Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
34. Bertemu Mantan Kekasih


__ADS_3

"Hai, selamat malam tuan" sapa seorang wanita cantik.


Sakha tak menjawabnya, bahkan ia rasanya enggan bertemu dengan wanita yang berada di hadapannya kini.


"Bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali kita tidak bertemu" kata wanita itu. "Kenapa kau tak pernah mengangkat telfonku juga membalas pesanku?" lanjut wanita itu menggoda Sakha.


Ada rasa nyeri yang menjalar di hati Rainun saat mendengar wanita itu sering menelfon juga mengirim pesan untuk Sakha. Rainun mencoba menahan rasa cemburunya dan mengontrol ekspresi wajahnya agar tetap terlihat elegan di hadapan wanita itu. Ia kemudian mengeratkan pegangannya pada Sakha.


"Aku tak pernah menggubris hal yang tak penting" jawab Sakha datar.


"wah, padahal dulu aku orang yang penting bagimu" kata wanita itu dengan arogan. "cih" Sakha mendecih ketika mendengar kata - kata itu. Wanita di hadapan Sakha dan Rainun saat ini adalah Wilona, mantan kekasih Sakha.


"apakah wanita cantik di sebelahmu ini kekasih barumu?" tanya Wilona yang menatap sinis ke arah Rainun.


"Kau benar, dia adalah calon istriku" jawab Sakha. Kini ia merangkul pinggang Rainun.


"Hai nona, salam kenal dariku orang yang dulu sangat dekat dengan kekasihmu ini" kata Wilona ia lalu menjabat tangan Rainun.


"Kalau begitu kami permisi dulu. Kami tak punya urusan denganmu" ujar Sakha lalu meninggalkan Wilona yang memandang sinis ke arah mereka.


"Kau akan menyesal karena meninggalkanku Tuan" kata Wilona.


Sakha dan Rainun kemudian duduk di kursi yang sudah di siapkan.


"Apa dia mantan kekasihmu yang tempo hari kau ceritakan?" tanya Rainun.


"Iya. Dia Wilona" jawab Sakha. "Ada apa? Kau sepertinya tak baik - baik saja?" Sakha memperhatikan gadisnya itu.


"Dia cantik. Hm aku sedikit cemburu ternyata dia masih sering menghubungimu" Rainun berkata jujur, ia tak bisa menutupi ekspresi sedihnya kini.


Sakha mengambil tangan Rainun dan membelainya lembut. "Kau jauh lebih cantik sayang. Aku bahkan tak pernah menjawab pesan atau panggilan telefon dari nya" ujar Sakha. "Percayalah padaku, aku tak pernah lagi memperdulikannya" Sakha membelai kepala kekasihnya itu.


Rainun menatap mata Sakha dalam - dalam. Mencari kejujuran di sana. "Jangan dekati wanita lain. Jangan tergoda dengan wanita lain. Itu akan membuatku cemburu" kata Rainun.


Sakha tersenyum mendengar kata - kata Rainun. Ia lalu membelai pipi Rainun "Tenanglah, hanya kau satu - satunya wanita yang menempati ruang hatiku" katanya lembut. Rainun tersenyum mendengar kata - kata Sakha itu, ia tak bisa untuk tidak mempercayai Sakha.


Setelah si empunya acara memberikan sambutan. Mereka kemudian di jamu dengan menu makan malam yang sudah di siapkan. Para pelayan mulai menghidangkan menu makanan mulai dari makanan pembuka, makanan utama hingga makanan penutup.


Setelah makan, Sakha kembali berbincang - bincang sebentar dengan kenalan yang duduk tak jauh darinya. Tepat pukul sembilan lewat tiga puluh menit, Sakha dan Rainun meninggalkan ballroom dan kembali ke rumah Rainun.


...****************...


"Sial!! Ternyata pria itu sudah menjadi kekasih dari gadisku" Umpat seorang pria yang juga berada di jamuan makan malam. "Aku tak akan membiarkan kalian bersama lebih lama lagi. Akan ku ambil apa yang menjadi milikku" lanjutnya.

__ADS_1


"Ada apa bos?" tanya anak buahnya yang melihat raut amarah si bos.


"Aku harus lebih dekat dengan gadisku" jawabnya singkat.


Pria itu kemudian berfikir bagai mana cara agar ia bisa mengambil hati gadis yang sudah lama ia sukai. Pasalnya gadis ini tak mudah menjatuhkan hati pada orang lain terlebih lagi kini dia sudah memiliki kekasih.


Dulu dia pernah di tolak oleh si gadis. Hal itu yang membuatnya kini terobsesi. Bahkan hingga saat ini dia masih betah sendiri hanya karena obsesi pada gadis pujaan hatinya itu.


...****************...


"Kak Sofia, bang Ehan. Kalian sudah pulang?" Rainun girang ketika mengetahui kakak dan abangnya itu sudah berada di rumah.


"Kami baru tiba tiga puluh menit lalu. Kamu sendiri kenapa baru pulang?" tanya Raihan.


"Aku habis mensurvei petani vanili bang" jawab Rainun.


"ya sudah, mandi dan beristirahatlah. Kamu pasti lelah" kata Sofia. Rainun mengangguk lalu berjalan menuju ke kamarnya.


