Dia.. Pilihan Untuk Ku

Dia.. Pilihan Untuk Ku
PILIHAN SULIT


__ADS_3

Senja, ruangan Presdir Exona.


" Hallo Rey, tolong keruangan ku segera ". Sebuah pesan pendek Pak Jim kirimkan pada Rey yang sedang ada di basement agar segera ke ruangan nya. Setelah Mahen menemui nya siang tadi di ruangan ini, Pak Jim hampir tak bangkit dari tempat duduknya dan bahkan tidak keluar dari ruangan nya hingga ia pun tidak menyadari bahwa kini hari sudah hampir gelap. Untunglah dia ingat bahwa tadi pagi ia telah meminta Rey agar menunggu nya. Hari ini Pak Jim seperti mendapat firasat bahwa mungkin saja ia tak akan kembali kerumah malam ini.


" Baik Tuan ". Rey sudah menduga bahwa Tuan besar akan menanyakan perihal puluhan email yang dia kirimkan. Rey nampak nya harus menjelaskan segala yang ia ketahui selama berada di samping Mahen beberapa waktu ini. Pak Jim akhir-akhir ini memang jarang menghubungi nya karena ia tengah fokus pada kesehatan dan kesembuhan Matthew, anak sulung nya dengan Raden Ayu Mahariningtyas yang saat ini tinggal di California.


Beberapa waktu lalu Matthew mengalami kecelakaan parah yang mematahkan tulang kaki dan tulang selangka nya. Untuk itulah Pak Jim sementara ini pergi pulang indo - usa dan mengalihkan sebagian pekerjaan nya di Indonesia pada jajaran direksi dibawah nya termasuk Mahen. Tak terkecuali email dari Rey yang sudah menumpuk entah sejak kapan, baru beliau baca hari ini.


Tok tok, Rey mengetuk perlahan pintu ruangan Tuan Besar nya.


" Masuk Rey ". Sahut suara dari dalam.


" Mau saya buatkan kopi atau teh Tuan? ". Rey menawarkan secangkir minuman hangat hanya sekedar untuk mencairkan suasana.


" Tidak terimakasih. Mahen sudah pulang Rey? ". Tanya Pak Jim sembari tangan nya menyalakan ponsel yang sedari tadi ia matikan.


" Belum Tuan, Pak Mahen masih di ruangan nya. Anda ingin memanggilnya? biar saya yang panggilkan ". Rey kembali menawarkan diri.


" Tak perlu, dia belum waktu nya untuk tahu segala nya. Aku minta kamu jaga rahasia ini Rey, dari Mahen juga.. Jaga Ainnaya untukku, aku mohon padamu, berikan perlindungan eksta untuknya dan jika kamu bisa, jangan sampai orang-orang Mahen tau karena aku tak ingin Mahen menjauh dari Naya, jika dia mengetahui status Ainnaya yang sebenarnya. Aku akan meminta Sony untuk mengatur orang-orang kita yang baru agar ini berjalan mulus. Tugasmu hanyalah mengalihkan opini Mahen agar tak curiga pada ku saat ini.. Kamu sanggup Rey? aku tak menyuruh mu untuk mengkhianati Mahen, aku tau ikrar janji mu pada nya dan aku bangga padamu nak. Tapi untuk saat ini, keselamatan kedua nya lebih penting dari apapun. Semua ini bermula dari masa lalu ku, maka aku yang akan menyelesaikan nya hingga tuntas ". Pak Jim berkata sembari menatap anak asuh nya yang telah beranjak dewasa, ia lupa kapan tepatnya bertemu dengan Rey. Yang ia ingat hanyalah, anak ini selalu ingin menempel dekat dengan Mahen. Semua kebiasaan Mahen dia hafal diluar kepala bahkan tanpa Mahen berkata atau meminta bantuan nya pun, Rey seakan telah mengerti keinginan Mahen, mana yang disukai atau tidak. Rey seperti seorang cenayang jika berhubungan dengan segala aktivitas dan kebutuhan Tuan nya, ia yang selalu sigap dan gesit melakukan apa yang ada di kepala Mahen sebelum si Tuan nya menjelaskan.


Pandangan mata keduanya beradu, Rey menatap Tuan besar nya dengan tatapan penuh rasa terimakasih yang mendalam. Jika saja dahulu ia tak diselamatkan oleh Pak Jim, entah bagaimana nasib nya kini. Jika saja ia tak disayangi dan diperhatikan oleh Mahen kala itu, entah sudah jadi apa jiwa nya kini. Mahen segalanya bagi Rey, dan saat ini dia dihadapkan pada sebuah situasi sulit. Ia tak ingin membohongi Abang kesayangan sekaligus tuan nya itu. Dalam hati terdalam Rey ingin sekali memanggil nya demikian, tapi ia tak pernah berani meskipun Mahen pastilah bahagia dipanggil Abang olehnya.


