
Menjelang siang Jimsey baru saja pulang dari kediaman kakek nya ketika melihat Mahen dan Amir sedang berbincang diruang keluarga mewah miliknya.
" Mir, Abah kamu bilang sesuatu? ".
" Dalem om.... Tentang apa yaa? ".
" Tidak ya, lupakan kalau begitu ". Sahutnya sambil berlalu.
" Oh ya lupa... Mahen, siapkan mental mu Nak, akan ada kejutan yang datang dari ku... Mana Rey? ". Senyumnya mengembang.
" Rey dengan Simon keluar... Keputusan nya sudah pak? ".
" Belum, tunggu saja ". Balasnya santai dan kembali melenggang masuk ke dalam ruang kerja nya di ikuti oleh Krisna.
Jimsey membuka kembali file dokumen yang ada pada email nya, hasil temuan Roxy, sahabat lama nya sejak ia belia yang kini menjabat sebagai salah satu direktur di Exona.
Melihat ini jImsey tak habis pikir, kenapa ibunda Mahen menyembunyikan status nya. Puti Reno Amelia Sutandir >>>> Rosiana Ghani. Kabar terakhir ketika ia menghubungi Ibunda Mahen kemarin, ia mengatakan bahwa.
Flashback Dua hari lalu.
" Mba Rosi, ada hubungan darah dengan keluarga Sutandir dari Minang ? ".
Degh. Keluarga Nenek buyut nya disebut.
" Maaf Jim....? ".
" Amelia Sutandir... ". Tegas Jimsey kemudian.
" Tidak.... ". Jawab Mama tegas.
" Maaf aku melakukan ini dibelakang Mba Rosi, aku menelusuri nasab Mahen dan menemukan ini dari pihak anda ".
" Jim, sesungguhnya aku membiarkan Mahen menjalin hubungan dengan Naya.. Aku sudah menyangka jika akan begini. Aku yang tidak tega padanya karena terlampau bahagia melihat Mahen ceria kembali pada akhirnya aku juga yang melukai nya ".
" Tapi Mba, Keluarga Sutandir itu keluarga terpandang disana bila aku tak salah dapat info. Mba Rosi termasuk dalam silsilah keturunan nya bukan? berarti menyandang gelar yang sama seharusnya... Dari Kerajaan Minang ".
" Bukan Jim... Nenek ku adalah anak angkat di keluarga beliau.. Meski Nenek ku diberikan gelar kehormatan atau gala sangsako jika tidak salah, maaf aku lupa... Tapi kami keturunan nya dilarang mengungkit ataupun menyandang nya didepan nama kami... Nenek ku bilang, jangan lupa darimana kita berasal, ga pantas ". Terang Mama.
" Jim, aku hanya orang biasa dengan darah minang yang melekat di nadi... Menikah dengan Bapak yang berdarah asli Sunda ". Pungkasnya.
" Tetap saja... Mba Rosi itu ada hubungan meski tidak langsung karena gelar kehormatan itu tidak diberikan kepada sembarangan orang, setahu ku... Masih menjalin komunikasi dengan baik kan? ".
" Tentulah... Keluarga beliau, maa sya Allah sangat baik.. Bahkan ketika aku tidak direstui menikah dengan Bapak... Justru Keluarga Sutandir lah yang mendukung kami ". Mama mengenang masa lalu nya.
" Aku paham Mba... Hanya ingin mengkonfirmasi saja bahwa informasi yang aku terima benar ada nya.. Aku boleh minta bantuan? ".
" Apa Jim, katakan saja... ".
" Aku punya rencana... Aku minta Mba Rosi untuk............. ".
" Aku berdoa selalu... Akan aku siapkan dan minta Mahesa yang mengurusnya segera... ".
" Terimakasih banyak Jim.... Sudah sayang pada Abang, anakku ". Mama terharu.
" Aku yang berterima kasih Mba, sudah melahirkan anak seperti Mahen ".
Flashback off.
Jimsey menerima faximile dari Mahesa sejak kemarin. Serta dokumen asli yang baru saja tiba pagi ini, mungkin akan dibutuhkan nanti.