Setelah makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga untuk mengobrol santai.


"Apa itu pemberian Sakha? Kau tak pernah memakai gelang sebelumnya" tanya Raihan saat melihat gelang yang di pakai Rainun.


"Iya. Ini dari kak Sakha" jawab Rainun.


"Waktu itu dia meminta ingin segera menikahiku. Tapi aku menolaknya. Menurutku ini terlalu cepat" jawab Rainun.


"Niat baik jangan di tunda terlalu lama" pesan Raihan. Ada perasaan sedih di ujung hatinya saat mengetahui ada pria yang ingin menikahi adiknya. Tetapi ada juga kebahagiaan tersendiri di hatinya walaupun belum siap.


"Aku masih ingin fokus berkarir dan menikmati masa pacaran ini bang. Aku tak ingin terburu - buru" jelas Rainun.


Sofia dan Raihan mengangguk, mereka tak ingin terlalu ikut campur dengan hubungan Rainun dan Sakha. Yang jelas mereka pasti akan mendukung ke duanya.


...****************...


Setelah bertemu di malam itu, beberapa hari ini Wilona selalu saja mengganggu aktifitas Sakha. Kehadiran Wilona yang tiba - tiba di kantor Sakha membuat Sakha merasa sangat tidak nyaman.


"Ada perlu apa kau kemari?" tanya Sakha ketus.


"Aku hanya ingin berbincang - bincang denganmu sayang. Aku merindukanmu" Rayu Wilona.


"Pergilah. Aku sudah tak memiliki urusan lagi denganmu" Sakha meninggikan suaranya.


"Apa karena wanita itu kau meninggalkanku? Bahkan dia sama sekali tak menarik dibandingkan aku" sinis Wilona.

__ADS_1


"Jangan pernah bawa - bawa dia. Wanitaku jauh lebih baik dan lebih terhormat dibandingkan denganmu. Aku meninggalkanmu karena kau wanita yang menjijikan. Aku sudah tau semua kebusukanmu dan apa saja yang kau buat di belakangku!" Sarkas Sakha.


"Pergi dari sini! Jangan pernah lagi kau tampakkan batang hidungmu di depanku apa lagi di depan calon istriku" Sakha lalu memanggil Toni dengan telefon. Sakha yang emosi, mengepalkan tangannya kuat - kuat. Terlihat kilatan kemarahan di wajah tampannya itu. Jika saja Wilona laki - laki, pasti dia akan babak belur mendapat bogem mentah dari Sakha.


"Ada apa bos?" Tanya Toni yang masuk ruangan Sakha.


"Bawa wanita gila ini pergi dari sini!" perintah Sakha. Toni dengan sigap menarik lengan Wilona hendak membawanya keluar.


"Lepaskan! Aku bisa pergi sendiri. Ingat, kau akan menyesal karena sudah meninggalkanku!" Seru Wilona. Wilona kemudian keluar dan meninggalkan kantor Sakha.


Sakha menghempaskan tubuhnya di kursi. Meredakan emosinya yang sempat meledak tadi.


"Bos, kau baik - baik saja?" tanya Toni yang telah kembali dari bawah untuk memastikan Wilona pergi. Sakha mengangguk untuk menjawab pertanyaan Toni.


"Baiklah kalau begitu aku akan kembali ke ruanganku" pamit Toni.


...****************...


"Ada apa kak?" tanya Rainun pada Sakha yang duduk di ruang kerjanya. Beberapa menit lalu Sakha sampai dengan wajah yang nampak kesal.


"ceritakan padaku" pinta Rainun yang kini duduk di sebelah Sakha. Sakha menyandarkan kepalanya di bahu Rainun.


"Tadi Wilona menemuiku di kantor" kata Sakha. "Aku merasa sangat tidak nyaman. Dia membuatku marah" lanjutnya.


Rainun membelai lembut kepala kekasihnya itu. "Ooh jadi kesayanganku ini datang mencari penawar kekesalannya" gurau Rainun "Baguslah kini pekerjaanku bertambah, bukan hanya jadi CEO RR Eksportir tapi jadi tabib hati pria ini" lanjutnya.


Sakha terkekeh mendengar kata - kata Rainun. Dia tau orang terbaik untuk menetralkan emosinya dan Rainun adalah orangnya


"Sudah jangan kesal lagi. Kau tampak menyeramkan saat sedang emosi. Lihat aku" Rainun mengangkat wajah Sakha dengan kedua tangannya.


"Jangan khawatir. Apapun masalahmu, setinggi apapun amarahmu, aku selalu ada untuk menenangkanmu" kata Rainun. Sakha tersenyum lalu memeluk gadisnya itu.


"Kau mau ikut aku?" tanya Rainun.


"Kemana?" kata Sakha.


"Ke kebun vanili" jawab Rainun.


Sakha mengernyitkan dahi. "Bukankah baru kemarin kau kesana?" tanya Sakha.


"Bukan. Ini tempat yang berbeda, katanya di dekat sana juga ada air terjunnya" jelas Rainun.


"Baiklah sayang, aku akan ikut denganmu" Sakha tersenyum.

__ADS_1


Kali ini mereka tak hanya pergi berdua. Ada Bara juga Indah yang ikut meninjau perkebunan vanili.


__ADS_2