
Karena lelah dengan pikiran dan hati nya, Naya lantas tertidur pulas dikamar nya. Lepas maghrib dia baru terbangun karena mendengar suara ketukan di pintu kamar.
" Iya sebentar ".
" Non, makan malam nya ini ". Bu Rahma mengantar langsung ke kamar naya jatah makan malam gadis itu.
" Makasih bu, padahal nanti Naya turun lho.. Eh telpon Naya bunyi ". Bu Rahma langsung pamit kembali ke bawah setelah urusan nya selesai.
" Ya Abang, gimana Rey? ".
" Dia baik, hanya shock... Sayang, besok malam aku kesana, proyek bulan lalu yang berhasil di dapatkan oleh Rey butuh peninjauan. Aku bareng Bram kesana.. Temani dinner yaa ".
" Iya... Abang sudah makan? masih dikantor atau dimana? ".
" Mau pulang ke apart diantar Bram. Tadi barusan makan di rumah sakit bareng Rey ".
" Abang..... Hmm... "
" Kenapa? kamu dari pagi mau bilang apa? honey, janji jangan ada yang disembunyikan dari aku ".
" Aku takut, Abang hati-hati lah.. Love you honey ".
".................. Ainnaya Misbach Shaki, coba ulangi kalimat tadi.... ".
" Yang mana... ". Naya pura-pura tak paham.
" Ck.. cepet... Jangan pura-pura, yang barusan terakhir itu lho "
" Love you honey, love you Mahendra Guna, love you so much ". Naya menahan senyum sambil tangan nya memegangi dada nya yang berdegup kencang. Demi apa, dia yang anti mengucapkan kalimat sakral baginya itu kini berani mengulangi nya beberapa kali.
" ......... Kamu berani nya cuma di telpon yaa... But, makasih sayang.. Aku jadi pengen kiss kamu ".
" Diiiihhhh, messsuuuummmm ".
" Haha, demi apa ? booster banget siih... Sayangnya lagi jauh yaa, kalau deket habis kamu ".
" Aku hanya ga ingin menyesal, aku sayang Abang.. Mungkin besok-besok aku malah ga bisa bilang itu lagi ".
" Ko ngomong nya gitu... Sweetie, kamu ga sedang sembunyikan sesuatu kan? ".
" Ga ada ko.. Ya kali, umur manusia ga ada yang tau ".
" Naya, jangan bicara begitu... Berdoa saja supaya jodoh kita panjang, berkah usia.. Ok? ".
" Sure.. Thanks sayang, udah selalu ingetin aku.. Abang istirahat lah dulu, aku mau bersih-bersih juga lanjut mau bikin laporan kerja buat besok ".
" Aku happy banget sore ini sumpah... Makasih sayang, love you.. Aku pulang dulu ".
" Love you too Abang ". Naya gundah, besok ia akan mencoba mengatakan nya pada Mahen saat dinner.
***
Kampus.
Naya ke ruangan dosen yang dikenal nya baik, ia berkonsultasi tentang kuliahnya jika dilakukan secara online by e-mail atau sk*pe masih kah memungkinkan bagi Naya agar dapat lulus ditahun ini? Ia akan berusaha memadatkan semua mata kuliahnya menjadi 3,5 tahun, sedangkan ia kini baru menjalani 5 semester artinya sisa yang harus dikejar untuk meraih gelar Strata 1 Akuntansi akan dia tuntaskan dalam waktu 1 tahun kedepan.
Sang dosen menanyakan alasan Naya menanyakan hal demikian, tapi hanya di sahuti oleh gadis itu bahwa ia akan di mutasi ke sebuah kota namun ia tidak ingin pindah kuliah.
Sang dosen pun memberikan beberapa alternatif yang memudahkan Naya untuk menjalankan keinginan nya.
Gadis itu tak henti nya mengucapkan banyak terimakasih, dosen yang dikenal oleh banyak mahasiswa sebagai dosen killer justru memberikan solusi cemerlang bahkan beliau bersedia menjadi pembimbing dalam belajar jarak jauh yang akan dilakukan Naya.
