
Dua jam berlalu, nyata nya lunch yang terlihat simpel malah berubah menjadi sebuah ajang lelang proyek pribadi. Beberapa petinggi lainnya pun satu persatu hadir termasuk Andres, suami Saraswati anak pejabat kota kuning.
Mahen merasa tidak ada keuntungan signifikan bagi Exona bila ia terlibat jauh, sehingga ia tak menyimak dengan benar apa yang dibicarakan oleh para elite executive siang itu. Mata Mahen sibuk mengawasi gadisnya dikejauhan yang nampak telah bosan. Terlihat dari ponsel yang Mahen berikan tadi telah tergeletak begitu saja dimeja sedangkan tangan mungil Naya mengaduk minuman nya dengan malas.
" Aku permisi sebentar, Gent... ". Pamit Mahen pada kolega nya. Ia lantas menghampiri Naya dan mencondongkan tubuh nya dari belakang punggung gadis itu hingga Naya terlonjak kaget sebab ulah jahilnya.
" Bosan yaa... ". Bisiknya pelan ditelinga Naya.
" Astaghfirullah.... Hih, ngagetin aja, masih lama yaa? ".
" Bentar aku pamit... Kenapa ga lihat film saja? banyak judul bagus minggu ini ".
" Aku ga bisa buka, kan ke kunci lagi karena tadi kelamaan ga touch keypad nya ".
" 101031 .... password nya ". Mahen masih sambil berdiri dibelakang kursi Naya, membawa tangan Naya agar menekan tuts di ponselnya dengan deretan angka tadi.
" Ko Abang kasih tau aku? ini angka apa? ".
" Tanggal lahir kamu, aku dan jadian kita... Gak ada yang aku sembunyikan dari kamu jadi buat apa dirahasiakan ". Kecupnya dikepala Naya, dan kemudian Naya menghadiahi nya dengan banyak cubitan di lengan Mahen.
" Sakit sayang, iihh.... Kita pergi dari sini, aku pamit dulu yaa ". Saat Mahen kembali ke meja nya, Naya dihampiri seorang pria di meja nya.
" Kak... Apa kabar? Sandy mana eh Nurma? ".
" Hai cantik.. Aku baik, daritadi aku lihat pacar kamu nyuekin mulu yaa, kesian amat gadis cantik dianggurin gini ckck ".
" Ka Nirwan lagi meeting sama Abang juga? ".
" He em.. Barusan izin sebentar anter nurma balik. Kamu ga kuliah Naya? kata Nurma, kamu sakit tapi ko malah disini sih? ". Tanya Nirwan menyelidik.
" Aku yang meminta nya cuti untuk menemani saat aku disini.. Pak Nirwan, apa kabar? ". Mahen menjawab pertanyaan Nirwan yang entah datang darimana.
" Siang Pak Mahendra, aku baik... Thanks ". Jawabnya tak enak hati dengan senyum yang nampak dipaksakan.
" Honey, ayok... Maaf Pak Nirwan, aku tinggal ya ".
" Exona ikut ambil bagian kembali? ". Nirwan hanya ingin tau, proyek kali ini terlihat sepele namun tantangan nya lumayan besar, ia awalnya yakin Exona akan mengambil kesempatan, dengan begitu ia juga akan punya banyak waktu dan alasan untuk menjumpai Naya sementara Mahen sibuk di atas memantau proyek nya.
" Aku rasa tidak, namun jika berubah pikiran, aku pastikan bukan aku yang akan meng-handle nya kali ini.. Selamat siang Pak ". Mahen menarik pergelangan tangan Naya lembut agar lekas bangkit dan pergi dari sana. Ia tau maksud tersembunyi Nirwan ingin mendekati Naya.
Mahen cemburu, ia tak suka gadisnya dipanggil cantik oleh pria lain. Keduanya lalu keluar restauran untuk menuju sebuah tempat.
Sebelum Rey pergi tadi, ia sudah mereservasi sebuah tempat untuk mereka berdua. Ruang sebuah cafetaria yang hits dikalangan anak muda dikota ini. Dan disinilah mereka berdua berada sejak 30 menit yang lalu.
