Dia.. Pilihan Untuk Ku

Dia.. Pilihan Untuk Ku
MENJAUH


__ADS_3

Subang.


Ka Amir baru tiba di kantor polisi Subang saat subuh menjelang. Ia kemudian diantarkan oleh salah seorang petugas yang berjaga untuk melihat kondisi kendaraan Abah yang rusak lumayan parah sekaligus dimintai keterangan untuk penyelidikan kasus ini lebih lanjut.


Setelah urusan di kantor polisi selesai, ia kemudian bertolak menuju rumah sakit dimana Abah mendapatkan perawatan pasca kecelakaan semalam. Juga mengurus pemulasaran jenazah driver keluarga nya untuk di serahkan pada ahli waris dan dikebumikan esok hari. Satu jam telah ia habiskan untuk mengurus segala administrasi yang diperlukan, lalu dengan langkah gontai ia beranjak menuju kamar sang Ayah.


Amir melihat Abah nya yang terbaring lemah di brangkar kamar perawatan masih dalam pengaruh obat bius dan dipasang alat bantu berupa selang oksigen di hidung nya. Dilihatnya dahi sang ayah, setidaknya mendapat 3 luka jahitan. Rahang nya bengkak, pipinya terdapat luka gores, dan mata kanan nya lebam.


Dokter mengatakan sudah melakukan rontgen thorax sesaat setelah Abah diberikan tindakan pertolongan pertama. Kaki nya lecet dan berdarah, terlihat dari sisa darah kering yang masih menempel disana. Tangan kanan Abah memar hingga butuh memakai gips, dokter bilang agar tidak cedera lebih lanjut karena beberapa syaraf terindikasi melebar akibat benturan.


Amir yang melihat kondisi Abah sedemikian parah, hanya bisa mengucap banyak syukur pada sangat Khalik, Abah nya diberi keselamatan, bersamaan dengan air mata nya yang luruh membasahi pipi. Ia memfoto ayah nya yang sedang terbaring lalu mengirimkan nya pada Mahen.


" Mas, Naya gimana? ". Amir mengirim pesan pada Mahen.


" Ya Allah ka, Abah demikian parah?.. Naya tahu namun entah dari siapa dan dia histeris saat mencariku yang sedang reservasi di hotel... Sekarang Ia tidur di hotel dengan Candi, asisten yang kuminta menjaga nya disini ". Mahen masih terjaga pagi ini, ia khawatir ka Amir belum memberinya info terbaru dan begitu terkejut mendapati kondisi Abah yang parah disana.


" Ahamdulillah Allah masih memberikan perlindungan buat Abah.. Mas istirahat lah, sudah hampir jam dua pagi. Aku juga ingin tidur sebentar sebelum Abah siuman nanti. Terimakasih banyak Mas, maaf bila aku merepotkan, karena aku buntu meminta tolong pada siapa tadi karena kami tidak punya sanak saudara di sini ".


" Sama sekali tidak, kebetulan aku baru sampai tadi.. Rey sedang mencari tau apakah ini murni kecelakaan atau ada sebab lainnya. Semoga semua lekas membaik.. Aamiin ".


" Aamiin, doa nya, Mas". Amir memutuskan untuk sholat sunnah lebih dulu sebelum ia membaringkan tubuh nya yang lelah di sisi brangkar sang Ayah. Setidaknya ia tenang, Naya ada yang mengurus sebelum kakak sulung nya datang. Adiknya itu terkadang mendadak bodoh jika terlalu panik, Amir takut Naya justru akan menambah masalah akibat kenekatan nya.


Dalam kegundahan hatinya, Amir menengadahkan kepala menatap langit-langit kamar rawat inap Abah nya dengan hati nelangsa.


" (Ummi.... Aku kangen, mungkin Abah juga, dan terlebih Naya... Kuatkan kami ya Allah) ".


***


Didalam ruang make-up. Terjadi percakapan yang tidak sewajarnya antara pria dan wanita, rencana mereka yang terang-terangan mencelakai seseorang terekam jelas oleh sepasang telinga yang tak sengaja memperhatikan interaksi keduanya meski hanya via panggilan selular.


" Aku sudah memperingatkan nya, tapi agaknya gadis itu tak lantas menjauhi Mahen.. Rencana mu kurang akurat ternyata ".