Bagaimana ia akan menghadapi tatapan mata Mahen jika beliau menanyakan tentang kejanggalan suatu saat nanti?. Bagi Rey, ini pilihan sulit karena kedua nya adalah orang yang paling berjasa dalam hidupnya hingga kini.


" Bagaimana Rey? bisa kan? ". Pak Jim meminta ketegasan Rey kali ini. Penting baginya menjaga agar Mahen tidak tahu karena ia yang akan menyelesaikan urusan nya sendiri tanpa mau melibatkan orang tersayang nya lagi.


" Saya.. akan berusaha Tuan. Tapi Pak Mahen adalah orang yang peka, jika suatu saat saya diposisi terdesak, bolehkah saya menjelaskan semuanya Tuan? aataukah harus saya alihkan kepada Anda? ". Rey akhirnya berani mengutarakan kegundahan hati nya pada pak Jim.


" Biarkan aku yang menjelaskan nanti Rey, kamu cukup mengarahkan dia padaku ". Pak Jim mengerti anak asuh nya ini terlanjur sangat sayang pada Mahen.


" Alhamdulillah, terimakasih banyak Tuan. saya lega. Adakah hal lain yang ingin Tuan sampaikan atau harus saya lakukan? ". Tanya Rey kemudian dengan senyum sumringah tanda kelegaan hati nya.


Pak Jim yang melihat senyum di wajah Rey terbit, mau tak mau ikut merasakan bahagia yang sama. " Tidak ada, sementara hanya itu. Kamu boleh pulang, jangan lupa makan dan istirahat yang benar nak ". Sahutnya masih dengan senyum yang tercetak diwajah lelah nya.


" Baik Tuan, terimakasih karena anda masih sangat peduli pada kami semua meskipun kami bukan darah daging anda ". Rey menundukkan kepala nya karena ia terharu. Setiap kali Pak Jim memberinya perhatian seperti ini, hati nya selalu gerimis dan menghangat sekaligus. Rey tak mengira bahwa Pak Jim akan selembut ini pada semua anak asuh nya.


" Tak perlu ada darah yang sama mengalir didalam tubuh bila hanya untuk saling menyayangi dan memberi cinta dari seorang ayah terhadap anak, Rey ". Pak Jim menatap Rey sayang.


" Terimakasih tuan, aku permisi ". Sahut Rey masih menundukkan wajah, ia malu jika harus menunjukkan air mata nya di depan tuan besar nya itu.


Setelah Rey keluar dari ruangan nya. Pak Jim lalu menghubungi Sony agar melaksanakan rencana nya kemudian ia menghapus semua email dari Rey tadi. Ia tak ingin ceroboh, baginya siapapun bisa menjadi musuh jika bisa menemukan celah titik kelemahan yang akan digunakan untuk menjatuhkan nya. Ia lalu bangkit dan bersiap menuju condominium nya yang nyaman. Mungkin ia akan berendam dalam bathtub dengan air hangat dan aroma terapi citrus lemon untuk meredakan stress atas berita yang mengejutkan nya hari ini.

__ADS_1


***


Ruangan Mahen, Exona.


" Rey.. Rey.. Kemana saja kamu seharian ini? temani aku kerjakan itu, malam ini kita harus selesaikan paling tidak 30% penyempurnaan sistem yang aku buat minggu lalu ". Mahen meminta Rey membantu nya menyusun slide presentasi yang akan ia jabarkan minggu depan saat meeting nanti.


" Aku ada dibawah bos, pekerjaan aku banyak disana, maaf aku melupakan mu ". Jawab Rey cengengesan.


" Cih.. kukira kamu sudah berangkat ke kutub utara ". Mahen mendengus sebal, seharian ini ia kerepotan sebab Dewi, sekretaris nya tidak masuk karena sakit, ditambah Rey yang sulit untuk dihubungi.


" Bos, anda sudah menghubungi Nona? jangan bilang anda lupa ". Rey mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Astaghfirullah... aku lupa ". Mahen seketika mencari ponselnya, ia panik takut bila gadisnya itu akan marah.


Tuuut, tuuut, suara panggilan dari ponsel nya berbunyi menunggu seseorang diseberang sana menjawab telepon nya.


