Dia.. Pilihan Untuk Ku

Dia.. Pilihan Untuk Ku
TERLEPAS


__ADS_3

Kediaman Orang tua Naya.


" Begini Zaid, kami kembali kemari untuk memperjelas dan melanjutkan niat kita berdua 4 bulan yang lalu tentang mendekatkan kedua anak kita untuk menuju ke sebuah ikatan pernikahan. Nampak nya Bagas, memang sudah bulat tekad melanjutkan ini, maka kami akan meminta ketetapan hari kepada keluarga mu untuk melangsungkan acara lamaran dan walimah nya.. Benar begitu kan, Bagas? ". Ayah Bagas, menjelaskan panjang lebar maksud kedatangan mereka malam itu kepada Abah Naya. Disaksikan oleh ka Amir yang tampak gelisah mendengarkan langkah selanjutnya dari sang Abah.


" Betul ayah.. Aku sudah berniat dari awal bahwa aku serius dengan Naya ". Sambung Bagas menanggapi perkataan Ayah nya tadi.


" Aku akan meminta persetujuan Naya lebih dulu, jika di masa yang lalu aku memutuskan secara sepihak maka kali ini aku perlu meminta izin nya. Karena menikah adalah ibadah seumur hidup, naka niat nya harus teguh agar kehidupan setelah menikah nanti bisa lebih mudah dijalani oleh kalian berdua.. Tentang permintaan ku tempo hari pada nak Bagas, susah kah diselesaikan? ". Kali ini Abah lebih bijaksana, bukan karena kasihan dengan Naya tapi sesungguhnya dia justru sangat khawatir akan terjadi sesuatu hal di masa depan. Entahlah, akhir-akhir ini Abah kerap kali mendapat firasat yang tidak mengenakkan.


" Alhamdulillah sudah Om". Jawab Bagas nampak meyakinkan meski didalam hati nya ia ragu, wanita yang ia tinggalkan sudah menemani nya dari awal ia berkarir namun masih terganjal restu ibu nya, itulah mengapa Bagas belum membawa kekasihnya bertemu dengan keluarga besarnya.


" Amir, panggilkan Naya ". Titah Abah pada ka Amir yang sedari tadi diam mendengarkan percakapan yang membuat nya susah untuk menelan ludah karena khawatir terhadap masa depan adik kesayangan nya.


" Baik ". Jawab ka Amir lalu ia bangkit dan masuk ke dalam untuk memanggil Naya. Tok.. tok..


" Neng.. Naya.. Di panggil Abah kedepan.. Ka Amir masuk dulu donk, mau ngomong nieh ". Ka Amir berdiri di depan pintu kamar Naya sambil berbicara pelan berharap adiknya itu membukakan pintu untuk nya.


" Masuk Ka, ga dikunci ". Sahut Naya dari dalam kamar.


" Bagas melamar mu, Abah meminta persetujuan kamu.. Sudah istikharah belum? apa jawaban nya? ". Ka Amir langsung bertanya sekaligus menjelaskan maksud percakapan kedua orang tua nya diruang tamu tepat setelah ia masuk ke dalam kamar Naya.


" Serius tuh orang ka? Tapi aku ga suka, dia pemaksa dan agak kasar, aku harus menjawab apa? .. Aku sudah istikharah tapi ga ada jawaban.. Oiya ka, aku pernah bermimpi ada seorang pria datang menolong ku dari ruangan gelap, menuntun ku untuk kembali berdiri menuju arah cahaya kemudian aku dipertemukan oleh nya dengan seorang wanita paruh baya yang memelukku erat, entah siapa aku tak kenal.. Kalau itu, apa artinya ka? ". Naya menjelaskan tentang mimpi nya beberapa waktu lalu, mimpi aneh yang tak ia mengerti. Ia juga cemas kali ini apakah harus menerima sedangkan hati nya menolak, teringat akan nama baik keluarga nya sedang dipertaruhkan. Abang... kenapa kamu yang terlintas dipikiran ku saat ini.


" Entahlah, aku tak begitu paham tafsir mimpi, lagipula itu mungkin hanya bunga tidur. Sudahlah, ayok kita keluar. Siapkan jawaban terbaik mu.. Ka Amir harap, kamu sudah memutuskan matang-matang dan jangan sampai menyesal ". Ka Amir mengajaknya keluar menemui tamu mereka.