" Lakukan saja tugasmu tanpa perlu banyak protes. Ingat, jangan macam-macam atau aku akan membuat karirmu hancur ".


" Heh, bukankah sudah ku bilang aku tak ikut campur jika ada masalah nanti? silakan ambil gadis kampung itu, aku cukup membawa Mahen bersama ku ".


" Biiiiitch.... Pastikan dia pergi ".


" Shittt... Aku tau tugas ku, brengs*k ".


Sesungguhnya satu sama lain dari mereka, hanya terpaksa saling bekerjasama demi mendapatkan keinginan menggebu masing-masing.


Mereka lupa, bahwa tembok pun punya telinga.


***


Keesokan pagi, di hotel.


Mahen meninggalkan Naya yang masih tertidur didalam kamar bersama Candi. Ia harus segera ke Kota Kuning karena pekerjaan yang tidak bisa ia tunda.


Semua sibuk dengan tugas nya masing-masing, mulai dari Alex, Rey hingga Bram yang diminta menyiapkan segala keperluan untuk di lokasi nanti.


Sepanjang perjalanan Mahen mencerna satu persatu apa yang ia bisa tarik benang merah sejak ia memperkenalkan Naya ke publik.


Mulai dari masa lalu Danureksa, Tristan yang bekerja sama dengan Danureksa, hingga Anggara dan Nirwan.


Semuanya mengarah pada Naya. Yang ia tahu kekasihnya hanyalah cicit seorang Tumenggung yang masih aktif dalam pemerintahan Kasultanan disana, apakah Naya juga punya hubungan dengan Pak Jim? apakah mereka berasal dari keluarga yang sama? teringat tentang Danureksa yang salah paham dengan ummi Naya. Jika analisa nya tepat, pantas saja banyak yang ingin menjadi kekasih gadis itu. Selain kekuasaan wilayah teritorial lokal, sang suami nya nanti juga berkelimpahan kemewahan akibat status sosial yang meningkat ditambah aset kekuasaan yang akan diturunkan kelak.


Semalam, Alex juga menyampaikan tentang kecurigaan nya tentang Sabotase. Ditambah Rey yang menemukan fakta tentang Melissa, terlihat akrab bersama Anggara di beberapa kali pertemuan.

__ADS_1


Apakah Naya sedang di ancam oleh seseorang? Mahen mencatat semua nya dalam buku agenda yang ia pegang saat ini. Ia menggambarkanya kedalam sebuah bagan, dan binggo semuanya terkoneksi satu sama lain.


" Bos, tiba ". Suara Bram mengagetkan Mahen.


" Ok, Bram tolong cek Naya dihotel lepas ini, aku akan berusaha menyelesaikan urusan ku lebih cepat ". Mahen turun ke lokasi proyek dan memulai meeting bersama para pekerja disana.


" Baik bos ". Bram membuka ponsel selular nya, ia menekan angka yang langsung terhubung ke Candi.


" Can, report ".


" Nona baru saja bangun, kami akan sarapan lalu pulang ke kost-an dan aku akan mengantar Nona pulang kerumah hari ini, Co-Capt, copied "


" Ok. Update On, report "


" Siap ".


Bram lalu memutari mobil bos nya itu, kemampuan programmer nya yang lumayan mumpuni, ia dapatkan dari Mahen. Bram mengecek semua sensor mobil nya, lalu mencoba memindai dan mencocokkan hasil nya untuk di diskusikan dengan Alex sementara bos nya masih meeting didalam sana.


Bram merasa nurani nya terpanggil setelah mendengar cerita dari Rey meski hanya penggalan kisah mereka. Bos nya telah banyak berjasa bagi mereka, sudah waktunya ia juga turut andil untuk membantu kali ini sebab bos nya itu tak pernah menunjukkan kasih sayang demikian luar biasa terhadap seorang wanita.


***


Naya dan Mega memutuskan untuk kembali ke kost-an nya. Naya meminta Mega agar menunggu nya dibawah sementara ia bersiap.


Didalam kamar, Naya menangis. Ia tau ini adalah hari terakhir nya dikota ini. Dengan berat langkah diambilnya selembar kertas dari buku diary nya, ia mulai menulis disana susah payah karena airmata yang tak henti mengucur deras tanpa bisa ditahan. Hatinya sakit bercampur sesak, mendadak nafasnya tercekat seakan oksigen didalam kamar nya tak cukup memasok ke dalam paru-paru nya.


