Dia.. Pilihan Untuk Ku

Dia.. Pilihan Untuk Ku
TIDAK ADA OBATNYA


__ADS_3

30 menit sebelum nya. Disebuah ruangan ganti pegawai part time. Pergulatan batin seorang gadis sedang terjadi.


Dirinya gamang, harus memilih antara sahabat nya atau adik kecil kesayangan nya.


" Maafkan aku Naya harus melakukan ini, kamu punya seorang kekasih yang bersedia menerima mu meskipun kamu sudah tidak gadis lagi bukan? sedangkan aku, hanya punya satu-satu nya saudara yang kini sedang sekarat.. Maafkan aku kali ini, aku akan menanggung resiko nya bila suatu saat kamu membenci ku atau kekasih mu itu mem-bu-nuh ku, setidaknya aku telah melakukan sesuatu demi keluarga ku ". Ia berkata lirih dengan menahan isak tangis nya.


Ia diberikan penyamaran oleh Anggara hingga Naya tak mengenali nya. Namun, Naya sempat mengenali gestur tubuh nya dan sempat menahan lengan nya beberapa saat sembari melihat ke dalam mata gadis ini.


" ... Kamu.... bukan? ". Tanya Naya.


" Bukan... ". Sahut nya seraya menepis tangan Naya yang menahan nya tadi.


" Suara kamu, mirip teman ku.. Maaf bila sudah tak sopan ". Naya berusaha menjelaskan meski gadis itu mengacuhkan nya.


Acara grand opening dimulai, semua part time sibuk dengan tugasnya masing-masing. Naya terlihat kelelahan karena memang dia standby di table utama dengan para senior nya.


Terlihat Naya meneguk air sambil berjongkok. Naya tak menyangka, jika air dalam botol miliknya yang baru saja ia minum telah di beri obat bius beserta obat pe-rang-sang oleh gadis misterius tadi.


15 menit kemudian, Naya merasakan kepalanya pusing hingga ia meminta izin pada seniornya untuk keluar dari ballroom agar bisa duduk menghirup nafas segar sejenak. Namun naas, baru saja ia duduk, tak lama kemudian Naya sudah tak sadarkan diri. Ia lalu dibawa oleh dua orang pria menuju sebuah kamar presiden suite yang telah disewa seseorang dilantai 10 hotel ini.


Saat inilah, Alex menyadari Nona nya hilang dari pandangan. Candi yang melihat Naya di bawa oleh dua orang pria pun berusaha mengejar nya, namun kekuatan Candi tak seimbang hingga ia dilumpuhkan dan terjatuh di ujung koridor.


***


" Nayaaaa ?.... Adnan say something... Naya bukan? Adnan..... ". Mahen terus berteriak dari dalam mobilnya sambil memacu kendaraan nya lebih cepat.


" Bukan bos. Anda dimana? aku telah menemukan koordinat signal nya ". Jawab Adnan waspada, ia berhasil menemukan sebuah kamar yang dijaga oleh dua orang bodyguard.


" 15 menit lagi sampai... cepat Adnan ".


" Alex.. Ikut Adnan ke lantai 10, lekas ". Mahen panik memberikan instruksi secepat kilat sambil terus mengemudi.


" I'm in bos, pak Adnan sudah terlihat. I'm move ". Alex berkata sambil berlari.


Buughhh, buughhh. Terjadi kegaduhan diluar kamar. Alex menghajar kedua bodyguard itu sedangkan Adnan berusaha mendobrak pintu kamar yang dikunci dari dalam.


Akhirnya... Slluuttt... slluuutt.. Dua buah peluru meluncur dari senapan kedap suara milik Adnan dan...


Bruuaaakkkk.....


Adnan mendobrak pintu nya. Ia terkejut melihat apa yang sedang terjadi. Tak sempat melihat lebih jauh, sebuah lemparan belati hampir saja mengenai dada nya bila saja ia terlambat menghindar.


Terjadi perkelahian antara Anggara dan Adnan didalam kamar yang berhasil dimenangkan oleh Adnan. Anggara kabur berlari keluar dari kamar nya setelah Adnan berhasil menancapkan belati tadi ke paha Anggara.


