
" A-baaaang.... Ko lama ". Sorak Naya riang, seraya menghampiri sang kekasih yang telah berdiri menyambut nya. Mata nya tampak bercahaya karena lega sekaligus bahagia karena Mahen sendiri yang langsung menjemput nya disini.
" Sayang, ya Allah Naya, kamu bikin aku takut ". Mahen langsung memutari Naya begitu ia dalam jangkauan nya, mata nya menangkap sebaris luka gores di lengan kiri Naya. Ia merasa sedikit cemas namun karena gadisnya mengatakan bahwa ia baik-baik saja, perasaan cemas nya jauh lebih berkurang dibanding tadi. Keduanya lalu menyadari bahwa masih ada dua orang yang sedari tadi hanya diam berdiri melihat mereka berinteraksi.
" Maafkan saya Pak Nirwan, sudah menggangu disini. Terimakasih banyak atas bantuan nya, aku langsung pamit untuk membawa Naya kembali ". Mahen rasanya enggan berbasa-basi kali ini namun mengingat Nirwan telah menyelamatkan gadisnya, rasanya ia perlu untuk sekedar mengucapkan terimakasih.
" Silakan Pak Mahendra. Aku hanya kebetulan bertemu Naya tadi didepan ". Nirwan membalas ucapan Mahen sambil menyambut tangan nya, keduanya lalu berjabat tangan.
" Abang, kenalin ini sahabat aku dikampus, Sandy eh Nurma.. ".
" Mahendra ". Sambil mengulurkan tangan nya.
" Aku Nurma Om.. eh Mas eh Pak .. Duh maaf, Bob, gue panggil apa donk? ". Tanya Nurma merasa canggung karena ia menebak usia pria dihadapan nya ini terpaut lumayan jauh dengan sahabat nya yang masih terlihat bagai anak SMA itu.
" Serah lu... ". Jawab Naya sewot. Nyebelin banget sih kamu San, awas aja besok ketemu di kampus yaa. Naya menggerutu.
" Sandy, Ka Nirwan, aku pamit yaa.. Makasih jamuan nya dan doa nya buat aku. Sampai ketemu Sandy ". Naya memeluk sahabat nya itu sembari berbisik " hukuman mu dijatuhkan esok pagi nona Sandy ".
" Hati-hati yaa Naya, jangan keluyuran mulu nanti aku culik lho ". Balas Nirwan sambil tertawa.
Nampak sekilas kilatan cahaya tak suka yang terpancar dari mata Mahen, rasanya sudah waktunya ia meminta Rey untuk ikut menyelidiki apakah Nirwan bersekongkol dengan Anggara atau tidak. Mahen menaruh curiga, adiknya yang merupakan sahabat baik Naya dijadikan sebagai tameng agar dia bisa mendekati Naya dengan cara yang halus.
" [ Naya sayang.. Kamu sadar ga sih, kalau Nirwan tertarik sama kamu] ". Mahen merasa ngeri memikirkan jika suatu saat Naya akan meninggalkan nya. Ia tak sanggup bila harus merasakan kehilangan kembali setelah Ibunya memberikan restu kali ini.
" Abang, Mega gimana? ". Tanya Naya membuka keheningan.
" Rey sedang mengurus nya, lagian ide siapa sih begitu? aku kira kamu cuma mau datang kesana lalu pulang. Aku juga rencana nya akan menyusul ke hotel itu jika memang dia berbuat macam-macam ".
" Jadi kalau ga berbuat macam-macam, Abang ga akan nyusulin, gitu maksud nya? ".
" .... Lanjutkan penjelasan versi kamu ". Akhirnya Mahen mengalah agar Naya bisa menjelaskan lebih dahulu kronologis peristiwa pagi ini.
" Huft.... begini lho awalnya.... ". Naya bercerita tanpa jeda berharap ia dapat segera mengetahui kondisi Mega sahabat nya.
" Sayang, lain kali, bicarakan dulu denganku ok? kan kita pernah janji apapun masalah nya, kamu bilang sama aku ".
" Iya, aku lupa maaf karena terburu-buru ". Jawab Naya sambil menunduk merasa tak enak hati telah membuat kekacauan pagi ini terlebih ia tak mengetahui bagaimana nasib Mega sahabat nya kini.
" Nirwan, selain dia disana apakah ada orang lain yang kamu lihat? ".
