Dia.. Pilihan Untuk Ku

Dia.. Pilihan Untuk Ku
PENYESALAN


__ADS_3

Setelah melakukan tugas nya itu, ia tak lantas pergi dari hotel melainkan membuntuti dua orang pria yang membawa Naya ke lantai 10. Ia dibuat terkejut saat mengintip dari pintu kamar yang belum tertutup. Terlihat beberapa orang sibuk didalam nya seperti sedang mempersiapkan sebuah kegiatan syuting.


Sejenak ia berpikir, kemudian saat menyadari apa yang akan mereka lakukan terhadap sahabat nya itu, ia lantas menyesali perbuatannya. Namun ketika ia hendak menolong Naya, tiba-tiba terdengar langkah mengendap menuju arah nya. Ia pun langsung berlari dan sembunyi dalam sebuah kamar. Entah apa yang terjadi setelah nya ia tak tau menau karena tak lama setelah terjadi keributan, ia pun kabur keluar dari hotel dengan panik.


Esok hari. Di sebuah kamar penginapan, pinggir kota.


Setelah orang suruhan Anggara kembali ke penginapan dengan membawa gadis suruhan nya kemarin, mereka kini berada di dalam kamar yang Anggara sewa.


" S*alan, pria brengsek! kamu apakan sahabat ku? ". Amuk nya pada Anggara.


" Cih, sahabat? kamu masih berani menyebut nya sebagai sahabat setelah apa yang kamu lakukan terhadap nya? .... heh, pikir pakai otak kalau bicara ". Sergah Anggara murka.


" Kenapa reaksinya hanya sebentar, seharusnya gadis itu menderita selama lebih dari 10 jam atau bahkan bisa 24 jam. Aku ingin Mahen juga menderita melihat kekasihnya berjuang melawan hasrat yang tinggi untuk di lampiaskan sementara dia tak bisa berbuat apa-apa. Kau mengkhianati aku.. Haah, gadis bodoh? ". Anggara mencengkeram wajah gadis itu dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanan nya mulai meraba tubuh gadis itu.


" Aku tidak tau.. Tapi aku pastikan telah menuangkan semua isi nya kedalam botol minum nya... Lepaskan aku ". Berontak nya lagi. Namun tenaga nya kalah jauh dengan Anggara, tubuhnya dihimpit oleh badan pria kekar itu ke dinding.


" Kalau begitu, kamu harus menggantikan dia untukku ". Anggara merobek baju gadis itu, mencumbu nya paksa dan melempar tubuh gadis itu ke tengah ranjang nya. Anggara kini telah diselimuti oleh nafsu. Bagaimanapun gadis itu mengelak, tenaga nya tak cukup kuat menghalau sentuhan demi sentuhan e-ro-tis dari Anggara hingga nyaris saja Anggara berhasil memasuki inti tubuh gadis itu, sebuah lemparan botol berisi gas memecahkan jendela kamar, seketika kamar itu dipenuhi oleh kepulan asap yang menyesakkan dada.


Melihat ada peluang untuk kabur melarikan diri, gadis itu menendang tungkai Anggara hingga ia jatuh terhuyung. Lalu ia berusaha bangkit dari posisinya dan keluar kamar. Sayang, kamar itu terkunci, harapan nya untuk lolos pun pupus sudah.


Namun ketika ia telah pasrah akan nasib nya, sebuah lengan menariknya kembali dan sebuah jaket tebal disampirkan pada bahunya untuk menutupi tubuhnya yang sebagian telah terbuka akibat bajunya di robek paksa oleh Anggara tadi.


" Pergilah ". Bisik sebuah suara mirip seorang wanita yang wajah nya tertutup kain serba hitam.


Gadis itu berlari tergesa-gesa keluar penginapan dan pergi menggunakan taksi. Sepanjang perjalanan ia menangis, meratapi kejadian yang baru saja terjadi. Bagaimana nasib nya jika ia tak diselamatkan oleh seseorang tadi?


Deeggggh...


Seketika ia mengingat sahabat nya Naya. Seorang gadis yang tak pernah mengenal pacaran, disentuh oleh laki-laki pun ia enggan, harus mengalami peristiwa pelecehan dan kekerasan sek-sual. Akan jadi apa Naya nanti, akankah mental nya sanggup menerima itu semua?. Dia lalu menangisi kebodohan nya, menangisi keegoisan nya.


