
Tengah Malam, Limasan Gandarani.
Masih terlihat hilir mudik para Abdi dalem kediaman Galuh yang sedang membereskan peralatan setelah acara selesai.
Keluarga Kusuma dan Rey masih bercengkrama di ruang keluarga sembari menyeruput kopi panas yang Mban suguhkan.
" Rey, Mahen sudah tidur? ". Galuh bertanya sembari mengangkat cangkir kopi nya.
" Belum Pak, terakhir tadi sedang menelpon Mama Rosi dan mungkin Nona ".
" Biarkan dulu Galuh, kasihan menantuku, belum pulih benar luka nya ". Wisesa menanggapi.
" Mir, kamu istirahat gih... Besok temani Abah sowan ke Kyai Jazuli ". Pinta ayahnya pada Amir.
" Belum ngantuk... Bentar lagi ". Amir sebenarnya masih ingin mengobrol dengan Mahen sebelum tidur. Ada yang ingin ditanyakan pada nya.
" Amir boleh main ke Pondokan Ka Abyan ga Bah sebelum balik? ". (clue nih gaes).
" Sendirian berani kan? Kerjaan numpuk dirumah, Mang sapri kewalahan kasihan ".
Malam yang melelahkan sekaligus malam yang melegakan, bagi semua penghuni Limasan Gandarani.
Sementara itu, di kamar Mahen.
" Abang, pindahan kesini kapan? ngunduh mantu di Mama ". Terdengar suara nyaring di seberang.
" Belum tahu Ma, kan belum ketemu Naya... Besok itu rencananya aku nginep di Kakek Buyut nya Naya... Beliau ingin syukuran dengan para tetangga sekitar... Oiya Ma, lamaran ke Naya kapan yaa? masa aku ga ngelamar resmi sih, kan Abah juga mungkin perlu untuk ngumumin perubahan status kita ".
" Tadi Om mu, menyanggupi untuk mewakili Bapak ke sana, Abang tinggal bilang saja kapan waktunya... Setelah ini, kalian mau tinggal dimana? ".
" Orchid sepertinya... Kalau di komplek, kasihan Naya sendirian... Kemana-mana jauh, dia belum aku izinkan belajar bawa mobil dalam waktu dekat ".
" Sama Mama aja yaa... ". Mama ngebet ingin Naya ada disamping nya, mengurus anak itu bagai anak gadisnya sendiri.
" Jangan Ma... Ada Esa dan Marsha kan suka nginep disana.. Aku belum cerita juga sih ke Naya... Nanti deh dipikirin lagi... ".
" Mama ga sabar ketemu Naya... Dia makin ayu saja yaa Bang... Lalu kuliah nya gimana? pindah? ".
" Istriku lho Ma.... Banyak banget ternyata yaa, yang harus dibahas hahaha... Baru tiga bulan lebih ga ketemu... Gimana kayak Pak Jim yang terpisah jarak ribuan mil... Aku ga sanggup dah ".
" Iya deh iyaaa, Istri Abang.... Sombong yaa sekarang yang sudah punya istri ".
" Haha... Ma, aku keluar bentar yaa, ga enak.. Abah dan semuanya masih ngumpul di ruang keluarga ".
" Gih, lalu istirahat Bang... Besok ketemu Istri lho... Istri... ". Goda Mama.
" Haha... Assalamu'alaikum ".
Mahen keluar kamar ketika keluarga Kusuma masih membahas tentang para tamu yang harus dibagi dua tadi. Pak Jim yang melihat Mahen keluar kamar, memanggilnya agar bergabung.
" Hen... Duduk sini, sudah telpon Naya? ". Tanya Pak Jim.
" Sudah, tapi bentaran Pak.. ". Mahen duduk tepat disebelah Pak Jim, berhadapan dengan Amir.
" Mas, besok jadi nginep disana? kalau iya, Abah bisa keluar sebentar dengan Amir nanti ". Abah bertanya pada menantu nya.
" Jadi Bah... Oiya tadi nama ku ada sebutan Raden Panji? ini maksudnya gimana ya Bah? ".
" Kamu tanya sama kakek buyut Naya saja Hen... Besok ". Saran Pak Jim.
" Hmm, baik... Pak, aku pinjam mobil yaa... ".
" Pakai saja, Maybach ku itu atau BMW silver yang di garasi, kunci nya ada sama Krisna... Aku besok akan kembali ke Jakarta siang ".
