
Iring-iringan tiga buah mobil berhenti di halaman parkir RR Eksportir. Rainun dan rekan yang sudah dari tadi menunggu di lobi kemudian keluar untuk menyambut rombongan dari Hendrawan's Company. Semua rekan Rainun terlihat sangat antusias kecuali Rainun, ia terlihat biasa saja.
"Kalian belum tau saja bagaimana sikap si mister tengil. Dingin dan menyebalkan" Batin Rainun yang melihat keantusiasan rekan-rekannya.
Sakha keluar dari mobilnya di dampingi Toni, sekretaris, seorang staf dan tiga orang body guard. Semua mata tertuju pada Sakha kini.
"Astagaa tampan sekali" Celetuk Indah lirih namun masih terdengar oleh Rainun yang berada di sebelahnya. Rainun yang mulanya bengong karna terpesona itu tersadarkan dengan celetukan dari Indah.
Tak di pungkiri, menurut Rainun pun Sakha adalah pria yang menawan. Wajahnya terlihat tampan dan maskulin di saat bersamaan. Wajahnya yang bersih tanpa kumis dan jambang, alis tebal, hidung yang mancung serta garis rahang yang tegas menjadi daya tarik yang membuat kaum hawa akan terpesona saat memandangnya.
"Selamat pagi, selamat datang di kantor RR Eksportir bapak dan ibu sekalian" Sambut Rainun.
"Selamat pagi" Jawab rombongan tersebut kecuali Sakha, ia hanya mengangguk sekilas. Rainun bergidik saat tak sengaja bertatapan netra dengan Sakha.
"Kenapa tatapannya tajam dan dingin sekali. Ya Tuhan aku sampai ngeri" Batin Rainun.
Mereka kemudian masuk dan menuju ke ruang meeting. Mereka berbincang mengenai perusahaan, dan kontrak kerja sama yang akan kedua belah pihak tanda tangani. Sesekali Sakha mencuri pandang ke arah Rainun. Tak jarang juga netra mereka bertemu yang membuat mereka berdua gelagapan saling membuang pandang.
Saat Rainun fokus mempresentasikan mengenai barang-barang yang mereka ekspor baik dari petani maupun hasil produksi UMKM, semua serius memperhatikan.
"Cantik dan cerdas" Batin Sakha. Ia memandang tajam ke arah Rainun yang sedang berbicara. Seulas senyum tipis muncul dari bibirnya. Hal itu luput dari pandangan semua orang kecuali Toni. Ia melihat gerak gerik aneh dari si bos yang begitu lekat memandang CEO RR Eksportir, membuat ia pun akhirnya mengulum senyum.
Setelah selesai menandatangani kontrak kerjasama, Sakha dan rombongan kemudian di ajak melihat-lihat proses sortir dan persiapan ekspor. Mereka berkeliling sembari mendegarkan Adi dan Surya yang menjelaskan secara bergantian. Dua puluh menit sudah mereka berkeliling, rombongan HC pun akhirnya pamit pulang.
Di perjalanan...
"Apakah aku tadi tidak salah lihat bos?" Tanya Toni memulai percakapan.
"Maksudmu?" Sakha balik bertanya.
"Beberapa kali aku melihat kau tersenyum dan memandang begitu lekat ke arah nona Rainun" Ujar Toni yang mengulas senyuman.
"Tidak" Jawab Sakha yang mencoba menyembunyikan kekagetannya karena ternyata Toni memerhatikannya.
"Aku hanya memperhatikan penjelasannya" Lanjut Sakha berkilah.
"Tetapi tatapan dan senyummu berbeda" Cecar Tomi.
"Tidak, itu hanya perasaanmu saja" Jawab Sakha.
"Aku sangat mengenalmu bos" Ucap Toni yang tertawa kecil. Sakha hanya membuang pandang ke jalanan saat Toni mencoba kembali mendesaknya.
***********************
Keriuhan terjadi di kantor RR Eksportir sepeninggal rombongan HC. Semua rekan berbahagia akan pencapaian baru yang perusahaan mereka dapatkan. Mereka saling memeluk dan mengucapkan selamat satu sama lain. Persepupuan itu sangatlah rekat hubungannya.