" Naya.. maafkan aku... maafkan aku ". Ucapnya berulang kali.


Beberapa saat kemudian, ia telah sampai kembali di rumah nya yang mungil. Ia akan menemui adiknya yang tengah terbaring sakit, sang adik hanya ditemani oleh ibunya yang setia mendengarkan keluhan sang anak atas apa yang tengah dirasakan nya itu.


" Kakak pulang ". Sahut nya ceria, ia terpaksa harus berpura-pura bahagia di depan keluarga nya itu. Hanya dia tulang punggung yang dapat diandalkan oleh mereka. Ayah nya telah lama meninggal akibat sakit yang entah apa sebab nya.


" Gimana, dapat uang nya? ". Tanya ibunda nya.


" Belum, bentar lagi Bun, sabar ya ". Jawabnya lesu.


Tok tok... Terdengar suara pintu rumah mereka diketuk.


" Assalamu'alaikum.. ".


" Wa'alaikumussalam... ". Jawab ibunda.


" Siapa yaa? ada perlu dengan siapa? ". Tanya ibunda lagi saat pintu rumah nya telah ia buka.


" Aku menitipkan ini, untuk pengobatan anak bungsu anda, segeralah ke rumah sakit dan lakukan medical check up. Setelah itu, tunggu kabar selanjutnya dari aku ". Jawab pria misterius ini. Setelah ia memberikan bingkisan dari majikan nya, ia pun segera pergi meninggalkan rumah itu.


Sang bunda yang terkejut menerima sebuah amplop berwarna coklat tebal, berteriak memanggil anak sulung nya.

__ADS_1


" Kaaakkk... kakak... kemari ".


" Siapa tadi bun? ". Tanya sang anak.


" Entahlah, dia memberikan ini. Uang... banyak sekali.. ini dari teman mu? sampaikan terimakasih Bunda pada nya. Ayok kita bawa adek ke rumah sakit ". Bunda nya bersemangat sekali, sedangkan ia bingung. Uang ini tak mungkin dari Anggara bukan? Batin nya meragu. Panggilan ibunda nya membuyarkan lamunan nya sejenak, Ia lalu bangkit dan bersiap membawa sang adik kerumah sakit untuk melakukan proses pengobatan.


***


Di sebuah kamar VVIP sebuah rumah sakit. Malam hari itu.


10 jam sudah Mahen menemani kekasihnya yang masih tergolek lemah. Kesadaran Naya perlahan telah muncul kembali sejak 1 jam lalu.


Mahen lalu meminta sang dokter wanita untuk memeriksa keadaan Naya terkini. Akhirnya setelah melewati pertimbangan matang, Mahen memutuskan untuk membawa Naya kerumah sakit agar dilakukan perawatan intensif. Dan disinilah mereka berada.


Sudah lebih dari satu jam yang lalu, Pak Jim dan Rey datang menemuinya.


Mahen tak mengizinkan kedua nya untuk masuk melihat Naya didalam ruangan sebelah yang tersekat. Rasanya Mahen tidak rela bila gadisnya itu dilihat oleh orang lain dalam kondisi seperti ini.


" Maafkan aku Pak... Rey. Aku hanya ingin menjaga nya, hanya ada Candi dan aku yang menemani nya... Aku mohon kalian mengerti ". Mahen sejujurnya merasa tak enak hati melarang orang terdekat nya memberikan support bagi Naya. Tapi ia jauh merasa perlu menjaga kehormatan gadisnya lebih dari segalanya.


" Aku mengerti Nak.. Jagalah dia sampai benar-benar pulih, tak perlu tergesa kembali ke Jakarta, Mahen.. Aku yang akan mengurus Sumitra ". Pak Jim menenangkan Mahen.


" Bos.. Alex berhasil. Pesan anda telah disampaikan ". Rey memberikan laporan terkini pada Mahen.


" Thanks Rey ". Mahen menanggapi singkat, urusan tentang kecurigaan yang Rey sampaikan pada Mahen tempo hari untuk menyelidiki sahabat Naya yang menghianati nya, sudah ia serahkan pada Adnan dan Alex sejak siang tadi.


Mereka bertiga masih berbincang di ruang tamu kamar rawat inap Naya hingga suara Candi menghentikan obrolan mereka.