" Krisna, periksa apa sudah lengkap sesuai permintaan Ki Jaka.. Lalu setelah kamu selesai dari sana... Jemput aku kembali karena aku akan mengunjungi Kyai Jazuli ".
" Baik Ndoro... ". Krisna memeriksa dokumen kelengkapan yang diserahkan Jimsey padanya.
" Ndoro, ini kurang jelas tapi masih bisa terbaca.. Aku bawa ini dahulu, jika masih ada kekurangan nanti aku kembali sekalian jemput Ndoro ". Krisna bangkit dari kursinya dan melangkah keluar ruang kerja Jimsey.
" Hallo... Sudah siap dialihkan kemari? ". Tanya nya menghubungi seseorang lewat telepon.
" Siap Den Mas ". Sahut pria diujung sana.
Ba'da sholat dzuhur, Amir masuk kedalam kamar nya untuk muroja'ah sejenak.
Mahen masih terlihat di ruang keluarga dengan laptop di atas meja nampak sedang menghubungi Dewi dan Bram untuk masalah pekerjaan, lengkap dengan Rey disamping nya yang juga serius mengerjakan sesuatu.
__ADS_1
" Gent.. Aku keluar dulu.. Mungkin malam nanti baru akn kembali... Jangan tunggu aku saat makan malam yaa ".
" Hati-hati dijalan Pak.. ". Sahut keduanya bersamaan.
Hari menjelang sore, ba'da ashar Mahen menuju paviliun belakang sembari melihat kolam ikan disana. Pikiran nya menerawang penasaran akan kabar kekasih nya itu.
" Ckck Naya, kita satu kota tapi malah ga bisa ketemu ". Gumam nya lirih namun masih terdengar oleh Amir.
" Nanti ketemu nya kalau sudah halal Mas ". Amir menghampiri dan duduk disamping nya.
" Semoga ya kak... Aamiin.. ".
" Mas, mau temenin aku kejar hafalan ga? Mas yang koreksi jika ada bacaan ku yang salah.. Nanti kita gantian... ". Sesungguhnya Amir mendapatkan misi dari Abah nya apakah Mahen cakap mengaji atau sebaliknya.
" Boleh ka... Aku masih punya wudhu, mushaf nya mana? ".
" Ini, mulai Juz 21 yaa, Al-ankabut - Luqman... ".
" Baik... Mahen lalu ikut melafalkan ta'awudz seiring Amir memulai ".
Keduanya terlihat khusyu, hingga tibalah giliran Mahen yang mulai membaca surat yang sama.
" Alhamdulillah... Maa sya Allah... Belajar dimana Mas? ". Amir mengakui kemampuan membaca Al Qur'an Mahen terbilang sangat baik untuk ukuran orang kota yang modern.
" Privat ka, mengulang lagi dari awal sejak satu setengah tahun lalu, ketika baru saja kenal dengan Naya.. Kadang sesekali ke pondok juga yang dekat rumah Mama ikut kajian.. Naya pernah memberiku al-quran saku.. Aku bawa kemana-mana karena itu pemberian dari nya satu-satunya ".
" Adikku pelit yaa.. Haha ".
" Bukan pelit aah, dia lebih ke menjaga... Karena setelah kita jadian 6 bulan sesudah nya itu, dia suka meninggalkan sesuatu di mobil bila aku ke sini... Entah dasi, atau keperluan kecil yang memang aku malas membeli nya, macam kaus kaki atau sapu tangan... Tapi dia ga pernah bilang ".
" Yakin dari Naya tuh... ".
" Iyalah, haha... Yang masuk mobilku cuma dia, satu-satunya.. Pacar ku sebelum nya tidak pernah... Kadang Rey malah balik tanya, barang-barang di kursi belakang milik siapa ".
" Makasih ya Mas, sudah sayang sama anak itu sedemikian rupa ".
