
Kost-an Soka, Pagi hari.
Naya terbangun di pagi ini dalam keadaan masih sangat mengantuk, samar terlihat lingkaran hitam muncul di bawah kelopak mata nya. Rupanya Naya ikut begadang bersama Vita menonton film horor hingga jam dua dini hari tepat setelah Naya mengerjakan tugas kuliah nya.
" Andai Abang tau, bisa habis aku diomelin ". Ucap Naya saat ia bangkit dari tempat tidurnya dan melihat cermin di dekat pintu kamar mandi.
Setelah 30 menit berada dalam kamar mandi, ia kini terlihat jauh lebih segar saat mengambil mukenah nya untuk menunaikan sholat subuh dan dzikir pagi. Setelah ia selesai beribadah nanti, rutinitas lainnya telah siap menyambut harinya yang padat. Naya melihat Vita masih lelap tertidur, rasanya ia sangat malas membangunkan sahabat nya itu pagi ini karena sejujurnya ia pun masih sangat mengantuk dan tak ingin mood pagi nya yang sudah dalam mode kuning alias sensi bisa hancur berantakan karena omelan dan suara berisik Vita.
Satu jam kemudian. Naya sudah rapi, bersiap keluar kamar dan turun untuk sarapan. Saat ia akan bangkit dari tempat duduk, mata nya tak sengaja melihat ke arah kalender duduk yang terletak di tepi bagian kanan dari meja rias nya. Ada sebuah tanda lingkaran hitam melingkari tanggal yang ia sangat ingat betul, bahwa itu adalah tanggal lahir nya.
Dua hari lagi. Batin nya.
Hari yang sebenarnya tak ingin Naya ingat, hari bahagia bagi nya sekaligus kepedihan karena tepat di hari itulah peringatan ke 40 hari kematian ummi nya tiga tahun lalu. Setiap Naya berulang tahun, ummi selalu mengajak nya ke sebuah panti asuhan, berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yang kurang beruntung disana. Hanya ummi dan Naya, iya, hanya mereka berdua.
" Ummi, tiga tahun ini aku melakukan semua kebiasaan kita berdua, seorang diri. Ummi masih bisa lihat aku kan? aku selalu ingat semua yang ummi katakan dihari istimewa ku ". Air mata Naya akhirnya menetes deras tanpa bisa ia kendalikan.
" Neng Naya nya ummi, tumbuh lah menjadi wanita yang tangguh namun berhati lembut. Ya Robb, pertemukan lah Naya ku dengan seseorang yang mengerti nya karena jika ia sangat mengerti sifat anakku maka ia pasti akan menyayangi Naya sepenuh hati ". Naya mengucapkan kembali, perkataan yang selalu ummi nya ucapkan pada saat hari lahir nya.
" Aku bahkan masih sangat hafal, nada suara ummi, aku bahkan masih sangat jelas mengingat setiap senyum yang ummi berikan padaku saat mengucapkan kalimat itu ". Naya sudah tak bisa menahan lagi, ia menangis tersedu, terduduk kembali jatuh ke lantai sembari kedua tangan memeluk lututnya yang terlipat, menyembunyikan wajah yang sudah ia poles ayu beberapa menit yang lalu, disana, diantara ceruk tumpuan tangisnya. Isakan nya terdengar sangat pilu, bahunya terguncang keras menahan hentakan rasa sesak yang keluar dari dalam dada nya.
" Aku ga kuat.. yaa Allah, aku ga kuat.. Pertemukanlah aku dengan ibuku.. ". Teriaknya, tak lagi peduli pada kehadiran Vita yang masih tertidur pulas didalam kamar nya.
Naya masih saja menangis, hingga tak terasa jam di tangan kiri nya menunjukkan pukul 8 tepat. Ia sadar telah membuang waktunya percuma, perlahan ia hapus sisa airmata di wajahnya dan mencoba bangkit, menghapus kembali makeup yang sempat ia poles tipis di wajahnya yang kini telah berantakan. Setelah puas memandangi wajahnya yang sembab, Naya lantas bergegas mengambil wudhu kembali untuk menunaikan sholat duha. Sudah tak ia pedulikan lagi tentang sarapan dan kondisi wajah nya kini yang tak sedap dipandang mata. Namun paling tidak, saat ini hati nya sedikit lebih lega.
