
Limasan Gandarani.
Rabu, sejak jam 4 dini hari terlihat banyak orang hilir mudik disana, menata ini dan itu. Ketika Mahen bertanya Pak Jim hanya menjawab, akan ada acara syukuran nanti malam ba'da maghrib.
Pagi ini selepas breakfast, Pak Jim juga nampak sibuk. Banyak tamu yang ia undang masuk ke dalam ruang kerja nya, semuanya berpakaian adat Jawa. Karena merasa tidak punya kepentingan, Mahen memilih berdiam diri didalam kamar nya sambil memutar video kenangan nya dengan Naya. Jangan tanyakan kemana Rey dan Simon, keduanya tak terlihat sejak semalam.
" Sayang.... Kapan kita ketemu yaa? semua orang seakan menyembunyikan sesuatu dari ku... Luka ku belum kering benar padahal sudah hampir satu pekan ". Mahen berbicara sambil memandangi foto gadisnya.
Lama kelamaan, Mahen merasa bosan dan akhirnya ia tertidur.
***
Sentul.
Mama sibuk dikediaman nya, menghamparkan karpet besar di ruang tamu dibantu Nanda. Kedua anaknya ia minta cuti hari ini agar dapat membantu nya mewujudkan rangkaian acara nanti malam.
Wajahnya berseri pagi ini, padahal sejak semalam tak henti nya menangis kala Jimsey mengabarkan tentang berita yang akan menjadi kejutan bagi anak sulung nya itu.
" Kakak, Esa, ambil kueh di Bu Gito sekalian tolong telponkan tukang bunga nya ".
" Dek, Nanda... Nanti jemput Ustadzah sekalian ibu-ibu pengajian jam 16.00 ... Jangan lupa, itu souvenir pengajian nya ". Mama sibuk sekali mengatur ini dan itu. Ia ingin semuanya sempurna.
" Iya mom... ". Sahut keduanya berbarengan.
Mereka berdua antusias melakukan permintaan ibunya kali ini, mereka bahagia, pun Bapak yang sedari tadi ada di kamar Mahen. Sesekali nampak terlihat menyeka airmata yang jatuh ke pipi tua nya. Saking terlewat bahagia.
***
Joglo Ageng. Kemarin.
Danarhadi memanggil Jimsey dan Wisesa ke dalam kamarnya kemarin malam. Beliau ingin berdiskusi sebelum restu nya turun kepada salah satu pria yang telah melamar cicit nya itu.
" Mas, utarakan pendapat mu ". Tunjuk nya pada Galuh dengan tatapan matanya.
" Mahen aku siapkan untuk membantu Mathew bilamana aku kembali ke USA menemani Rani, kek... Hanya Mahen yang mampu menjaga Naya dan Exona, ia adalah asset ku ".
" Selain itu, Mahen punya bisnis komoditi hasil pertanian yang saat ini omset per bulan nya melebihi salary dia di Exona, anak yang sangat mandiri... Kalaupun ia menolak membesarkan perusahan keluarga kita... Naya tidak akan pernah kekurangan, bila kakek mencemaskan masa depan mereka ".
" Mahendra Guna, pergelangan kaki nya diamputasi karena menyelamatkan nyawaku dulu... Pun ibunda nya adalah pemilik gelar kehormatan dari Kerajaan Minang, diberikan oleh keluarga Puti Reno Amelia Sutandir... Meski Mahen bukan keturunan ningrat atau punya darah bangsawan, tapi kakek nya adalah orang yang berjasa dalam budaya keagaman di kampung leluhurnya, sebab musabab gelar itu turun... Mahen punya nasab yang juga sangat baik kek ".
" Kaki Mahen cacat? ". Tanya Wisesa.
" Lho kamu baru tahu? ".
" Aku kan belum pernah jumpa sama dia, Amir juga tak pernah cerita tentang fisik nya ".
" Ckck sekali lemot tetap lemot ". Galuh mencibir.
" Kamu keberatan dengan itu, Mas? ". Tanya Danarhadi pada Wisesa.
" Asal bukan cacat iman, aku tidak masalah kek ".
" Apalagi, lanjutkan Mas Galuh ".
" Mahen punya orang-orang loyall yang memang sangat dibutuhkan dalam bisnis ini.. Perusahaan keluarga kita bukan perusahaan kecil kek... Butuh orang yang paham seluk belum di dalam nya, Mathew pasti bisa namun pengalaman Mahen, kepekaan analisa nya itu sangat detail... Sama seperti ku ".
" Pendapat kalian tentang Raden Hasbi? ".
" Aku ga yakin.... ". Sahut Galuh singkat.
" Mas Hasbi itu ruang lingkup kerja nya berbeda dengan perusahaan kita kek... Secara Agama, Mas Hasbi lebih unggul tapi asset keluarga Kusuma juga butuh orang yang mumpuni mengelola... Memang kita bisa menyewa jasa para profesional, tapi yaa tetap saja harus ada kontrol dari kita sebagai pemegang tampuk kekuasaan ". Wisesa mengutarakan pendapat nya.
" Kusno juga sependapat dengan kamu Mas Galuh.. ".
