
Bandung.
Persiapan gedung dan segala keperluan pernikahan megah dua klan penguasa real estate beberapa hari lagi akan digelar.
Terlihat Anggara yang setia menemani adik semata wayang nya kemana-mana, sembari ia tetap menunggu kabar dari sahabatnya.
" Kak, aku akan menikah sebentar lagi. Aku tau Ka Angga tidak suka pada Papa mertua ku tapi ku harap kakak akan tetap menghormati suami ku nanti ".
"....... ". Anggara hanya diam.
" Ka.. Lepaskan gadis itu, kami sesama wanita. Cinta dan sayang itu tidak bisa dipaksa ".
" Tau apa kamu? ". Anggara mendengus kesal.
" Aku tau, Gadis itu memang istimewa dan sempat membuat Rendy sedikit berpaling dari ku.. Siapa yang tidak ingin menjadi berpengaruh, siapa yang tidak ingin segala kemudahan dengan fasilitas lux.. Yakinkan hati mu, apa Ka Angga menginginkan nya sebatas kekuasaan atau memang Ka Angga, cinta? ".
" Keduanya ".
" Huft, sulit bicara dengan mu Kak ".
" Sudah ku bilang, jangan mengurusi ku ". Anggara tersenyum sinis.
Hari Pernikahan, Sabtu siang.
Kedua mempelai memasuki Hall megah sebuah hotel yang didominasi warna putih dan emas. Pasangan serasi, kesan para tamu undangan yang hadir siang itu.
Mahen mengutus Rey menghadiri wedding party atas nama nya. Mahen yang sudah mulai mengajak Naya menemani nya ke acara-acara formal sejak awal pedekate nya dulu, mengenang kebersamaan mereka yang kerap mengundang rasa penasaran kolega yang mengenal nya.
" Honey, I wish you are here.. Kita akan datang ke pernikahan Rendy dan membuat banyak pria iri karena aku memiliki mu.. Sayang, aku sangat rindu ". Seharian ini Mahen hanya tidur, makan dan nonton. Membawa bingkai foto Naya kemana-mana. Menemani nya makan, tidur tak jarang pula ia ajak bicara.
Rey yang melihat Bos nya sebelum berangkat ke Bandung. Mulai mendekati kegilaan, ada rasa tidak tega. Namun ia telah berjanji pada Tuan Besar nya untuk tak menceritakan rahasia tentang Nona nya.
" Bos, Nona sudah aman..... Tenanglah, Adnan juga sudah menemukan nya, hanya butuh memastikan saja.. Simon pun sedikit lagi membereskan orang Anggara... Bertahanlah, Ok? ". Rey menatap di kejauhan saat bos nya itu bermonolog dengan foto sang kekasih di balkon kamar nya.
Prang.. Seorang Ibu muda menyenggol lengan Rey yang hendak mengambil minum di salah satu stand gubugan. Gelas yang hendak diambil nya, terjatuh.
Bukannya meminta maaf, Ibu muda ini malah terlihat bingung kala melihat sosok yang dia senggol tadi.
" A-anda... Yang menyelamatkan pernikahan ku kan? Capt-ain... Iya benar, Capt-ain... ". Ucapnya terbata sambil mengingat memori nya.
" Kamu, kenapa disini? ". Rey ingat wanita ini, ia yang membujuk nya dan membantunya menemukan suami siri nya itu.
" Ikut suami ku... Mas, Mas.. sini ". Ia melambaikan tangan.
" Apa bun.. ". Suara bariton dari belakang, ternyata suaminya hanya berjarak 5 langkah dari tempat Rey berdiri.
" Ini, aku ingat.. Dia, yang nolong aku dan gagalin pertunangan kamu dengan Naya, dulu.. Katamu mau ucapkan terimakasih ". (eps.20).
" Oh iya... Lho, bukan nya anda..... ".
" Pak Bagas.. Apa kabar? ". Sapa Rey.
__ADS_1
" Baik alhamdulillah... A-ku... A-ku, tidak menghadiri undangan atas Tuan Danu, aku menemani Atasan ku yang merupakan kolega Tuan Sumitra.. Istriku pernah bekerja di butik Nona Anggi jadi kami datang bersama.. Naya ngemsi atau tamu juga? aku tak melihat nya ".
