
Keesokan pagi nya.
Mahen merasa bersalah saat bangun pagi ini dan membaca pesan yang Naya kirimkan padanya semalam. Ia tak langsung membalas nya ketika kekasihnya itu sedang membutuhkan nya. Selepas sholat shubuh ia lalu mencoba menelpon Naya, dengan harapan dapat berbicara padanya untuk meredakan rasa cemas yang Mahen rasakan. Terdengar dering nada sambung di seberang sana yang lama berbunyi menunggu diangkat oleh pemilik nya.
" Assalamu'alaikum.. Sayang, maaf semalam aku tidur jam 1 dini hari, kayak nya baru aja tidur jadi ga dengar kamu telpon.. Gimana pagi ini? sudah lebih baik? ". Tanya Mahen beruntun setelah panggilannya tersambung.
" Wa'alaikumussalam, aku mau bolos kuliah. Semalam ga bisa tidur, baru saja pagi ini mau tidur tapi Abah daritadi masuk keluar kamarku, sepertinya ingin bicara sesuatu hal penting padaku pagi ini. Abang sudah kembali yaa? ". Jawab Naya dengan suara serak khas bangun tidur.
" Aku jadi pengen liat kamu lagi saat baru bangun tidur.. seksi banget sih.. Jangan keseringan bolos nanti kita makin lama nikah nya sayang.. Pengajian jam berapa? kalau bisa sebelum aku kembali siang ini, kita ke makam Ummi dulu yuk ". Ajak Mahen sekalian ia ingin membahas tentang mimpi Naya semalam.
" Jam 8 sampai jam 10 pagi ini pengajian nya. Aku mau mandi lagi deh, terus mau ngobrol sama Abah dulu. Menurut Abang, baiknya aku cerita ga? ".
" Hem, bilang mandi nya disini bikin pengen ikut mandi.. Cerita aja sayang, siapa tau Abah justru butuh petunjuk dari kamu.. Aku nanti jemput ke rumah yaa jam 10 ".
" Dasar mesum.. Ga usah jemput, aku bareng ka Amir berangkat nya. Ketemu di sana yaa ". Balas Naya sambil menutup sambungan telepon nya.
" Take care honey.... lo-ve you ". Kebiasaan, belum juga selesai ngomong, udah main putus aja. Iiiiihhh gemes.. Mahen mulai uring-uringan lagi.
Rey yang melihat Bos nya itu sudah uring-uringan sepagi ini hanya bisa menggelengkan kepala sambil menikmati kopi panas nya pagi ini, memandangi hiruk pikuk lalu lintas dibawah sana dari tepi jendela kamar mereka.
*
" Nduk, sini sarapan ". Panggil Abah ketika melihat anak gadisnya keluar dari kamar.
" Abah mau bicara apa sama aku? ". Tanya naya setelah ia duduk di meja makan sambil mengisi piring nya dengan nasi goreng dan lauk kesukaan nya.
" Kamu ga kuliah? semalam kata Amir, kamu teriak, mimpi buruk lagi atau melihat sesuatu lagi? ". Tanya Abah.
" Aku bolos hari ini, mau ke makam ummi lalu langsung kerja.. Lho ka Amir kedengeran yaa? beberapa hari ini aku memang mimpi buruk, seakan ingatan ku yang hilang 3 tahun lalu perlahan muncul kembali... Ummi, bukan hanya kecelakaan biasa, tapi ada seseorang yang menaruh dendam pada nya. Abah, maafin Naya, apakah Abah punya musuh di masa lalu? ". Tanya Naya menyelidiki setiap ekspresi dari wajah abah nya yang kerap berubah.
" Deg............... Abah ga paham maksudnya. Musuh apa dan siapa? orang jualan pasti ada aja yang ga suka nduk. Tapi kalau sampai mau mencelakai hingga mem-bu-nuh, Abah rasa ya ga mungkin, Hati-hati nanti jadi fitnah karena kamu ga punya bukti, bisa jadi malah kamu nanti yang dituduh balik nduk ". Hati Abah sebetulnya tak tenang, ia sudah berusaha menerima kematian istrinya. Namun jika kenyataannya kepergian sang istri seperti yang di utarakan oleh Naya, siapkah ia menghadapi nya nanti?
" Naya boleh ke psikolog lagi ga? ".
" Buat apalagi? kita sudah tenang, ummi kamu juga. Sudahlah jangan macam-macam yaa. Pengajian akan dimulai, kamu ganti baju sana, pake hijab nduk, wajib itu, perintah nya Allah, bukan Abah lho yaa ". Pinta Abah kemudian.
