lamban kamu ini memaksa Abah ada di situasi sulit kembali... Sudah ada yang mau khitbah kamu lagi itu ".
" What... ".
" Pikirkan.... ". Ujarnya sambil bangkit dan berlalu keluar dari kamar sang adik.
Seminggu berlalu begitu saja, Mahen masih dengan emosi nya yang naik turun. Entahlah, Ia juga merasa sudah sangat tidak profesional tapi sungguh, Naya sangat mempengaruhi kondisi emosi nya akhir-akhir ini. Hampir sepuluh hari ia tak bisa makan dan tidur dengan benar, otaknya penuh dengan gadisnya itu. Hatinya sesak menahan rindu. Siang ini Rey memberitahu bahwa meeting dengan team dua telah siap. Mahen melangkahkan kaki nya dengan malas, kepala nya jug sakit tak kunjung reda.
Bruak, mahen melempar berkas file ke meja hingga berantakan.
" Ini yang kalian maksud dengan penyempurnaan memproteksi CIA (Confidentiality, Integrity, and Availability). Physical security ? betul begini?... Ferdi, Explain...!! ". Suara lantang Mahen menggema di seluruh ruang meeting.
" Semua asset bisa berbentuk dalam hardcopy, penyimpanan secara digital, visual (video, diagram), ditampilkan di website, verbal percakapan, panggilan telpon), dan sebagainya saat audit bos ".
" I know it... hanya itu? Yang benar saja.. Kalian digaji untuk mengerjakan sesuatu yang lebih dari apa yang bisa diperbuat oleh anak-anak SMP.. REVISI SEGERA! ".
Semua dalam ruang meeting menundukkan kepalanya karena takut, aura mencekam menyelimuti seketika. Rey yang kasihan pada team dua yang di kuliti habis-habisan akhirnya nekad menelpon Naya diam-diam, siapa tau gadis bos nya itu bisa menyelamatkan semua yang hadir siang ini.
Tuuuttt, Nada sambung panggilan terdengar.
__ADS_1
" Ya tuan Rey, kenapa? aku masih ada kuliah, ini sedang break 10 menit ".
" Nona selamatkan kami, bos marah besar, kami tidak ada yang berani meski hanya untuk menarik nafas... tolonglah.. ".
" Apa hubungannya dengan ku? ".
" Tolonglah, bicaralah apa saja dengan nya.. aku tunggu, nyawa kami ada di tangan anda Nona ".
" Wait..... ".
Tuuuuttttt nada panggilan terputus. Naya berpikir sejenak, jika Rey sampai menelpon nya dengan suara berbisik, berarti memang sedang terjadi sesuatu. Ia memutuskan mencoba berkirim pesan lebih dulu.
" Assalamu'alaikum, Abang.. Aku lagi break kuliah, sebentar aku telpon, apa aku mengganggu? ".
Saat masih mendengarkan presentasi ulang dari team nya, mata nya menangkap sebuah notifikasi masuk lalu ia membuka untuk memastikan pesan tadi. Bibirnya melengkungkan sebaris senyuman samar lalu jemarinya mengetik sebuah balasan pesan disana.
" Wa'alaikumussalam.. Aku sedang meeting ".
Baru saja ia membalas pesan Naya. Ponselnya yang sedang ia hubungkan dengan proyektor menampilkan sebuah tulisan - My Honey calling - dilayar besar ruangan itu. Seketika ruangan riuh dengan bisik-bisik samar anggota meeting dalam ruangan itu.
Mahen sedikit terlambat menyadari itu semua, lalu ia mematikan konektor, bangkit dari kursinya menuju keluar ruangan sejenak untuk menerima panggilan Naya.
" Iya sayang... ".
" Lagi meeting? ko keluar ruangan? jangan marah-marah melulu, kasian anak orang dikasih makan sama orang tua nya biar bisa berkontribusi buat perusahaan ini malah dimarahin nyampe kantor... ".
" Pasti Rey! ".
" Break dulu jika lelah, biar ga emosi ke yang lainnya "
" Aku gini karena kamu ".
" Ko aku? ".
" Honey, i miss you, so much... ".
" Aku udah ikuti mau nya Abang, ga ambil part time lagi dan fokus kuliah... Tapi aku masih boleh ke radio kan? ".
" Really? kamu ga terpaksa kan? ".
" Menurut Abang? Dosen sudah masuk, inget jangan marah-marah lagi ".
" Honey, aku boleh menelpon mu malam ini? ".
" No, aku masih membencimu ".
" Say-ang..... ".
Tuuuuutttt, panggilan nya diputus Naya begitu saja. Ia kembali lesu, namun merasa lebih baik setelah mendengar suara kekasih nya itu, suara yang sangat mahen rindukan.
Ia kembali masuk ke ruangan meeting dengan aura yang lebih tenang.
" Lanjutkan.... ". suara nya melembut kali ini, Mahen kembali menyambung kan ponselnya ke proyektor. Ia lupa, aplikasi pesan masuk tadi belum diback hingga sebaris pesan muncul di layar besar itu.
" Makan dan istirahat lah dengan benar lalu minum obat nya, aku tau Abang sedang migrain.. Take a Breathe, kalian semua butuh break sejenak ".
" Ehheemm... ". Rey berdehem pelan saat melihat sebaris pesan bertuliskan - My Honey - sebagai identitas sang pengirim terpampang di layar proyektor ruangan itu.
Mahen yang masih tak menyadari keriuhan dari wajah-wajah yang bersemu disana akhirnya mengangkat kepala saat Rey mematikan proyektor.
" Bos, pesan Nona terekspos ".
" What... ". Mahen mengecek ponselnya, benar saja ada satu pesan masuk dari Naya yang membuat nya membubarkan meeting tegang siang itu.
" Kita break 30 menit ". Mahen lalu meninggalkan ruangan meeting kembali menuju keruangan nya.
Honey.... kamu sangat mempengaruhi ku. Ya Tuhan...
Sementara diruangan meeting, Rey mendapat banyak cercaan pertanyaan tentang siapa sosok yang telah berhasil menetralkan emosi sang bos mereka. Rey hanya berkata, " Jangan gosip ". lalu melangkah pergi mengikuti Mahen.
" Nona, thanks a lot bantuan nya ". Rey mengirimkan pesan ke Naya, berterimakasih telah membantu nya hari ini.
________________
Cinta 😌
Follow ya gaes, klik iKON author dan pilih follow.. thank you
__ADS_1