" Aku ketemu Naya kayak dapat gift ka, berkah banget, rezeki tiada duanya... Dia cuek kebangetan tapi disaat aku bingung atau gelisah, dia tuh kayak bawain es yang selalu bikin adem... Malah kadang solusi kendala ku datang nya dari dia.. Cuma yaa itu, di awal-awal hubungan kita, dia tetep dingin, kita kayak ga pacaran hahaha... Baru akhir-akhir ini aja, setelah insiden itu Naya lebih terbuka pada ku ".
" Anak itu aslinya memang introvert, karena kerja ketemu banyak orang aja.. Dia terlihat supel.. Aslinya kepala batu, tapi ku lihat dia nurut sama Mas Mahen ".
" Mahluk Allah diciptakan berpasang-pasangan... Semoga jodoh yaa Mas... aamiin ".
Obrolan keduanya menjelang maghrib terlihat menyenangkan. Mahen mengenang masa awal mengenal Naya hingga saat ini. Amir pun mendapatkan apa yang Abah nya mau, informasi kedekatan mereka.
*
Joglo Ageng. Malam hari.
Kondisi Danarhadi berangsur membaik hari ini berkat ketelatenan Wisesa yang merawat nya. Ia sudah bisa duduk bersandar di ranjang nya dan menelan makanan lunak.
Naya yang mendengar kakek buyut nya juga sakit, meminta pindah tempat tidur pada Abah nya. Ia ingin tidur dengan sang kakek dan menemani nya di malam hari, berbincang dengan nya agar sang ayah dapat beristirahat.
Naya iba, melihat Abah nya bolak balik kamar hanya untuk memastikan keadaan nya dan sang buyut, tidur dengan baik dan lelap sedangkan ia pun hampir tidak terpejam.
Ketika sang ayah menghampiri nya, Naya mengutarakan niatannya.
" Abah, aku pindah ke kamar Uyut yaa... Biar Abah bisa istirahat kalau malam ". Bujuk naya.
" Ga usah Nduk... Gak apa-apa, anggap Abah mu ini sedang mengganti waktu yang terbuang percuma di masa lalu ". Sahutnya tenang.
" Pokoknya aku mau begitu... ".
" Kalau Mahen yang melarang, kamu pasti nurut ya Nduk... Kenapa? cinta? ". Abah duduk di tepi ranjang Naya.
" Diih.... Ko ke Abang sih... Dia juga sama suka maksa, tapi ga tau aku ko suka ngikutin dia yaa ".
" Karena cinta berarti... ". Abah bahagia, akhirnya Naya bisa sedikit terbuka pada nya.
" Hmmm.. Abang tuh kalau maksa suka kasih sebab akibat, alasan nya... Panjang emang, tapi masuk logika ke aku... Jadi yaa gitu deh.. ".
Naya tersenyum manis, di ikuti pula oleh sang ayah, Anak gadisnya telah dewasa.
" Kamu sudah lebih baik? kalau Abah tanya tentang Anggara, kamu mau cerita Nduk? ". Abah sejatinya di wanti-wanti oleh dokter agar tidak sesering mungkin menyebut nama orang yang menjadi sumber trauma Naya. Tapi sebagai seorang Ayah, ia penasaran.
__ADS_1
" Hmmmm.... Hmmmm.... ". Naya masih terlihat gelisah. Emosinya seketika berubah murung.
" Lupakan... Maaf yaa... ". Belai kepala anak nya.
" Aku kotor yaa Bah... Aku ga pantas kayak nya buat dia, Abang terlalu sempurna untukku makanya Allah kasih begini jalan nasib ku ". Suara Naya mulai tertahan.
" Abang mu bilang apa? engga kan? ikuti apa kata Mahen, Naya... Bila dia sungguh mencintai mu dengan tulus, dia akan menemani dan menerima mu tanpa syarat ".
" Lalu nasib ku? ".
" Abah akan pastikan bila kondisi buyut mu membaik... Ada Abah, kamu yang tenang, Abah masih Wali sah mu ".
" Aku boleh siaran ga yaa? aku kangen udara segar di luar sana ".
" Boleh... Izin Uyut mu juga.. Nanti Abah temani... Gimana, malam ini mau tidur sama Uyut nya jadi? Kalau jadi, ayo Abah temani ke kamar Uyut.. ".