" Biar Naya lekas punya jawaban yang kumplit tentang memory Naya donk, Bah... Hem, nanti juga pake hijab, kalau aku siap ". Naya berniat akan memakai hijab saat telah menikah nanti, batin nya.
" Takdir Allah kadang ga perlu untuk kita mencari tau, hanya cukup menerima, redho akan ketetapan nya :
Allahumma inni as'aluka nafsan bika mutmainnah. (Ya Allah aku memohon kepadamu jiwa yang tenang kepadaMu).
Tu'minu billiqo-ik. (yang yakin akan bertemu denganMu).
Wa tardho bii qodho-ik. (Yang redho dengan ketetapan Mu).
Wataqna'u bii atho-ik . ( Dan merasa cukup dengan pemberianMu).
Kamu kapan siap nya? niat itu di teguhkan, dilaksanakan, dipaksakan. Gini nih hasil dari dimanjain sama ummi kamu ". Abah menasehati Naya panjang lebar pagi ini.
" Nggih Abah, Naya akan inget pesan Abah ". Jawab Naya sedikit acuh sambil terus mengunyah makanan nya.
" Jangan pacaran nduk. Kenalkan sama Abah kalau ada yang mau serius sama kamu, jangan diem-diem jalan di belakang Abah. Kamu pikir, Abah ga tau? ". Akhirnya Abah mengutarakan kecurigaan nya pada anak gadis nya ini. Menurut orang suruhan nya, anak gadisnya ini punya teman pria yang tengah dekat dan si pria ini menempatkan beberapa pengawal disekitar anak majikan nya itu sehingga ia kerap kesulitan mengetahui aktivitas nya.
" Uhuk.. uhuk.. Uhuk ". Naya dibuat terkejut oleh Abah.
" Siapa? orang mana? ". Tanya abah pelan, Ia sadar telah melewatkan banyak waktu dengan anak gadisnya ini hingga tak begitu mengerti bagaimana cara nya agar Naya bisa terbuka pada nya tanpa merasa takut.
" Bukan siapa-siapa. Hanya teman, ga lebih ". Abang maaf, aku belum berani mengakui Abang didepan Abah. Hatinya merasa bersalah.
" Hati-hati nduk. Dia orang yang cakap sepertinya. Kalau ummi kamu tau, udah disuruh nikah kamu ini kelakuan nya begitu ".
__ADS_1
" Mboten Abah, Naya ga macam-macam ko. In sya Allah Naya tau batasan nya ". Yeaaay, ummi udah tau ko Bah, Abang udah ketemu sama Ummi. Hihi, batin Naya bersorak.
Obrolan pagi yang menarik bagi Naya, sudah lama mereka berdua tidak terlibat percakapan hangat seperti ini. Abah sudah tidak kaku terhadap nya, begini saja sudah sangat membahagiakan Naya. Tapi ia bertekad tetap akan pergi ke psikolog untuk kembali melakukan terapi agar memory nya utuh kembali.
Setelah acara dirumah selesai, Naya pamit pergi dengan ka Amir dan mereka berdua berpisah di persimpangan jalan. Ka Amir menuju bank yang lokasi nya dekat Mall tempat kerja Naya, sedangkan ia akan menuju makam ummi nya bersama Mahen, mobilnya sudah terlihat menunggu Naya di seberang jalan dengan Rey yang sudah membukakan pintu jok belakang bagi nya.
" Jalan Rey ". Perintah Mahen setelah Naya masuk.
" Abah tau tentang Abang ".
" Bagus donk, aku kerumah yaa habis ini sekalian jalan pulang ". Mahen nampak bersemangat.
" No, nanti dulu. Kan urusan aku belum selesai. Kuliah, kerjaan, terus ingatan aku dan banyak lagi ". Naya berpikir masih banyak yang belum ia selesaikan.
" Banyak yang menikah sambil tetap kuliah sayang.. Aku juga bisa bolak-balik sampai kamu lulus kan, lalu kita pindah ".
" Pindah? kalau aku ga mau? ". Naya ingin tau reaksi mahen, apakah dia bersedia melepaskan posisi nya di sana dan pindah ke kota kecil ini memulai semua dari nol bersama nya.
" Yaaa aku yang pindah, clear kan? aku bisa kerja dimana saja ". Mahen membalas tantangan Naya.
" Hmmm, maaf bos... Anda serius? ". Rey menginterupsi obrolan mereka.
