
"Kenapa lama sekali" Keluh Sofia saat melihat Sakha datang.
"Sepertinya tak lama" Jawab Sakha. Ia lalu menggandeng Sofia menuju ke mobil yang sudah terparkir di depan homestay.
"Apa kau gugup? Tanganmu sangat dingin" Tanya Sakha yang menggandeng tangan Sofia
"Hm. Aku sangat gugup" Jawab Sofia. Mereka lalu memasuki mobil. Mereka duduk bersebelahan di dalam mobil.
"Tenangkan dirimu kak. Semua akan berjalan lancar" Ucap Sakha menenangkan. Sofia menganggukkan kepala walaupun hatinya masih sedikit tak tenang. Tak lama mereka sudah sampai di tempat akad.
Sofia turun, lalu berjalan menuju meja akad dengan menggandeng lengan papanya. Di sana semua sudah menunggu kedatangannya. Ia lalu duduk di sebelah Raihan sedangkan papanya duduk di hadapan Raihan. Sebelum ijab qobul di laksanakan, penghulu memberikan beberapa wejangan yang disampaikan untuk kedua pengantin.
Papa Sofia menjabat tangan Raihan dan mengatakan sebuah pesan pada Raihan sebelum memindahkan tanggung jawabnya membimbing Sofia kepada Raihan.
"Nak Raihan. Hari ini dengan bahagia juga dengan berat hati akan ku serahkan putriku satu - satunya padamu. Sedari kecil aku merawatnya dengan curahan cinta dan kasih sayang juga memberikan yang terbaik untuknya. Aku berharap kaupun akan mencurahkan cinta dan kasih sayang yang tulus untuknya. Jangan kau sakiti dia, jangan pula kau jauhkan dia dari kami orang tuanya karena hanya dia satu - satunya pelita hidup kami, kebahagiaan kami. Nak, jika suatu saat kau tak lagi mencintainya, kau tak lagi ingin hidup bersamanya, jangan sakiti dia. Bicaralah saja padaku, antarkan dia padaku maka aku akan menerimanya dengan keikhlasan" Pesan papa Sofia. Matanya berkaca - kaca melihat calon menantu yang berada di hadapannya.
Semua orang terharu. Sofia juga mamanya tak kuat membendung air mata mendengarkan pesan tulus yang di sampaikan oleh papanya.
"Bismillahhirrahmannirrahim. Raihan Alfath Wiraja bin almarhum Akbar Wiraja saya nikahkan engkau dengan putri kandung saya Sofia Maharani Atmaja binti Faisal Atmaja dengan mas kawin emas seberat seratus gram dan uang tunai seratus juta rupiah di bayar tunai"
"Saya terima nikah dan kawinnya Sofia Maharani Atmaja binti Faisal Atmaja dengan mas kawin tersebut di bayar tunai" Jawab Raihan dengan tegas dan tanpa terputus.
"Bagai mana saksi?" Tanya penghulu.
"Sah" Jawab kedua saksi bersamaan.
"Alhamdulillah" Semua orang mengucapkannya bersama - sama. Semua orang terharu. Rainun memeluk mama Sofia yang berada di sebelahnya, saling menguatkan dan mengucapkan selamat atas kebahagiaan yang di rasakan bersama.
Setelah sesi foto selesai, mereka kemudian melakukan acara Sungkeman meminta restu pada orang tua untuk kelancaran perjalanan rumah tangga mereka berdua.
Mama dan papa Sofia sudah duduk di kursi yang di sediakan. Sedangkan dari pihak Raihan ada pakde Awal dan istrinya yang mewakili.
Tangis haru tak lagi terbendung apa lagi saat harus bersungkem pada perwakilan orang tua dari Raihan. Raihan menangis tergugu di pangkuan pakdenya itu. Membayangkan jika saja orang tuanya yang benar - benar ada di tempat itu.
Rainun yang melihat abangnya tergugu, tak kuasa membendung air matanya. Ia memegang erat lengan Sakha yang berada di sampingnya. Dengan sigap Sakha merangkul kekasihnya itu. Ia mengerti bagai mana perasaan kekasihnya kini. Berkali - kali ia menepuk bahu Rainun menguatkan.
Tiba saatnya kini Raihan meminta restu dari adiknya. Satu - satunya saudara kandung, satu - satunya keluarganya yang tersisa. Raihan memeluk adiknya erat. Mereka berdua menangis dalam pelukan. Merasakan kebahagiaan sekaligus kesedihan yang datang bersamaan. Kini Sofia memeluk mereka air matanya sedari tadi tak berhenti, ikut merasakan apa yang suaminya rasakan. Sofia memeluk erat keduanya mengalirkan kekuatan pada dua orang yang ia sayangi itu.
Setelah rangkaian acara akad selesai kedua pengantin masuk ke kamar hotel untuk berganti pakaian resepsi. Sementara para tamu di suguhkan dengan musik juga makanan - makanan yang tersedia.
"Kau mau makan? Kau belum makan lagi setelah sarapan tadi" Tawar Sakha pada Rainun.
"Hm. Ayo kita cari - cari makanan yang mengugah selera" Ucap Rainun tersenyum. Mereka berkeliling melihat menu apa yang menggiurkan.
Rainun mengambil semangkuk bakso dan jus nanas sedangkan Sakha mengambil seporsi steak dan segelas es teler. Mereka kemudian mencari meja dan kursi yang masih kosong.
