
Joglo Ageng.
Sudah dua hari Naya dikurung dalam kamar mewah nya. Tidak ada satupun Mban yang mau memberitahukan perihal kejadian apa saja yang ada di rumah ini. Ponsel nya disita sang buyut.
Kini ia tengah berusaha mengingat kepingan peristiwa kemarin malam sebelum mobil nya dijegal. Pesan terakhir yang masuk ke ponsel nya mengatakan bahwa ia harus teguh. Teguh menghadapi apa?
Naya mengingat samar angka belakang si pengirim pesan dengan nomor member baru Ratislo, Emgi.
" Ya ampun.... Bila saja itu benar, apakah dia orang yang sama? A-bang.... Is that you? ".
Mata nya kembali terpejam, ingatan nya ia paksa kembali ke malam kejadian itu.
" Suara, aku mendengar suara Abang.... Sebelum aku pingsan.... Oh God, Abang kamu disini? dimana? berikan signal padaku.... Please honey... I beg you.... ". Gumam nya lirih.
" What the.... Bodoh Naya, Abang ada disini.... Emgi, is Mahendra Guna, right?.... Aaaahhhhh, aku tau kamu pasti menemukan ku ". Pekiknya girang bukan kepalang, tak sadar bahwa ada sepasang mata yang mengawasi sedari tadi didalam kamar nya.
Hatinya membuncah bahagia, setidaknya ia tau Mahen masih mencari nya dan telah berada dekat dengan nya. Pun ketika Anggara mencoba mendekati nya lagi pastilah Mahen sekuat tenaga menghalau nya.
Mban yang ditugasi oleh Danarhadi mengernyitkan kening nya melihat tingkah aneh sang majikan. Ia lalu mengetik sebuah pesan di handphone.
" Ndoro, Den Roro nampak anu... Seperti orang stress, bicara dan tertawa sendiri lalu menangis... ". Tulisnya cepat.
" Apa kata mu? ". Balas Danarhadi. Ia yang tengah berada di keraton meminta tanggal dan hari yang baik untuk melangsungkan pernikahan cicit nya pada Kasultanan, tergesa keluar menuju halaman dan meminta Kusno membawa nya pulang, khawatir dengan kondisi Naya.
Sementara itu di kamar Wisesa. Selama Danarhadi ada di luar rumah. Wisesa melakukan panggilan via telepon pada sahabat nya, Kyai Maksum.
" Assalamu'alaikum... Yai, gimana ini sebaiknya? Mas Hasbi nampak bersikukuh sedangkan Mahen melamar lebih dulu... ". Abah membuka percakapan.
" Wa'alaikumussalam... Lho, kemarin antum ga bilang itu Ji ". Kyai Maksum memanggil Abah dengan Kaji Ahmad.
" Ana kira Mas Hasbi tidak serius, mereka itu sudah lama ga ketemu... Naya juga punya masalah dengan kejiwaan yang belum selesai... Mas Hasbi akankah menerima nya? Naya pernah dilecehkan... ".
" Innalillahi.... Sampai anu? itu Ji, duh ga enak mau ngomong nya ".
" Mboten, masih suci tapi trauma, Yai... Dan dokter nya bilang, hanya Mahen yang bisa menetralisir rasa takut dan terhina nya Naya karena anak itu menemani Naya dari awal hingga sekarang... Pripun Yai? ". Tanya Abah kemudian.
" Kalau antum tanya ana, yaa gimana Mas Hasbi saja Ji... Naya mungkin cinta pertama bagi nya, dia ga pernah terlihat suka dengan anak gadis apalagi terlihat dekat... Baru kali ini dia begitu ".
" Bantu ana, Yai... Bantu menjelaskan pada nya... Jikalau Mas Hasbi ingin menikahi Naya, harus dari mulut Naya sendiri yang menginginkannya ".
" Nggih... Sareng nyuwun dumateng Gusti Allah nggih Ji... Upami wonten jodohnipun in sya Allah taqdir... Ngoten mawon? kapan saged panggih njenengan? ". Kyai Maksum meminta bertemu langsung.
" Secepatnya Yai... Ana di Solo... Mas Hasbi juga disini ".