" Alhamdulillah, sisa satu masalah lagi, biaya hidup ku jika memang aku harus pergi ". Naya bergumam dilorong koridor saat akan menuju kelas nya. Ia sudah membuat rencana, sudah menentukan kota tujuan mana yang akan ia pilih untuk bersembunyi sembari memberitahu cara yang aman tentang resiko ini.
" Ya Allah, kuatkan aku.. Aku tidak pernah tau apa yang akan terjadi di masa depan, aku hanya punya Engkau.. Jagalah orang-orang yang aku sayang selama aku pergi ". Naya menuliskan kegundahan nya pada selembar kertas di salah satu buku nya.
*
Seharian ini, naya melupakan ponsel nya. Ia terlalu sibuk memikirkan solusi terbaik dalam waktu dekat yang harus ia ambil jika situasi semakin terdesak.
Sudah 15 menit ia berdiri didepan ruangan store manager. Hatinya meragu apakah kali ini usaha nya akan berhasil atau malah gagal. Jika gagal, ia terpaksa resign dan mencari sumber pendapatan baru dan ia akan mencari tau di warnet belokan sebelum kost-an saat pulang nanti.
" Naya, ada perlu dengan SO2 ? masuk saja, beliau ada ko ". Tegur seorang wanita departemen Keuangan.
" Iya mba, makasih ".
Tok tok. Naya mengetuk pelan pintu ruangan SO2 alias wakil store manager nya.
" Masuk ".
" Naya? tumben, duduk dulu, sebentar lagi aku selesai ".
" Iya Pak ".
__ADS_1
" Well, ada apa Naya? serius amat wajah kamu "
" Hmm, Pak.. Apakah ada mutasi dalam waktu dekat? untuk staff? ".
" Mutasi? kamu mau mutasi kemana? paling ada buat SPV atau koordinator ".
" Buat aku gak ada yaa? jadi apa aja deh pak, asal bisa keluar kota ini ".
" Staff kayaknya belum deh, mungkin SPG ada. Sebentar saya lihat Store lain yaa ".
10 menit berlalu begitu saja, S02 masih mencari.
" Ada di solo, ini mall baru, Mega Asri Mall 2.. Tapi staff VM sudah terisi full, kamu belum beruntung.. Paling untuk SPG, aku bisa titip kamu ke SO2 disana? mau? ".
" Mau pak.. Kapan berangkat? ".
" Bulan depan, grand opening nya.. Kamu bisa apply lamaran kamu ke email ini, lampirkan cc atas nama saya juga biar kamu diterima.. Lalu pekerjaan kamu disini gimana? Aku kasih kelonggaran buat kamu karena kuliah, tapi untuk kasus ini aku ga bisa kasih kamu dispensasi lagi ".
" Aku akan resign bila sudah ada pengganti pak, aku akan training anak baru sampai bisa, dengan tanganku sendiri ".
" Naya, ada apa sebenarnya? kamu mau cerita sama aku? ".
Naya ragu, tapi ga ada lagi tempat nya bernaung, ia tak ingin mengecewakan penolong nya. S02 terlalu baik dan berjasa bagi Naya.
" Aku ada masalah........................ ". Pertahanan Naya jebol sudah, ia menangis membayangkan bila ini akan terjadi.
" Innalillahi... Kamu ga bisa cerita ke Abah? bahaya ini nama nya Naya, aku sudah merasa jika kamu memang bukan anak dari kalangan biasa karena kamu terlalu bersinar ".
" Please pak, jangan ceritakan tentang keberadaan aku yaa.. Siapapun yang meminta nya, Aku akan cari jalan untuk memberi kabar pada mereka.. Yang penting mereka aman ".
" Baik... Aku tau.. Sukses yaa Naya, dimanapun kamu berada, aku yakin.. Sampai jumpa lagi dilain kesempatan ".
" Terimakasih banyak pak... ". Naya keluar ruangan S02 dengan wajah penuh kelegaan.
*
" Honey, kamu lembur? aku sudah di bawah ".
Mahen mengubungi naya sesaat ketika gadis itu baru saja keluar ruangan SO2.
" Tunggu, aku turun ". Naya melihat ke kanan dan kiri, pandangan nya tertuju pada sebuah mobil yang terparkir di bawah lampu taman diujung selatan.