" Ga ada.. aku juga kaget ko bisa dia disana. Abang, apa ini Tris-tan? ".
" Bukan.. ". Mahen menepikan mobilnya saat akan memasuki hotel tempat nya menginap, ia melewatkan sarapan nya lagi hari ini. Perutnya sudah terasa pedih, namun ia masih tak tenang menunggu kabar dari Rey tentang Candi.
" Siapa? ". Desak Naya lagi
" Kamu, atau keluarga mu apa punya sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku Naya? karena Anggara tak akan mengejar wanita bila tak ada manfaat bagi diri nya ataupun perusahaan nya ". Mahen memandang gadisnya lekat berharap akan menemukan sebuah rahasia kebohongan dari mata nya, tapi nampaknya dugaan nya itu salah. Mata Naya justru menghipnotis nya kembali, sepasang mata yang sangat indah dengan warna bola mata terkadang terlihat berwarna amber atau hazel bahkan tak jarang berwarna coklat tua, hingga Mahen lupa tentang misi kejujuran yang sedang dicari nya lewat pancaran mata kekasihnya itu.
" Abang, aku hanya tau silsilah keluarga ku dari Ummi, selebihnya aku ga tau. Entah jika ka Amir mengetahui sesuatu, aku akan tanya kan padanya jika pulang nanti. Jadi nama pria ini Anggara? apa aku kenal? ".
" Tidak. Dia melihat mu saat di party Saras lalu. Dia juga calon kakak ipar nya Rendy, temen kampus mu itu sekaligus Tuan Muda keluarga terpandang disini, Danureksa. Masih ingat kan? ".
__ADS_1
" Iya. Lalu apa hubungannya dengan ku? ".
" Entah. Itu yang akan aku cari tau.. Sebentar, aku hubungi Rey dulu ya ". Naya, pasti kamu punya sesuatu yang belum aku ketahui, rasanya ini adalah sesuatu yang penting.
***
Ballroom hotel Bintang.
" Tuan muda, ampuni kami, kami tak jeli mengenali wajah Nona muda yang Anda maksud. Jangan adukan kami ke management Tuan. Kami mohon ". Kedua wanita dari salon & spa hotel ini berlutut memohon pada Anggara agar mereka tak di pecat.
".............. ". Anggara masih bersikap acuh, memang salahnya juga tak memberi foto Naya pada mereka. Namun rasa gengsi yang besar menghalangi nya untuk mengakui bahwa ia bersalah juga dalam hal ini dan Ia merutuki kebodohannya sendiri.
Saat akan melepaskan kedua wanita staff salon & spa tadi. Masuklah seorang pria ke dalam private room itu, pria ini diketahui Anggara sebagai salah satu staff EO yang menangani acara party ulang tahun Naya di hotel ini sekaligus santunan untuk beberapa panti asuhan yang sering Naya kunjungi.
" Tuan, anak-anak dari beberapa panti asuhan telah datang, 15 menit lagi acara akan kita mulai ". Seorang EO menghampiri Anggara yang sedang duduk di sofa private room nya sambil menyesap segelas wine.
" Mulai saja, tapi aku tak akan hadir. Aku telah kehilangan nafsu untuk melanjutkan ini semua gara-gara rubah kecil ini ". Sahut Anggara dingin.
" Baik ". Ujar seorang staff EO sambil pamit undur diri dari hadapan sang klien.
" Pergilah.. Sampaikan pada Naya, aku tak akan menyerah. Jangan lupa obati luka mu itu ". Anggara berbicara pada Candi, yang masih terduduk dilantai karena kepalanya masih lumayan pusing, telinganya berdengung akibat kerasnya tamparan yang dilayangkan Anggara padanya.
" Pengawal, antarkan gadis itu kembali ke kost-an nya. Berikan dispensasi agar kita tak berurusan dengan pihak berwajib disini ". Titahnya kemudian.
" Baik Tuan Muda. Nona ayo bangun ". Salah satu pria bodyguard Anggara menarik paksa lengan Candi.
" Aku masih bisa berdiri, lepaskan. Asal anda tahu, Bos ku tak akan tinggal diam atas kejadian ini. Tunggu saja, dia akan membalas mu dua kali lipat ".
" Hahahaha... Bilang pada Mahendra, jangan menggenggam gadisnya terlalu kuat, nanti dia akan merasa sakit hingga berusaha melepaskan diri dari nya dan aku yang akan menggantikan Mahendra untuk menjaga nya seumur hidup ku ". Anggara mengatakan kalimat nya dengan nada dingin dan tegas seakan ia sangat siap merebut Naya dari rival nya itu.
