
45 menit berlalu sejak mereka meninggalkan tanjakan Puncak Pass, kini mobil Mahen perlahan memasuki kawasan perumahan di Sentul City bagian barat.
Ingin rasanya Naya memejamkan mata namun kali ini rasanya enggan karena gugup, gundah akan bagaimana sikap yang harus dia tunjukkan nanti kala bertemu dengan Mama nya Mahen.
Sentul Green Park Residence.
Mahen membelokkan mobil nya ke arah kanan memasuki gerbang cluster D. Nampak seorang satpam berdiri untuk membuka pintu portal agar mobil kami dapat melintas.
" Lho Bang Mahen, ga pulang ke cluster A? mau ke Mama dulu yaa? .... Eh bawa tamu nieh? ". Sapa salah seorang satpam.
" Iya Pak, ke Mama mau nganterin dia.. Aku balik ke A ko nanti.. Makasih pak ". Mahen kembali menutup kaca mobil dan melanjutkan perjalanan menuju rumah orang tuanya yang tak jauh dari pos satpam tadi.
" Kita sampai, turun yuk ". Mahen memarkirkan kendaraan nya didepan sebuah rumah bercat putih tanpa pagar, dengan halaman depan yang asri ditumbuhi banyak tanaman hias. Rumah yang terlihat sederhana namun terkesan mewah bila dilihat dari tatanan fasad bagian depan. Tak heran sih, anaknya kan kerja di property pasti paham dengan landscape yang apik.
Naya melihat sekeliling sebelum memutuskan untuk turun, deretan rumah berkelas berjejer rapi meski semua tanpa pagar. Terkesan ramah karena tidak ada tembok pembatas yang memungkinkan untuk bersosialisasi dengan tetangga meski sekedar menyapa.
" Mikirin apa? turun yuk ". Mahen membuka pintu mobil Naya lalu meraih tangan nya dan mengajaknya turun.
" Assalamu'alaikum, Maa ".
" Wa'alaikumussalam.. Ko lama banget, Bapak udah tidur deh padahal tadi nya exited nungguin kalian... Gih sana isya dulu Bang ". Mama membuka pintu dan keluar dari dalam rumah dengan memakai sweater coklat menutupi daster panjang nya dan sebuah pashmina yang dililit asal untuk menutupi sebagian rambut putih nya yang menyembul.
" Tadi mampir ke kebun dulu... Naya, Ma ". Mahen salim mencium tangan sang bunda lalu mengusap kepala Naya yang berdiri disamping nya.
" Iya tau, gih sana... Nginep sini apa pulang, Bang ? ".
" Pulang, ada Rey di A ". Jawab Mahen sambil berlalu begitu saja meninggalkan Naya yang masih diam mematung.
" Neng, ko bengong.... Sini sayang ". Mama meraih lengan Naya dan mengajak masuk kedalam
" Eh I-iyaa... ". Naya membungkukkan badan nya, meraih tangan Mama menciumnya takzim. Mereka berdua lalu masuk dan Mama menunjukkan kamar untuk Naya tempati malam ini.
" Ini kamar Abang... Naya bobo sini yaa, Mama udah siapin air hangat buat mandi disana.. Ini baju ganti nya, kalau ga suka, Naya pilih dilemari, Abang udah siapin banyak baju buat Naya disitu... Gih bersih-bersih dulu ".
" Iya.. ". Naya masih dalam mode bingung harus berkata apa.
" Ma-ma... Panggil Mama.. ".
" Iya Maa... ". Sahutnya lembut.
" Ish gemesin banget sih... Pantesan Abang uring-uringan kemarin, kamu buat anak nakal itu kayak orang gila ". Mama mendekat, membelai wajah Naya dan memandang nya lama penuh kekaguman.
" Hmmm, maafin aku Ma... ".