Drrrttttt, Drrrrtt. Ponselnya menyala kembali. Nomer misterius itu lagi. Naya memilih mengabaikan nya kali ini. Ia mematikan ponsel nya ketika sudah melihat Mahen tengah menunggu nya disana.
" Engga, kita kemana? ".
" Soto yuk di PLN.. Bram, jalan ".
" Ok.. Hallo Om Bram.. ".
" Hallo Nona, salam kenal, aku Bram ".
" Ga usah genit, Yang.. Bram udah nikah.. Kamu juga Bram, inget bini dirumah ".
" Baik, bos ". Bram menjawab santai.
" Yeeeee, ga sopan.. Udah di temenin, di anterin tapi gitu... Ya kali Om Bram mau selingkuh ama bocah, yang ada juga dia ogah takut dibilang pedofil ".
" Lalu aku apa? maksud mu, Nona Ainnaya, tolong diperjelas ". Mahen sewot.
" Ahahahaha... Becanda ". Abang, moment kayak gini bakalan ada lagi ga yaa? apa Abang akan ingat selalu padaku? Naya memalingkan wajah nya melihat jalanan sembari menyeka airmata nya yang jatuh tanpa sepengetahuan Mahen.
" Om Bram, betah yaa ikut Abang.. Sensi nya melebihi yang mau PMS ".
" Aku stay dikantor, Nona.. Kebetulan Rey sakit jadi aku menggantikan nya ".
" Terus aja terussss... ". Mahen menggenggam jemari naya erat, ia rindu, entahlah rasanya ia harus banyak menghabiskan waktu berdua saat disini.
" Sampai, turun yuk... ". Naya turun lebih dulu untuk memesan makanan.
" Sayang, pesanan kan untukku.... Ya Rey, kenapa? ".
" Apa? Mobil Abah Naya terbalik, driver nya kritis?... Kecelakaan dimana? cari tau Rey ". Baru saja Mahen menutup panggilan nya dengan Rey.
Ting, pesan masuk ke ponsel mahen.
" Mas, dimana? kalau sedang ada disini tolong jangan sampai Naya tau, mobil Abah kecelakaan, driver nya baru saja meninggal dunia, Abah ga apa-apa, hanya luka memar.. Aku akan ke Subang mengurus ini... Karena menurut Abah tadi, mobil nya ditabrak dari belakang dan terguling... Jika Mas Mahen ada disini, aku titip Naya beberapa hari yaa ". Tulis ka Amir dalam pesan panjang nya.
" Hallo ka, berangkat dengan siapa? Aku siapin mobil baru saja yaa.. Tunggulah sebentar, Alex akan kesana ".
" Aku sudah mau berangkat, Mas.. Titip Naya saja yaa, tenangkan dia.. Ka Abyan langsung ke sini, besok siang baru sampai dirumah ".
" Baik ka.. Tolong kabari aku apapun kondisi nya, aku akan bantu mencari tau ".
__ADS_1
" In sya Allah, aku berangkat yaa Mas ".
" Fii amanillah ka ". Mahen menutup panggilan dengan ka Amir, ia gelisah. Semoga Naya ga curiga.
" Abang, lama banget, kenapa sih? kerja mulu, makan dulu ini buru mumpung hangat ".
" Iya sayang ". Naya, maafin aku yaa ga bisa bilang karena pesan ka Amir.
" Langsung pulang yuk, kerjaan aku banyak ". Naya meminta pada Mahen.
" Iya ". Akhirnya ia mengantar Naya kembali ke kost-an setelah makan malam tadi.
Merasa sangat lelah, Naya langsung masuk ke kamar mandi, isya dan meluruskan pinggang nya di atas tempat tidur.
Ia lalu membuka ponsel nya. Banyak sekali panggilan dari nomer misterius tadi. Sedetik kemudian ponsel nya kembali berdering.
" Kamu belum tau kabar Ayah mu? semoga ia baik-baik saja ".
" Heeehhh, apa maksud kamu ".
Tuuuttt tuuuttt.
Naya panik, ia menelpon ka Amir, tak diangkat juga menelpon Abah nihil, ponsel Abah ga aktif. Satu-satunya orang yang bisa ia mintai tolong adalah Mahen. Naya bergegas mengambil sweater nya, memakai sneaker yang baru saja ia lepas tadi lalu mengajak Mega untuk mengantar nya ke hotel tempat Mahen menginap.
