
Dalam perjalanan menuju pelataran parkir, sempat terlintas dalam benak Mahen, mungkin sebaiknya sebelum mengantar Naya ke tempat kerja, ia sepertinya harus berbicara serius dan apabila terpaksa, ia akan mengambil sebuah keputusan sulit tentang hubungan nya dengan Naya untuk saat ini.
Mahen memutari mobil nya dan membuka pintu bagian kiri kemudi untuk Naya, sesaat setelah keduanya telah memasang sabuk pengaman, dan memastikan Naya sudah dalam posisi nyaman nya, Mahen memberanikan diri untuk memulai percakapan. Jujur, setiap kali terjadi suatu peristiwa yang berhubungan dengan keselamatan gadisnya, bibir nya seakan kelu, ia merasa sudah terlalu banyak meminta maaf pada nya, bahkan di situasi sekarang pun meski ia telah beberapa kali menghembuskan nafas panjang, Mahen masih saja berat untuk membuka suara.
" Naya, entah seberapa sering aku meminta maaf pada mu tapi selalu terulang lagi dan lagi. Maka untuk kali ini, jika kamu ingin aku menjauh, akan aku lakukan sementara waktu sampai kamu merasa nyaman kembali. Mungkin dengan aku menjauh, mereka tak akan menggangu mu lagi ". Mahen tak kuasa menghadap ke wajah gadisnya ketika ia berbicara kali ini. Hati nya bagai dihimpit oleh dinding beton dari segala arah, sesak dan sakit.
" Kalau Abang menjauh, yakin semua ini akan berjalan damai sesuai yang Abang inginkan? jika aku meminta Abang untuk tetap tinggal, apa Abang akan menolak nya? sejujurnya aku ga tau apa yang sedang terjadi, mengapa aku dan ada apa dengan ku? kepala ku sering merasakan sakit akhir-akhir ini dan beberapa kepingan ingatan seperti kejadian di masa lalu perlahan muncul kembali. Beberapa hari ini aku bahkan takut untuk sekedar memejamkan mata, takut seandainya bila sepenggal ingatan ku yang hilang itu justru merupakan sumber bencana bagi sekeliling ku. Hanya Abang yang mengerti kondisi ku tanpa aku harus berkata banyak. Lalu bila Abang pergi, dengan siapa lagi aku berbagi rasa yang tak bisa aku bagi pada orang lain? ". Sesungguhnya Naya ingin menangis saat ini, sesungguhnya ia ingin menemui ummi nya disaat seperti ini. Jika Mahen meninggalkan nya, pada siapa ia akan bergantung? mungkin Naya masih separuh menyadari bahwa ia sudah setengah terbiasa akan kehadiran Mahen di sisinya.
Mahen menajamkan telinga saat Naya memulai berbicara lirih sekaligus memalingkan wajah nya untuk dapat melihat gadis yang duduk di sebelah nya kini. Mahen masih setengah percaya, bahwa Naya-nya yang pendiam sedari tadi, baru saja mengucapkan kalimat panjang penuh pengharapan akan kehadiran nya. Hati nya langsung menghangat kembali, himpitan beton yang menyesakkan hati nya seakan hancur begitu saja. Ternyata Naya masih membutuhkan nya.
" Ainnaya... ". Mahen mencoba meraih telapak tangan kanan gadis itu yang terbuka dan berada disamping tuas rem, ia menduga Naya akan menepis nya, namun diluar dugaan, jemari Naya justru memegang erat tangan nya. Mahen lalu menautkan jemari mereka, berharap dengan berpegangan tangan seperti ini akan saling memberikan kekuatan kembali bagi keduanya.
" Kita ke ummi sebentar yaa, masih sempat kan? ". Tanya Mahen kemudian beberapa saat setelah mereka berdua sama-sama menghembuskan nafas panjang tanda kelegaan.
" Kan, Abang tau apa yang aku mau meski aku ga bilang ". Naya sumringah melihat ke arah pria disamping nya.