Mahen kemudian pamit untuk masuk kedalam ruangan kamar yang tersekat untuk menemui Naya. Sedangkan Pak Jim memutuskan untuk kembali ke hotel dengan Sonny asisten nya dan Rey memilih duduk berjaga diluar kamar Nona nya itu sembari menunggu kabar terbaru dari team nya yang tengah mengawasi dan menyelidiki siapa saja yang terlibat dalam insiden kali ini.


" Sayang.. Ini aku.. Mau minum? ". Tanya Mahen lembut.


" Abang, jangan pergi.. Disini saja.. ". Pinta Naya lirih hampir tak terdengar.


" Aku ga kemana-mana.. Sudah merasa lebih baik, sayang.. Mau mencoba untuk duduk? Candi yang bantu yaa ".


" Mau sama Abang.. ". Ucap Naya pelan. Mata nya masih terpejam, saat Mahen bertanya mengapa? Naya hanya menjawab, pandangan nya masih berkunang-kunang tapi pendengaran nya sudah kembali pulih perlahan. Mahen lalu membantu nya duduk dengan mengatur ketinggian posisi tempat tidur Naya.


" A-bang.. Mega itu Candi yaa? Mega Chandini.. Yang selama ini menjaga ku dari dekat.. Ceritakan apa yang terjadi padaku.. Jangan ada yang di tutupi, in sya Allah aku menerima nya ". Nada bicara Naya seakan menahan sesak.


" Sayang... Apakah bagian tubuh mu ada yang terasa sakit atau ngilu bahkan pedih? dimana, tunjukkan padaku ". Mahen perlu memastikan kondisi fisik Naya apakah mengalami kekerasan sek-sual atau tidak agar ia dapat mengambil langkah pemulihan bagi Naya dengan tepat.


" Disini..... ". Naya menunjuk dadanya.


" Tidak ada di tempat lain? ". Tanya Mahen kembali dan ia mendapat jawaban atas kekhawatiran nya itu saat Naya menggelengkan kepala nya.


" Alhamdulillah... ". Ucap Mahen lega.


" Ayo cerita... aku mendengarkan ". Pinta Naya lagi.


"....................... Candi saksi nya dan benar bahwa dia yang bernama Mega Chandini, teman mu ". Mahen menceritakan segala nya termasuk kecurigaan nya pada sahabatnya juga. Ia gelisah saat Naya tak merespon nya sedari tadi.

__ADS_1


" Aku memang mencurigai gelagat sahabat ku akhir-akhir ini. Abang, aku masih... itu kan? ". Tanya nya kemudian setelah sekian lama ia diam.


" Hasil visum baru keluar besok sayang, tapi bila kamu ga ngerasa sakit di daerah itu, semoga tidak apa-apa. Naya... Sayang, aku menerima mu apapun kondisi mu.. ". Mahen mengerti kegundahan hati kekasihnya ini.


" Abang..... ". Tangan nya terulur ke arah kanan dimana Mahen duduk, seperti hendak menggapai sesuatu diudara.


" Mau ambil apa? aku ambilkan ".


" Tangan abang mana? ".


" Ini... mau apa? ". Mahen mengulurkan tangan nya menggapai jemari Naya diudara.


" Aku... sayang abang, terimakasih banyak sudah selalu ada di saat aku sangat butuh, saat terpuruk dan saat dalam kondisi hina seperti hari ini, Mega bilang Abang berusaha menjaga pandangan dan tak menyentuh ku.. Aku..... aku..... berte-ri-ma ka-sih ". Tangis Naya akhirnya pecah.


" ......... Aku ga bisa melakukan tindakan pencegahan agar ini tidak terjadi... Maafin aku yang gak berguna yaa Ainnaya ". Mahen menundukkan kepala nya, suara nya bergetar menahan sesak agar isak tangis nya tak terdengar Naya, ia menyesali kejadian ini menimpa kekasih nya.


" Abang ga salah, aku yang tidak waspada.. Mulai sekarang, aku akan betul-betul nurut sama Abang ". Perlahan Naya membuka mata nya yang sedari tadi terpejam, lalu ia melihat ke sisi kanan. Tampak olehnya kepala kekasihnya itu tertunduk sembari menggenggam tangan kanan nya, bahu tegap nya terlihat gemetar tanda Mahen sedang menahan sesak didada nya. Tangan kiri Naya berusaha membelai lembut kepala Mahen yang menempel pada sisi tempat tidur nya.