" Aku memohon kepadaMu, hati yang lapang atas segala peristiwa yang Engkau timpakan padaku Ya Robb, kuatkan aku, tuntun aku agar aku tak salah langkah. Ampuni aku yang masih seringkali tak menerima segala ketetapan dari Mu ya Robb ku, padahal aku tau bahwa segala yang berasal dariMu adalah baik untuk ku... Ampuni aku... Ampuni aku ". Naya kembali meneteskan airmata nya, ia menangis hingga mukenah nya basah.
Jam 09.00 ponsel Naya berbunyi. Naya yang sudah tak bersemangat menjalani hari, tangan nya bergerak malas meraih ponsel yang berdering sejak tadi diatas meja nakas dan menekan tombol hijau tanda panggilan diterima tanpa melihat dahulu identitas sang penelpon.
" Selamat pagi, dengan Mba Ainnaya? aku kurir paket dari Toki, mau antar paket ke alamat mba Ainnaya siang ini, ga apa-apa yaa. Biar searah ga bolak-balik rute nya. Mohon mba nya bersabar yaa ". Suara kurir paket diujung telepon.
" Dari siapa pak? aku ga pesan apa-apa ". Balas Naya heran, sebab ia tak merasa membeli sesuatu dalam minggu ini.
" Di resi nya tidak ada nama pengirim nya mba, tapi nomor hape dan alamat nya betul kan ya di jalan soka kost-an Bu Rahma ". Sang kurir memastikan bahwa alamat yang akan dia tuju benar adanya.
" Iya betul. Bapak titipkan saja ke penjaga kost kalau begitu ". Pinta Naya kemudian, ia tak ingin berlama-lama berbicara dengan orang lain kini. Hatinya sedang dalam kondisi tidak baik.
Setelah percakapan via telepon dengan sang kurir tadi selesai. Naya bangkit hendak keluar kamar menuju pantry untuk sarapan. Tadinya ia ingin mengacuhkan rasa perih yang datang menyergap lambung nya, namun ia teringat bahwa minggu ini akan ada ujian susulan yang harus ia jalani untuk mengejar ketinggalan beberapa mata kuliah nya yang tertinggal lumayan jauh. Langkah nya kembali terhenti ketika ponselnya berbunyi lagi. Ada sedikit rasa bahagia menyelinap ke dalam hatinya ketika ia melihat sebuah nama muncul di layar ponsel yang tengah ia pegang.
__ADS_1
" Assalamu'alaikum, pagi. Sudah selesai satu mata kuliah yaa? ". Suara yang Naya rindukan pagi ini, entah kenapa ia merasa sangat menginginkan Mahen ada bersama nya kini.
" Wa'alaikumussalam, aku masih di kost-an, belum atau malah ga jadi berangkat ke kampus ". Jawab Naya lesu.
" Kamu........ Naya.......... tarik nafas panjang, pejamkan mata.. istighfar, seperti yang biasa kamu bilang ke aku ". Mahen berbicara sangat lembut, ia tau gadisnya habis menangis, terdengar dari nada suara Naya yang agak serak, diselingi cegukan ringan dan suara sumbang khas orang lelah sehabis menangis dalam waktu lama.
" Abang, kenapa selalu tau......... tanpa aku bilang apa-apa ". Airmata Naya luruh kembali, kali ini ia betul-betul merasa lemah. Baru kali ini Naya menangis di depan seorang pria meski pada kenyataannya dihadapannya tak ada sosok itu.
" Sayang.... aku kesana sekarang ". Terdengar oleh Naya suara kursi bergeser dan suara gemerisik sebuah kunci yang baru saja diambil oleh pemiliknya.
" No, jangan... aku gapapa, sudah baikan, trust me.. ". Cegah Naya cepat agar Mahen mengurungkan niat nya untuk menyusul Naya.
