Dia.. Pilihan Untuk Ku

Dia.. Pilihan Untuk Ku
MEMAAFKAN MU


__ADS_3

" Abang bukan pria cacat... Abang.. Tidak... Cacat... !! kamu keterlaluan... Nur-Viii-ta... Vitaaa, apa salahku padamu... Kamu jahat!! ". Naya melepaskan diri dari dekapan Mahen dan bangkit berusaha menggapai handle pintu untuk menuju ruangan sebelah dengan penuh amarah. Mahen memeluknya dari belakang dan menahan kedua tangan Naya yang tanpa sadar memukuli daun pintu yang berhasil Mahen kunci kembali sedangkan Naya masih berusaha memaksa membuka pintu itu hingga membuat jari tangannya lebam akibat benturan berkali-kali.


" Sayang, tenanglah.. Honey, remember that we have Allah for help us in any situation ". Mahen mendekap nya erat, membawa Naya menjauh dari pintu menuju sofa untuk duduk kembali.


" ........... ". Naya hanya memandang wajah kekasihnya itu dengan ekspresi yang tidak terbaca oleh Mahen.


" We donโ€™t know whatโ€™s someone go through with their life, honey... Kita dengerin dia dulu yaa ". Mahen menghapus air mata diwajah gadis yang sedang memandangi nya ini.


" Lanjutkan Rey... Buka microphone nya ". Mahen memerintahkan Rey untuk membuka akses suara agar Naya bisa berinteraksi dengan sahabat nya itu.


" Jadi itu semua salah Nona?... bukan Tristan?.. bukan kamu?.. Dimana kamu saat Nona sakit? saat Nona kerap bersedih ketika mengingat ibu nya?.. Salah Nona jugakah bila ia sangat dicintai oleh kekasih nya? salah Nona juga kah, bila ia punya wajah yang ayu? ". Rey menggebrak meja dihadapan nya.


" Yang kamu pikirkan hanya diri mu. Nona kami telah banyak membantu mu, apa kau lupa? ah, mungkin kamu tidak ingat atau bahkan tidak mau tahu saat ibu mu mendatangi kost-an untuk meminta uang bulanan yang tak kau kirimkan sejak dua bulan lalu? kau lupa bahwa nona kami juga yang selama ini membantu pengobatan adikmu sebelum diagnosa itu keluar?... KAU LUPA ATAU SENGAJA TAK MAU TAHU, B*tch? ". Teriakan Rey menggelegar memekakkan telinga siapa saja yang mendengar nya, betapa ia kesal saat mengetahui semua tabungan Naya habis hanya untuk membantu keluarga Vita. Sedangkan ia asik bersenang-senang dengan Tristan, meski Vita juga tau Tristan hanya memperdaya nya untuk mendekati Naya dari dekat.


Naya terduduk lemas diatas sofa mengetahui kenyataan pahit tentang perubahan sikap sahabat nya itu, ia menundukkan kepalanya sambil terisak. Mahen bahkan masih ingat betul saat Naya meminta izin padanya (meski itu adalah uang pribadi Naya) untuk menarik semua tabungan nya demi membantu adik Vita karena Vita mengaku salary nya ditahan sebab ia merusak barang pelanggan sewaktu ia baru pindah kerja ke cafe.


" Sayang, jangan menyesali kebaikan yang telah kamu perbuat yaa.. ". Mahen menggenggam tangan Naya kembali.


" Dan kamu tau, siapa yang menyelamatkan mu dari Anggara di motel kemarin? kamu tau, siapa yang telah memberikan sejumlah uang dan fasilitas agar adikmu dapat masuk daftar prioritas pasien penerima donor organ? Kamu tau, itu karena siapa? ". Kesabaran Rey sudah diujung tanduk.


" Jangan membual, aku muak... Naya tak akan bertindak sejauh itu untuk orang lain. Ia terlalu sungkan bahkan untuk meminta selembar uang saku pada pacar nya itu. Cih, apalagi meminta hal besar yang tak mungkin ia lakukan jika bukan untuk kepentingan nya ". Masih nampak jelas kebencian yang terlukis di wajah Vita terhadap Naya.


" Pl*kk........ Dasar j*lang..... ". Rey menampar pipi Vita hingga sudut bibir nya berdarah.


