Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
37. Apartemen


__ADS_3

Tinut


Suara pintu apartemen yang terbuka. Sakha kemudian mempersilahkan gadisnya masuk terlebih dahulu.


"Apartemenmu luas kak, terasa nyaman" Rainun takjub dengan desain interior apartemen Sakha yang terkesan mewah.


"Tinggalah di sini bersamaku jika kau nyaman" Sakha tersenyum. Rainun memonyongkan bibirnya meledek Sakha.


"Waah ini foto yang aku kirimkan" kata Rainun ketika melihat foto Sakha yang ia kirim terpajang di ruang keluarga. Ia masih saja terpesona ketika melihat foto Sakha itu.


"Iya kau benar" kata Sakha


"Di mana baju - baju yang akan kau bawa? Ayo caepat berkemas, ini sudah sore" kata Rainun. Sakha lalu menarik tangan kekasihnya menuju ke kamarnya.


"Itu ada di dalam lemari" kata Sakha menunjuk sebuah lemari yang cukup besar.


"Ayo cepat pilih baju mana yang akan kau bawa" kata Rainun yang kini menyeret Sakha.


"Kau saja yang memilihkan. Aku sedang malas berkemas sayang makanya aku memintamu membantuku" kata Sakha yang kini malah merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


"Iih dasar kau ini" sungut Rainun. Ia lalu membuka lemari Sakha. Memilih - milih pakaian yang akan di pakai Sakha. Ia kembali di buat takjub melihat pakaian Sakha yang tersusun begitu rapi.


"Apa saja yang mau kau bawa?" tanya Rainun.


"Kemeja, setelan jas, piyama, kaos panjang, celana panjang juga jaket tebal, di sana sedang musim dingin" dikte Sakha. Rainun mulai memilih - milih pakaian di lemari Sakha. Ia mengeluarkan beberapa setelan jas, pakaian santai juga kemeja sesuai permintaan kekasihnya.


"Kau bahkan tak punya banyak warna baju. Kenapa isi lemari ini dominan dengan warna yang gelap sih, kan kurang seru" celoteh Rainun.


"Aku tak suka warna yang macam - macam" sahut Sakha.


"Kalau begitu akan ku buat kau memakai baju beraneka warna nanti" ujar Rainun sambil tersenyum jahat. "Apakah baju - baju ini sudah cukup?" tanya Rainun yang sudah memilih beberapa baju.


"Jika kurang nanti aku akan memintamu mengantarkan pakaianku ke Jerman" gurau Sakha. Ia lalu beranjak mengambil kopernya.


"Kalau begitu bawa saja satu stel jas ini. Sisanya biar aku yang mengantarnya ke Jerman" jawab Rainun tak kalah jahil yang membuat kedua orang itu terkekeh.


Rainun kemudian menyusun pakaian - pakaian yang sudah ia pilih ke dalam koper Sakha. "Kak, kau masukan sendiri underwaremu. Aku akan mengambilkan sepatumu" perintah Rainun. Rainun kemudian menuju ke rak sepatu yang berada di dekat pintu masuk, sedangkan Sakha membereskan underware nya.


"Di mana perlengkapan mandimu?" tanya Rainun. Sakha kemudian mengambil perlengkapan mandi khusus untuk perjalanan miliknya. "Ambil juga handuk dan kaus kakimu kak" Imbuh Rainun


"Kau tampak lihai menyiapkan keperluanku" puji Sakha yang melihat Rainun sangat teliti.


"Aku sering di minta bang Ehan untuk menyiapkan keperluannya saat dia akan pergi ke luar kota atau luar negri" kata Rainun yang masih sibuk menyusun barang - barang Sakha dengan rapi. Ia juga mengecek kembali satu persatu barang - barang yang akan di bawa.


Sakha kemudian duduk di samping Rainun. Mengusap - usap kepala Rainun.


"Aku akan menyiapkan makan. Kau belum makan siang" kata Sakha yang melihat jam sudah pukul empat sore.

__ADS_1


Rainun membereskan pekerjaannya, lalu menyusul Sakha ke dapur.


"Kau masak apa?" tanya Rainun yang tiba - tiba memeluk Sakha dari belakang.


"Aku masak steak. Hanya bahan untuk membuat steak yang tersisa di lemari es ku" kata Sakha tersenyum.


"Apa kau terbiasa memasak sendiri? Aku bahkan tak pandai masak" kata Rainun sedih.


"Iya aku selalu memasak sendiri jika berada di rumah. Kau tak perlu khawatir, biar aku saja yang menyiapkan makanan untukmu sayang" ujar Sakha lembut.


"Aku ingin seperti ini lebih lama" kata Rainun yang masih memeluk Sakha dari belakang. Ia mengikuti setiap langkah dan pergerakan Sakha.


"Lebih baik kau duduk di sana, kau akan lelah mengikuti pergerakanku" pinta Sakha sambil menunjuk meja makan minimalis yang langsung menghadap ke dapurnya.


Rainun yang penurut itu menuruti perintah Sakha. Sebelum duduk, Rainun membuka lemari es dan mengambil sebotol minuman dari sana.


"Kau mau minum?" tanya Rainun yang kembali mendekat pada Sakha. Tanpa menerima jawaban, Rainun langsung saja menyuapkan minuman itu pada Sakha.


"Terima kasih. Duduklah di sana sayang" perintah Sakha setelah meminum minuman yang disuapkan oleh Rainun.