" Cepat amat? kan belum selesai urusan disini ". Abah mencegah.
" Urusan ku sudah... Sisa urusan mu... Haha... Banyak pekerjaan disana yang harus aku selesaikan dalam waktu dekat, mepet sekali waktunya ". Ucap nya lagi.
" Aku cuti berapa lama, Pak? ". Tanya Mahen.
" Sampai urusan mu disini beres, habis ini ke Cirebon kan? syukuran disana? ". Pak Jim memastikan.
" Harus.... ". Jawab abah tegas sembari bangkit dari duduknya.
" Mas, istirahat gih... Besok ketemu Istri kan... ". Goda Abah sambil berlalu.
__ADS_1
Mahen menjadi bulan-bulanan kedua pria paruh baya itu yang sedang getol menggoda nya, hingga sesaat kemudian semuanya bangkit dan masuk kedalam kamar masing-masing.
***
Flashback.
Beberapa hari sebelum lamaran Mahen diterima, Limasan Gandarani.
Pak Jim yang sedang memeriksa laporan tentang perkembangan dokumen pengalihan surat berharga, dikejutkan dengan Rey yang masuk kedalam ruang kerja nya siang itu.
" Pak, ada Raden Hasbi diluar, meminta izin bertemu dengan Abang ".
" Mau apa dia?... Bukannya Mahen baru saja tidur setelah ganti perban luka nya tadi dengan dokter? Jangan di ganggu Rey, baru juga pulang dari rumah sakit, kondisi nya belum stabil.. Kalau dia mau, temui aku saja ". Tegas Pak Jim.
" Baik, aku sampaikan ". Rey kembali keluar ruangan menuju pendopo di mana Hasbi berada.
" Mas Hasbi, Abang baru saja tidur setelah ganti kasa perban? paling bisa ketemu dengan Pak Jim, Raden Mas Galuh... Gimana? ".
" Perban? kenapa?..... Boleh kalau begitu ".
Rey mengantarkan Hasbi keruangan Pak Jim.
" Duduk Mas ". Sapa nya ketika Hasbi telah ada didalam ruang kerja nya.
" Om... Mahendra sakit? Pak Rey bilang tentang perban... ".
" Dia terluka saat menyelamatkan Naya dari Anggara pekan lalu, ditusuk di bagian perut sebelah kiri... Sekarang masih dalam pengawasan dokter... Ada keperluan apa Mas? " .
" Innalillahi... Aku tadinya ingin meminta nya membujuk Naya agar mau mencoba tehnik pengobatan dengan ku... Tapi mendengar ini, aku jadi ragu... ".
" Naya dan Mahen itu meski baru mengenal kurang lebih satu tahun bila aku tak salah... Banyak hal berat yang telah mereka lalui bersama... Tidak akan mudah menghapus nya, apalagi mengganti nya dengan orang lain Mas... Banyak yang Mahen lakukan tanpa sepengetahuan Naya, begitupun sebaliknya... Mereka itu mencintai satu sama lain, mendalam meski dalam diam, tak banyak bicara tapi keduanya sudah terikat batin ".
" Mustahil kah untuk ku? ".
" Buang waktu Mas.... Mahen terlalu dominan, terlebih jika Naya tau dia terluka parah karena menyelamatkan nya dari Anggara... Pastilah Naya akan lebih kuat lagi mencintai nya. ".
" Bukankah hati Allah yang punya, Om? ".
" Benar... Tapi apakah kamu kuat, melihat istrimu melayani mu lahir bathin namun hati nya memikirkan orang lain dan kamu mengetahuinya... Naya anak yang keras hati, semakin kamu memaksa nya, semakin menjauhlah dia... Pikirkan kembali Mas, menikah bukan sehari sebulan, tapi selamanya ".
" Coba saja.... Bilamana kamu tidak merasa sakit saat Naya bersikap dingin atau tidak menatap mu sebagai suami nya... Kamu sanggup?... Mas, tatapan mata istri yang memuja dan mendamba suaminya itu adalah harta yang ga bisa ditukar dengan apapun ".
Hasbi terdiam, apa yang Raden Mas Galuh sampaikan ada benar nya. Cinta mereka telah kuat sedangkan cinta nya baru bersemi. " Apa aku boleh melihat Mahendra, Om? ".
" Diantar Rey yaa, dia baru saja tidur... Masih pucat karena kondisinya belum stabil, beberapa bagian tubuhnya ada luka memar ".