" Ko maaf, Abang itu belum pernah ngajak cewek main ke rumah, apalagi ngenalin ke Mama begini. Cuma sama kamu, dia begitu, sampe siapin semua keperluan kamu udah lama banget tuh disana.. Dari skincare, sendal sepatu mukenah semua nya lengkap... Makasih yaa sayang, udah mau nerima Abang dengan kondisi yang begitu, lapuk pula ga laku-laku.. Yang sabar yaa ngadepin Abang, dia kadang sibuk banget sampe lupa waktu.. Aah Mama jadi gosip, besok kita ngobrol lagi yaa.. Naya istirahat dulu ". Kecup Mama di kening naya begitu saja lalu berlalu keluar kamar dengan wajah berseri.
30 menit kemudian, terdengar pintu kamar Naya diketuk dari luar. Ketika membuka pintu ia dibuat terkejut kembali oleh Mama.
" Abang udah pulang ke rumah nya di cluster A, besok Mama anter Naya kesana sekalian jalan pagi.. Minum nya sayang, kamu males turun dari tempat tidur kalau belum minum kan? Mama lupa siapin... Biar rileks dan bangun nya seger, Mama nyalain Aroma terapi dulu yaa ".
" Mama tau? aku jadi repotin ".
" Abang yang cerita, Mama dengerin doank... Pokoknya sejak sama kamu, dia berubah banget jadi lebih mudah diajak ngobrol, biasanya kayak kulkas, dingin cuek dan kaku.. Sekarang lebih kayak manusia bisa senyum ketawa becanda, Mama happy, happy banget liat Abang begitu.. Semua tentang kamu, jadi nya Mama ketularan nyandu kalau seharian belum telpon dia buat nanyain kamu, Mama ga bisa tidur hahaha ". Mama nampak antusias sekali.
" Aku makasih ke Abang, Mama juga.. Udah baik banget sama aku ".
" Gih bobo udah siap semua, apalagi yang belum?.... Mama kayak nemu anak perempuan yang bisa di ajak ngapain aja meski Mama punya dua menantu, tapi ga tau nih, Naya ngasih jampi apa ke Mama, ko sayang banget sama Naya meski baru ketemu kan.. ". Mama tak tahan, di peluknya Naya erat sambil mengusap punggung nya pelan.
" Naya, Anggap Mama ini kayak ummi Naya yaa.. Sayangi Mama juga sama kayak Naya sayang ke ummi ". Suara nya melembut, lirih penuh sayang.
" In sya Allah... Iya Ma ". Naya terharu ia meneteskan airmata nya.
__ADS_1
" Selamat malam sayang, bobo nyenyak yaa baca doa jangan lupa ". Mama menunggu naya naik ke tempat tidur, menarik selimut nya hingga ke dada, mengecup kening Naya, lalu keluar kamar sambil mematikan lampu digantikan oleh lampu tidur yang menyala otomatis.
Ddrrtttt, ddrrtttt. Bunyi ponsel Naya.
" Mama gosip yaa? lama amat balas pesan aku, makanya aku telpon ". Suara maskulin diujung telepon.
" Hem.. ". Suara Naya tercekat menahan isak.
" Kenapa? kaget yaa sama Mama? ".
" Hem, baik banget ".
" Juga sayang banget sama kamu.. Dinikmati ya sayang, Mama kalau udah sayang yaa begitu, bawel segala ada aja mau nya yang harus diikuti.. Bobo gih, aku masih ngobrol sama Rey dulu.. Besok ke sini jalan aja yaa, bareng Mama mau lari pagi katanya tadi ".
" Iya, aku tidur duluan ". Naya mengedarkan pandangan nya ke sekeliling kamar, interior yang serba gelap khas pria, skincare nya berderet rapi bersebelahan dengan parfum Mahen. Foto dirinya dibingkai manis disamping meja nakas, ia tak tahu jika Mahen mengambil gambarnya candid. Baju nya ditata apik didalam lemari saat ia melihat sekilas tadi. Simpel, rapih dan maskulin, kesan yang naya dapatkan dari kamar sang kekasih.Takama, ia pun terpejam dengan mengucap banyak syukur dalam hati telah dilimpahi sambutan hangat malam ini.
*
Setelah menelepon Naya, mahen melanjutkan diskusi nya bareng Rey. Dua hari ini mereka jarang berjumpa dikantor, hanya via pesan dan panggilan saja jadi rasanya banyak hal yang harus dibicarakan.