" Karena aku adalah kamu ". Mahen ikut tersenyum melihat gadisnya kembali ceria.
Karena kondisi jalanan yang lengang menuju pemakaman Ummi, mereka tak membutuhkan waktu lama sehingga tiba lebih cepat di area pemakaman. Mungkin karena hari ini adalah weekend, suasana di TPU Kamboja siang ini terlihat agak ramai dikunjungi oleh para peziarah. Setelah berada di makam ummi nya, Naya kemudian berjongkok, mengelus nisan nya dengan perasaan rindu bagai membelai seseorang yang telah lama tak ia jumpai. Di sisi lain makam, Mahen tengah bersiap untuk memimpin doa, meski beberapa menit telah berlalu namun keduanya masih larut dalam suasana khidmat.
" Ummi, Abang baru saja mengutarakan niatnya untuk menjauh dariku, padahal Abang sudah janji kan sama ummi mau jagain aku. Marahin aja mii ". Setelah usai membaca doa, seperti biasanya Naya memulai percakapan layaknya ia tengah mengobrol dengan sang ibunda. Nada bicara pada kalimat yang diucapkan Naya tadi terdengar sangat manja sekaligus manis yang tertangkap oleh telinga Mahen.
" Ga jadi Mii, aku akan tetap menjaga nya semampu ku ". Mahen menimpali perkataan Naya tadi dengan wajah serius hingga membuat Naya tertawa melihat sikap Mahen yang seakan-akan sedang berbicara langsung pada Ummi nya.
" Abang takut amat, Ummi aku ga galak tau ". Sahut Naya girang merasa telah berhasil mengerjai Mahen yang kadang masih terlihat kaku meski sedang dalam suasana santai saat bersama nya.
" Kan kamu lagi ngaduin aku ke ummi, Yang ". Jawab Mahen beralasan yang justru membuat Naya tersenyum manis.
" Mii, aku pamit kerja dulu yaa, Abang juga mau pamit balik ke Jakarta lagi. Jagain abang disana yaa mii, laporin ke aku kalau Abang nakal ". Naya masih saja usil.
__ADS_1
" Mii, Ummi paling tau aku ga pernah macam-macam disana kan? anak Ummi aja nih suka curiga an ". Sesaat keduanya saling pandang lalu tertawa bersama. Lega, setidaknya keduanya kini telah mengetahui keinginan hati nya masing-masing. Berharap semakin hari rasa yang mereka miliki tumbuh semakin kuat hingga mampu menghalau segala kesulitan yang datang kelak dimasa depan.
Jam ditangan kiri Mahen menunjukkan pukul 12.10 siang, waktu nya untuk kembali ke pusat kota dan mengantar Naya menuju ke tempat kerja nya. Lima belas menit kemudian mobil yang mereka kendarai telah masuk pelataran parkir Mall. Mahen sengaja memarkirkan mobilnya dibagian belakang dekat dengan parkiran karyawan agar ia dapat mengantar Naya hingga ke depan pintu karyawan dan melihat nya masuk kedalam gedung pusat perbelanjaan terbesar dikota ini. Saat Naya akan menaiki tangga koridor, Naya berpesan pada Mahen agar berhati-hati ketika akan kembali ke Jakarta nanti, namun sepertinya Mahen tak berniat untuk meninggalkan kota ini hingga Anggara ikut kembali bersama nya.
***
Sementara itu, didalam Mall.
Anggara berjalan menyusuri beberapa lantai Mall ini karena ia sengaja sedang menunggu Naya turun ke floor, ia berniat akan memperkenalkan dirinya secara langsung kali ini ke hadapan gadis itu dengan harapan, Naya akan mengenali bahwa diri nya lah sosok asli dari album foto yang dulu pernah ia kirimkan untuk gadis itu.