Hasbi kemudian masuk ke kamar Mahen ditemani Rey. Ia melihat rival nya itu dalam keadaan lemah terbaring diatas dipan nya.
" Begitu besar pengorbanan mu untuk Naya... Lekaslah membaik, aku titipkan Naya padamu, buatlah Ia bahagia.... Aku mundur dengan terhormat karena sedari awal aku sudah kalah, Mahendra ". Hasbi mengatakan itu di depan Mahen yang sedang terlelap, disaksikan oleh Rey.
Hasbi menemui Pak Jim kembali, mengutarakan maksud nya pamit undur diri, dan akan disampaikan secara resmi oleh abuya nya kepada Tumenggung Danarhadi.
Terwujud sudah, keyakinan Pak Jim tentang rencana nya yang matang untuk mewujudkan pernikahan bagi kedua nya.
Flasback off.
***
Keesokan Pagi.
Naya telah lama pergi ke kebun mawar dan sedap malam yang dipersembahkan untuk mendiang ummi nya itu. Sementara Mahen baru tiba dengan Rey di Joglo Ageng. Mahen takjub dengan pengamanan yang super ketat, rumah megah kental tradisi Jawa.
" Assalamu'alaikum... ". Mahen mengucap salam di depan ruang kerja Danarhadi diantar oleh Kusno.
" Masuk Mas... ".
Mahen mendekat perlahan, membungkuk sebisa nya berusaha meraih tangan Danarhadi sambil masih memegangi perut sebelah kirinya. Danarhadi yang melihat itu, buru-buru bangkit.
" Sudah.... Duduk saja, luka mu belum sembuh benar ". Danarhadi malah memeluk cicit mantu nya itu.
" Naya sudah ke kebun ummi nya diantar Warni dan dua orang staff keamanan... Mas mau nyusul atau nemenin Uyut disini ". Danarhadi menepuk tangan Mahen yang duduk disamping nya.
" Jauh ga Yut? aku sih mau nya kasih surprise... Diantar Rey, aku ga stir sendiri ko ".
" Deket, cuma dua kilometer... Nanti diantar Darso, Kusno mau ada keperluan... ".
__ADS_1
" Hmmm Uyut... Aku mau tanya tentang sebutan saat akad didepan nama ku... Itu pasti ada maksudnya kan? ".
" Kanjeng Raden Panji gelar mu Mas... Diberikan sinuhun langsung karena kontribusi mu yang masuk kedalam 100 pengusaha muda paling berpengaruh di negeri ini, kontribusi terhadap pembinaan para anak jalanan dan tentang hak paten alat sensor mu yang sedang diujicoba pada kendaraan Menteri Tenaga kerja dan pembangunan daerah tertinggal, teman mu yang baru menjabat itu kan... Raden Panji, gelar kehormatan untuk rakyat biasa yang berjasa pada masyarakat disamping gelar kehormatan keluarga mu dari trah Mama... Sebab gelar itu turun pada mu... Nanti peresmian nya setelah sinuhun pulang dari Umroh yaa, lusa ".
Mahen menundukkan kepalanya, ia segan. Sesungguhnya yang ia lakukan secara sembunyi tidak akan terwujud tanpa bantuan Pak Jim.
" Galuh bilang tidak banyak yang tahu kegiatan sosialmu Mas... ". Sambung Danarhadi lagi, ia tak menyangka semakin di selidiki lebih dalam, Mahen semakin berkilau.
" Hmm, itu... ". Mahen canggung di tatap intens oleh Buyut nya.
" Maafin Uyut sudah meremehkan mu ya Mas.. Meskipun jika kamu bukan siapa-siapa, pernikahan kalian akan tetap uyut restui karena nasab mu yang baik.. ".
" Nanti kita ngobrol lagi... Sana, susulin Istri mu... Sudah kangen banget kan? 4 bulan ga ketemu... Nak Rey kemarin cerita, kamu kayak orang gila... Hahaha, Mas Mas... Ko saged tresno ne tumplek blek sama gadis keras hati kayak Naya itu ".
Mahen hanya tersenyum. " Rey... Rey suka ke sini Yut? ".
" Baru dua hari kemarin, anak itu suka ngeyelan belain kamu, kerjaan nya berantem melulu sama Kusno, katanya : Abang ga suka begini, kalau Abang pasti begini... Haha lucu si Rey itu ".
Danarhadi memanggil Darso untuk mengantar Mahen menemui Naya di kebun.