" Diiaammm Tuan Rey, Rey....! ". Jawab mereka berdua bersama-sama.
" Oke maaf Nona, Bos ". Ya ampun, sindrom pasangan galau, baru begitu saja sudah mau perang dingin. Rey menggerutu. Sisa perjalanan mereka dihabiskan dengan perdebatan yang tidak mutu. Setidaknya itu kesimpulan yang Rey dapatkan, telinga nya sekejap menangkap kata-kata manis dari keduanya, sebentar kemudian saling mengejek. Bos nya itu menjadi kekanak-kanakan jika bersama Nona nya. Ckck cinta...
Sesampainya di pemakaman ummi nya, seperti biasa Mahen yang memimpin doa. Keduanya akan berpisah setelah Mahen mengantar Naya ke tempat kerja nya.
" Hati-hati yaa Abang, kabari kalau sudah sampai disana. Makasih banyak sudah menjadikan hari terberat ku menjadi lebih ringan untuk dilewati, makasih waktu nya, donasinya dan surprise party nya. Makasih sudah selalu tau apa yang aku butuhkan ". Naya menautkan jari kelingking nya ke jemari Mahen.
" Jaga hati yaa sayang, aku kesini dua minggu lagi ". Mahen mengantar Naya hingga pintu koridor karyawan, ia melihat nya masuk menaikinya anak tangga hingga gadisnya hilang dari pandangan.
" Pulang Rey.. Pastikan Candi baik-baik saja di kost-an dan minta team berjaga untuk nya ". Perintah Mahen saat ia kembali duduk di sisi kemudi asisten pribadi nya itu.
***
2 minggu kemudian. Di sebuah ruang kerja bernuansa putih dengan furniture kantor serba hitam, seseorang tengah memberikan instruksi pada orang suruhan nya.
" Berikan itu pada nya saat acara sudah berlangsung sekitar 30 menit, saat semua orang sibuk dengan job desk nya masing-masing. Biarkan sisa nya orang ku yang mengurus nya ".
" Siapkan sebuah kamar presiden suite di hotel......... untukku ". Titah nya kembali melalui interkom pada salah satu sekretaris nya.
*
Sementara di tempat lain.
Pak Jim pagi ini memimpin rapat terbatas membahas tentang proyek lelang tender sebuah pembebasan lahan untuk dijadikan kawasan resort, hotel sekaligus area pemakaman elit di kota Kuning. Tak ayal, mengingat jumlah investasi dan nominal lelang yang fantastis, maka semua perusahaan yang terdaftar dalam proyek kali ini adalah para perusahaan properti kalangan atas. Banyak dari mereka yang mengutus salah satu petingginya atau bahkan sang ceo sendiri lah yang ikut andil, tak terkecuali di antara nya termasuk Pak Jim, Danureksa dan Sumitra yang diwakili oleh Anggara.
" Mahen, kamu temani aku ke sana sekaligus siapkan presentasi untuk penawaran sistem keamanan yang telah kamu perbarui agar kita bisa melakukan penawaran jika tender ini lepas atau bisa mereka gunakan jika bekerjasama dengan kita ". Tegas pak Jim.
" Baik Pak. Akan aku siapkan semuanya ".
" Tahun ini, semoga diawali dengan kesehatan, keselamatan dan kebahagiaan bagi kita, keluarga kita serta kejayaan bagi Exona. Ingat gentlemen, Struggle that you do today is the single way to build a better future. Selamat pagi, selamat beraktivitas, sukses untuk kita semua. Meeting selesai, Terimakasih ".
" Selamat pagi.. ". Peserta meeting menjawab secara serempak.
" Mahen, keruangan ku ". Pak Jim meminta nya ikut ke ruangan.
" Bagaimana kabar gadis mu disana? aku sengaja mengajakmu. Menurut info dari dalam, lokasi tender akan dibagi menjadi dua, jaraknya memang agak jauh, kamu handle yang satu nya yaa. Siapkan performa terbaik mu Mahen ".
" Naya alhamdulillah baik, terimakasih sudah menanyakan kabar nya.. Masih dikota yang sama kan pak? ".
__ADS_1
" Iya, jika Exona lolos, aku akan memberi mu cuti stay disana selama 1 minggu ". Tawar Pak Jim sambil tersenyum, ia merasa bahagia menggoda Mahen kali ini.