Bau darah Anggara yang menetes disepanjang kamar menguar memenuhi ruangan. Adnan juga menemukan seorang wanita dan pria didalam ruangan itu, kedua nya telah diikat oleh Adnan pada sebuah kursi agar mereka tidak dapat kabur, mereka yang akan menjadi saksi mata untuk diselidiki oleh bos nya nanti. Ia kemudian keluar akan membantu Alex namun kedua bodyguard tadi telah roboh di tangan Alex. Nampak olehnya kini kondisi Alex yang terengah-engah setelah berhasil melumpuhkan mereka.


" Aku baik-baik saja Bro, bagaimana dengan mu? dan Nona? ". Tanya Alex menahan sesak didada nya.


" Aku baik. Ada dua orang saksi didalam. Kamu berjaga lah disini hingga bos tiba. Terserah kalian mau diapakan orang-orang itu. Nona mu, keadaan nya akan memburuk jika bos tak lekas sampai disini ". Adnan mulai cemas.


Sementara itu dilantai dasar. Mahen tiba dengan memarkirkan mobil nya di sembarangan tempat. Ia langsung berlari menuju lift yang membawa nya ke lantai 10 dimana Adnan berada.

__ADS_1


" Adnan... mana Naya ". Teriaknya dengan nafas menderu, Adnan tau, bos nya ini menahan sakit pada kaki nya karena dipaksa berlari seperti ini.


" Bos, kaki anda. Nona didalam, tolonglah ia segera ". Adnan menunduk tak berani menatap bos nya.


" Dia kenapa.... ". Mahen langsung masuk dan ia tak percaya pada apa yang dilihat nya.


Dengan wajah sendu, ia menahan agar air mata nya tak jatuh. Ia menghampiri Naya yang tergeletak tak berdaya diatas kasur dengan posisi tangannya terikat dikepala ranjang. Mahen segera mengalihkan wajah nya lalu meraih selimut untuk menutupi tubuh kekasih nya itu.


" Alex.. Bawa kedua orang ini ke markas. Adnan kau melihat nya? ". Tanya Mahen pada Adnan, ia khawatir aurat gadisnya dilihat oleh laki-laki lain. Hati Mahen hancur, bagaimana dengan mental Naya jika mengetahui hal ini setelah ia sadar nanti.


" Bos, maaf aku gagal lagi ". Candi menghampiri bos nya setelah ia sadar dari pingsan nya.


" Candi, bantu aku menahan Naya ". Pinta Mahen, rasanya ia tak mungkin mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk menyentuh gadisnya yang sedang menderita.


" Sekilas Bos maaf, saat mendobrak pintu tadi. Aku sudah memeriksa kamera nya, dan mereka berdua juga bersaksi bahwa kamera belum on saat aku masuk ". Adnan menjelaskan situasi saat ia mendobrak masuk dan menemukan Nona nya. Mahen lalu meminta Adnan membawakan es batu sebanyak mungkin, sementara ia melepas jas dan dasi nya menggulung lengan kemeja nya hingga siku lalu berjalan ke toilet untuk mengisi bathtub dengan air dingin.


Naya mulai bereaksi. Tubuh nya mulai tidak tenang, ia hampir kehilangan kesadaran nya saat Mahen berbisik ditelinga nya. Mahen terpaksa menepuk pipi Naya pelan agar kesadaran nya tetap terjaga.


" Sayang, ini aku.. Naya dengarkan aku... sayang, kamu dengar aku? ". Tanya Mahen menahan isak tangis nya.


" A-bang, tolong aku.... Aaahh, panas, lepas, lepasin.. semuanya.. buka, panas... aaahh ". Naya mulai meracau.


" Honey, fokus, dzikir, ingat Allah... Sayang.. dzikir semampu mu. Sabar sedikit yaa ". Mahen tak kuasa melihat nya menderita seperti ini. Ia terus saja membantu Naya agar tetap sadar dan melantunkan dzikir. Allah tolong kami, pinta Mahen dalam hati.


" As-tagh-fii-rullaah... A-baaang... aah panas ".


" Candi, tahan dia.. Aku akan mengambil handuk basah ".


" Biarkan mata nya di tutup ". Perintah Mahen lagi. Adnan telah kembali dengan membawa banyak es batu, ia lalu menaruh nya dalam Bathtub.


" Sayang, ayok... Tahan yaa.. ". Mahen menggendong Naya menuju toilet dan memasukkan nya ke dalam bathtub yang telah dingin lengkap dengan selimut yang masih membalut tubuh nya.


Awalnya ia berontak, namun Mahen dan Candi menahan nya sekuat tenaga hingga perlahan Naya melemah didalam nya.