Candi keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai, salah satu tangan nya memegangi pinggang yang terasa nyeri menuju sebuah lift di ujung koridor. Dengan susah payah akhirnya ia tiba di depan sebuah lift, ia menekan tombol nya dengan perlahan, untung saja keadaan sekitarnya nampak lengang sehingga Candi tak perlu susah payah menghindari tatapan aneh dari orang-orang yang melihatnya. Tak berapa lama ia menunggu, pintu lift terbuka dan tampaklah Rey dihadapan nya kini.
" Kak R-ey.. A-ku.. ". Candi menatap Rey dihadapan nya dengan perasaan takut.
" Can...... ". Rey tak tega melihat penampilan gadis di depan nya ini, rasanya ia ingin membawa ke dalam pelukannya saat ini. Pipi yang tampak kemerahan dengan bekas jari masih meninggalkan jejak jelas disana. Sudut bibir yang terluka dengan sisa darah yang nampak mengering menandakan telah terjadi kekerasan fisik. Tangan kiri Candi yang memegangi pinggang nya dan rintihan pelan saat Rey memapahnya, membuat nya semakin yakin bahwa gadis ini terluka.
" Kita ke rumah sakit yaa, jangan membantah ". Sahut Rey kemudian yang diangguki oleh Candi.
" Bos, aku membawa Candi ke rumah sakit, tampaknya Anggara membuat nya terluka ". Rey mengirimkan pesan pada Mahen agar tak cemas menunggu kabar dari nya.
" Alex, amankan posisi ku dan tujuan ku ". Rey memberikan perintah pada agent shadow force yang lainnya agar mengamankan jalur yang akan mereka lewati dengan aman tanpa ada yang mengikuti atau pun memata-matai.
***
Kediaman Danureksa.
Tuan besar Danureksa Subrata sedang berada di dalam ruang kerja nya, dirumah megah itu ketika suara pintu diketuk seseorang dari luar. Kepala pelayan keluarga ini kemudian masuk kedalam ruangan majikan nya untuk menyampaikan bahwa ada seorang tamu yang ingin bertemu dengan nya.
" Anggara ada disini? mau apa dia kemari? ". Sahut tuan danu pada kepala pelayan nya.
" Beliau hanya mengatakan sedang mampir ke kota ini dan meminta waktu beberapa menit untuk menyapa anda, Tuan ". Sahut kepala pelayan sambil menunduk.
__ADS_1
" Baiklah, aku akan menemui nya ". Tuan danu keluar dari ruang kerja nya menuju ruang tamu dimana Anggara menunggu nya.
" Selamat datang dirumah ku Nak Anggara, suatu kehormatan rumahku dikunjungi tuan muda Sumitra ". Sapa Tuan Danu membuka percakapan.
" Hallo Tuan Danu, calon besan nya Papa. Terimakasih sambutan nya, aku hanya mampir untuk menyapa anda sebentar, semoga tak mengganggu waktu anda yang berharga ". Anggara menimpali.
" Katakan, ada perlu apa hingga Tuan Muda turun gunung seperti ini ".
" Tak ada, aku hanya sedang mengagumi seorang gadis dikota mu. Sepertinya Rendy mengenal nya ". Terka Anggara.
" Siapa yang anda maksud Tuan? ".
" Jangan berpura Tuan Danu, aku yakin anda sudah mengetahui tentang nya. Ainnaya ".
" Ainnaya, apa istimewa nya gadis itu dimata seorang Anggara Sumitra? ". Tuan Danu memancing reaksi Anggara.
" Apa istimewa nya? aku rasa anda jauh lebih mengetahui tentang nya karena tak mungkin rasanya bila seorang Tristan mau bekerjasama dengan anda untuk mencelakai gadis itu ". Jawab Anggara menohok telak pernyataan yang Tuan Danu utarakan tadi.
".......... Sebutkan maksud mu dengan jelas Tuan Muda ".
" Jangan campuri urusan ku. Atau aku akan membongkar semua niatan mu yang sebenarnya dibalik pernikahan adikku Anggi dengan Rendy ". Anggara mengintimidasi Tuan Danu, aura dingin darinya menguar memenuhi seisi ruangan.