*
Tigapuluh menit berlalu, Mahen tiba di kebun bunga milik Buyut nya itu. Ia memasuki gerbang, berjalan menuruni bukit. Rey, Darso menunggu di atas, pendopo tempat sortir bunga sekaligus kantor disana.
" Maaf, punten Mba... Naya dimana yaa? ". Tanya Mahen pada seorang pekerja yang dilewati nya.
" Den Roro? di tengah dekat pos 3... Ndoro.. sedang ayunan tadi, ga ada pekerja disana karena yang panen di pos 2 dan satu... Ndoro dari sini turun, belok kiri lurus lalu kanan, ada taman sebelum naik ke bukit di pos 4 diatas nya ".
" Baik, terimakasih Mba.. ". Mahen menelusuri jalan setapak sesuai arahan. Setelah lama berjalan jauh, ia melihat Naya duduk di ayunan sebuah pohon rindang.
" Akhirnya.... Sayang... ". Lama Mahen memandang nya dari kejauhan, ia ingin menikmati ini sendiri, melihat istri kecil nya disana. Mata nya mengembun, " Bahkan untuk menemui mu saja setelah halal, sejauh ini... Ckck Naya, kamu betul-betul sulit didekati.. ".
Mahen mengeluarkan ponsel nya, ia menelpon Naya.
" Sayang... Aku ketemu suamimu tadi... Tapi aku berhasil menemukan mu disini... Aku bisa melihat mu ".
" Abang dimana? jangan kesini... ". Matanya mengedarkan pandangan, sejurus kemudian tatapan mereka bertemu.
" Abang... No... ". Naya berlari menghindari seiring Mahen yang mulai mendekat. Melihat Ndoro putri nya ketakutan, Warni waspada. Ia lalu menghalau Mahen mendekat sementara Naya berusaha menjauh.
" Stop, atau aku akan melukai Anda, Tuan ". Warni belum tahu rupa suami Naya, sebab dirinya sibuk dengan pengamanan diluar kediaman bersama staff lainnya.
Mahen tak mengindahkan Warni, hingga kemudian ia menangkis serangan tiba-tiba dari nya.
" Mba cukup, aku ini suami Naya... Aku Mahendra, diminta Kakek buyut menyusul Naya disini... Ga percaya? ini video semalam ". Mahen memperlihatkan video saat akad nikah.
" Ampun Ndoro, ampun... Ampuni saya ". Warni seketika membungkuk rendah, merasa telah kurang ajar.
" Nanti saja... Aku mau kejar Naya dulu ". Mahen mengejar nya, nafas nya tersenggal, tangan nya memegangi perut nya, nampak rembesan darah tercetak di kemeja nya. Lukanya terbuka kembali, ia berhenti setelah melihat Naya tak jauh dari nya.
" Sayang.. kamu bilang kangen padaku? Inikah cara seorang istri menyambut suami nya, yang lama tak ditemui ? ". Mahen tak kuat lagi, ia mengatakan yang sebenarnya.
" Aku kangen Abang tapi aku sudah bersuami.... Aa-appa.... Suami nya? A-bang suami siapa? ".
" Ainnaya Misbach shaki... ".
Naya memutar tubuhnya, ia melihat Mahen berdiri tak jauh dari nya. Dengan tatapan rindu dan mendamba.
" Kamu.... Istri ku, Naya... ". Mahen meneteskan airmata sambil terus berbicara di telepon.
" A-bang suamiku? Hiks..... ". Naya berlari menuju Mahen yang merentang kan tangan nya menyambut sang istri masuk ke dekapan nya.
Brug. Naya menabrakkan badan nya memeluk Mahen. Keduanya saling memeluk erat, Mahen menciumi pucuk kepala istrinya itu, mengabsen setiap inci wajah istrinya hingga...
" Bismillah...... ". Mahen meng*ecup bi*bir istri nya dengan penuh kelembutan, kecupan pertama bagi mereka berdua.
" Hiks, benarkah ini, bukan mimpi kan? ". Bisik Naya setelah cium*an mereka terlepas. Keduanya saling menempelkan dahi, mahen membelai anak rambut yang basah karena airmata yang menutupi wajah cantik istri nya.
" Benar sayang.... ". Masih tak puas melepas rindu, Mahen kembali me*ngecup bi*bir Naya, kali ini lebih lembut, meleburkan kerinduan yang masih menumpuk.
.
.
_______________________
__ADS_1
Beuh, tarik nafas..... Satu masalah lagi, selesai..