" Nona yang meminta pada Tuan Mahen agar menyelamatkan mu dari Anggara, agar aku tak melukai mu, agar beliau bersedia membantu mencarikan yayasan bagi adikmu untuk mendapatkan penanganan intensif. Semua karena permintaan Nona kami... ". Rey geram, ingin rasanya menyiksa gadis ini jika saja Mahen tak mewanti nya sedari pagi.


" Abang, aku boleh bicara? ". Mahen mengangguk pelan. Naya tak kuasa lagi, ia ingin meluapkan segala emosi hati nya atas perlakuan Vita terhadap nya.


" Vita.. Kamu masih mengenali suara ku? ". Nada bicara naya bergetar menahan tangis.


" Naa-yaa...... Naya..... ".


" Maafkan aku, maafkan aku... Maaf, karena sudah tidak peka menjadi sahabat mu, hiks, aku tak bisa membantu pengobatan lebih awal untuk adikmu. Abang yang mencarikan yayasan untuk adikmu agar secepatnya mendapat donor organ jantung dan melanjutkan pengobatan di rumah sakit yang lebih besar.. Aku memang tidak pernah melakukan apapun untuk mu Vita.. ". Naya menjeda kalimat nya sejenak.


" Maafkan jika kehadiran ku merusak semua mimpi indah mu bersama Tristan, sungguh aku tak mengenal nya, aku bahkan mengetahui nama nya saat percobaan penculikan dulu.. ".


" Vita.. Aku memaafkan mu.. Hatiku ingin bebas dari semua ini. Semoga setelah ini hidupmu juga jauh lebih baik lagi.. Bertemu seseorang yang tulus mencintaimu seperti Abang mencintai ku.. Semoga kamu menemukan bahagia yang kamu cari. Maafkan aku belum menjadi sahabat terbaik bagi mu ". Nada suara naya mulai parau, ia menahan nya agar tidak menangis.


" Naya.. aku tidak menyesal telah berbuat ini padamu.. Sempat terbersit rasa bersalah, tapi aku menepis nya karena aku rasa kamu tak akan kehilangan apapun meskipun hal itu terjadi.. Tidak mengapa bila kamu membenci ku, justru itu yang aku mau daripada harus berpura-pura baik didepan mu.. ". Hati Vita terlanjur mati dan ia terlalu malu untuk sekedar mengucapkan terimakasih.


" Aku... Tidak membenci mu... Vita, kamu tetaplah sahabat pertama ku saat aku keluar dari rumah 1 tahun yang lalu ". Naya bangkit dari sofa tempat ia duduk bersama Mahen. Tangan kanan nya membelai cermin dihadapan nya sambil tangan kirinya membungkam mulutnya agar isakan nya tak terdengar.


" Rey... Off ". Mahen meminta Rey mematikan microphone ruangan. Ia lalu bangkit menghampiri Naya yang masih termangu dihadapan cermin besar yang menampilkan sosok sahabat nya itu.


" Kamu membandingkan dirimu dengan Nona kami? Cuh... Yang benar saja, sampah memang hanya pantas bergaul dengan sampah ". Rey masih memaki Vita disana.


" Sayang.. ". Mahen memegang bahu Naya erat untuk menguatkan nya. Naya berbalik badan dan menghamburkan dirinya ke pelukan Mahen yang berdiri tak jauh disamping nya. Ia menangis menyandarkan kepala nya di dada bidang Mahen.


" Sudah puas? kamu mau menemui nya? ". Mahen bertanya lirih di telinga Naya.

__ADS_1


"........... ". Naya hanya menggelengkan kepala nya pelan.


" Naya ku memang berhati lembut dan penuh kasih.. Kamu pemenangnya sayang.. Sekarang kita akan memulai tahap awal terapi nya, kamu sudah siap kan? kita akan melewati ini sama-sama.. Kuatlah bersama ku Naya ". Mahen membelai kepala Naya penuh kelembutan, mengusap punggung nya perlahan hingga ia tenang kembali.


" Rey.. We're have done ". Mahen mengajak Naya kembali ke mobil dimana Mega alias Candi menunggu mereka.


" Bos, boleh kah aku bersenang-senang dengan nya? nampak nya ini akan asik, anda duluan saja jika tak ingin menunggu ku ". Rey berharap mahen mengizinkan.