" Nona Ngemsi? dimana? ". Tanya Rey terkejut. Ia hanya menduga bahwa Nona nya ada di Solo. Tidak dengan pekerjaan nya.
" Dia kemarin buka acara perpisahan atasan ku.. kayak jadi Qoriah gitu, bacain ayat suci Al-Quran lalu lanjut Ngemsi... Kudengar dia aktif kegiatan sosial disana.. Suara Naya emang bagus ". Lanjut Bagas.
" Dimana? ".
" Bukannya kalian bersama yaa? uhm, di Solo ".
" Sampaikan salam ku yaa, Captain... Dan kami berterima kasih pada anda ". Dewi tersenyum ramah.
" Akan aku sampaikan, terimakasih ". Rey menepi akan mengabarkan pada Bos nya. Namun karena situasi yang sangat ramai dan Rey yang berkali disapa beberapa kolega yang mengenalnya, maka dia hanya sempat menulis sebuah pesan menggantung.
" Bos, Solo... ". Tulis nya.
*
Simon berhasil menghalau agent dari luar negeri itu menjauhi kota Solo. Adnan yang sejak kemarin mengikuti kurir tugas Nona nya akhirnya menemukan pria yang di cari.
Seharian Adnan mengikuti nya, belum ada tanda ia akan menemui Nona nya kembali. Hingga sampailah pria yang Adnan ikuti masuk ke sebuah stasiun radio, Ratislo, menjelang petang. Adnan juga melihat gadis yang kemarin ia ikuti masuk ke dalam gedung yang sama.
" Ok, dua orang yang aku curigai.. lets see isi dari radio ini ada apa saja.... Wait ". Adnan melakukan panggilan ke Bos nya.
" Malam bos, maaf mengganggu... Aku bisa mendapatkan suara rekaman kekasih anda? ".
" Boleh.. Apa yang kamu temukan Ad? ".
" Naya penyiar part-time di radio... Oh God, aku lupa, selidiki radio itu, Ad ".
" Baik Bos ".
Tak berapa lama, e-mail masuk ke ponsel Adnan. Dia mendengarkan seksama suara dari kekasih bos nya itu.
Namun malam ini, hingga program berakhir, tak jua ia temui suara yang mirip Nona nya. Adnan pun kembali ke hotel menjelang dini hari.
*
Lebih dari satu pekan sudah Adnan menyisir kost-an, rumah kontrakan sekitar Radio. Kecurigaan nya beralasan sebab selain salah satu program Radio ini yang sedang digandrungi para pendengar nya. Adnan juga masih belum bertemu dengan satu orang karyawan nya, Kinoy Dinara. Ia tak bisa meretas percakapan ke nomor yang dia dapatkan. Heran, padahal bukan sebuah nomor cantik tapi tidak biasa, seperti ada sebuah tabir yang menghalangi setiap kali Adnan mencoba melakukan peretasan dan membuat nya hanya berputar di tempat yang sama.
Sabtu malam, program unggulan dari Ratislo akan mengudara beberapa jam lagi. Adnan tengah bersiap, ia sangat menantikan program ini karena dari info yang dia dapatkan, Kinoy Dinara akan live seperti biasa setelah ia menghabiskan masa cuti nya beberapa waktu yang lalu.
" Live seperti apa hingga kabarnya halaman Ratislo selalu penuh dengan kawula muda hingga menjelang pagi itu ". Adan penasaran.
***
Beberapa hari telah Naya lewati dengan tinggal di Joglo Ageng. Sejak malam itu, kakek buyut nya lah yang mengurus segala keperluan nya. Mengganti Handphone nya dengan keluaran terbaru, cuti siaran mendadak hingga ke urusan pakaian sampai belajar etiket. Naya menjelma menjadi seorang putri solo sungguhan.
" Nduk, sini... Uyut jabarkan darimana kamu berasal ". Panggil kakek buyut nya ketika Naya sedang duduk di taman belakang.