" Candi, panggil dokter dan tolong bawakan baju ganti untuk Naya. Adnan, please carikan penawar nya. Aku tak sanggup melihat nya menderita berjam-jam lama nya ". Mahen meminta hal yang mustahil pada Adnan.


" Bos, anda tau, ini tak ada obat nya kecuali..... Dia calon istri anda kan, tidak ada jalan lain selain itu Bos ". Adnan prihatin, tapi memang begitulah kenyataan nya. Jika fisik nya kuat, ia akan baik-baik saja namun jika tak bisa menahan nya, maka bisa saja jantung nya yang akan bermasalah.


" Demi Tuhan, aku tak akan menyentuh nya sebelum ia halal bagiku. Aku tau kamu bisa Adnan, setidaknya bisa meredakan rasa panas nya dulu ". Mahen tau bagaimana rasanya, hasrat yang begitu tinggi meminta untuk disalurkan. Ia pun pernah tersiksa sepanjang malam, rasanya lebih sakit dibandingkan dengan tertusuk belati. Semua organ tubuhnya begitu sensitif karena tengah berada di puncak nafsu.


" Baik bos. Akan aku usahakan ". Adnan kemudian berlalu keluar kamar itu untuk membuat racikan penawar yang ia bisa.


Setelah 30 menit berendam dalam air dingin, tubuh Naya mulai melemah, namun belum menghilangkan efek dari obat nya. Akhirnya tak lama kemudian, Candi datang dengan membawa seorang dokter wanita. Mahen mengangkat Naya dari bathtub dan meminta Candi, mengguyur nya dibawah shower selama 30 smenit dengan suhu air normal. Tak lupa ia juga meminta agar Candi membantu Naya berganti baju.


Mahen berkonsultasi dengan sang dokter sementara Naya dan Candi didalam toilet. Dokter mengatakan akan memberikan infus sebagai penawar awal karena tidak banyak yang dapat dilakukan nya saat ini, mungkin hanya mengecek fungsi organ vital Naya agar tidak mengalami penurunan fungsi.


" Bos, kami telah selesai. Nona masih begitu ". Mahen menghampiri Naya yang masih terduduk gelisah di sana. Melihat Mahen mendekat, spontan Naya memeluknya dan berusaha mencumbu kekasih nya itu.


" Sayang, No.. Jangan.. Love you honey, kamu ingat aku? aku sangat mencintai mu.. dengar aku? kita bisa, kita bisa melewati ini, tenanglah.. ". Mahen mengurai pelukan Naya, ia lalu menggenggam jemari Naya dan membawa nya ke hadapan dokter yang telah menunggu nya. Naya hanya bereaksi seperti orang bingung, reaksi yang wajar karena Naya masih dalam pengaruh obat sialan itu.


" Silakan dokter.. Dia lebih tenang meski belum sepenuhnya sadar ". Mahen membaringkan Naya perlahan di tempat tidur kembali. Dokter lalu memberikan infus sebagai penawar obat nya. Ia juga meminta Candi agar tetap berada di dalam kamar itu, di sisi Naya, memeluknya, menyelimuti nya agar Naya tetap tenang. Sedangkan Mahen hanya duduk di sofa sambil mata nya terus mengawasi kekasihnya itu dari kejauhan. Ia tak ingin khilaf, dan ia sengaja meminta Candi selalu di samping Naya, agar ia mempunyai saksi bahwa tak sedang mengambil keuntungan dalam kondisi Naya seperti ini.

__ADS_1


4 jam sudah, tubuh Naya perlahan menunjukkan penurunan efek dari obat itu. Adnan yang sedari tadi telah kembali membawa obat penawar nya terlihat ikut lega. Satu jam setelah dokter itu pergi, Adnan menyuntikkan sesuatu kedalam infus yang terpasang di lengan Nona nya itu. Sebuah racikan obat china yang dia dapatkan dari pemilik apotek tanpa sengaja saat dirinya kalut tak menemukan bahan obat yang dia cari.


Mahen saat ini terlihat lebih tenang, ia hampir tak pernah menyentuh ponsel nya kembali sejak menemukan gadisnya tadi meskipun dering nada dari ponselnya kerapkali berbunyi. Baginya, Naya adalah prioritas nya kini. Bajunya yang basah akibat mengangkat Naya dari bathtub tadi, tak ia hiraukan hingga kembali kering di badan.