Mahen rasanya tak sabar untuk kembali dan melaporkan segalanya pada Pak Jim, kekhawatiran nya dan Rey hari ini beralasan. Danureksa tampak mendekati Nirwan agar segala proyeknya berjalan lancar. Bukan suatu kemungkinan, pernikahan Rendy yang akan segera digelar akan menarik kemunculan Anggara lagi karena ini adalah pernikahan bisnis keluarga mereka. Pikiran mahen kusut seketika, namun ia sadar Naya juga baru proses pemulihan, masih ada 2 sesi hingga Naya bisa dinyatakan betul-betul bebas dari bayangan kelam kejadian itu.
" Abang... Jangan berpikir terlalu keras buat aku... Aku baik-baik saja karena masih ada orang tua ku. Aku nanti pulang ko, aku juga ingin tau siapa aku sebenarnya, mungkin Abah akan cerita perlahan jika aku bujuk nanti agar ini semua jelas.. Ok? ". Naya melihat ekspresi pria disebelah nya ini menjadi serius. Tadinya ia juga akan mengatakan sesuatu namun ia tahan.
" Keliatan banget yaa?.... Honey, boleh aku minta sesuatu? ".
" Jangan yang aneh-aneh... ".
" Apa sih.. Kamu curiga mulu sama aku.... Denger pelan-pelan yaa, jangan emosi.. Hmmm, gimana kalau ga usah part time lagi? kalau masih mau kerja, aku ga keberatan.... Dan fokus kuliah saja yang betul.. ". Nada bicara Mahen lembut, namun bagai petir menyambar bagi Naya.
" ....... Harus ya?! ". Naya yang sudah menahan ini sedari semalam, akhirnya punya kesempatan untuk bicara. Ia diberitahu oleh Nurma ketika teman nya itu diminta tolong oleh Naya untuk membayarkan uang semester nya yang sudah lewat jatuh tempo.
Jika gadis lain merasa bahagia diperlakukan demikian, tak terkecuali Naya. Ia justru merasa disepelekan padahal Mahen tau sejak awal ia melarang untuk menanggung semua kebutuhan Naya sebab belum saat nya. Termasuk segala biaya pengobatan untuk nya sejak kejadian itu. Naya sudah meminta pada Abah agar membayar segalanya, Abah pun setuju karena memang ini adalah tanggung jawab orang tua nya.
" Jangan marah dulu.. Aku tidak sedang merendahkan kamu jika seandainya kuliah mu aku yang tanggung ". Mahen hati-hati berucap.
" No..... kita putus ". Naya bangkit berdiri dari duduknya. Mahen gusar, kekhawatiran nya terjadi. Naya tersinggung.
" Sayang.... Tunggu, i can explain.. please ".
" Ini apa Abang? ko bisa yaa Abang gini sama aku... Aku ga suka, kan dari awal aku bilang... Jangan ikut campur biaya hidup aku... Bahkan bukan cuma ini sih, semua yang aku alami sejak beberapa bulan ini, semua Abang yang bayar... Aku rasanya, kayak lagi di cicil-bayar tau ga sih? ". Naya meletakkan selembar kuitansi sambil menggebrak meja, bukti pembayaran kuliah nya full hingga ia lulus nanti. Siapa lagi dalang nya jika bukan Mahen.
" Honey..... Sumpah aku ga mikir kamu begitu. Ini tanggung jawab aku karena disebabkan oleh aku... ".
" Nomor rekening Abang.... Abah akan transfer semua yang sudah Abang keluarkan untuk biaya pengobatan aku, termasuk biaya kuliah aku... Biarkan nanti urusanku dengan Abah saja ".
__ADS_1
" Ainnaya... ".
" Kasih tau... atau putus ".
" Tega kamu yaa... Aku dibuat gak ada guna nya buat kamu, biar kamu bisa leluasa pergi dari aku kan? ".
" Hih.... lama ". Naya meninggalkan tempat nya berdiri. Saat ia akan menarik handle pintu, Mahen mendekap nya dari belakang. Naya berusaha berontak, ia terlanjur emosi hari ini.
" Ainnaya.. Kita selesaikan, jangan pergi, please duduk dulu yaa ". Suara Mahen melemah, Naya adalah kelemahan nya, ia ga sanggup bila harus menanggung kemarahan kekasih hati nya ini.
" Lepas...... ". Bentak Naya pada Mahen.