Mahen lalu mengangkat kepala nya kembali, mata mereka saling bertemu dan beradu pandang. Tanpa ada banyak kalimat keluar dari bibir mereka namun terpancar jelas dari mata keduanya bahwa mereka bersyukur masih diberi keselamatan oleh Allah. Mahen menghujani telapak tangan Naya dengan kecupan sayang.


Naya melihat penampilan kekasih nya yang biasanya terlihat rapih, namun kali ini tampak sangat kacau, bajunya kusut, rambutnya tak tertata rapi, guratan halus diwajahnya menandakan Mahen lelah sekaligus lega bahwa Naya baik-baik saja.


" Abang, aku suapin makan ya, pasti Abang belum makan dari siang tadi kan ". Suara Naya masih sangat lemah karena ia merasakan hawa panas masih terasa ditenggorokan nya.


" Aku yang suapi kamu makan, kamu masih lemas begini. Kita makan sama-sama yaa ". Tawar Mahen sembari ia bangkit dan mengambil makanan yang Rey bawakan sejak satu setengah jam yang lalu.


Mega alias Candi yang melihat moment haru nan manis pasangan ini, memilih keluar kamar agar mereka lebih leluasa meluapkan segala perasaan yang menyesakkan dada karena kejadian ini.


Mega Chandini lalu menghampiri Rey yang juga sedang menengadahkan kepala nya sambil memejamkan mata. Saat Rey merasakan sofa yang dia duduki melesak. Ia pun membuka mata.


" Aku yang salah, aku sudah curiga tapi ragu untuk menyelidiki lebih jauh. Can, apa bos memafkan aku kali ini? ". Tanya Rey sendu.


" Nona orang yang sangat baik meski terkesan jutek dan cuek dari luar tapi hatinya hangat dan lembut pada siapa saja. Wajar jika Abang bos jatuh cinta padanya, wajar jika banyak wanita yang iri karena perlakuan Abang bos pada Nona dan wajar jika banyak wanita yang ingin menggantikan posisi Nona. Semuanya diluar kendali kita kak.. Orang itu saja yang berpikiran picik ". Candi berusaha menenangkan Rey yang terlihat frustasi karena ia telah merasa gagal menjaga Nona nya itu.


" Tapi Abang bos masih bermurah hati ketika mengetahui alasan dibalik gadis itu melakukan kejahatan nya. Abang bos bahkan memberikan sejumlah uang untuk biaya pengobatan adik gadis itu. Dan juga, tadi Abang bos meminta izin pada Tuan besar agar adik sahabat Nona nya itu dapat masuk dalam daftar tunggu utama agar segera mendapatkan donor pencangkokan organ jantung di yayasan yang dikelola Nyonya Maharani, Mama angkat mu. Tuan besar pun tak habis pikir, mengapa Abang bos masih simpati dan empati pada orang yang telah mencelakai mereka berdua. Kamu tau Abang bos bilang apa, Can? ". Rey meneteskan airmata nya karena tak kuasa menahan haru atas kebaikan hati kedua majikan nya itu.


" Oh god. Luar biasa.... Apa kata nya ka? ". Sahut Mega Chandini.


" Jika Naya tau siapa dalang dibalik ini, pasti ia akan menyalahkan dirinya karena sudah tidak peka ketika sahabat nya dalam kesulitan. Naya akan memaafkan nya apalagi jika kondisi visum Naya menunjukkan bahwa ia baik-baik saja. Aku tak bisa melihat Naya menyalahkan dirinya sedangkan aku mampu untuk membantu ". Ungkap Rey kemudian.


" Oh my god.... Abang, Nona hati kalian terbuat dari apa? ". Candi ikut berkaca-kaca mendengar penuturan Rey.


" Kamu tau Can, Nona banyak membawa perubahan besar untuk Abang bos.. Mengubah segalanya, dari mulai ibadah nya hingga hati nya yang dulu hangat telah kembali, Abang bos kembali menjadi manusia bernyawa setelah bersama Nona, senyum yang sering kita lihat darinya dulu, sudah kembali terbit dengan mudah menghiasi hari nya kini.. Aku beruntung melihat itu semua ". Rey sangat jelas mengetahui segala yang pernah menimpa abang bos nya itu.


" Siapa gadis itu ka Rey, yang tega mencelakai sahabat nya sendiri? ". Tanya Candi.


" Menurut mu.....? ". Rey balik bertanya.


____________________________


Penyesalan bagi semua orang, yaa Mahen, Naya, Rey, Candi bahkan.... Gadis itu...

__ADS_1


__ADS_2