".......... ". Danureksa hanya diam tak berkutik, ia sadar sedang berada dalam ancaman tak main-main kali ini karena ia tau betul siapa Anggara jika sudah bertindak.
" Diam mu, aku anggap sebagai tanda setuju. Bilamana aku masih melihat Tristan berkeliaran disekeliling gadis itu, aku tak segan menguliti mu hidup-hidup dihadapan Papa ".
Anggara lalu melangkah menuju keluar ruangan dari rumah megah sang calon besan ayahnya itu. Ia perlu memperingatkan Danureksa bukan saja untuk membuatnya leluasa berada di kota ini tanpa pengganggu melainkan juga untuk menyingkirkan satu rivalnya dalam mendekati gadis itu. Yah meski Anggara tau, Tristan bukanlah lawan sepadan baginya kecuali Mahendra.
Danureksa merasa posisinya makin terancam, rasanya ia perlu segera melangsungkan pernikahan Rendy agar posisinya sedikit aman dan terlindungi karena ada Sumitra yang akan setia membantu nya.
***
Didalam sebuah mobil, depan hotel Santi.
Mahen menerima satu notifikasi pesan di ponselnya, ketika ia membuka pesan masuk itu wajahnya terlihat lega sekaligus cemas.
" Naya, Mega dibawa ke rumah sakit. Kamu mau kesana? tapi kita makan dulu yaa, perutku perih, setelah itu kita ke rumah sakit ". Mahen memberikan pilihan pada Naya.
" Iya ok ". Naya meminta Mahen untuk masuk saja ke cafe hotel agar tak harus memutar arah kembali hanya untuk sekedar mencari tempat untuk sarapan.
Setelah mereka selesai sarapan, keduanya bergegas menuju rumah sakit sesuai dengan petunjuk yang Rey berikan tadi. Beberapa menit perjalanan yang harus ditempuh, keduanya tak terlibat sedikitpun percakapan. Hingga tibalah kini disebuah pelataran rumah sakit. Mereka langsung menuju ruang rawat inap dimana sahabat Naya ini berada.
" Mega... Maafin aku, kamu gimana? sakit ya? ". Naya bertanya dengan nada cemas bercampur sedih.
" Aku gapapa, sekarang hanya ngantuk, ingin tidur. Naya sayang, kamu ga salah. Aku minta maaf jika tetiba nanti tertidur ya ". Sahut Mega lemah. Naya mengangguk pelan sambil tersenyum samar. Lama ia memegang tangan Sahabat nya itu hingga tak terasa, alarm yang berbunyi dari ponsel nya membuyarkan lamunan nya.
Mahen memilih berada di luar kamar dengan Rey yang tengah menceritakan kronologi versi Mega pada Mahen. Terlihat wajah geram menahan kesal yang Mahen perlihatkan pada Rey sebab perlakuan Anggara pada orang-orang nya. Andai Pak Jim tau, akan dikemanakan wajah nya, menjaga team nya saja tak sanggup apalagi untuk menjaga Naya sesuai janjinya.
" Abang.. Aku pamit kerja dulu yaa. Tuan Rey terimakasih. Aku sudah meminta Agus dan Vita untuk menemani Mega selama aku kerja. Aku akan kembali kesini selepas pulang nanti ". Naya pamit pada mereka berdua sekaligus menjelaskan tentang keinginan nya untuk menjaga Mega, jikalau Mahen dan Rey ingin kembali pulang sore ini.
" Sayang, aku antar kamu. Rey akan berjaga disini ko sampai teman mu tiba. Kami akan pikirkan akan kembali kapan, yang penting kamu dan Mega aman dulu ". Sahut Mahen sambil beranjak berdiri lalu mengajak Naya meninggalkan rumah sakit menuju tempat kerja nya.
__ADS_1
[ Kenapa semua menjadi begini, di sekeliling ku rasanya tak aman. Semua yang dekat dengan ku selalu terluka. Sepertinya,memang aku harus pulang, akan aku tanyakan semuanya pada Abah atau ka Amir nanti ]. Pikiran Naya menerawang jauh hingga pertanyaan Mahen tak ia gubris.
" Honey, are you ok? honey... Naya... ". Mahen melihat gadisnya kembali menjadi pendiam, jujur ia khawatir jika Naya berpikir, karena berada di sisinya lah kerap membuat nya dan orang-orang terdekat nya berada dalam bahaya.