" Semoga aku bisa.. Terimakasih pak, jika sudah tidak ada lagi, aku permisi menyiapkan segala keperluan kita untuk lusa nanti ". Mahen merasa ada yang aneh dengan Pak Jim, tidak biasa nya ia peduli pada kehidupan pribadi nya selama ini.
Tanpa terasa hari sibuk Mahen berakhir, besok ia akan pergi ke kota kuning, melewati kota tempat kekasihnya berada. Nampak nya ia harus berkabar pada Naya karena ia sepertinya tak bisa menjenguk nya lebih dulu sebab ada Pak Jim bersama nya.
" Sayang, besok aku kesana tapi dengan Pak Jim. Jika aku sudah luang, aku akan izin menemui mu yaa ". Tulis Mahen pada pesan nya.
" Aku besok part time pagi di hotel Sulthan, opening hotel baru sekitar 3 jam ".
" Hati-hati yaa. Banyak orang baru kan, waspada yaa sayang ". Hati Mahen merasa khawatir, ia teringat akan rekaman suara di club yang belum Rey pecahkan karena situasi nya sangat berisik. Mahen masih berusaha mengingat suara itu, suara yang familiar tapi ia lupa.
" Sure.. Aku kerja lagi ya ". Balas Naya kemudian.
Karena hati Mahen bimbang maka ia lalu menghubungi informan pribadi nya untuk meminta sesuatu.
" Bro, berikan aku cetak biru hotel Sulthan. Dan bisakah kau datang ke sana esok pagi mengawasi gadisku? ". Tanya mahen.
" Siap bos, aku usahakan 30 menit file nya ada pada anda. Aku bisa bos ".
" Terimakasih ". Setelah lama menunggu akhirnya file cetak biru hotel itu sudah ditangan mahen. Dia lalu mengirim kan pada Rey, untuk di pandai lokasi mana yang akan dijadikan tempat acara dimana ada Naya di dalam nya.
***
Hari H, di kota kuning. Gedung 1.
Pak Jim tak menemukan Anggara disini, ia lalu menanyakan pada Mahen yang berada di gedung 2.
" Tidak ada pak, aku kira dia bersama Bapak ". Hati Mahen makin tak karuan, Pak Jim pasti tau sesuatu pikirnya.
" Rey... Alex dan Candi, seberapa dekat dengan Naya? ".
" Candi menemani Nona dengan alasan dia diajak oleh kenalan nya disana, Alex on floor bos ".
" Baik, Anggara tidak bersama Pak Jim. Waspada Rey ". Mahen sedikit lega Naya diawasi oleh dua orang kepercayaan nya disana.
30 menit kemudian, Rey panik hingga ia setengah berlari menuju tempat Mahen berdiri, ia sedang berbincang dengan beberapa kolega nya.
" Maaf permisi.. Bos ". Rey memberikan isyarat.
" Permisi tuan-tuan.... Ada apa Rey? ". Tanya Mahen mulai curiga.
" Nona hilang, tak ada yang melihat nya, ada yang tau bahwa kita menempatkan Alex dan candi disana bos ".
" Bagaimana bisa Rey? Mana laptop ku? pindai cetak biru hotel Sulthan ". Mahen emosi.
" Ga bisa masuk bos. Dia tau langkah kita ". Rey frustasi, baru kali ini dia susah meretas sistem kecuali memang ada yang sengaja menghalangi nya. Perlengkapan nya pun ia tinggalkan di mobil dan itu membutuhkan waktu untuk mengambilnya.
" Adnan.. Adnan... masuk.. ". Mahen menghubungi informan nya.
" Siap bos ".
" Temukan koordinat dari signal yang akan aku kirimkan pada mu. Signal ini tak bisa aku jangkau karena posisi ku terlalu jauh ". Mahen berusaha tetap tenang.
" Rey, gantikan aku di ruangan tadi, berjuanglah memenangkan tender nya. Aku akan mencari Naya ". Mahen bergegas meninggalkan kota kuning, ia memacu mobilnya dengan kecepatan diatas batas yang diperbolehkan.
" Sayang, bertahanlah... Naya please jangan terjadi apa-apa lagi ya Allah ". Mahen tak henti merapal doa dalam hati, keselamatan nya sudah tak ia hiraukan lagi, pikiran nya hanya ingin lekas sampai disana.
" Bos... aku menemukan seorang wanita tergeletak di Koridor..... ". Suara Adnan terdengar dari speaker bluetooth yang Mahen sambungkan ke mobilnya
" Nayaaaaaa? ........ ".
__ADS_1
__________________________
Pegangan....... 😌