" Nggih, Yut... ". Naya beranjak masuk.
__ADS_1
" Adem yaa disana, itu Uyut sengaja buat taman untuk menanam bunga kesukaan Mila, Ummi kamu ".
" Ummi suka mawar putih dan sedap malam, Yut.. ".
" Kamu nanti jalan-jalan ke kebun sama Warni , kalau mau panen, Uyut nanem sedap malam disana.. Buat suplai kebutuhan sekitaran Solo Jogja in sya Allah masih sanggup ".
" Punya kebun bunga, Yut? ". Tanya Naya riang.
" Iya, kamu lihat nanti yaa.. Sekarang kita belajar silsilah dulu ". Ajak kakek buyut lagi.
Lama mereka bercengkrama bahagia berdua disaksikan belasan pasang mata dari kejauhan. Ndoro Kanjeng mereka akhirnya menemukan apa yang setengah mati dicari nya meski telah masuk ke usia senja.
" Yut, ikut Naya siaran yuk tapi sampe pagi sih.. Kenalan dengan dunia aku ".
" Nduk, kalau boleh Uyut minta, fokus kuliah aja... Kamu cicit ku, ga boleh susah ". Kakek buyut terlihat kecewa.
" Cup.... Aku sayang Uyut ". Peluk Naya erat.
" Aku akan tetap fokus kuliah ko, lihat itu dikamar, semua fasilitas untuk menunjang kuliah ku sudah Uyut siapkan sangat istimewa... Tapi, sejak Ummi padem, aku terbiasa bekerja bukan untuk hidup ku saja tapi untuk hati ku, hobi ku.. Aku cerita kan sama Uyut kenapa aku kerja disana sini... Bukan karena Abah emosi waktu itu tapi dengan bekerja aku jadi lebih paham makna hidup, arti uang dan kebersamaan.. Arti ikhlas dan tulus menolong... Dan kalau aku ga kerja, ga akan ketemu Abang... Hehe ". Sambung Naya lagi.
" Kamu mirip Sesa.. Keras kepala.. Pacar kamu orang biasa Nduk... Pikirkan itu ".
" Uyut ga restuin yaa? ". Naya bertanya terus terang.
" Uhm.. Bu-bukan gitu.. Uyut.. ".
" Jadi gimana? ". Naya mendesaknya.
" Kita bicarakan nanti.. Sekarang siap-siap dulu, katanya kamu mau siaran ".
" Iya, Uyut ikut? ".
" Engga, Uyut denger dari sini saja.. Pergi dengan Warni yaa ".
" Ga perlu Yut, aku kan ada motor, ituuu ". Tunjuk Naya ke garasi.
" Mulai sekarang, pergi di antar jemput. Kalau ga mau, jangan pergi ". Tegas nya.
" Uyut sama kayak Abah, suka maksa.. [ Kalau Abang, meski kadang memaksa tapi entah kenapa aku sering luluh ] ". Naya kesal.
Bukan tidak pernah mencoba kabur dari kediaman kakek buyutnya. Terhitung sudah belasan kali ia mencoba kabur dalam waktu kurang dari sepekan. Namun nampaknya orang-orang Uyut nya terlalu pintar hingga semua strategi nya selalu gagal sebelum atau saat akan eksekusi.
Naya menyerah, ia memilih mengikuti semua keinginan kakek buyut nya terlebih setelah ia melihat dengan kepala mata sendiri, jika orang yang ditugaskan mengawalnya gagal mengawasi, maka mereka akan diberikan hukuman. Naya tidak ingin orang lain terluka karena nya.
Kusno juga menjelaskan, bahwa diluar sana ada musuh yang siap mencelakai.
" Bila Den Roro menyayangi semua orang-orang yang berarti dalam hidup Den Roro, maka menurut lah dengan Ndoro Kanjeng untuk saat ini ". Pungkas nya.
Disinilah ia, didalam mobil sedan mewah yang di kawal dua pengendara motor dibagian belakang nya, menuju tempat favoritnya, Ratislo.
____________________________
__ADS_1
😌😌 Satunya mulai gila, Satu nya menemukan rahasia terbesar nya...