" Assalamu'alaikum.. iya Abang, aku mau maghrib dulu. Kirim pesan saja yaa kalau ada hal penting, nanti aku balas setelah maghrib ". Sahut suara lembut diseberang sana, suara yang Mahen rindukan.


" Sayang, maaf aku terlalu fokus dengan kerjaan aku sampai lupa nanyain kamu seharian ini dan ga kasih kabar ". Mahen berkata dengan nada lesu.


" He em, gapapa, aku tau Abang pasti sibuk. Aku juga kan kuliah seharian jadi ini baru bisa buka handphone malah. Aku maghrib dulu yaa, Abang juga, masih di kantor kan? ". Sambung Naya diujung telepon.


" Iya sayang makasih kamu udah ngerti aku, ini mau rehat sambil maghrib dulu. Nanti malam aku telpon lagi yaa, kangen kamu tau ga sih, padahal baru sehari ga ketemu ". Kali ini Mahen berbicara dengan nada manja pada kekasihnya.


" Sa....... wa'alaikumussalam ". Mahen memandang layar ponsel nya yang telah padam dengan raut wajah yang menunjukkan bahwa ia tengah kecewa.


" Rey.... Reeeyyyyyy.. kenapa sih Naya tuh cuek banget, gada romantis nya dikit aja gitu ". Kali ini Mahen berteriak pada Rey yang akan bangkit dan keluar ruangan untuk sholat maghrib.


" Bos, anda ga sedang demam kan? kenapa tak coba anda katakan pada Nona ". Jawab Rey enteng sengaja ingin menggoda bos nya.


" Ga usah lah, aku tau kalau dia memang begitu ko.. Sabar Mahen... sabar.... " . Ucap Mahen sambil mengelus dada nya tanda ia harus lebih sabar menghadapi Naya yang kadang bersikap sangat manis namun tak jarang cuek dan dingin terhadap nya.


" Sabar atau takut dengan Nona, itu beda tipis bos ". Sahut Rey sambil berlari keluar ruangan agar tak terkena lemparan buku yang dilayangkan oleh Mahen padanya.


" Awas kamu Reyyyyyyy ". Mahen melempar satu buah buku padanya, namun sayangnya meleset dan ia jadi bertambah kesal, sikap Naya ternyata mempengaruhi mood ku. Batin Mahen.


" Sayang, semoga kamu disana baik saja. Aku mendapatkan laporan dari Rey bahwa Anggara sedang mencoba mendekati mu. Jaga hati mu untuk ku Ainnaya ". Kali ini batin Mahen merasa gelisah memikirkan kekasihnya disana apakah akan bersikap lunak atau justru sebaliknya dalam menghadapi pesona Anggara. Karena Mahen mengakui, keberadaan pria itu salah satu saingan terberat nya meski ia telah berhasil masuk kedalam hati Naya lebih dulu namun ia tetap tak merasa yakin Naya tidak akan berpaling.


***


Kost-an Soka, malam hari.

__ADS_1


" Naya, kamu hutang penjelasan sama aku tentang si Abang, kenapa akhir-akhir ini kamu sering jalan sama dia ". Vita sudah berdiri di depan pintu kamar Naya sambil membawa sebuah toples snack dan sebuah cd film. Nampaknya esok hari Vita libur jadi malam ini ia berniat akan begadang bersama Naya. Vita tau, Naya malam ini akan mengerjakan tugas kuliah yang sudah menumpuk. Sambil menyelam minum air pikir Vita, dia bisa asik nonton tanpa khawatir ketakutan karena ditemani oleh Naya.


" Masuk Ta kalau mau tau, aku sambil kerjain tugas tapi yaa ". Sahut Naya dari dalam kamarnya tanpa menoleh pada Vita.


" Siapa dia? yang kasih makanan banyak itu yaa? yang jemput kamu juga? ". Tanya Vita sembari ia memasukkan kaset film horor tadi kedalam DVD Naya yang sudah ia nyalakan.


" Abang itu pernah nolongin aku dari Bagas, dia pernah selamatkan aku dari kejadian yang waktu aku ga pulang itu, yang ngajak aku ke private party nya Rendy. Dia juga yang bawain makan siang waktu itu dan bayarin obat kamu kemarin. Ditambah barang-barang itu, semuanya dari dia ". Naya menjelaskan garis besar sososk seorang Mahendra pada Vita, mata dan tangan nya tetap menyelesaikan tugas yang sedang ia buat hingga kegiatan nya itu harus terhenti kala suara ponsel nya berbunyi. Ah, pasti Abang yang telpon, batin nya.


