
"Bagaimana Rai? Kau suka?" tanya Sofia saat Rainun mencoba kebaya yang ia buat.
"Tentu saja. Untuk waktu yang mepet, ini sangat indah" Rainun tersenyum. Kebaya putih yang mewah ini sangat pas di badannya.
"Kau terlihat sangat cantik" puji Raihan yang ikut menemani Rainun fitting kebaya di butik milik Sofia.
"Pakaian untuk tante sudah ku kirim ke apartemen Sakha" ujar Sofia.
"Terima kasih banyak kak, sudah membuatkan kebaya untukku" Rainun memeluk Sofia. "Dimana gaun untuk tuan putri kita?" tanya Rainun.
"Ini, aku membuat yang senada dengan kebayaku" kata Sofia.
"Kemarilah Lili, tante akan memakaikan gaunmu" asisten Sofia mengambil Lili dari strolernya. Sofia kemudian mencoba kebayanya juga.
"Kau cantik kak" puji Rainun. "Lihatlah tuan putri kita" Ujar Rainun yang menunjukkan Lili dengan gaun cantiknya.
"Wuuu kalian luar biasa" puji asisten Sofia.
"Tentu saja, tiga wanitaku" Raihan bangga melihat tiga wanita cantik di hadapannya.
"Bagai mana perasaanmu? tiga hari lagi kau akan menjadi nyonya dari tuan Sakha" ujar Sofia.
"Aku gugup. Semuanya seperti mimpi" jawab Rainun. Kini mereka berada di ruang kerja Sofia.
"Apa kalian berdua sudah merencanakan ini semua?" tanya Rainun.
"Ya, selama kau menemani Sakha abang selalu gelisah. Lalu abang bilang pada Sofia tentang rencana pernikahan kalian. Awalnya kakakmu itu tak setuju, karena memikirkan kesiapanmu dengan Sakha. Tapi semua ini demi kamu" jelas Raihan.
"Iya bang, aku mengerti. Kalian pasti sudah memikirkan segalanya. Semua yang terbaik untukku" ujar Rainun, matanya berkaca - kaca.
"Kakak khawatir kalau kau dan Sakha akan menolaknya. Abangmu juga terlihat setengah tak rela melepasmu menikah lebih cepat awalnya, tetapi dia juga khawatir jika harus meninggalkanmu sendiri. Ia terus bertanya bagai mana karakter Sakha, apakah dia sudah benar melepasmu dengan Sakha" cerita Sofia.
"Tapi sekarang abang sudah ikhlas. Abang rasa abang sudah melepasmu pada orang yang tepat" Raihan tersenyum.
"Terima kasih kalian berdua memang yang terbaik" ujar Rainun. Ia memeluk abangnya dan Sofia yang duduk berdampingan. Rainun tak kuasa lagi membendung air matanya
"Aku minta restu dari kalian berdua, abangku dan kakakku. Doakan aku agar memiliki keluarga yang sakinah mawaddah dan warahmah. Doakan aku agar bisa menjadi istri dan ibu yang baik. Doakan aku juga agar selalu menjadi menantu dan adik yang baik" ujar Rainun tulus. Mereka bertiga menangis dalam pelukan.
"Kami akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Ingatlah satu hal, jangan pernah sungkan menceritakan masalahmu pada kami. Kami adalah pengganti ayah dan bunda" pesan Raihan. Ia menatap lekat - lekat adik perempuan di hadapannya, ia masih tak menyangka akan melepas Rainun dengan begitu cepat.
"Sudah - sudah jangan menangis. Masih ada banyak hal yang harus kita siapkan" Sofia menghapus air mata di pipi suami dan adik iparnya.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Rainun.
"Tentu saja mendatangi kakak dan adik dari bunda juga ayah satu persatu" Raihan tersenyum.
"Mama dan papa sudah di beri tau?" tanya Rainun.
"Sudah, kami sudah menemuinya kemarin" jawab Sofia.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, ayo kita berangkat" Raihan mengajak Rainun dan Sofia untuk menemui keluarga besarnya.
...****************...
"Benarkah? Alhamdulillah" ujar mas Adi.
"Selamat ya Rai" lanjut mbak Ani dan mbak Salma hampir berbarengan.
"Kenapa mendadak sekali?" tanya mas Surya.
"Ini permintaan abang dan kak Sofia. Mereka sangat khawatir karena akan meninggalkanku sendirian. Mereka akan tinggal di Singapura beberapa waktu, meneruskan pekerjaan yang sempat tertunda beberapa minggu ini" jelas Rainun.
"Aku setuju dengan Raihan dan Sofia. Ini akan membuat mereka tak was - was juga lebih aman untukmu karena sudah ada suamimu yang menjaga" ujar mas Surya.
"Waah akhirnya kalian ke pelaminan juga. Selamat ya kak" Indah dan Fitri memeluk Rainun yang ada di sebelah mereka.
"Apa kau akan mengadakan pesta dirumah?" tanya Bara.
"Tidak, hanya ijab qabul dan syukuran kecil - kecilan. Yang di undang juga hanya keluarga dan tetangga terdekat" jawab Rainun.
"Apa kau tak akan mengadakan resepsi?" tanya mbak Ani.