Adnan dan Candi yang menjadi saksi mata dari awal hingga detik ini merasa salut akan kegigihan bos nya. Bangga akan keteguhan hati bos nya dalam memperlakukan kekasih nya meskipun keadaan menghimpit nya, ia berusaha seminimal mungkin bersentuhan dengan Nona nya itu.


" [ Anda lelaki sejati bos ] ". Batin Adnan.


" [ Anda luar biasa Abang bos.. Cinta anda pada Nona betul-betul tulus ] ". Candi yang memang telah lama kagum pada sosok Mahen, dibuatnya makin kagum sebab kejadian ini.


Pintu kamar hotel kembali diketuk, dua orang staff room service membawa berbagai hidangan terbaik bagi mereka bertiga. Tak ada yang merasa memesan jasa antar ini hingga kemudian manager hotel masuk kedalam kamar dengan wajah ketakutan.


" Maafkan kami Tuan, kami akan mengganti segala kerugian yang Tuan alami ". Manager hotel berkata sambil menundukkan wajah dan menahan takut.


" S*alan, jika kami tak datang tepat waktu, sudah jadi apa Nona kami, haaah? kamu mau mengganti kerugian? mana istri mu atau anak gadismu, akan kami perlakukan sama dengan yang dialami Nona kami, paham! ". Emosi Adnan memuncak.


" Tuan Manager, aku tau ini adalah salah satu proyek Sumitra yang baru berhasil di akuisisi oleh mereka. Sampaikan pada atasan mu. Mahendra akan datang mengunjungi nya ". Tak perlu basa-basi, kiranya jika Mahen mengeluarkan kalimat keramat nya itu, berarti ia akan datang untuk melakukan perhitungan, entah pembalasan atau lainnya.


***


Di gedung lelang proyek, kota Kuning.


" Rey, Mahen pergi? ". Tanya Pak Jim via telepon.


" Nona, Tuan besar.. Maafkan WaDir kali ini meninggalkan proyek nya begitu saja ". Rey sudah ketakutan, meminta maaf atas nama bos nya dirasa ampuh untuk meredam emosi Tuan besar nya itu saat ini karena bos nya memilih pergi mencari kekasihnya.


" Baguslah, justru aku yang akan menghajar Mahen dengan tanganku sendiri bila ia tetap ada disini ". Sahut Pak Jim.


" Bilang pada Mahen, aku yang akan membereskan Sumitra. Tapi bila anak itu masih ingin menghajar nya dengan tangan nya sendiri, aku akan memberi nya kesempatan ". Sambung Pak Jim kembali.


" Baik, akan aku sampaikan pada WaDir ". Jawab Rey menutup telepon nya.


Ia merasa bersalah kali ini tak bisa menjaga Nona nya sesuai apa yang diinginkan Abang bos nya itu. Rey lalu menghubungi Alex untuk menanyakan kabar perkembangan disana.


" Alex pindai semua CCTV hotel itu dan kirimkan padaku. Tolong sekalian awasi sahabat Nona yang bernama......... laporkan segalanya padaku. Dan siapkan parameter di sekitar Delta 04 berada ". Perintah Rey pada team nya.


" Copied Capt. Nona dan Delta 04 masih dihotel, keadaan saat ini menurut Candi aman terkendali. Dua orang saksi ini bagaimana? aku menunggu anda di markas Capt ". Balas Alex kembali.


" Aku akan kembali dengan Tuan besar setelah urusan disini selesai ". Balas Rey singkat sambil ia membereskan segala peralatannya untuk bersiap kembali dengan Pak Jim menuju kota dimana Mahen berada.


***


" S*alan, Mahendra. Ada saja akal mu menggagalkan rencana ku... aarrhhhghhhhhhh.... pisau s*ialan.. ". Anggara melayangkan sumpah serapah nya karena kegagalan misi nya menjebak Naya. Ia kini berada di sebuah penginapan kecil dipinggir kota dan terpaksa harus melarikan diri karena kaki nya terluka saat bertarung dengan Adnan di hotel tadi.


" Hei kamu.. hubungi gadis itu. Suruh ia datang kemari ". Titah Anggara pada orang nya itu.


____________________________


Fyuuuhh 😌


Jangan lupa like dan follow yaa gaes. Buka profile author di halaman novel, klik lalu pilih follow.. Thank you ❤

__ADS_1


__ADS_2