" He em.. Jadi.. Abah bobok dimana? ".
" Nemenin dua pasien... Di kamar Uyut mu juga.. Biar Abah tenang.. Uyut suka bangun tengah malam takut ke Hamam ga ada yang bantu jalan... Kamu kan belum fit betul ".
Naya membawa selimut bermotif panda yang Mahen berikan padanya. Satu-satunya benda kesayangan pemberian Mahen yang selalu dia peluk selain cincin di jari manis nya itu.
Clak.
Naya membuka pintu kamar Danarhadi. Kakek buyut nya itu masih belum terpejam rupanya dan kaget akan kehadiran cicit kesayangan nya itu yang beberapa hari ini bak musuh dengan nya.
" Uyuuuuuuuuttttttt.... Aku bobok sini yaaa ". Riang nya meski wajah nya masih pucat. Setengah berlari Naya langsung menghampiri dan menaiki ranjang uyut nya itu.
" Nduk... Pelan-pelan... Kamu belum sehat betul ". Khawatir Danarhadi.
" Mau bobok dipeluk Uyut ". Naya merangsek mendekat dan memeluk buyut kolot nya itu.
" M-mas.... Anakmu ini lho... Manja nya ". Tangan kiri buyut diangkat oleh Naya agar ia memeluknya.
" Yaa dia begitu kek... Kayak anak kucing kalau lagi sakit, bentar juga dia tidur jika sudah nemu posisi nyaman nya ". Wisesa membenahi selimut keduanya lalu ia duduk disamping pembaringan itu.
" Istirahat ya kek... Aku di sofa, bila kakek ingin ke Hamam atau lainnya ".
" Mas... T-Te-rimakasih banyak... ". Tatap nya haru pada sang cucu.
" Aku yang berterima kasih.. Kakek tak mengusir kami lagi... Sudah, jangan pikirkan yang macam-macam... Yang lalu biar terkubur waktu, Aku, Meela dan anak-anak tak pernah menganggap kakek punya salah... Wajar, emosi namanya juga manusia... Ujung nya pasti sayang meski caranya agak kurang elok ".
" Aku menyesal, M-mas... Mau kan maafkan kakek? ".
" Sudah dimaafin sejak lama kek.. Gusti Allah aja Maha Pemaaf... Masa mahluk nya tidak.. ".
"........... ". Danarhadi menangis.
" Sudah kek... Sudah yaa... Lekas sehat kembali... Biar semua ini lekas selesai... Ada salah satu dari dua orang pria yang menunggu restu kakek... Apapun itu ya kek, yang menjalani adalah mereka, bukan aku atau kakek.. Kita hanya mengantarkan dengan doa... karena apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah... Petikan tafsir al-baqoroh ayat 216... ".
" Nggih... Hati kamu terbuat dari apa Mas? ".
" Buatan Allah kek... Bukan buatan pasar klewer pastinya... ". Abah tersenyum.
" Kan benar... Bocah ini sudah tidur lagi ". Lirik Abah ke anak gadis didepan nya.
" Tidur juga Mas... Kamu kelihatan lelah... ". Sembari membelai rambut Naya sayang.
" Nggih kek... ". Wisesa lalu mematikan lampu ruangan dan di ganti dengan lampu tidur yang temaram.
Suasana malam ini dikamar Danarhadi syahdu. Tidak ada yang tahu, bahwa di hati ketiga manusia yang sedang terlelap itu telah Allah hadirkan kelembutan sesuai dengan porsi nya.
Doa Siapakah yang Allah kabulkan? apakah Allah melihat perjuangan dua insan yang sungguh berliku dan pasrah menjalani skenario dari-Nya menuju halal?
*
Jimsey sejak siang tadi bersama Krisna menuju rumah Kyai Jazuli yang berjarak sekitar 10 kilometer dari kediaman nya. Dan disinilah mereka masih berada hingga menjelang petang, membahas sesuatu......
.
.
______________________________
__ADS_1
Semuanya, menelusuri.... 🥰