"Baiklah - baiklah" kata Rainun yang terkekeh melihat Sakha kesulitan bergerak di dapur minimalisnya karena terus ia buntuti.


Rainun kemudian duduk dengan manis dan memperhatikan kekasihnya yang sedang memasak.


"Bagai mana nanti saat kita menikah, kau pulang kerja dan kelaparan sedangkan di rumah tak ada makanan karena aku tidak bisa memasak?" tanya Rainun.


"Kau tak akan marah?" tanya Rainun lagi.


"Tidak, aku tak akan marah sayang. Selagi ada alternatif lain, buat apa di permasalahkan?" Sakha tersenyum. Di balik sikapnya yang dingin, Sakha adalah tipe pria yang meratukan wanitanya.


Tidak lama kemudian, makanan yang di masak Sakha sudah siap. Steak lengkap dengan sayur dan kentang goreng. Aromanya begitu menggugah selera.


"Boleh aku makan?" tanya Rainun yang sudah tidak sabar.


"Silahkan di nikmati nona" jawab Sakha. Ia kemudian menuangkan air putih di gelas dan menyiapkannya untuk Rainun.


Rainun memotong daging dan mulai memakannya. Sejenak ia membulatkan matanya.


"Ada apa? Apakah rasanya aneh?" tanya Sakha yang melihat ekspresi Rainun.


"Kak, ini enak" kata Rainun girang. Ia lalu dengan lahap memakan makanan yang di masak Sakha. Sakha tersenyum melihat kekasihnya yang menyukai masakannya itu.


Setelah makan, Rainun membereskan piring, gelas, juga peralatan masak yang di pakai Sakha. Ia mencuci dan mengembalikan barang - barang itu pada tempatnya lagi. Kemudian ia menyusul Sakha yang sedang berada di ruang keluarga.


"Kemarilah" kata Sakha menarik Rainun untuk duduk di dekatnya. Ia kemudian merebahkan badannya dan meletakkan kepalanya di pangkuan Rainun.


"Kau baru saja makan, kenapa sudah tiduran seperti ini" kata Rainun.

__ADS_1


"Aku ingin seperti ini sebelum berpisah agak lama denganmu" kata Sakha.


Mereka kemudian menonton film yang di putar oleh Sakha sambil memakan makanan ringan juga minuman.


Tinut...


Suara pintu apartemen Sakha terbuka, namun dua orang yang sedang menonton film itu tak sadar dengan kedatangan Toni.


"Astaga bos. Kau belum bersiap?" Suara Toni mengagetkan. Sakha yang mendengar suara Toni seketika langsung terduduk.


"Maaf kan saya bos. Saya kira bos sendirian di sini" kata Toni yang melihat Rainun ada di sana.


"Kau juga, kenapa tak memencet bel" kata Sakha.


"Ya habisnya aku terbiasa langsung masuk ke apartemenmu bos" jawab Toni tidak enak.


"Baiklah kalau begitu aku akan menunggumu di bawah. Segeralah bersiap, pesawat kita pukul delapan malam" kata Toni sambil meninggalkan Sakha dan Rainun yang masih mematung.


"Segeralah mandi kak, ini sudah hampir pukul enam" perintah Rainun setelah ia melihat jam.


"Baiklah, aku akan bersiap. Ah padahal aku masih ingin lebih lama denganmu" gerutu Sakha. Ia kemudian pergi menuju ke kamarnya sementara Rainun membereskan sisa makanan dan minuman di ruang keluarga.


Tak lama kemudian Sakha keluar kamar dengan kondisi yang sudah rapi.


"Aku akan mengantarmu ke bandara" kata Rainun.


"Lalu bagai mana kau akan pulang?" tanya Sakha.


"Kan ada supirmu?" jawab Rainun. Sakha berfikir sejenak, ia tak tega jika wanitanya pergi sendirian di malam hari.


"Jangan, aku akan mengantarmu pulang sebelum ke bandara. Sudah malam" kata Sakha.


"Ayolah kak, aku masih ingin bersamamu. Aku sudah izin dengan abang dan kak Sofia akan mengantarmu ke bandara" pinta Rainun dengan tatapan memohon.


Sakha terdiam dan kembali berfikir. "Boleh ya kak, please" pinta Rainun sedih. Ia kini menghambur memeluk Sakha.


"Baiklah baiklah. Jangan sedih seperti ini, aku akan berat meninggalkanmu jika kau seperti ini" kata Sakha yang juga memeluk Rainun.


Mereka kemudian keluar apartemen dan berangkat menuju bandara. Sepanjang perjalanan, mereka berdua tak banyak bicara, hanya saling bergandengan tangan, semakin erat saat semakin dekat dengan bandara. Toni yang duduk di sebelah supir itu mengulum senyum melihat Rainun yang berat saat akan berpisah dengan Sakha.


"Aku akan berangkat. Kau pulang dengan supirku, di belakangmu ada body guard bayangan yang mengawal" titah Sakha. Ia lalu memeluk Rainun erat.


"Baiklah, berhati - hatilah di sana. Jaga kesehatanmu, jangan lupa berikan aku kabar" pinta Rainun yang juga memeluk Sakha. Tiba - tiba mereka berdua menjadi sangat enggan untuk berpisah.


"Aku akan segera kembali sayang" ujar Sakha, ia membelai kepala Rainun. Rainun mengangguk percaya.


Rainun kemudian berpamitan dengan Toni juga sekretaris Sakha yang sudah ada di bandara. Ia kemudian pulang di antar oleh supir pribadi Sakha.

__ADS_1


__ADS_2