" Ingin nya begitu tapi aku yakin kamu...".
" Bos, meeting akan dimulai, anda sudah ditunggu diruangan sekarang ". Suara Rey dibelakang Mahen terdengar jelas oleh Naya.
" Abang, pergilah, aku sudah agak baikan karena Abang menelepon, do'akan saja aku hari ini tegar kembali ". Naya memberikan senyum tulus nan lemah nya untuk sang kekasih meski ia tau Mahen tak bisa melihat nya kini karena mereka sedang berbicara via sambungan telepon biasa.
" I'll call you back soon, honey. So sorry, aku tinggal meeting dulu yaa, love you ".
***
Exona, Jakarta.
Mahen menatap layar ponselnya, panggilan nya diputus sepihak oleh Naya, lagi. Kali ini bukan kesal yang ia rasakan melainkan rasa sakit tak bisa berada di sisi kekasihnya disaat suasana hati nya sedang tak baik. Mahen menghela nafas panjang.... hufftt beginilah nasib long distance relationship, keluh nya.
" Rey, cari tau kenapa Naya hari ini menangis seperti tadi, ia terdengar sangat sedih ". Mahen memberikan instruksi agar Rey mencari sebab mengapa gadisnya terdengar seolah sedang putus asa.
" Candi bilang, Vita semalam menginap dikamar Nona sambil membawa film horor, nampaknya Nona juga ikut begadang bos karena candi bilang jam 1 dini hari masih terdengar suara televisi dari kamar Nona dan pagi ini Nona belum keluar kamar untuk sarapan, bos ". Rey melaporkan dengan cepat.
" No bukan itu, sepertinya ada peristiwa yang mempengaruhi mood nya pagi ini. Pesankan sebuah snack sehat untuk Naya, antar ke tempat Naya saat ini berada, cepat Rey dan kabari aku setiap 30 menit sekali tentang kondisi nya ". Perintah terakhir dari Mahen untuk dilakukan oleh Rey sebelum ia masuk ke dalam ruang meeting.
" Nona... Anda telah berhasil membuat beruang yang tengah hibernasi, bangkit kembali ". Rey bergumam karena pekerjaan nya bertambah dua kali lipat jika bos nya sedang panik terlebih segala hal yang menyangkut tentang gadisnya.
" Capt.. Vita tak mengetahui Nona menangis tadi pagi, padahal dia masih ada disana hingga Nona berangkat bersama ku ke kampus. Aku menduga ini berkaitan dengan suatu tanggal atau peristiwa, tadi sekilas aku melihat kalender yang jatuh tergeletak di bawah meja, Nona orang yang sangat rapi dan perhatian dengan semua barang-barang dikamar nya, jika ada barang nya yang terjatuh pasti ia akan segera mengembalikan ke tempat semula. Ini baru dugaanku saja, akan aku pastikan saat pulang nanti. Copied ". Candi melaporkan sekilas tentang Nona nya pagi ini, meskipun belum detail tapi informasi ini lumayan memberi nya gambaran disana.
" Ok, lanjutkan. Menu sehat untuk Nona sudah? ". Tanya Rey kembali.
__ADS_1
" Sudah capt, akan diantar ke kampus 20 menit lagi saat break matkul dan satu lagi akan diantar ke tempat kerja saat Nona istirahat nanti. Laporan selesai ". Candi mengabarkan pada Rey dengan menulis diam-diam saat Naya tak melihat nya. Candi harus pintar memutar otak untuk mengupdate setiap berita tentang Naya pada Rey, karena mereka kerap menghabiskan waktu bersama.
" Thanks Can, Take care ". Deg deg deg deg, hati ku, kenapa sulit sekali dikondisikan akhir-akhir ini, setiap berkirim pesan pada Candi, selalu saja berdebar hingga sesak rasanya. Rey memegangi dada kiri nya dengan tangan kanan, ia masih merasakan debaran kencang disana.
***
Malam hari.