" Kemarin Kyai Maksum kirim pesan padaku namun kata-katanya menggantung... Kakek tetap melanjutkan lamaran Mas Hasbi? ". Tanya wisesa.
" Aku hanya bilang saat beliau menjengukku... Keputusan ku, tergantung Naya... Aku ingin cicit ku bahagia.. Ketika aku minta Kyai Maksum menunggu Naya sehat, beliau menjawab : Semua sudah jelas, Naya tidak mencintai Hasbi dan kemarin telah menolak lamaran secara resmi... Jadi beliau hanya pamit mengucapkan terimakasih dan minta didoakan agar Mas Hasbi bisa legowo menerima ini ".
__ADS_1
" Alhamdulillah..... ". Ucap mereka berdua bersama-sama.
Galuh dan Wisesa berpelukan tanpa mereka sadari. Terlebih Galuh, ia terharu, meneteskan airmata bahagia nya didepan sang kakek.
" Segera langsungkan akad nikah Mas, tapi aku ga bisa hadir... Aku restui dari sini... Dan simpan kabar ini dari kedua nya... Aku ingin memberikan kejutan bagi mereka... ". Perintah nya pada Wisesa.
" Baik kek... "
" Mas, nanti kamu bawa Mahen kesini yaa... Aku penasaran... Kalian membela nya sedemikian rupa ". Perintah nya pada Galuh.
" Aku sudah meminta Kyai Jazuli yang menikah kan... Surat-surat resmi untuk ke catatan sipil juga sudah siap dan lengkap... ". Galuh memastikan.
" Akad saja dulu, nanti syukuran nya gimana maunya Naya saja... ". Danarhadi masih terlihat lemah.
" Lakukan persiapan dengan baik, yang terbaik.. Mas Sesa, pulang lah dulu... Kamu perlu menanyakan kesanggupan pada calon mantu mu kan? Aku sama Naya disini, ada Kusno juga ".
" Besok siang aku pulang kerumah Galuh kek.. Setelah kakek dan Naya minum obat.. Naya di paes ageng tidak? ". Tanya Wisesa.
" Terserah anak itu saja.. Kan aku mau kasih kejutan, yang penting manten pria nya... ".
" Pake donk kek, biar dramatis... Pasti anak mu mewek nanti Sa... Dikira dipaksa sama Hasbi... Hahaha.. Aku gemes, betul-betul potokopian nya Meela ". Galuh tertawa membayangkan itu.
***
Rabu ba'da dzuhur. Limasan Gandarani, beberapa jam sebelum akad nikah.
" Mahen mana Rey? ". Tanya Pak Jim kala ia baru saja tiba.
" Dikamar sepertinya Pak, aku panggilkan ".
" Tidak perlu, aku kesana.... ". Ia menuju kamar Mahen bersama Wisesa.
Tok tok.
" Hen? boleh aku masuk? ".
" Sebentar Pak ". Mahen masih memakai baju koko dan sarung lepas sholat dzuhur, ia lalu melipat sajadah nya kemudian melangkah perlahan membuka pintu kamar.
" Sesa... Silakan ". Ucapnya kala mereka sudah duduk di sofa dalam kamar itu.
" Mahendra, aku Abah Naya... Amir bilang kamu telah mengutarakan niatan untuk melamar anak bungsu ku... Benar? ".
" Benar Abah, sudah lama tapi ketika orang tua ku akan kemari untuk melamar secara resmi, Bapak harus operasi lebih dulu jadi niatan itu tertunda ".
" Iya, Amir bilang padaku, bagaimana kabar Bapak sekarang? ".
" Sudah lebih baik dari sebelumnya, alhamdulillah.. Terimakasih Abah ".
" Bagaimana luka mu, Nak? sudah bisa di bawa beraktivitas agak lama? ". Tanya Abah melihat ke perut kiri Mahen.
" Masih sedikit sakit dan nyeri, dan masih harus pakai mass meski luka jahitannya sudah kering.. Hanya mencegah agar tidak terkena air saja ".
" Alhamdulillah... ".
" Apa niatan mu masih ingin dilanjutkan? ". Tanya Abah kembali.
" Tentu ".
" Baik.. Aku terima lamaran mu, prosesi lamaran menyusul saja tapi jikalau tidak pun aku tak masalah... Karena aku tidak memakai budaya pacaran dan tunangan.. Maka ba'da maghrib nanti bila kamu sanggup, kita akan langsung melakukan proses akad nikah... Bagaimana? ".
" Serius Bah? Pak Jim? ". Mahen terkejut bergantian menatap dua lelaki paruh baya di hadapan nya.
" Iya Mahen... Serius, kalau kamu masih cinta sama Naya itu juga ". Pak Jim menggoda.
"............. ". Mahen terdiam, ia menundukkan kepalanya lama, Ia terlalu malu karena beberapa bulir cairan bening itu telah lolos jatuh dari manik mata nya. Sungguh jantung nya sangat kencang berdebar saat ini karena terlalu bahagia.