Setelah Naya duduk disamping Abah, ia masih saja menundukkan pandangan nya. Naya bahkan tak berani menatap Abah nya tadi.


" Naya, nduk.. Kamu tau maksud keluarga Nak Bagas kemari malam ini kan? Nah apa jawaban mu setelah 4 bulan ini kalian saling mengenal? Kamu mantep? ". Abah bertanya hati-hati sambil menatap lekat Naya yang duduk disamping nya. Ada rasa trenyuh melihat nya kini, anak gadis yang sangat mirip dengan istri tercinta nya kini telah tumbuh dewasa tanpa kasih sayang nya selama 3 tahun ini. Seketika beberapa bulir air mata Abah menetes membasahi lantai dan Naya melihat nya.


" Aku meminta waktu untuk memutuskan ini, karena sejujurnya aku tak siap. Semoga permintaan ku bisa Bapak penuhi. Dan juga, apapun keputusan ku nanti ini sepenuhnya adalah pilihan ku, tidak ada paksaan apapun dari keluarga ku ". Berbeda dengan sebelum nya, kali ini ada perasaan takut saat Naya mengutarakan isi hati nya didepan keluarga Bagas.


" Kami beri waktu 3 hari dari sekarang, bagaimana? ". Sambung ayah Bagas membuka suara.


Setelah Naya menerima keputusan jeda waktu 3 hari yang diberikan, keluarga Bagas kembali pulang. Abah kemudian mengajak Naya berbicara berdua di ruangan itu. Abah tak ingin Naya membuat keputusan karena terpaksa harus berbakti pada orang tua, hingga pada akhirnya Naya mengetahui bahwa Abah nya bukan sedang membenci nya, melainkan menjaga Naya dari sebuah pesan misteri yang di titipkan oleh ummi nya dulu sebelum wafat. Naya terisak, menangisi segala kesalahpahaman terhadap Abah nya. Tanpa bisa ditahan lagi, kali ini mereka melepas segala ego dengan berpelukan erat, sebuah pelukan rindu yang mendalam yang mampu membuat airmata siapapun yang melihat moment ini akan jatuh menetes.


3 hari kemudian. Keluarga Bagas datang berkunjung kembali. Kali ini, mereka membawa rombongan keluarga besar. Entah tujuan nya untuk menekan Naya atau ada maksud lain.


" Bismillah, saya sangat berterimakasih karena sudah memilih keluarga ku, terutama aku untuk menjadi calon menantu Bapak dan Ibu. Tapi seiring waktu yang sudah aku dan ka Bagas lalui.. Aku... Mohon maaf, belum bisa menerima pinangan ka Bagas saat ini karena ". Belum selesai Naya melanjutkan alasan nya menolak pinangan Bagas, terdengar suara seorang wanita memanggil nama Bagas dari teras rumah.


" Assalamu'alaikum.. Mas Bagas disini kan? aku mau ketemu sebentar boleh? tolong ". Pinta wanita asing ini pada Mang Jimin, ART keluarga Naya.

__ADS_1


Karena terdengar suara keributan antara Mang Jimin yang menolak wanita ini masuk, maka ka Amir keluar untuk memeriksa.


" Den.. Ini ada yg cari Den Bagas ".


" Mba darimana? siapa nya Bagas? ". Tanya ka Amir sopan.


" Aku kekasih sekaligus istri siri nya Bagas.. Boleh aku masuk? jangan sampai adikmu jadi korban.. please izinkan aku ". Wanita ini berkata dengan nada memohon.


Ka Amir yang terkejut mendengar berita ini, akhirnya mengizinkan wanita ini masuk.


" Bagas... Kamu beneran tega sama aku ". Tangis wanita ini pecah begitu memasuki ruangan dan melihat Bagas. Sedangkan Bagas nampak sangat shock melihat nya.


" Mba.. duduk dulu, jelaskan baik-baik.. Silahkan ". Ka Amir mencoba menenangkan wanita ini sekaligus memandang Abah nya sambil mengangguk samar, agar Abah nya tenang.


" Apa-apa an ini, Zaid, kamu jangan macam-macam.. Menolak yaa menolak saja ga perlu ada drama segala ". Ayah Bagas murka. Sedangkan Bagas nampak gelisah menundukkan kepala dibawah tatapan tajam ibu nya.