Mahen mondar-mandir dalam kamar apartement nya, dia tampak gelisah sekaligus kesal, Naya tak menjawab puluhan panggilan dan belasan pesan darinya sejak siang tadi. Ia berpikir apakah gadisnya itu marah atau sedang melakukan hal-hal yang diluar nalar nya. Ia takut meski hatinya mengingkari dan berkeyakinan bahwa Naya bukanlah seorang gadis yang mudah berputus-asa. Rey bilang ini berkaitan tentang hari lahir nya dua hari kedepan. Mahen mengerti dan ia sudah menyiapkan sebuah kejutan untuk Naya disana, rasanya tak sabar untuk bisa segera menemui nya lagi.
" Sayang, aku tau kamu belum pulang kerja, tapi aku sangat takut. Balas aku segera saat kamu membaca pesan ku ini yaa ". Tulis mahen kembali, entah sudah yang keberapa kali dia berkirim pesan malam ini.
*
" Lho Mega, ko ada disini? ". Mega menjemputnya, ini tak seperti biasanya, Naya membatin.
" Aku habis kongkow, sengaja tunggu kamu biar sekalian pulang bareng, tadi aku beli ini juga buat kita bertiga di kost-an ". Jawab Mega memperlihatkan shopping bag yang penuh dengan makanan. Aku diminta oleh Tuan Mahen menjemput mu Nona, kekasih Anda sangat khawatir saat ini.
" O begitu, yuk pulang ". Akhirnya mereka berdua pulang naik becak menuju kost-an karena Naya mengaku letih.
Dalam perjalanan pulang ke kost-an, Naya membuka handphone nya. Banyak sekali notif panggilan dan pesan dari Mahen. Terbitlah sebuah senyuman dari bibir Naya saat ia mulai membaca pesan dari kekasihnya itu. Belum sempat Naya membalas satu pesan pun, sebuah panggilan telepon masuk kembali ke ponselnya.
" Naya, are you ok honey? aku daritadi cemas, kamu dimana sekarang? ". Meski suara nya tetap lembut namun ada nada khawatir dalam tutur kata nya.
" Aku lagi jalan pulang, bareng Mega. Maaf tadi sengaja ga bawa ponsel ke floor biar bisa fokus kerja karena ada event imlek sebentar lagi, jadi tadi bikin ornamen hiasan yang akan dipajang mulai besok ". Naya menjelaskan dengan suara pelan, sejujurnya hari ini sangat melelahkan bagi nya tapi ada hati yang harus ia jaga disana, dan hati nya juga sedang membutuhkan booster agar kembali semangat.
" Alhamdulillah, syukur lah.. Hati-hati, aku telepon lagi jika sudah sampai di kost-an yaa ". Mahen merasa lega, kekhawatiran nya tak terjadi.
15 menit perjalanan dari mall, akhirnya mereka berdua sampai di kost-an. Naya langsung masuk kamar dan bersih-bersih sebelum Mahen menghubungi nya lagi. Makanan dari Mega dan Bu Rahma sudah ada dalam kamarnya dengan kondisi hangat. Sepertinya kedua sahabat nya tak ingin mengganggu nya malam ini. Naya merasa hari ini begitu dimanjakan meski suasana hati nya sedang tak baik. Saat ia sedang menyantap salad kesukaan nya, pintu kamar nya diketuk oleh Bu Rahma.
" Non.. ada paket tadi siang, Ibu taro di atas rak sepatu yaa. Jangan sedih lagi ya Non, Ibu sayang Non Naya selalu ". Tak lama terdengar suara langkah kaki Bu Rahma menjauh dari kamarku. Maafkan aku Bu, aku lelah malam ini. Lirih nya.
Selepas kepergian Bu Rahma, Naya membuka pintu kamar nya lalu mengambil paket yang diletakkan oleh Bu Rahma tadi. Karena penasaran, ia langsung membuka paket nya yang ternyata isinya............
Belum terjawab rasa keheranan nya, ponsel Naya telah berbunyi kembali.
Siapa ini? apa maksudnya?
__ADS_1