Naya panik, Ia lupa membawa ponsel nya. S*all rutuknya keras. Ia tak tau harus bagaimana, Mega menunggu nya di depan hotel, terlalu jauh bila harus kembali ke Mega sekedar meminjam ponsel. Naya memutuskan akan menanyakan ke receptionist.
" Abaaaaaaang....... ". Naya melihat Mahen sedang di meja receptionist.
" Sayang ko disini? udah malem lho, aku tadi keluar lagi habis anter kamu ada urusan sebentar... Kenapa? ".
" Abah, Abah kenapa? ". Nafasnya memburu, tersenggal.
" Duduk dulu yuk... Miss, boleh minta air? ". Mahen meminta welcome drink air mineral pada receptionist.
" Abang pasti tahu kan... Abang cerita... Cerita ke aku ". Naya histeris.
" Sayang... Kamu kalau begini, aku ga bisa cerita dengan benar... Minum dulu, tenang dulu.. Bram, reservasi satu kamar lagi ".
" Can, masuk ". Mahen memanggil Mega untuk masuk ke hotel melalui panggilan.
" Kita ke kamar atau disini? ka Amir minta aku jagain kamu sementara ka Abyan belum tiba ".
" Abang ceritaaaaaaa... Cepetan ". Naya sudah banjir airmata.
" Abah ga kenapa-kenapa, selamat, hanya luka memar.. Mobilnya ada yang menabrak dari arah belakang, dan terguling beberapa kali.. Driver yang nabrak nya kritis... Driver abah kamu, meninggal dunia sesaat setelah tiba di rumah sakit "
" Ini karena aku.... Engga, aku yang salah ". Naya kembali terisak kencang.
" Sayang, kamu kenapa sih? ". Mahen mendekap naya erat.
" Kita ke atas..... Can, bawakan baju ganti Naya ". Mahen memberikan instruksi pada Candi.
" Baik bos ".
" Naya terduduk lemas diatas ranjang.. Otak nya memaksa berputar dan berpikir cepat. Ponsel, ponsel nya... Jangan sampai Mahen tau, ponselnya disadap itulah sebab nya peneror tau kegiatan dia.. Itulah mengapa peneror juga tau Abah nya sedang melakukan perjalanan...Anah menelpon nya kemarin bahwa akan pergi ke Purwakarta menemui klien baru ".
Mahen sibuk menelpon Rey dan Alex bergantian. Alex mendapat signal aneh yang berasal dari ponsel naya, juga menemukan bahwa mobil yang di pasang sensor oleh Mahen, ternyata dirusak oleh seseorang.
" Bos, sabotase ". Sahut Alex diseberang sana.
" Clearkan Lex ".
" Baik bos ".
" Bram, laptop ku ". Mahen sibuk sementara naya meringkukkan badannya di bawah selimut, ia takut, peneror kali ini betul-betul bermain dengan nyawa orang-orang tersayang nya.
Mahen mengusap pelan punggung kekasihnya yang gemetar. Ia tau naya masih trauma sebab kejadian lalu, ditambah dengan hari ini.
" Sayang, aku peluk yaa ". Tidak ada perlawanan dari naya, ia hanya menangis, semakin menangis dan membalikkan tubuh nya masuk ke pelukan Mahen.
Mahen terheran akan sikap Naya, tapi ia mencoba berpikir positif, gadisnya sedang butuh tempat melepaskan ketakutan nya.
" (aku harus pergi.... aku harus pergi... Abang, sayang ku... maafkan aku, ini akan jadi malam terakhir untuk kita, dan pelukan ternyaman terakhir yang bisa aku rasakan... Wangi terkahir yang bisa aku hirup dan menyimpannya dalam ingatan ku, dekapan hangat terakhir yang bisa aku nikmati.. Belaian lembut, kata-kata teduh mu yang menenangkan.. Bau nafas mu yang tak sengaja ku hirup kala dalam dekapan mu... Semua tentang mu akan aku tinggalkan disini) ".
___________________________
ðŸ˜ðŸ˜
Hetdah, ko mama sedih sendirian...
__ADS_1