" Kamu, Mba.. jelaskan maksud kedatangan mu kesini, seenak nya merusak acara keluarga ku.. Jangan sampai kamu berdusta dan menebar fitnah, karena aku tak segan menyeret mu ke jalur hukum ". Ancam Abah kemudian.


" Baik. Terimakasih Pak. Aku Nadia, kekasih sekaligus istri siri Bagas.. Kami menikah 4 bulan yang lalu secara siri di desa manislor, dinikahkan oleh Bapak Syarif petugas KUA setempat, beliau bersama ku malam ini dan menunggu diluar jika anda ingin konfirmasi langsung, disaksikan Ibu dan kakak ku serta kerabat dekat.. Ini copy surat bukti pernikahan siri kami, dan beberapa foto dokumentasi nya.. Silahkan jika anda ingin memastikan ". Nadia menjelaskan secara rinci. Tampak kedua orang tua Bagas shock akan berita ini. Bisik-bisik keluarga besar nya mulai menguar terdengar jelas ke telinga siapapun yang ada dalam ruangan tersebut.


Kemudian, Abah meminta pak Syarif masuk menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Hingga tibalah saat berita kedua yang disampaikan Nadia, tak kalah mengejutkan semua orang yang ada diruangan itu.


" Sayang.. Kamu hamil? ". Suara Bagas akhirnya terdengar, nampak nada nya bergetar karena menahan rindu atau entah rasa bahagia yang belum bisa dia lepaskan karena situasi dan kondisi nya tak memungkinkan.


" Kamu.. Hamil.. Cucu ku? ". Kali ini suara Ibu Bagas ikut larut dalam percakapan mereka.


Abah dan ka Amir memutuskan untuk memberikan ruang bagi keluarga Bagas menyelesaikan segala nya lalu mengajak Naya untuk ikut masuk kedalam.


Terdengar isak tangis Ibu dan Nadia serta kemarahan Ayah Bagas atas kejadian ini. Hingga akhirnya mereka pamit, meminta maaf atas segala kekacauan malam ini dan membatalkan rencana pernikahan Naya dan Bagas karena mereka memutuskan akan menikahkan Bagas secara resmi dalam waktu dekat mengingat ada calon cucu yang akan lahir sebentar lagi. Keluarga Naya mengucapkan banyak syukur atas kejadian ini. Abah nampak memeluk Naya sambil tak henti mengucapkan kata maaf.


Didalam mobil, saat perjalanan pulang ke kota mereka.


" Sayang, kamu sudah sangat berani merusak rencana Tuan Danu, kita harus siap dengan resiko nya kali ini.. Aku akan melindungi kalian berdua, maafkan aku yang pengecut ini.. Sebenarnya bukan aku yang bersalah, kamu tau kan, tapi dia memanfaatkan keadaan sulit ku saat ini.. Maafkan aku Nadia sudah menyakiti mu ". Akhirnya tangis Bagas pecah juga.


" Mas Bagas, bukannya mengirimkan seseorang untuk menjaga ku yaa? orang itu bilang dia teman mas Bagas, dia yang selama ini menjaga ku, merawat kehamilan ku dan menjamin keselamatan kita berdua dari Tuan Danu ". Nadia akhirnya mengutarakan rasa penasaran nya, siapa orang yang menjaga nya dengan ekstra selama ini? melimpahi nya dengan kemewahan dan kenyamanan agar Nadia bisa datang malam-malam ke kota ini.


" Aku tidak mengirimkan siapaun sayang, aku tidak punya teman dengan koneksi luar biasa seperti ini? kamu yakin dia tak ada maksud lain? ". Tanya Bagas kembali khawatir jika malam ini mereka baru saja lepas dari lubang buaya, lalu esok nya masuk ke mulut singa, rasanya semua bahagia ini sia-sia, pikir Bagas.


" Tidak, dia hanya minta aku menceritakan tentang kita, tentang anak kita tanpa menyebutkan ancaman Tuan Danu.. Bahkan dia juga bilang, akan membebaskan mu dari ancaman video itu dan tetap menjaga kita hingga Tuan Danu menyerahkan diri Mas ". Nadia kembali terisak, khawatir jikalau video Bagas tersebar sampai ke atasan nya, maka karir Bagas akan tamat.