" Terserah, tapi jangan kamu rusak dia Rey ".


" Dia telah rusak oleh Tristan bos, trust me, bukan aku yang pertama bagi nya ".


" What the.... Oh God.. Sesukamu Rey ".


Setelah sesi introgasi usai, nampaknya reaksi obat itu mulai bekerja. Vita mulai memandang aneh pada pria yang ada dihadapan nya. Rey hanya menanggapi nya dengan smirk menyebalkan.


" Kemari sayang, kamu ingin bermain main dengan ku? ". Rey memancingnya. Vita masih bergeming, mungkin ia baru menyadari reaksi tubuh yang tengah ia rasakan. Vita merasakan gairah nya mulai bangkit, tubuhnya panas lalu otaknya berpikir bahwa ia tengah menuju puncak nafsu. Ia yakin telah menelan sesuatu, karena rasanya sama ketika ia pertama kali melakukan nya dengan Tristan dulu.


" Br*ngsek... Kamu beri aku... aah, minuman tadi.. ". Vita mulai gelisah, keringat dingin mulai muncul.


" Jangan pura-pura ja*lang, gimana, mau lagi? mau dimana lagi? disini? ". Rey memancing nya dengan sentuhan di titik sensitif nya. Vita mulai terbuai...


" Laaa-ggiii... Lagi.. Sshh-aaahh.. Iya disitu.. Jangan lepas... ". Mata nya mulai terpejam menahan hasrat yang kian melambung tinggi. Vita sudah tak sabar menunggu Rey menyentuh nya, ia menuntut untuk diperlakukan lebih dan lebih lagi.


" Baiklah.. aku diam.. silakan bekerja sayang... ". Rey kali ini hanya diam menikmati setiap perlakuan dari lawan mainnya. Dia menikmati setiap jengkal tubuhnya yang di eksplore oleh Vita.


" Teryata kamu expert sayang.. Teruskan.. ". Rey ******* habis bibir ranum gadis itu, tangan nya mulai membuka semua pakaian bagian atas gadis itu dengan sekejap mata.. Vita makin menjadi, meracau tak jelas. D*sah*n dan l*ng*han nya menggema di seluruh ruangan kedap suara itu.


Namun justru sebuah suara dari microphone ruangan itu mendadak bergema... dan sukses menurunkan mood nya seketika. S*al, umpat nya kemudian.


" Tuan Rey.. Aku mohon, jangan perlakukan Vita seperti anda bermain dengan wanita diluar sana ". Kali ini Naya yang langsung berbicara padanya.


" Aku tidak menyentuh nya Nona... ". Hanya mencicipi nya sedikit, dan sayang sekali tak tuntas. Keluh Rey dalam hati.


(๐Ÿ˜‚ Rey Rey.. Ga enak amat yaa nanggung... ).


Saat Rey menjeda kegiatan nya itu, Vita yang terlanjur sudah ada diatas puncak ga*rah, tetap melaksanakan keinginan nya dan berhasil membuat Rey m*l*nguh " Sshhh-uughhhh ", disaat ia masih berbicara dengan Nona nya itu.


(๐Ÿ˜‚ haduh.....).


" Rey.. Rey !! berhenti atau aku seret kamu kemari ". Kali ini suara Mahen menginterupsi.


" Tuan Rey... Jangan... ". Teriak Naya lagi.


" Can.. Tarik Rey kemari ". Mahen memberikan perintah pada Candi.


Candi yang bingung karena sedari tadi ia berdiri diluar mobil, tak mengerti apa yang tengah terjadi. Dia hanya bisa menganggukkan kepala mengikuti perintah dari bos nya untuk menjemput Rey didalam.


Mahen tertawa melihat kepolosan gadis itu, ia tau Candi menyukai Rey begitupun sebaliknya. Namun baru beberapa langkah Candi meninggalkan pasangan itu, Mahen kembali memanggilnya. Ia tak tega bila Candi harus melihat kelakuan Rey disana.

__ADS_1


" Rey, berhenti atau aku minta Candi kedalam menyeret mu kemari ". Mahen masih berbicara di tuts jam tangan nya saat Rey sedang berjalan keluar dari dalam markas dan menghampiri nya di pelataran depan gedung.