( Untuk Bu Rahma, Mega dan Nurma)


( Terimakasih atas kasih sayang kalian padaku, Doakan aku sehat agar suatu saat nanti bila Tuhan mengizinkan berjumpa kembali dengan kalian dalam situasi yang lebih baik dari ini. Aku pergi, membawa sejuta kenangan persahabatan kita, membawa kasih sayang dari bu Rahma selama aku menetap disini).


( Jangan menangisi, jangan mencari ku. Aku ada disetiap kenangan kalian, aku ada disetiap hembusan nafas kalian, dan aku tetap bisa melihat kalian dari tempatku meski ragaku tak dapat menjangkau)


- Naya -


Susah payah, Naya menahan suara nya agar isakan pilu nya tak terdengar.


Ia lalu melanjutkan menulis pesan untuk ka Amir dan Abah.


( Ka, Abah.. Maafkan karena harus pergi. Bukan aku tidak sayang, justru karena aku sayang maka aku seperti ini.. Abah lekas lah sehat, Abah akan baik-baik saja meski tanpa ku kan? seperti sebelumnya..)


( Maafkan aku belum bisa berbakti sebagai seorang adik dan anak. Aku akan tetap mendoakan kalian dari tempat ku.. Doakan aku juga agar kuat hingga saat nya kembali nanti atau mungkin tak akan pernah kembali.. Ingatlah aku, meski hadirku hanya sebatas pernah menjadi bagian dari keluarga Braja wisesa ).


- Ainnur dinarabraja, Ainnaya anak abah yang bandel -


Tangisnya pecah, ia terduduk luruh jatuh kebawah dan tergugu, bahunya terguncang keras.


" A-baang.... A-baaang... ". Nafas nya tersenggal kala mengucapkan nama panggilan kekasihnya.


Untuk Mahen kekasihnya, ia akan meninggalkan sebuah flashdisk yang berisi segala kenangan mereka, mulai dari lagu rindu hingga beberapa foto kebersamaan yang berhasil Naya minta dari Rey dulu saat ia kedapatan sedang mengambil gambar diri nya secara candid.


Naya berusaha menguatkan dirinya, ia menyeka wajahnya yang sudah sedikit kusam karena bekas menangis. Lalu menyisir rambutnya yang basah akibat terkena airmata nya sedari tadi. Tak lupa memoles wajahnya dengan sedikit make up agar terlihat segar, saat dilihat kekasihnya nanti ketika memutar pesan dalam flashdisk nya ini.


Setelah merasa semua siap, ia mulai merekam dirinya.


" Hai Abang.. Cape yaa, baru pulang kerja.. Aku selalu suka lihat Abang kalau sedang serius mengerjakan sesuatu di depan laptop.. Pacarku keren dan terlihat cool.. Hehe ".


" Abang... Jika abang menemukan ini... Tandanya, aku sudah tidak ada di kota ini lagi.. Aku pergi bukan karena tak sayang terlebih cinta.. I love you honey, so deep. Abang mau denger itu kan dari aku? ".


" Aku terlalu sayang kalian.. Izinkan aku menjauh.. Jangan mencari ku.. Cukup doakan aku sehat di tempat yang baru, aku janji akan hidup dengan baik ".

__ADS_1


" Aku........ Hiks..... Berbahagialah Abang, cobalah sebisa mungkin lupakan aku... ".


" Lupakan aku, ikhlaskan aku pergi.... Abang adalah salah satu rezeki ku yang terbesar dari Allah, hal terbaik dan terindah buat ku.. Terimakasih sudah sangat sabar menghadapi ku, terimakasih sudah selalu ada saat aku terpuruk dan terjatuh, terimakasih atas limpahan cinta kasih sayang yang Abang punya, yang tak ada habis-habisnya untukku.... ".


" Hiks..... Hiks... Aku ga kuat ya Allah ". Naya menjeda ucapan nya, hatinya sesak, airmata nya kembali jatuh.


" Maafkan aku, hiduplah dan beribadahlah dengan benar, istirahat lah yang cukup, jangan lupa minum vitamin Abang dan ganti bantalan untuk kaki Abang secara berkala yaa. Aku sudah ga bisa mengingatkan hal kecil dan remeh itu lagi esok hari..... hiks ". Naya memaksakan tersenyum manis.