" Besok, ana ke sana.... ". Kyai Maksum mengakhiri percakapan singkat mereka.
Abah menghela nafas lega, setidaknya sahabat nya itu masih bisa diajak bicara dengan hati tenang, tidak emosi seperti bayangan nya sebelum melakukan panggilan tadi.
(Antum menurut tatanan nahwu yang benar ditujukan untuk kata ganti laki-laki dalam bentuk jamak, seharusnya memakai kata anta -ente jika dalam bahasa Indonesia.. Namun, kultur unggah-ungguh atau sopan santun, merubah kata antum sebagai kata ganti orang ke 1 untuk laki-laki karena penghormatan... clear yaa gess).
***
Rumah sakit, Solo.
Jimsey pagi ini meminta Rey membawa Mahen ke Limasan Gandarani, kediaman nya. Jikalau pun melakukan blackhole, keamanan di rumah itu lebih mumpuni dibanding jika dilakukan di rumah sakit.
" Bos, Tuan Besar ingin anda pulang ke kediaman beliau pagi ini, itulah mengapa blackhole di tunda kemarin.. ". Rey bersiap membawa Mahen.
" Baik... Sudah selesai semua kah? ".
" Administrasi sudah Bos, jemputan juga telah menunggu anda di basement ".
Mereka berdua disambut oleh orang kepercayaan Pak Jim di Solo, Krisna. Tiga puluh menit perjalanan berselang, mobil mereka tiba di halaman Limasan Gandrani dan langsung disambut oleh Amir.
" Mas... Pegang bahu ku ". Tarik lengan Mahen perlahan keluar dari mobil.
" Lho Ka... Disini? Abah juga? ". Tanya Mahen heran.
" Aku dan Abah dari kemarin ke sini, nyusul Naya dibantu sama Mas Rey, lalu di ajak nginep di sini ". Amir diminta tidak memberikan informasi tentang hubungan darah mereka pada Mahen.
" Sudah ketemu Naya, kak? aku belum berhasil ". Mahen masih berjalan tertatih.
__ADS_1
" Belum... Abah belum berhasil membujuk beliau ". Amir sendu.
Mahen menempati kamar tamu di ruang yang berbeda dengan Amir. Ketika ketiganya tengah berbincang, Pak Jim menghampiri Mahen yang tengah duduk disofa dengan Rey yang sibuk didepan laptop.
" Rey, siap? ". Tanya Jimsey yang meminta pengamanan.
" Clear.... Go ahead Bos.... ". Tatap mata Rey berbinar pada pria disebelahnya.
" Hen, mau bicara dengan Naya? ". Pak Jim memberikan ponsel nya pada Mahen.
" Serius Pak? ".
" Ckck.... Kamu meremehkan ku? aku punya orang yang bisa menyusup kesana... Jalur aman, silakan dipakai maksimal 5 menit.. Orang ku akan pergantian shift menjaga kamar Naya... Kesempatan sebelum penjaga lainnya datang ".
Mahen tak menyiakan kesempatan yang datang.
Tuut.
Nada tersambung dan terdengar oleh Mahen, lirih suara pria dari seberang : Nona, lekas bicara, ini kekasih anda.
" Sayang...... Kamukah disana? ". Mahen berbisik.
" A-bang..... Abang kah ini, hiks hiks... Apakah ini aman? keluarga ku? Abang, Mama, ka Rey, apakah selamat? hiks.... ".
" Semua aman, alhamdulillah... Naya, ainnaya, sayang, aku gila karena teramat rindu.... Jaga diri disana, aku akan menjemput mu segera ".
" Aku akan menikah.... Hiks Abang, relakan aku.... ".
" Tidak.... Aku akan berjuang hingga akhir, sayang kuatkan aku... Masih ada waktu satu hari lagi... Naya... please ".
" Hiks hiks... Aku harus bagaimana... Aku ingin lari dari sini, tapi aku... ".
" Teguhlah, untukku... Ya!! Naya sayang, kita bisa Ok?... Waktunya habis, yakinlah padaku... Love you so much honey, Ainnaya ".