__ADS_1


" Kamu ingat ciri-ciri orang nya seperti apa sayang? Dia pasti bukan orang sembarangan ". Bagas memutar otaknya, berpikir keras namun tetap tak menemukan titik terang.


" Dia hanya bilang, Captain.. Captain apa gitu.. Aku lupa ".


" Yang penting kamu aman dulu.. Aku akan secepatnya mengajukan berkas kelengkapan untuk proses pernikahan kita ke kantor.. selanjutnya memikirkan agar kamu dan calon anak kita aman ". Bagas mengucapkan syukurnya dalam hati, setidaknya masih ada orang baik yang mau membantunya kali ini, meskipun sesungguhnya ia risau apakah bantuan dari orang asing ini tulus atau ada maksud tersembunyi. Tapi ia tetap berniat akan membalas budi baiknya jika mengetahui sosok dibalik ini semua kelak.


***


Kamar Naya. Menjelang jam 1 dini hari. Naya tak bisa tidur merunut kejadian demi kejadian yang membingungkan nya. Tentang pesan misteri ummi yang bagi nya masih belum menemui titik terang. Tapi setidaknya Naya merasa lega, kali ini masalah selesai dengan membawa dampak membaiknya hubungan dengan Abah, meski saat Naya mengutarakan ingin tetap hidup mandiri sempat ditentang kembali oleh Abah. Lama Naya termenung, hingga lampu hijau tanda notifikasi ada pesan masuk berkedip di ponsel nya yang ia silent sedari sore tadi membuyarkan lamunan nya. Perlahan Naya meraih ponselnya dan menekan tuts pesan di kotak masuk.


" Hai, Assalamu'alaikum.. Maaf ganggu kamu malam ini, eh sudah pagi yaa... Aku tak bisa tidur.. Beberapa hari ini aku menahan untuk tak berkirim pesan pada mu tapi makin hari rasanya makin berat saja.. Semoga kamu baik-baik disana yaa ". Isi sebuah pesan yang masuk ke ponsel Naya.


" Wa'alaikumsalam.. Aku belum tidur, tepat nya tak bisa tidur karena baru saja terjadi tragedi dirumah ku.. Alhamdulillah kali ini semua selesai tanpa ada yang tersakiti kembali, seharusnya aku mengucapkan syukur pada Allah yaa bukan bengong begini ". Balas Naya kemudian.


" Tragedi apa jika aku boleh tau? Kamu terluka? ".


" I'm fine, thanks.. Nanti saja, akan aku ceritakan ".


" Syukurlah.. Baik Nyonya. Aku sedang dirumah orang tua ku, minggu ini aku free hingga awal tahun nanti.. Kalau aku ke sana, kamu harus nya ada waktu buat ku kan? ".


" Selalu begitu.. Kamu harusnya ada waktu buat ku kan? ini bukan pertanyaan tapi ajakan paksa namanya wahai Tuan Mahen yang terhormat ".


" Abaikan pertanyaan nya, yang penting jawaban nya? So... What do you say? ".


" Belum tau.. Karena akhir tahun pasti management butuh bantuan untuk Stock Opname dan sebagainya ".


" You must be a good runner, given the fact that you are keep running in my mind.. Besok aku kesana, see you "..


" Just the way i am.. I really appreciate it, but.. Aku kabari nanti, jangan memaksa lagi atau aku blokir.. Gutnite ".


" Ancaman ga mempan.. Tunggu aku besok ". Mahen mengakhiri pesannya dibarengi dengan perasaan was-was jika Naya benar-benar akan memblokir nomor nya.


" Rey.. Aku menuju letter E besok, aku akan menjenguk Rendy, konon kabar nya kondisi kesehatan nya sedang menurun. Sekaligus ingin membuat penawaran dengan Danureksa, kamu ikut? ". Mahen mengirimkan info ke Rey agar besok bersiap pergi menemani nya sekaligus menyiapkan segala keperluan di kota itu.


" I'm in Bos ". Balas Rey cepat, baru saja ia akan tidur dan merencanakan sebuah liburan, tapi sang Bos mengajaknya bekerja kembali. Candi, kemana anak itu, Rey tiba-tiba merindukan nya. Besok aku datang, Candi...


__________________________


Masalah masih berserakan dimana-mana. Rey, ehheem, naksir siapa nieh?

__ADS_1


__ADS_2