__ADS_1
"Baksonya enak. Kau mau coba?" Tanya Rainun. Ia kemudian menyuapkan bakso ke mulut Sakha.
"Ini terlalu pedas. Bagaimana jika perutmu sakit" Ucap Sakha.
"Tidak, aku sudah biasa" Ujar Rainun.
"Kau mau coba steaknya?" Tanya Sakha. Ia kemudian menyuapkan sepotong steak ke Rainun.
"Mmhhh ini sangat lezat" Ucap Rainun.
"Kak, aku ingin es milikmu" Lanjut Rainun.
"Aku ambilkan ya?" Tanya Sakha.
"Tidak. Aku ingin milikmu. Kita bertukar ya?" Pinta Rainun "Jus ini akan mubazir jika tak di minum" Ujar Rainun meminta dengan wajah imutnya.
"Hmm baiklah" Sakha terkekeh. Ia lalu memberikan minumannya dan mengambil minuman milik Rainun.
Mereka melanjutkan makan dengan sesekali Sakha menyuapinya steak.
"Apa tanganmu sedang sakit Rai?" Ledek mas Surya yang baru datang ke meja Rainun dan Sakha.
"Eh mas Surya. Enggak kok" Jawab Rainun.
"Uhuk uhuk uhukkk..." Mas Surya tersedak minuman ketika ia mendengar Sakha memanggilnya mas.
"Eehhhh pelan - pelan mas. Kenapa sampai tersedak begitu?" Tanya Rainun.
"Aku kaget saat pak Sakha memanggilku mas" Ucap mas Surya. Ia kemudian duduk di kursi yang berada di sebelah Rainun.
"Jangan panggil aku pak. Panggil namaku saja, itu membuatku lebih nyaman" Ucap Sakha.
"Dia sekarang sangat ramah. Tak sedingin saat di kantor. Bagaimana bisa orang berubah secepat itu?" Batin mas Surya.
"B bb baiklah Sakha" Jawab mas Surya. Sakha tersenyum melihat mas Surya.
"Kenapa mereka berdua lama sekali berganti baju" Ujar Rainun.
"Yah mungkin sekalian ingin beristirahat" Kata mas Surya.
Mereka kemudian melanjutkan makan sembari mengobrol ringan.
"Aku akan bertemu dengan beberapa kolega disana. Kau mau ikut?" Tanya Sakha.
"Tidak. Aku akan mengobrol dengan sepupu - sepupuku saja disana" Ucap Rainun menunjuk ke arah para sepupunya.
__ADS_1
"Mau ku antar?" Tanya Sakha.
"Tak usah kak, aku bisa kesana bersama mas Surya. Kau temui saja kolegamu" Ucap Rainun tersenyum.
"Baiklah. Aku akan menemuimu nanti. Aku pergi dulu sayang" Ujar Sakha sembari membelai lembut kepala kekasihnya. Ia kemudian melangkah pergi.
Mas Surya terperangah melihat perlakuan lembut Sakha. Di balik wajahnya yang dingin dan sikapnya yang kaku pada orang lain. Ia terlihat berbeda seratus delapan puluh derajat saat bersama Rainun.
"Mas kau kenapa bengong? ayo kita temui mereka" Ajak Rainun pada mas Surya.
"Aaah tidak papa Rai. Ayo kita kesana" Jawab mas Surya. Mereka lalu berjalan menemui kumpulan persepupuan itu.
"Hallo!!!" Seru Rainun.
"Kak Rai. Kau cantik sekali" Seru Indah.
"Terima kasih ndah. Bagai mana? Kalian suka tempat dan makanannya?" Tanya Rainun.
"Tentu saja. Aku rasanya tak ingin pulang" Jawab Fitri bahagia.
"Kalau begitu bekerjalah menjadi staf di sini" Ujar Bara. Tak ayal mereka semua tertawa terlebih melihat Fitri yang mengerucutkan bibirnya.
"Ekheem. Sepertinya ada yang baru jadian nih. Cieeee" Goda mbak Ani. Wajah Rainun langsung memerah karna itu.
"Dimana kekasihmu Rai?" Tanya mbak Salma.
"Eeh itu. Kalian sudah tau?" Tanya Rainun malu - malu.
"Tentu saja. Indah yang memberi tau kami. Tenang saja kami semua mendukung kok" Ucap mbak Salma.
"Kalian tau, betapa manisnya sikap Sakha pada Rainun. Astaga aku melihatnya sendiri bagaimana ia memperlakukan Rainun" Kata mas Surya.
"Benar kah mas?" Tanya Fitri yang mulai penasaran. "Eh ngomong - ngomong kau bilang apa? Sakha? Kau tak sopan menyebut begitu pada rekan" Imbuhnya.
"Kalau kalian melihatnya, kalian pasti akan langsung meleleh. Ya benar, Sakha sendiri yang meminta untuk jangan memanggilnya pak" Ujar mas Surya bangga.
"Wah kalau begitu aku akan memanggilnya kak dong?" Ucap Indah.
"Benar. Kini kita akan memiliki sepupu baru dua sekaligus" Ucap Bara.
"Terimakasih sudah selalu mendukungku yaa. Kalian memang terbaik" Kata Rainun terharu.
"Es kriiimmmmm" Seru Bagas menghampiri. Ia membawa senampan es krim untuk sepupu - sepupunya itu.
"Waah terimakasih mas" Seru Fitri girang. Mereka kemudian memakan es krim di iringi canda dan tawa.
__ADS_1