"Alhamdulillah. Semoga dengan penandatanganan kontrak hari ini, akan membawa kejayaan untuk perusahaan kita kedepannya" Ucap Rainun.
"Tapi kenapa CEO HC tak banyak bicara ya?" Celetuk Indah.
"Iya, ekspresi wajahnya juga dingin seperti kulkas" Fitri menimpali.
"Lebih baik dia diam. Karna saat membuka mulut, kata-katanya akan terasa mencubit ginjal" Ucap Rainun. Jadilah mereka malah menggibah CEO HC itu.
"Sudah-sudah. Jangan menggibah seperti itu. Nanti telinga orang yang kalian bicarakan mendengung kencang" Ucap mbak Salma mengingatkan sambil tertawa. Mereka bertiga akhirnya ikut tertawa mendengar perkataan mbak Salma.
"Bagaimana jika kita menjadwalkan Family Gathering setiap tahunnya?" Usul Ani pada rekan-rekannya yang masih berkumpul.
__ADS_1
"Aku setuju. Itu akan mengembalikan semangat para pegawai" Seru Indah semangat.
"Aku juga. Selain itu akan semakin mempererat hubungan kita dengan para pegawai" Ujar Bara menimpali.
"Baiklah. Mas Surya dan Mbak Ani tolong atur jadwalnya ya" Ucap Rainun sambil tersenyum lebar. Ia sangat bahagia melihat kebahagiaan rekan-rekannya. Tak lupa ia selalu bersyukur karena di anugerahi rekan dan pegawai yang solid dan kompak.
"Ah, aku harus mengabarkan ini pada bang Ehan dan kak Sofia. Berkat bantuan kak Sofia juga aku bisa menjalin kerja sama dengan HC" Gumam Rainun. Dia kemudian pamit untuk keluar ruang meeting terlebih dahulu.
Rainun mengambil ponselnya dari dalam tas. Mencari sebuah nama untuk dihubungi.
Tuuutttt....
Tuuutttt....
"Halo dik" Jawab pria di ujung telefon.
"Aku punya kabar gembira bang" Ujar Rainun bersemangat.
"Hmmm. Kabar gembira apa?" Tanya Raihan.
"RR Eksportir dan HC kini sudah resmi bekerja sama" Jawab Rainun girang.
"Waah selamat yaa. Bagaimana kalau esok kita rayakan? Kebetulan esok kan weekend. Abang yang traktir" Usul Raihan
"Serius bang? Baiklah aku setuju. Aku akan menghubungi kak Sofia kalau begitu. Karena semua ini juga berkat bantuan dari kak Sofia" Ujar Rainun.
"Iya iya. Yasudah kalau begitu hubungilah Sofia" Perintah Raihan.
"Baiklah, sampai bertemu dirumah" Kata Rainun lalu mematikan panggilannya. Rainun kemudian beralih mencari nama calon kakak iparnya.
Tuuttt....
"Halo Rai, ada apa?" Tanya Sofia begitu mengangkat telefon.
"Terima kasih ya kakakku sayang. Berkat bantuan kak Sofia, aku bisa berelasi dengan HC" Ujar Rainun bahagia.
"Sudah resmi? Waah selamat yaa sayang. Semoga semakin berkembang perusahaanmu kedepannya" Ucap Sofia tak kalah girang.
"Terima kasih kak. Oh iya, besok kakak ada acara?" Tanya Rainun.
"Besok ya? Hmmm kebetulan kakak free. Ada apa?" Sofia balik bertanya.
"Cucok kalau begitu. Bang Ehan mengajak untuk merayakan keberhasilan ini. Dia yang akan traktir katanya" Jelas Rainun.
"Mmm baiklah, kita bertemu esok" Jawab Sofia.
"Baiklah. Sampai bertemu besok ya kak" Ujar Rainun lalu mematikan panggilan.
************
Ceklek...
Terdengar suara pintu terbuka. Sofia yang sedang fokus menggambar desain gaun pengantin pesanan kliennya tak sadar ada seorang pria masuk ke dalam ruangannya.
Pria itu mengendap-endap lalu duduk sepelan mungkin agar tak menimbulkan suara di sofa yang berada di ruangan Sofia sembari memandang Sofia yang sibuk dengan karya nya. Sudah sepuluh menit menunggu tetapi Sofia masih tak menyadari kehadirannya. Akhirnya pria itu pun membuka suara.