" Aku yakin padamu... Love you, Mahendra Guna, miss you sayang ku... ". Tangis nya pecah, meledak begitu saja hingga ia tergugu seiring berakhirnya panggilan singkat yang terjadi.
Panggilan Mahen berakhir otomatis karena setting waktu yang Rey ciptakan agar jejak penelusuran mereka mudah di hilangkan.
" Doanya kak... Aku cinta banget sama dia ".
" Bucin kronis... Lebih tepat ". Rey menimpali.
" Hen... Luka mu masih basah, jangan banyak gerak dulu nanti terbuka lagi, makin lama kering nya ".
" Tenangkan dirimu... Aku punya rencana... ". Pak Jim menampilkan senyum misterius nya.
*
Bersamaan dengan penjaga yang keluar dari kamar Naya untuk pergantian shift. Danarhadi masuk begitu saja ke kamar cicitnya.
Ia yang mendapati Naya tengah menangis terisak dilantai dekat dengan kepala ranjang, sontak terkejut bukan kepalang.
" Nduk!! bangun..... Kamu kenapa ". Pekiknya.
" Aku mau mati saja... ". Naya meraih cutter diatas nakas.
" Biarkan aku pergi atau aku mati... ". Ancam Naya.
" Jangan.. Jangan... Bukan begini... Tenang dulu... ". Danarhadi panik, memanggil Kusno namun justru Wisesa yang datang tergesa menghampiri mereka.
" Nduk, ini Abah... Jangan, kasihanilah Abah mu... Lepas nduk.. ". Abah mencoba mendekat, perlahan meraih cutter dari tangan Naya.
" A-bah.... A-bah... ". Naya menghambur ke pelukan Abah nya begitu saja. Ia semakin menangis kencang seiring usapan lembut dikepala nya oleh sang Ayah.
" Ada Abah... Masih ada Abah, kamu aman in sya Allah ". Tatapan mata Abah mendelik tajam pada sang kakek. Anaknya dibuat seperti ini.
" Apa salah ku... Aku hanya menjaga nya, melindungi dan memberi yang terbaik untukmu meski aku membenci mu... Harus nya kamu bersyukur ". Hardik Danarhadi tegas.
" Anakku semakin trauma kek... ". Sergah nya marah.
" Kamu pikir, hanya anak mu yang trauma... Aku juga... ".
__ADS_1
" Ceritakan... Luka batin apa yang kakek punya... SEKARANG!! ". Wisesa sudah habis kesabaran, masih sambil terus mendekap Naya.
" Baik..... Memang sudah saat nya kamu tahu, Sesa ".
FLASHBACK
Danarhadi menangisi kepergian istrinya setelah melahirkan Hadi Braja Kusuma, anak kedua nya. Dukun Desa saat itu sudah memperingatkan bahwa kehamilan kedua nya sangat beresiko karena sering terjadi pendarahan sejak awal kehamilan.
Namun sang istri teguh hati mempertahankan janin itu hingga tibalah ia di hari harus merelakan istri yang paling dicintai nya.
Kekesalan karena ketidakpatuhan nya istriku hingga kehilangan nyawa, makin menambah kebencian pada sang jabang bayi yang baru saja lahir kedunia, aku tak menginginkan nya.
Sejak kecil hingga dewasa, Hadi Braja Kusuma, aku abaikan kehadirannya. Pun ketika ia menikah, aku tak datang menemani nya. Untung nya dia menikah dengan garis keturunan wedana namun aku kerap mewantinya agar hidup mandiri. Kehidupan kedua putra ku bagaikan langit dan bumi, namun Hadi menerima segala nya dengan lapang, begitupun saat Wisesa lahir. Kebencian ku tak jua sirna dari nya.
Terlebih, aku melihat Hadi berhasil mendidik Wisesa menjadi anak yang santun dan berbudi luhur sangat kontras dengan cucu kesayangan nya, Galuh.
Hadi memulai usaha dagang dengan bermodal dari keluarga istri nya, hingga ia punya bisnis sendiri tanpa bantuanku, bahkan sejak mereka menikah dan belum punya penghasilan.