" Mahen? ". Abah mengerti, anak di depan nya ini mungkin shock. Baru saja bertemu langsung di minta menikahi putri nya meski ia tahu, inilah yang diinginkan oleh keduanya.
__ADS_1
" In sya Allah, bismillah.. Aku siap... Dokumen untuk ke catatan sipil nya? Atau bisa menyusul kah? ". Ucap nya kemudian sembari menyeka sisa cairan yang masih menempel disudut mata.
" Selamat Nak... Akhirnya perjuangan mu Allah jawab ". Pak Jim haru melihat Mahen, ia bangkit dan memeluk anak itu lama.
" Aku izin memberikan kabar pada Mama sekaligus meminta restu, boleh? ".
" Keluarga mu sudah tahu sejak kemarin Mahen... Mereka sudah melakukan persiapan sejak pagi, pengajian dan sebagainya... Hubungi saja Mama mu ".
" Dokumen kelengkapan untuk ke catatan sipil juga sudah lengkap... Sekarang sisa calon pengantin dan Mahar nya saja, siap atau tidak ". Lanjut pak Jim menjelaskan.
" Iya siap ". Kali ini Mahen tegas menjawab.
" Ada syarat yang harus kamu penuhi sebelum akad nanti ".
" Apa Bah? ".
" Membaca Al-Quran setidaknya 1 juz ".
" Baik... Aku lakukan sekarang... Mahar nya Uang tunai saja karena aku belum menyiapkan cincin untuk Naya ". Mahen hendak bangkit mengambil Al-Quran saku yang Naya berikan padanya namun dicegah Abah.
" Kamu sudah melakukan nya dengan Amir, kemarin sore.. Terimakasih ".
Mahen bingung " Bukannya kemarin aku hanya membantu ka Amir dan menemani nya muroja'ah? ".
" Itu misi nya Amir... ". Pak Jim menimpali sambil tersenyum.
" Siapkan mental mu Nak.. Kami akan mengurus sisa nya... ". Kedua orang tua dihadapan nya bangkit dan keluar kamar tamu yang Mahen tempati.
Selepas kepergian mereka, Amir dan Rey menyelinap masuk.
" Ciyeeee, yang mau nikah.... ". Seloroh Amir.
" Ka, ko ga bilang sih... Kan aku gak ada persiapan.. ".
" Ga perlu, kan cuma akad... Udah selesai disiapkan tuh diluar... Lagian Naya ga tau kalau yang akan menikahinya itu, Mas Mahen... Ini kejutan buat kalian... Hadiah dari Buyut kami ".
" Bikin jantungan.. Aku shock, kaget... Duh, Rey setelan ku tolong carikan ".
" Sudah disiapkan Bos, aku dan Simon kemarin menyiapkan segala keperluan untuk hari ini termasuk Mahar ". Rey menggantung beskap yang akan dipakai Mahen.
" Jadi cuma aku yang ga tahu? ".
" He em, Naya juga belum tahu... Kan kejutan... ". Kekeh Amir.
" Bos, Mahar nya... 3.110.109.. 31 Desember, 10 Januari, 10 maret dan 9 Mei... Tanggal keramat kalian... hehehe ". Rey memberikan bingkai yang didalamnya telah tersusun rapi sejumlah uang yang digunakan untuk mahar.
" Rey........ Thanks ". Mahen tak tahu harus berkata apa lagi. Ia memilih mengambil wudhu kembali lalu melakukan sholat sunnah hajat sebagai ucapan syukur nya.
Mahen terisak, sungguh isakan yang membuat siapa pun yang mendengar nya trenyuh. Kisah mereka penuh liku untuk sampai di titik ini. Lama ia memanjatkan doa sebagai ungkapan syukur terimakasih nya pada sang Khalik.
Amir yang melihat calon adik ipar nya itu menjadi pendiam setelah sholat tadi menghampiri nya.
" Sudah hafal kan? jangan lupa nanti kalau ketemu Naya besok, ucapkan doa kebaikan bagi nya yaa Mas.. ".
" In sya Allah Ka... Ini bukan mimpi kan ka?... Mama dihubungi daritadi ga angkat telpon ku ".
" Bukan Raden Mahendra, bukan mimpi... Mama sengaja... Biarkan saja dulu, sedang menikmati euforia kejutan ". Amir mengerti, ia pun sangat bahagia, apalagi Mahen.
Amir memeluk pria di hadapan nya, Mahen sudah bagaikan saudara kandung bagi nya. Ia yakin adik ipar nya ini bisa membawa Naya menjadi istri dan ibu yang baik kelak.
Suasana sore dikediaman Galuh sedikit lengang. Krisna, Simon dan Rey sudah menyiapkan parameter keamanan saat prosesi ijab kabul dilangsungkan nanti, begitupun di Joglo Ageng, Kusno telah standby dengan anak buahnya.
Mahen memandang setelan beskap Jawa didepan nya.
" Sayang, beberapa jam lagi kamu akan halal bagi ku, Ainnaya ".
__________________________
__ADS_1
Maapin lama aplot nya, habis beli sandal baru buat kondangan besok 😅
Vote yaa, komen kalau jempolnya kuat.. 😂