" Bos, Melissa terlihat beberapa kali mengunjungi eks apart nya. Termasuk Ridho yang dikejar untuk mendapatkan kabar anda ".
" Kemarin dia telpon aku, Naya tau ko dan aku udah blokir nomer dia ".
" Anggara pernah terlihat berada dalam satu acara yang sama dengan dia, dan mereka pernah saling menyapa bos.. Adakah rencana mereka berdua? dengan kedatangan Melissa akhir-akhir ini? ".
" Entahlah, aku rasanya lelah... Kamu sudah dapatkan bukti-bukti nya Rey? akan kita gunakan nanti jika dia berulah. Melissa, awasi dia... Pernikahan Rendy, aku tak ingin hadir karena Naya juga keberatan untuk ikut... Lagipula pasti ada Anggara disana, aku ga mau memory Naya bangkit kembali karena dia masih harus terapi 2x pertemuan lagi dengan Mama Aruna ".
" Baik bos.. Aku besok ke kebun sekaligus ke Exona farm menemui anak-anak disana ".
" Aku titip salam, nanti aku berkunjung jika sudah agak longgar... Rey, aku ko merasa Naya bakalan ninggalin aku yaa ".
" Bos, anda terlalu khawatir ".
" Istirahat bos.. Tidak Bos ". Tidak salah bos, aku sudah tau siapa sebenarnya Nona, tapi aku pun berjanji pada tuan besar agar tak mengatakan nya pada anda. Tuan besar khawatir anda akan meninggalkan Nona bila tau status Nona yang sebenarnya. (eps.28)
***
Senin pagi, Naya akhirnya bertolak pulang kembali ke kota asalnya. Setelah dua hari Mahen selalu menempel padanya kini mereka harus rela berpisah.
Dua hari yang sangat berkesan bagi Naya, ia lebih mengenal sosok kekasih nya dari orang-orang yang mengenal nya dekat termasuk satpam, dan beberapa tetangga nya. Mahen memang sudah mandiri sejak belia, Mama cerita panjang lebar bagaimana awal mula Mahen bekerja di Exona hingga memiliki asset kebun, rumah, apart dan mobil. Jangan lupakan juga kontribusi nya sebagai penyokong dana kala kedua adiknya belum mandiri. Naya terkesan, ternyata calon suami nya memang sosok yang ia dambakan selama ini.
Saat kereta telah membawa nya meninggalkan statiun Gambir. Ponsel nya berdering, sebuah panggilan tanpa identitas muncul di layar. Awalnya naya ragu, namun karena beberapa kali mencoba melakukan panggilan, mungkin ini sesuatu yang penting pikir nya hingga ia memutuskan untuk menjawab panggilan yang berlangsung.
" Assalamu'alaikum ".
" Hai Naya.. Hari ini kamu pulang, jangan khawatir, Mahen aman bersama ku.. Aku yang akan memanjakan nya kembali, menghapus mu dari ingatan nya dan kembali merajut kisah kami yang indah seperti dulu ".
" Siapa yaa? ".
" Tebak aku.... ".
" Buat aku ga penting siapa kamu.. Jika kamu merasa mampu membuat kekasih ku menjauh, Go Ahead.. Tapi jangan salahkan jika kamu akan merasakan sakit karena kecewa ".
" No, bukan aku yang akan membuat nya menjauhi mu.. Tapi kamu harus menjauh darinya... Atau kamu akan melihat orang-orang yang kamu sayang, terluka.. ".
" Mengancam ku? silakan.. ".
" Lets try, seberapa kuat kamu... Kita mulai dari Rey, kamu bisa tanyakan pada Mahen, apa yang terjadi pada orang kesayangan nya itu... Adios Naya, siapkan kata-kata indah untuk perpisahan mu dengan Mahen ".
Tuuuttt, tuuuttt.... Sambungan terputus.
__ADS_1
" Siapa Naya? ". Tanya teh Yuli, partner Naya.
" Orang stress teh ". Naya cemas, apakah ancaman tadi betul terjadi? Naya ragu untuk menelpon Mahen pagi itu. Tapi ia penasaran.
" Assalamu'alaikum, Abang... Hmm Rey kenapa? ".