" Janji, jangan pergi... Aku lepas ". Mahen menarik Naya duduk kembali. Ia menarik nafas panjang, keputusan sulit bagi nya. Naya benar, belum saatnya ia mengambil alih tanggungjawab itu tapi ia juga merasa turut andil dalam kerumitan ini. Mahen merasa ia tak punya apa-apa untuk mengikat gadisnya selain membuat nya bergantung namun ternyata ia salah, ia lupa bahwa Ainnaya bukan seorang yang manja meskipun ia terlahir dengan membawa sendok emas ditangan nya.
" Sayang, harus yaa?! ada pilihan lain sih.. Kamu bisa cicil kembalikan ke aku ". Mahen masih berusaha membujuk.
" Ah lama lagi.. Keluarga ku tak terbiasa berhutang, jika ini terlalu sulit... Baiklah, bye Abang, terimakasih segala nya yaa... Aku pamit ".
" Ok sayang... Ok.. Baik.. you win ". Mahen menyerah, ia memberikan sederet angka nomer rekening nya pada Naya.
" Assalamu'alaikum, Abah... Aku kirim nomer rekening ke Abah.. Kalau bisa ditransfer segera yaa.. Naya tunggu, ia nanti nduk pulang bicarain ini lagi... ". Panggilan Naya berlangsung singkat ke orang tua nya. Tak lama berselang, pesan masuk dari Abah yang telah berhasil mentransfer ke rekening Mahen.
" Done.. please check ".
" Aku tau.. thanks ". Sahut Mahen malas.
" Aku pulang.. Abang hati-hati lah jika kembali.. Terimakasih banyak semuanya ".
" Ainnaya... Mau kemana kamu? kita belum selesai ".
" Sudah.... Bye Abang... ". Naya bangkit dari duduknya dan melangkah pergi. Hatinya sakit, sejujurnya ia tak ingin meninggalkan kekasihnya sendiri disana. Namun ia terlanjur tersinggung, Naya tau, Mahen berkelimpahan harta tapi ia juga tak menyangka bahwa dirinya dengan mudahnya dianggap menerima segala kemewahan yang tak semestinya ia nikmati. Gadis macam apa dia ini. Berduaan dengan nya saja sudah salah bagi Naya, hubungan nya sudah terlampau jauh dan ia tak ingin keluar jalur.
Katakanlah bahwa pikiran nya kolot, biarlah. Ini tentang harga diri, batin Naya.
" Sayang please.. ". Hati mahen mencelos melihat gadisnya pergi. Sekuat tenaga ia mengejar Naya. Beruntunglah, Naya mau mendengar nya kembali.
" Aku anter ya sayang, kamu mau kemana? jangan begini, aku gak bisa ninggalin kamu nanti sedangkan aku kembali hari ini ". Naya tak mengindahkan keinginan Mahen, ia lantas masih saja berlalu begitu saja meninggalkan Mahen disana.
" Ya pak.. Oh di hotel? baik, aku kesana.. Iya aku juga rencana pulang hari ini ". S*aalll, rutuk Mahen mengepalkan tangan nya.
" Can, belikan aku........ iya yang ukuran besar, harus sudah ada sebelum Naya kembali ya.. Thanks ".
" Alex... Ikuti Naya... report hingga ia kembali ke kost-an ".
Setelah memberikan beberapa instruksinya, Mahen kembali ke parkiran dan memaksa mobilnya melaju meninggalkan cafe itu menuju hotel menemui sang big bos Exona, meski hati nya enggan ke sana.
Sepeninggal Mahen, Naya melangkah gontai menyusuri trotoar yang nampak lengang sore ini. Ingin nya ia kembali kerumah, tapi nampaknya suasana hati nya sedang berkabut. Akhirnya setelah berjalan cukup jauh tanpa arah tujuan pasti, Naya memutuskan untuk kembali ke kost-an nya dan berniat hibernasi beberapa waktu kedepan ia tak ingin diganggu. Tiba-tiba saat ia sedang berjalan memutar arah untuk naik angkutan umum, ia teringat pada kakanya, mengobrol sebentar agaknya bisa jadi hiburan untuk hatinya saat ini. Pikir Naya.
" Ka Amir, assalamu'alaikum... Aku galau ".
" Wa'alaikumussalam.. Tumben... biasanya cuek.. Putus cinta yaa? kesian amat Mahen diputusin kamu... Haha ".
" Ish ko belain dia sih... Mentang-mentang udah pernah ketemu diam-diam ".