"Resepsi rencananya akan di adakan setelah abang dan kak Sofia kembali ke Indonesia" jawab Rainun.
"Siapa saja yang kau undang Rai?" tanya mbak Salma.
"Benarkah? Aku tak tau kalau kak Rai kerumah. Ayah dan ibu juga tak bilang padaku" ujar Bara.
"Aku memang tak kerumahmu Bar. Aku bertemu om dan tante dirumah pakde Awal" jawab Rainun.
"Kenapa bapak tak segera mengabariku ya?" kata mbak Ani.
"Aku sudah bilang pada pakde akan mengabari mbak Ani dan mbak Salma secara langsung" kata Rainun.
"Semoga semuanya berjalan dengan lancar ya kak. lusa kau sudah menikah, tetapi hari ini masih menyempatkan diri ke kantor" Fitri terkekeh.
"Semua persiapan sudah beres, lagi pula tak banyak yang di siapkan" kata Rainun.
"Kalau begitu kau harus pulang sekarang. Beristirahatlah karena kau tak boleh terlihat lelah" kata mas Surya.
"Benar mas. Hari ini kami semua mengusirmu dari kantor. Ayo bawa tasmu keluar kak" Bara memberikan tas Rainun yang berada di atas meja. Tak ayal tingkahnya membuat semua tertawa.
"Baiklah - baiklah, aku akan pulang. Terima kasih banyak ya kalian semua karena selalu medukungku" kata Rainun. Semuanya tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Apakah nyonya Sakha pergi ke sini sendiri? Sepertinya tak mungkin tuan Sakha membiarkannya pergi sendiri sekarang" Bara meledek.
"Hm kau benar sekali. Tuan Sakha itu tak membiarkanku pergi sendiri. Dia mengirimkan dua body guard untuk mengantar kemanapun aku pergi" Rainun terkekeh.
"Wuah istri CEO besar memang beda ya" kata Fitri.
__ADS_1
"Terasa aman namun sungkan" jawab Rainun.
"Harusnya kau minta body guard wanita kak, agar kau merasa nyaman" usul Indah.
"Nanti juga terbiasa, itu karena kau sudah terbiasa pergi sendiri Rai" kata mbak Salma.
"Kak, kau tak akan pindah dari perusahaan ini kan?" tanya Bagas tiba - tiba.
"maksudmu?" Rainun bertanya balik.
"Barang kali kak Sakha akan memintamu untuk bekerja bersamanya di kantornya" jawab Bagas.
"Ya tidak lah. Mana mungkin aku meninggalkan kalian dan perusahaan ini" Rainun terkekeh.
"Kau ini ada - ada saja mas" kata Indah. "Kak boleh aku bertanya sesuatu yang sedikit privasi?" lanjut Indah.
"Silahkan, apa yang ingin kau tanyakan nona?" kata Rainun.
"Mahar apa yang kau minta dari kak Sakha? Aku penasaran" Sontak saja pertanyaan Indah itu membuat yang lain membulatkan mata ke arahnya. Indah meringis saat mbak Ani mencubitnya tangannya.
"Aku juga belum tau mahar apa yang akan ia berikan. Karena saat dia bertanya mahar apa yang aku inginkan, aku hanya menjawab akan menerima apa saja pemberiannya" jawab Rainun polos.
"Uuuu sepertinya kau sedang menguji seberapa besar cintanya padamu ya?" ledek Bara.
"maksudnya?" tanya Rainun.
"Ya jika dia benar - benar mencintaimu, dia akan memberikan yang terbaik yang ia punya untukmu" kata Bara.
"Dia jelas mencintaiku, karena dia selalu memberikan yang terbaik selama ini" jawab Rainun.
"Kau ini aneh deh mas. Apa kau tak bisa melihat bagaimana cintanya kak Sakha pada kak Rainun? Bahkan dari tatapan mata kak Sakha saja orang sudah bisa menebak kalau kak Sakha sangat mencintai kak Rainun. Mereka itu couple goals you know?" Beo Indah yang membuat mereka terkekeh.
"Kak, apa kau akan honeymoon setelah itu?" tanya Fitri.
"Astaga, kenapa manusia - manusia ini kepo sekali" mbak Salma gemas dengan pertanyaan adik - adik sepupunya itu.
"Baiklah aku akan pulang sebelum muncul pertanyaan yang lebih aneh lagi. Sampai berjumpa lusa, aku selalu percayakan perusahaan pada kalian" Rainun terkekeh.
Semua sepupunya mengangguk dan membiarkan Rainun pulang.
"Ah beruntungnya kak Rainun. Aku senang mendengarnya" ujar Fitri.
"Sakha juga beruntung mendapat wanita kuat dan pekerja keras seperti Rainun" kata mbak Salma.
"Ah kenapa jadi aku yang tak sabar dengan pernikahan mereka." celetuk Indah kemudian.
"Aku juga penasaran dengan rupa anak mereka nantinya. Perpaduan antara kecantikan dan ketampanan" timpal Fitri.
"Bubar bubar bubar, makin kesana - sana nih jadinya" mas Adi memulai untuk kembali bekerja.
__ADS_1