Anggara rupanya tak menyadari atau mungkin ia tidak mendapatkan informasi dari orang-orang suruhan nya bahwa Naya, masih sering kesulitan untuk dapat mengingat wajah seseorang bila hanya bertemu atau melihat sekilas pandang. Masih ingatkah sewaktu Mahen berusaha mendekati Naya dulu, meski telah beberapa kali bertemu muka dengan Naya pun, kehadiran nya tak digubris oleh gadis itu.
Harapan agaknya tinggal harapan bagi Anggara, orang suruhan nya tak berhasil membujuk agar gadis itu bisa turun ke floor meski sebentar, nampaknya Naya memang tak bisa betul-betul turun ke floor hari ini. Karena saat ini Naya tengah sangat sibuk untuk merevisi design yang Store Manager nya ajukan ke kantor pusat untuk event tambahan di Mall saat cap go meh nanti.
" Sayang, aku kirimkan snack yaa sekalian buat temen-temen kamu juga di ruangan, biar kamu ga usah ke kantin atau pergi keluar hanya untuk mencari makanan. Agar lekas selesai kerjaan nya dan kamu ga perlu lembur, semangat ngedesign nya yaa, aku tau kamu pasti bisa ". Naya membuka pesan masuk pada inbox ponsel nya, seiring dengan itu dua orang bell boy meminta izin untuk masuk ke dalam ruangan staff VM dengan membawa beberapa papper bag yang berisi makanan dan minuman. Kekasih nya memang yang terbaik, selalu tau kebutuhan nya tanpa perlu mengucapkan banyak kata.
" Ayang? honey, aku telpon yaa, pengen denger kamu bilang kata yang tadi itu langsung ". Mahen tampak antusias sekali, padahal hanya sebuah kata - Ayang - yang ia baca.
" No, aku salah nulis... harusnya Abang ". Naya menimpali pesan Mahen sambil tertawa lepas di belakang meja nya.
" Heemmmm, kebiasaan.. Makasih sayang. Aku jemput nanti malam ". Tutup Mahen. Ia sebenarnya tak ingin mengakhiri percakapan singkat nya dengan Naya. Ia melakukan ini karena sekilas seperti melihat Anggara sedang mengelilingi lantai demi lantai. Entah apa yang dia cari, namun kuat dugaan bahwa seperti nya Anggara menunggu Naya turun ke floor dan berniat menyapa nya.
Mahen memasukkan kembali ponsel nya kedalam saku kemeja nya. Lalu perlahan ia mengikuti langkah Anggara dari arah berlawanan hingga mereka bertemu di satu titik dan keduanya saling melempar pandangan.
Anggara kemudian menghampiri Mahen lebih dulu, menyapa nya sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
" Hai bro, sedang apa di sini? ". Tanya Anggara mulai membuka percakapan.
" Kita duduk di stand rock coffee disana, jika kamu tak keberatan ". Ajak Mahen pada Anggara.
__ADS_1
" Wah kebetulan, aku juga ingin berbincang dengan mu, Bro ". Keduanya lantas menuju stand sebuah minuman dibagian timur Hall mall ini. Mereka lalu memilih tempat duduk di sudut ruangan cafe agar lebih privasi karena situasi cafe yang lumayan ramai di saat weekend seperti ini agaknya sedikit menggangu pembicaraan yang akan mereka bahas nanti.
" To the point, aku salut pada gadis itu. Dia berani mengelabui ku tadi pagi ". Anggara memulai tanpa basa basi.
" Mengapa kamu bisa setega itu pada wanita Angga? Kau juga memiliki adik perempuan, tak pernahkah kau bayangkan bilamana adikmu berada di posisi yang sama? . Lagipula kenapa harus wanita ku, bukankah Tuan Muda Sumitra tak pernah kekurangan seorang wanita disisinya? ".
" Ckckck hanya seorang bawahan, apa rugi nya bagi mu Mahen. Jujur saja padaku, apa motif mu mendekati nya? tentu nya sama dengan ku bukan? ". Tuduh Anggara pada Mahen.