" Bos... Anda merusak waktu main ku ". Sungut nya kesal sembari ia membuka pintu mobil lalu duduk di balik kemudi.


" Kamu apakan dia Rey? ". Mahen menggoda nya.


" Tidak ada, hanya pemanasan saja, tapi saat sudah betul-betul panas. Anda mengangkatnya paksa dan menyiram nya ". Kali ini Rey mendengus marah sambil menyalakan mobil dan membawa nya keluar dari markas menuju klinik seorang psikolog.


" Hahahahahaha... ". Mahen tertawa lepas. Naya hanya menampilkan wajah masam sambil membayangkan Vita didalam sana tengah sendirian dengan kondisi yang membuat nya mengingat kembali kejadian beberapa hari lalu.


" Abang, disana dia baik-baik sajakah? tak akan ada yang menggangu nya kan? ". Tanya nya cemas.


" Sayang, kamu masih saja berlaku baik padanya. Tak akan ada yang berani mengganggu nya. Dia ditemani oleh team wanita, jangan khawatir, mereka akan menolong nya dan membawa nya ke rumah sakit ".


" Aku punya Abang di sisiku saat mengalami itu, sedangkan Vita? ". Wajah nya kembali murung.


" Naya, sahabat mu itu telah rusak oleh ulahnya sendiri.. Tristan yang mempengaruhi nya. Sudah jalan nasibnya begitu, dan itu bukan salah mu ". Mahen menoleh ke samping dimana Naya duduk bersandar sambil memejamkan mata nya. Ia merasa gadisnya sedang berada di titik lemah nya.


" Can, tolong ambilkan skincare pouch di dashboard depan mu ".


" Ini Bos... ". Candi heran, kenapa ada peralatan make-up dengan brand ternama seperti milik Naya di dalam mobil kantor yang dipakai bos nya ini.


Mahen lalu membuka pouch nya, mengambil kapas dan membasahi nya dengan toner pelembab mata. Ia lalu menempelkan kapas yang telah basah dengan toner tadi, untuk mengompres mata Naya agar tidak bengkak akibat menangis lama sewaktu didalam markas.


" Diam dulu, jangan dilepas yaa.. Biar mata kamu nyaman dan ga bengkak.. ". Mahen juga menyingkirkan anak rambut yang menempel di sekitar dahi dan pelipis wajah Naya agar tidak mengganggu mata Naya yang sedang di tutup kapas basah.


Candi yang melihat ke-uwu-an pasangan ini hanya tersenyum manis sembari wajah nya merona. Pantas saja banyak yang iri pada Nona , Abang bos memperlakukan Nona dengan sangat manis.


*


Klinik psikolog.


Sudah 1 jam Naya berada diruangan seorang dokter psikolog atas rekomendasi dari Alex. Dokter melarang Mahen ikut kedalam saat sesi tahap awal pertemuan hari ini. Alasan nya, agar ia dapat bicara dari hati ke hati dengan Naya.


Suster memanggil Mahen untuk masuk kedalam ruangan konsultasi yang berbeda dengan ruangan Naya.


" Tuan Mahendra, apakah pasien adalah istri anda?... Ada beberapa luka batin yang disimpan nya.. Nampak nya ini akan memakan waktu agak lama.. ". Dokter memeriksa data pasien.


" Tunangan ku... Lakukan yang terbaik untuknya Dok, aku yang bertanggung jawab ".


" Baik.. Ada beberapa prosedur yang harus kalian berdua lalui nanti, anda bersedia? ".


" Akan aku lakukan asal dia ceria kembali ". Jawab mahen mantap, sudah seminggu dia ada di kota ini, bila saatnya dia harus kembali ke Jakarta nanti, paling tidak Naya sudah mendapatkan terapi agar mental nya bisa jauh lebih tenang.


Terapi kejiwaan Naya, tahap satu dimulai. Sementara Rey sibuk menahan team di markas, agar Vita tidak dibawa ke rumah sakit. Ia berniat mengunjungi nya kembali selepas mengantar pasangan ini ke hotel dan kost-an untuk beristirahat.


_________________________________


Adududu Rey ๐Ÿ˜Œ.

__ADS_1


Sehat jiwa raga kembali Naya....


__ADS_2