"Kau tak sadar ada penyusup kemari?" Tanya pria itu. Sofia terperanjat saat mendengar suara pria yang sudah duduk santai di sofa ruang kerjanya.
__ADS_1
"Dasar bocah tengil. Mengagetkan saja. Kenapa tak permisi saat masuk!" Ujar sofia sambil melempar pulpen ke arah pria itu.
"Apa yang kau lakukan di sini? Dari mana kau tau letak butikku?" Tanya Sofia bertubi-tubi.
"Aku bosan di kantor. Aku hanya ingin mengunjungi kakakku" Jawab pria itu santai.
"Hmmm apa kau lupa siapa aku? Apa yang tak aku ketahui kak?" Lanjut pria itu malah balik bertanya.
"Ternyata kau bisa juga bosan kantormu yang besar itu. Katakan padaku, apakah kau cenayang? Dari mana kau tau hal-hal yang tak pernah kau tanyakan? Atau kau mafia yang memiliki banyak mata-mata ya?" Cecar Sofia yang perlahan berjalan mendekat. Tamu tak di undang dihadapannya ini adalah Sakha.
"Cepat jawab pertanyaanku. Aku hampir mati penasaran sejak aku berkunjung ke kantormu tempo hari" Lanjut Sofia yang kini mengepalkan tangan hendak meninju pria di depannya itu.
"Baiklah - baiklah. Aku memang memiliki banyak mata-mata dan informan. Tetapi aku bukanlah mafia" Jawab Sakha.
"Saat ini tak mudah menjalankan bisnis yang ku geluti ini tanpa adanya informan dan mata-mata" Timpalnya lagi.
"Kau tau, kau adalah orang yang berbeda seratus delapan puluh derajat saat sedang bekerja. Aku sampai merinding kau buat. Kau menyeramkan bak mafia kejam di film-film" Ucap Sofia yang masih bergidik. Sakha hanya tertawa melihat reaksi Sofia.
"Kau tadi habis berkunjung ke RR Eksportir ya?" Tanya Sofia.
"Iya. Pasti Rainun yang memberi taumu" Jawab Sakha.
"Mmm kak. Apakah Rainun pernah memberikan pendapatnya tentang aku?" Tanya Sakha mulai serius.
"Tidak" Jawab Sofia bohong. Dia sedang mencoba memancing Sakha. "Kenapa kau tanya begitu? Kau menyukainya?" Telisik Sofia.
"Tidak, bukan begitu. Aku hanya bertanya saja" Jawab Sakha sedikit gelagapan.
"Jika iya pun tak apa. Dia gadis yang baik" Kata Sofia tersenyum.
"Apa kegiatanmu sore ini kak?" Tanya Sakha mengalihkan pembicaraan.
"Aku mau ngegym. Sepertinya kau mengalihkan pembicaraan" Jawab Sofia curiga. Kini ia kembali fokus menggambar desain gaun pengantin.
"Tidak. Kalau begitu aku akan ikut denganmu" Ujar Sakha sambil membuka laptop yang selalu ia bawa.
"Baiklah" Jawab Sofia singkat.
"Kalau besok, kau akan kemana?" Tanya Sakha lagi.
"Apa kau ingin menjadi sekretarisku hah? kau tanyakan semua kegiatanku!" Seru Sofia sedikit kesal.
"Apa kau sedang pms? Kenapa marah-marah? Akukan hanya bertanya" Ujar Sakha tak kalah kesal.
"Aku besok ada acara bersama calon suami dan calon adik iparku" Jelas Sofia.
"Rainun?" Seru Sakha yang tiba-tiba bersemangat.
"Iya. Kenapa? Kau mau ikut?" Tanya Sofia.
"Tidak. Nanti aku mengganggu waktu kalian" Jawab Sakha memelas.
"Ya, itu kau tau" Ujar Sofia cuek.
"Aaahh kak Sofia" Seru Sakha sambil membalikkan badannya. Sofia hanya mengedikkan bahunya melihat Sakha yang tiba-tiba ngambek.
Mereka pada akhirnya sama-sama larut pada pekerjaan masing-masing. Sofia sibuk mendesain gaun sedangkan Sakha sibuk mengecek pekerjaan di laptopnya.
__ADS_1