Anak yang tak diinginkan mengapa begitu cemerlang, sedangkan aku harus kehilangan pujaan hati dan belahan jiwaku. Tak adil bagiku.
Aku tahu, Wisesa menaruh rasa suka pada Meela. Aku sengaja menjodohkan Galuh dengan Meela meski aku pun tahu Galuh telah tinggal bersama Maharani. Aku tidak bisa menyakiti Hadi, maka cucu ku yang harus menanggung nya.
Akhirnya tibalah insiden itu terjadi, kesempatan mengusir Wisesa, memisahkan dari kedua orang tua nya agar Hadi merasakan apa artinya kehilangan.
Tapi agaknya Tuhan ingin menghukum ku, Sesa membawa cucu kesayangan yang aku rawat dengan penuh kasih, Meela dan berhasil kabur dari kejaran ku, bersembunyi bertahun lama nya. Memunculkan lagi, kebencian itu.
Anak dan ayah, sama saja membuat ku kehilangan berkali-kali.
Aku melihat wajah cicit ku yang bagaikan Meela kecil, meluluhkan kebencian ku seketika. Penyesalan itu hadir, rasa sayang pada Naya datang bergulung-gulung. Namun ketika Naya mulai berontak dan mencintai pria yang tak senama, niat jahat ku timbul kembali.
Karena telah memisahkan aku dengan Meela, Galuh dan Istri ku. Karena sejak kepergianmu, Galuh menyalahkan ku dan pergi dari rumah ini hingga aku sulit menjangkau nya kala itu meski aku tahu, dia tengah membangun kerajaan nya sendiri diluar sana.
FLASHBACK OFF.
Masa kini.
" Kamu setidaknya harus merasakan kehilangan anak mu yang kau rawat dengan penuh kasih, Sesa.. Bayaran atas luka masa lalu ku ".
" Hukum saja aku, kita putuskan rantai kebencian itu hanya sebatas aku... Anak-anak ku tidak perlu tahu apalagi harus menanggung nya ". Sesa menggeram marah.
" Semua ini bermula dari Aba dan Ibu ku... Berimbas pada ku... Mari kek, kita selesaikan disini.. ".
" Tidak akan sama... Kecuali kau kehilangan orang yang kamu sayang ".
" Sudah kek... Aku kehilangan Meela, yang tak pernah mencintai ku karena Meela terlanjur mencintai Galuh... ". Abah meneteskan airmata dan jatuh di pipi Naya yang masih dalam dekapan nya.
" Abah....... ". Naya mendekap erat tubuh Ayah nya yang bergetar.
" Meela tak pernah mencintai ku, meski ia melakukan kewajiban nya sebagi istri dengan sangat baik... Aku sadar, aku tak boleh serakah... Akibat tuduhan kakek padaku dan Meela... Kakek tanpa sengaja membuat luka menganga yang sama di hati Meela, hati ku dan kedua orang tua ku.... ".
" Lalu, harus dengan apalagi aku membayar nya? Naya...?... Ini tidak adil bagi mereka.. Jangan menambah lagi luka bagi yang lainnya ". Wisesa memohon dengan linangan air mata yang mengalir deras.
" ................. '. Danarhadi bangkit begitu saja meninggalkan mereka berdua didalam kamar.
" Nduk... Lihat abah... ".
" Nanti kalau ada Yai datang, kamu utarakan keberatan kamu menikah sama Mas Hasbi yaa.. Mahen sudah melamar mu meski belum resmi... Jangan takut, ikuti kata hati mu.. Jangan seperti kami, jangan ikuti jejak kami... Yaa!! ".
"................ hiks hiks ". Naya hanya menangis, penderitaan dan perjuangan Abah nya ternyata sebesar ini. Ia salah menilai, ia ikut merasakan sakit teramat sangat.
Pantas saja... Pantas saja, Abah nya menjadi sosok pendiam, tegas dan keras karena hidup nya demikian berat sejak belia, keharmonisan mereka yang diperlihatkan pada anak-anak nya puluhan tahun ternyata palsu. Abah, terbuat dari apa hati mu....... hiks...
.
.
________________________
😢
Obatin luka pakai vote, like follow yaa... 😘
__ADS_1