" Wa'alaikumussalam.. kamu tau darimana? Rey kecelakaan, mobil yang biasa ku pakai, menabrak pengendara sepeda motor.. Rey dan korban telah dievakuasi di IGD RS terdekat, ini aku mau kesana ".
" Aku.... Abang hati-hati lah ".
" Ya sayang, jangan dipikirkan.. Rey baik-baik saja.. Hati-hati yaa, kabari aku jika telah sampai.. Candi akan menjemput mu ". Mahen berkata tergesa-gesa sambil mematikan telepon nya lalu ia bertolak ke rumah sakit dimana Rey berada diantar oleh Bram, asisten Rey.
*
Sementara didalam kereta. Naya memikirkan tentang telepon ancaman tadi. Ingin rasanya menebak siapa dalang nya, tapi ia takut fitnah jadi naya memutuskan untuk diam mengamati lebih dulu. Ia tak berani menyampaikan ini ke mahen, takut akan dampak yang lebih ekstrem lagi jika si peneror tau.
Naya berpikir, tentang hubungan nya sejak Mahen mengajak nya ke pesta pertunangan Rendy menjadi rumit dan penuh bahaya? siapa sebenarnya dirinya? mulai dari Tristan, tuan Danu, Vita, Anggara hingga Bagas.
Ia terus berpikir hingga mengantuk, tak lama ia pun tertidur.
" ( Nduk............... Nduk............. Maafin Ummi yaa nak ) ".
" ( Kamu yang akan menyambungkan lagi, tali yang terputus..... Nduk, kuat yaaa......) ".
" Ummi..... Umm-iiii ". Naya tersentak bangun hingga mengagetkan teh Yuli yang ada disamping nya.
" Kamu kenapa lagi? ".
" Mimpi hehe... maaf teh ". Ummi, apa maksudnya? bukankah orang yang sudah meninggal tak bisa ikut campur lagi urusan didunia? ko tadi kayak sebuah peringatan yaa? Naya makin bingung dibuat nya.
Tepat jam 12, naya telah tiba di statiun Cirebon, Mega sudah lebih dulu tiba untuk menjemput kekasih Bos nya itu siang ini.
" Ghaaa... Aku kangen kamu ". Peluk naya erat.
" Nona, aku juga ".
" Naya, Mega... Naya, ga ada Abang ko.. Jangan gitu, aku ga suka... Kamu tetap teman ku ".
" Tapi... "
" Naya.. gak ada tapi.. Aku ga bakalan ngadu ko kalau Candi, ga patuh sama Bos nya, haha ". Naya merangkul sahabat nya itu sambil berjalan keluar peron stasiun menuju parkiran motor yang akan membawa mereka kembali ke kost-an nya yang nyaman.
Sesampainya mereka di kost-an, naya merebahkan badan nya diatas ranjang yang lama tak ia tiduri. Pikiran nya menerawang jauh, tempo hari ia mendesak Abah untuk bercerita, namun Abah menolak dengan alasan lebih sedikit tahu maka akan jauh lebih aman.
Ddrrtttt ddrrtttt.. Ponsel naya berbunyi kembali. Nomer misterius yang tadi pagi muncul.
"........ ".
" Gimana? terbukti kan? baru Rey... Tinggalkan Mahen atau orang kesayangan mu selanjutnya yang akan merasakan sakit ".
" Jangan bercanda dengan nyawa manusia Nona, hanya demi sebuah nafsu ".
" Ckckckck, tausiah kamu ga berlaku buat aku... Segera tinggalkan Mahen atau kamu tau akibatnya ".
tuuuttt. Sambungan kembali terputus.
" Abang.... Gimana ini, aku takut.. Haruskah aku? Hiks..... ". Naya mulai gelisah, pilihan sulit bagi nya disaat ia kembali terbuka untuk menerima Mahen, bahkan hati nya sudah ia siapkan untuk menapaki langkah lebih jauh bersama nya.
" Haruskah kali ini, aku yang berkorban?........ ". hiks hiks...
___________________________
__ADS_1
🥺🥺🥺, nulisnya tergesa-gesa...
Vote, like, komen, share... semua boleh dah mumpung gratis 😊