" Cih, rendah sekali. Aku tak memandang siapa atasan dan bawahan, semua manusia itu sama Angga, terlebih dia wanita ". Mahen memang memperlakukan semua team nya setara bagai sahabat nya. Baginya tak ada status sosial, semua sama. Meski Mahen masih tak mengerti apa yang Anggara maksudkan maka ia memutuskan akan terus membuat nya bicara.
" Mahendra, yang tak pernah sekalipun memperlakukan seorang wanita dengan istimewa, kini memberikan perlindungan ekstra berlapis pada seorang gadis, hingga sulit untuk dijangkau? Apa tujuan nya bila bukan tentang kekuasaan bukan? gadis itu ternyata adalah kunci untuk membuka gerbang dunia lainnya. Jika itu tujuan mu, maka tujuan ku lebih dari itu. Atau begini saja karena kita sama-sama tertarik dan punya tujuan yang hampir sama, mungkin kita bisa berbagi, nampaknya gadis itu masih segel. Bagaimana? ". Anggara tanpa sadar telah membuka sebagian dari misteri yang ingin diketahui oleh Mahen.
" Kurang ajar, berani sekali ". Mahen berdiri dari kursi nya, ia sangat geram, tangan nya mencengkeram erat sembari menarik kemeja Anggara dengan paksa hingga sang lawan nya itu terangkat dari kursinya. Tubuh kekar Anggara lalu Mahen hempaskan membentur dinding hingga menimbulkan suara gaduh. Anggara meringis menahan serangan Mahen yang tiba-tiba. Beberapa karyawan cafe kemudian berdatangan untuk melerai mereka berdua. Mahen nampak nya belum puas mengajar Anggara langsung, ia tersulut emosi. Berani sekali Anggara melecehkan gadis nya. Supervisor cafe lalu meminta agar mereka berdua kembali tenang bila tak ingin security mengusir mereka berdua dari tempat itu.
" Hahahaha.. Mahendra, Jangan munafik kamu. Aku dan kamu sama dan satu tujuan ". Seperti nya Anggara memang sengaja memancing emosi Mahen di tempat umum. Bukannya membalas pukulan Mahen tadi, Anggara justru malah tertawa lepas setelah tatapan sekitar normal kembali.
" Kau gila. Tapi aku akui, aku memang punya maksud dan tujuan mendekati nya. Apa mau mu? ". Mahen sadar, ia belum punya informasi terbaru tentang kekasihnya dan sepertinya Anggara sudah mengetahuinya lebih dulu.
" Sudah ku duga. Begini saja, buatlah akses masuk untukku agar aku bisa mendekati nya dengan cara yang halus. Setelah ia percaya padaku dan terlena, maka aku yang berhak memiliki nya pertama kali. Setelah itu giliran mu dan kita buat dia..... hoek..... ". Anggara muntah, mungkin efek mabuk akibat wine yang dia minum lumayan banyak tadi pagi saat di private room hotel.
[ S*al, sedikit lagi ]. Batin Mahen.
[ Kau ingin informasi dariku? B*doh sekali kamu Mahen, aku tak mungkin semudah itu memberitahu mu info rahasia yang sangat berharga, hahaha ]. Anggara merasa puas telah mengerjai rivalnya itu.
Anggara berpura-pura mabuk dan muntah di dalam cafe sehingga menimbulkan kegaduhan kembali didalam ruangan itu. Tak lama, dua orang bodyguard nya kemudian datang membawa nya pergi setelah membayar bill bos nya itu.
Mahen yang sempat merekam penggalan percakapan nya tadi dengan Anggara, kemudian mengirimkan rekaman suara itu ke ponsel Naya. Ia berencana akan mendiskusikan hal ini bersama dengan gadisnya itu malam ini sambil berharap Naya tak salah paham.
[ Anggara.... Lawan sepadan bagiku kali ini. Mahen cerdas lah memilih strategi untuk melindungi Naya kali ini ]. Baru saja Mahen lega, sudah muncul lagi masalah baru. Batin nya gundah kembali.
__ADS_1