" Assalamu'alaikum.. Lagi apa? ". Tanya sebuah suara di seberang sana.


" Wa'alaikumussalam.. Abang mau flu? ko serak gitu suara nya? ". Tanya Naya heran mendengar perubahan suara Mahen, entah karena efek loudspeaker atau memang Mahen yang sedang kurang fit.


" Engga sayang, aku cape kayak nya, baru balik kantor tadi jam 9 langsung bersih-bersih dan ini berasa ngantuk tapi belum bisa tidur. Kamu belum tidur, ini udah hampir jam 11 malam lho. Tar kamu sakit lagi ". Mahen mengingatkan kebiasaan Naya yang kurang baik karena suka begadang.


" Oh syukur deh, jangan sakit yaa, Abang bilang minggu ini padat banget jadi kalau sakit bisa tersendat kerjaan nya. Tugas aku bentar lagi ko, dua lagi selesai. Ini aku sambil kerjain, semoga laptop ku kuat diajak kerja malam ini ". Balas Naya tak ingin membuat nya khawatir.


" Jaga diri disana yaa, aku ga bisa selalu nemenin kamu. Aku ganggu kamu donk yaa? udah makan belum? mau dipesankan cemilan ga ? ".


" Kalau ganggu, aku ga akan jawab telepon Abang lho yaa. Ga usah, habis ini aku mau langsung tidur ko. Abang juga yaa, besok kudu bangun pagi, gih bobo ".


" Sebentar lagi. ohiya sayang, pakai sk*pe kan? aku connect-in ke sana yaa, biar bisa liat kamu ".


" Besok lagi aja gimana? , aku lagi kebut tugas malam ini, kalau liat abang nanti aku ga fokus ".


" Kamu ga kangen sama aku? ".


" Hmmmm... justru karena itu, aku nanti ga fokus, sibuk liat Abang ". Naya sebal, Mahen tak mengerti kode yang dia berikan, sepertinya Mahen sengaja ingin agar Naya selalu terbuka pada nya.


" Aku ga ngerti ". Mahen menjawab dengan suara datar. Ingin rasanya Mahen tertawa membayangkan muka kesal Naya yang menyangka ia tak mengerti bahwa Naya pun sedang kangen padanya. Hati nya bahagia sekaligus berbunga-bunga mengetahui bahwa kekasih jauh nya itu mulai berani terbuka.


" Abang, jangan suka pura-pura atau aku putus nih telepon nya ". Naya mulai kehilangan konsentrasi.


" Baik Nyonya, selamat mengerjakan tugas yaa, selamat istirahat. Love you sayang ". Mahen sengaja tak langsung menutup panggilan nya berharap Naya menjawab pernyataan cinta nya tadi.


" Hem, selamat istirahat Abang ". Naya langsung memutus sambungan telepon nya sambil terkikik geli membayangkan wajah Mahen yang kesal padanya akibat tak membalas pernyataan nya tadi. Satu sama, pikir nya.


" Ciye Ciye, habis teleponan sama yayang. Kamu jadian Naya? sama dia? ". Tanya Vita.


" Kedengeran nya gimana? eh Ta, cuma kamu yang tau lho yaa. Jangan bilang sama ka Amir atau siapapun, janji? kalau ga mau, jangan numpang nonton dikamar ku lagi ". Ancam Naya kemudian pada Vita.


" Syaratnya berat amat. Aku ga akan ganggu privasi kamu sayang ku ". Balas Vita kali ini sedikit lembut, ia tak menyangka, Naya akhirnya berani menjalani sebuah hubungan rahasia dengan seorang pria yang bahkan Vita sendiri pun tidak tahu sosok persis nya seperti apa.

__ADS_1


" Me too, Abang.. ". Naya mengirim sebuah pesan kepada Mahen.


Mahen yang sedang berbaring di atas ranjangnya masih dengan suasana hati yang kesal karena Naya tak membalas nya tadi, tiba-tiba dikejutkan dengan suara notif pesan masuk. Ia mengatur nada dering khusus untuk setiap notif pesan masuk dan panggilan telepon dari kekasihnya itu. Mahen lalu membuka kotak pesan diponsel nya lalu membaca nya pelan dan berulang kali. Wajahnya yang awalnya kesal perlahan berubah melembut dan merona, ia senyam senyum sendiri atas tingkah nya yang tak ia mengerti. Mengapa baru mendapat perlakuan begini saja dari Naya, ia sudah merasa sangat bahagia.


__ADS_2