" Sakit ya Allah...Hiks hiks... ". Terlalu sakit ku rasa, sesakit ini kah rasanya?


" Jika memang Allah takdirkan kita suatu saat kembali berjumpa, entah dalam situasi bagaimana.. Aku harap kita bisa bersikap biasa saja.. Anggaplah aku sebagai orang asing yang sekedar singgah kala mencari teman untuk sekedar bercerita ".


" Bahkan jika kita tidak bisa bersama pada akhirnya, aku bersyukur pernah menjadi bagian dari hidup Abang ".


" Karena..... Hiks..... ". Naya menundukkan kepalanya, netra nya tak bisa ia ajak kompromi, sudah terlalu pedih, hatinya bagai tersayat-sayat sembilu tajam.


" Karena.... Kita..... Adalah dua orang yang pernah memiliki rasa yang sama namun tak ditakdirkan untuk terus bersama ".


" Abang, love you sayang ku.. Selamat tinggal ". Naya mengakhiri rekaman video nya dengan senyuman dan linangan air mata.


Ia lalu menutup laptopnya, mencabut flash disk dan meletakkan nya bersama dengan lipatan surat yang akan dia tinggalkan diatas meja disamping tempat tidurnya.


Jemarinya kemudian mulai mencatat beberapa nomor kontak yang di rasa perlu dan penting. Ia melepas SIMcard dari ponselnya. Menggunting gelang tali berbandul hati dan kunci pemberian Mahen karena ia yakin, ada sesuatu disana yang bisa membuat Mahen menemukan nya kelak.


Ponsel pemberian Mahen sumber masalahnya karena telah disadap, ia putuskan untuk meninggalkan nya disini. Menggantinya dengan ponsel jadul miliknya yang masih layak berfungsi dari laci meja rias nya.


Masih dengan isakan dan nafas yang tersenggal akibat menangis, ia memutuskan untuk sholat terlebih dahulu sebelum pergi ke Mall tempat nya bekerja.


Setelah semua rapih pada tempat nya, Naya untuk terkahir kalinya, menatap sekeliling kamar nya. Teddy bear yang kerap menemani nya tidur, terpaksa ia tinggalkan di sudut ranjang nya. Ia hanya membawa beberapa lembar baju agar Mega tak curiga.


" Selamat tinggal semua kenangan... Aku titip dia ". Naya menutup kamar nya perlahan lalu bergegas turun ke bawah menemui Mega sebelum ia berubah pikiran kembali.


15 menit kemudian, Naya sudah berada dalam ruangan S02 nya siang itu, Naya pamit dan meminta maaf karena tidak bisa memenuhi janjinya sebab ia harus segera pergi.


" Its ok, baik-baik lah dimanapun kamu berada. Aku terima surat pengunduran diri kamu.. Salary kamu aku cairkan hari ini, minta cash ke departemen keuangan yaa Naya, semoga bisa jadi bekal hidup di tempat yang baru ". S02 menyodorkan selembar surat, isinya tentang rekomendasi atas kinerja Naya di perusahaan agar bisa Naya gunakan bila akan melamar kerja ditempat baru.


" Terimakasih banyak pak atas segala bantuan nya ".


" Nevermind Naya, aku mengapresiasi kerja kamu selama join di VM kami ".


Semua berjalan dengan baik, Yaa Tuhan, apakah memang harus seperti ini jalan ku? Naya memutuskan untuk segera pergi dari Mall setelah urusan nya selesai. Ia berjalan santai, meski hatinya berkecamuk.


Penampilan tomboy serba hitam, sneaker sporty, ransel besar dipunggung, masker yang menutupi wajahnya serta jaket dengan hoodie lebar menutup kepalanya.


Tak akan ada yang mengira, bila sosok yang berjalan di paviliun Mall menuju rute terminal itu adalah seorang wanita.


" Selamat tinggal.... Kota sejuta kenangan.. Selamat tinggal semuanya ". Ucapnya lirih kala ia berhasil menaiki sebuah angkutan umum menuju tempat asing yang akan membuatnya mengukir kisah hidup yang baru.


____________________________


Tisu.... 🥺


Sedekah vote, love like komen, atu lagi follow 😅..


(buka iKON author di beranda novel, pilih follow)


atau


Boleh follow IG mama_qiev yaaks.. tengkiyu gaes.. lopyupul ❤

__ADS_1


__ADS_2