" Dia pria baik nduk... Jangan emosi aah... Mau pulang ga? ka Amir jemput ".
" Besok aja... eh lusa... eh ga tau deh, nanti aja aku pulang sendiri.. Ka aku mau makan es krim banyak boleh yaa ".
" Hemmm, bener, galau... Hati-hati awas sakit perut lho yaa, ka Amir mau balik juga ni habis dari majlis.. Weekend aku ke sana deh, main ".
" Ok, aku tungguin... Assalamualaikum ".
(ka Amir, manis amat).
Khawatir akan adiknya, Amir memutuskan menghubungi Mahen untuk menanyakan kejadian yang sebenarnya. Panggilan nya terjawab di dering ke 3.
__ADS_1
" Assalamu'alaikum ka.. ". Sambut suara maskulin diseberang.
" Wa'alaikumussalam.. Naya kenapa? ngamuk? ". Ka Amir to the poin.
" Aku ketauan bayar uang kuliah dia sampai lunas.. ".
" Hem, pantes, cari penyakit.. Diapain sama adikku? ".
" Marah banget dia, minta putus.. Ka please bantuin aku yaa.. Bujukin dia jangan gitu, sumpah aku takut banget. Marah nya ngeri ".
" Kamu... Eh Mas Mahen dimana sekarang? ".
" Baru aja balik hotel, aku balik Jakarta malam ini.. Naya tadi telpon ka Amir? ".
" Iya, biarin aja dulu deh Mas... Nanti aku coba bujuk, cuma ya ga bisa cepet.. Naya keras kepala jika sudah tentang prinsip nya itu.. Abah aja ga berani karena dia ngancam ga akan balik seterusnya waktu pergi dari rumah dulu itu ".
" Jadi aku diem dulu? nunggu dia telp aku, gitu? jujur aku bingung, takut salah lagi ka nanti makin parah ". Mahen terdengar sangat cemas.
" Hahaha.. Mas Mas takut banget ama bocah ingusan itu haduh... Hati-hati yaa kalau balik.. Aku coba bantuin nanti. Assalamu'alaikum ".
" Makasih banyak ka, wa'alaikumussalam ".
Mahen sedikit lebih lega, untung dia kemarin memutuskan mengunjungi rumah Naya dan berkenalan dengan kakak nya yang penyabar itu. Dua jam kemudian.. Mahen dan rombongan nya telah bertolak ke Jakarta menyisakan hati nya yang masih berkabut dikota ini.
๐ถ๐ถ
/Selepas kau pergi, tinggallah disini kusendiri.
/Ku merasakan sesuatu, yang tlah hilang didalam hidupku.
/Dalam lubuk hatiku..
/Ku yakin kau pun sebenernya tak...
/Inginkan lepas dariku..
/Taukah kau kini ku terluka..
๐ถ๐ถ
Naya membuka pintu kamar kost nya disambut dengan lantunan lagu dari laluna yang ia dengar dari headset radio ponselnya .
Pandangan nya tertarik pada sesuatu yang terletak di atas ranjang nya. Sebuah boneka teddy bear besar dengan gift card..
*Honey... Sweetheart... Maafkan aku..
You can close your eyes to the things you donโt want to see, but you canโt close your heart to the things you donโt want to feel.
Big Hug and i love you, so deep*..
Naya perlahan melepaskan segala yang menempel di badan nya mulai dari tas, earphones, ponsel dsb.
Ia membaca tulisan disana pelan, tangan nya mulai membelai boneka besar itu. Lalu memeluknya, naya menangis menumpahkan kekesalan nya. Tangan nya mengepal kuat menghujam teddy bear berkali-kali. Hatinya cemas, apakah ia bisa melupakan sosok Mahen yang telah amat bercokol kuat didalam hatinya setelah ini? jujur ia sangat kecewa, bahagia dan bingung diantara prinsip yang telah lama dipegang nya...
๐ถ๐ถ๐ถ
/Bantu aku membenci mu
/Ku terlalu mencintaimu
/ Dirimu begitu
/Berarti untuk ku
๐ถ๐ถ๐ถ
_____________________________
Konflik internal dulu yaa, ga pernah berantem soalnya wakakakaka... ๐
__ADS_1
Vote, like, love dan follow Jangan lupa.. Mamaciih ๐