Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
53. Baby Girl


__ADS_3

Malam itu Sakha dan Rainun pulang ke rumah karena di rumah sakit sudah ada Raihan dan mama Sofia yang menjaga Sofia.


"Terima kasih sudah mengantar kak" kata Rainun. Ia lalu memeluk kekasihnya itu. "Kau pasti sangat lelah. Segeralah beristirahat begitu sampai apartemen. Jangan lupa kabari aku jika sudah sampai" pinta Rainun.


"Baiklah sayang. Kalau begitu aku akan pulang." Sakha masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah Rainun.


"Bagaimana keadaan non Sofia?" tanya simbok yang sudah menanti Rainun.


"Masih pembukaan empat mbok. Doakan mudah - mudahan cepat bertambah pembukaannya" ujar Rainun.


"Ya Allah gusti. Mudah - mudahan peesalinan non Sofia lancar, anak dan ibunya juga sehat. Aamiin" doa simbok. Rainun juga turut mengaminkan.


"Yasudah kalau begitu Rainun masuk ke kamar dulu ya mbok" kata Rainun. Ia kemudian masuk ke kamar lalu mandi dan langsung saja terlelap ketika merebahkan diri di tempat tidur.


...****************...


Peluh bercucuran dari dahi Sofia. Ia berjuang keras dengan mengejan menurut arahan dokter. Raihan yang berada di dekatnya berulang kali mengecup kening basah istrinya itu. Doa doa terus ia lantunkan untuk keselamatan istri juga bayinya.


Nafasnya sedikit tersengal. Tangan Sofia dengan erat menggenggam tangan suaminya. Meremasnya agak kencang ketika kontraksi datang yang membuatnya ingin mengejan. Dua puluh lima menit ia berjuang untuk melahirkan. Bertaruh nyawa, berada antara hidup dan mati.


"Oooeekkkkk" tangis keras bayi terdengar. Ucapan syukur terdengar dari mulut Raihan dan Sofia. Tangis haru keduanya tak bisa terbendung.


"Selamat ya pak, bu. Bayinya perempuan, sehat, lengkap dan cantik" ujar dokter wanita yang membantu persalinan.


"Terima kasih sayang sudah berjuang melahirkan keturunanku. Terima kasih banyak sayang" Raihan mengecup Sofia.


...****************...


Mereka semua harap - harap cemas menunggu di depan ruang persalinan. Rainun, papa dan juga mama Sofia, sedangkan Raihan menemani Sofia berjuang di dalam. Sudah lima belas menit mereka menunggu.


Wajah khawatir begitu nampak dari ketiganya. Rainun terus saja melantunkan doa agar Allah mempermudah persalinan Sofia. Tak lama kemudian terdengar tangisan kencang bayi dari dalam kamar bersalin.


"Alhamdulillah" mereka bertiga serempak mengucapkannya. Tampak raut lega pada ketiganya.


"Selamat ma, pa, sudah menjadi oma dan opa" Ucap Rainun bahagia. Ia kemudia memeluk mama Sofia yang ada di sebelahnya.


"Alhamdulillah, terima kasih nak. Terima kasih sudah selalu mendukung Sofia selama masa kehamilan" ucap mama Sofia. Ia bersyukur karena Raihan dan Rainun begitu menyayangi dan perhatian pada putri semata wayangnya itu.


Tiga puluh menit kemudian, Sofia di bawa kembali ke ruang perawatan.


"Selamat ya bang" Rainun memeluk Raihan saat bertemu dengan abangnya yang sudah lebih dulu kembali ke ruang perawatan.


"Selamat kak" Rainun kemudian beralih memeluk Sofia. Tak lama seorang perawat mendorong sebuah box berisikan seorang bayi mungil. Rainun, papa dan mama Sofia langsung saja mengerubungi box itu.


"Maa syaa allah, anak shaliha. Selamat datang kesayangan aunty" Mata Rainun berbinar, ia begitu bahagia melihat keponakan yang sudah sembilan bulan ia nantikan.

__ADS_1


"Waah si kecil sangat mirip dengan ayahnya. Lihatlah pa betapa cantik cucu kita" kata mama Sofia. "Kau benar ma" timpal sang suami. Mama Sofia menggendong cucunya itu dan mendekatkannya pada Sofia.


"Lihatlah, ini wajah ayahnya. Wajahmu tak ada di sini" mama Sofia terkekeh.


"Wah benar - benar aku hanya jadi tempat penitipan" kata Sofia yang masih lemas. Raihan tertawa mendengar kata - kata istrinya.


"Apakah sudah di adzani?" tanya papa Sofia.


"Sudah pa, tadi di dalam perawatnya sudah meminta Raihan untuk mengadzani" jawab Raihan.


Mama Sofia lalu memberikan bayi mungil itu pada papa Sofia.


"Maa syaa allah, cantiknya cucu opa" mereka semua begitu bahagia dengan kehadiran bayi mungil yang menggemaskan itu.


Tring....


Ponsel Rainun berdering.


Rainun keluar dari ruangan Sofia untuk menerima panggilan itu.


"Sayang, apakah bayinya sudah lahir?" tanya Sakha yang menelfon Rainun.


"Alhamdulillah. Anak bang Ehan dan kak Sofia perempuan kak" kata Rainun.


"Alhamdulillah. Aku baru bisa ke sana nanti malam sayang. Masih ada pekerjaan yang harus ku selesaikan" kata Sakha.


"Baiklah, akan ku hubungi lagi nanti. Salam untuk semua yang ada di sana" ujar Sakha.


"Iya kak, nanti akan ku sampaikan" jawab Rainun.


"oh iya sayang, tolong kirimkan foto si baby. Aku tak sabar ingin melihatnya" pinta Sakha.


"baiklah nanti akan ku kirimkan" Rainun terkekeh. Ia kemudian menghentikan panggilan telfon itu, kemudian mengirimkan foto bayi mungil yang tadi sudah sempat ia foto beberapa kali.


"Rai, abang akan pulang sebentar bersama papa untuk menguburkan ari - ari ini" ujar Raihan. Abang titip Sofia dan bayinya ya. Mama baru saja tertidur.


"Baiklah, hati - hati bang" jawab Rainun. Rainun kemudian kembali masuk ke dalam ruangan Sofia. Menemui bayi mungil yang sedang tidur nyenyak di box nya.


"Kau menggemaskan sekali" Rainun mengusap - usap pipi keponakannya.


"Rai, kakak ingin minum" pinta Sofia. Rainun dengan sigap mengambilkan air putih yang ada di atas meja makan yang terdapat di ruangan itu.


"Pelan - pelan kak." Rainun memberikan segelas air putih dengan sedotan. Ia kemudian meletakkan gelas yang masih berisi air di nakas yang berada di sebelah tempat tidur Sofia.


"Apakah masih ada yang sakit?" Tanya Rainun.

__ADS_1


"Hanya sedikit nyeri saja" jawab Sofia. "Rai, apakah baby benar - benar mirip ayahnya? Tak ada wajah ibun nya?" tanya Sofia yang masih penasaran.


"Benar, dia mirip sekali dengan abang. Tapi bukankah kalau bayi itu wajahnya masih berubah - ubah?" kata Rainun.


"Aku berharap ada yang mirip denganku walaupun sedikit" Sofia terkekeh. "Apa Sakha tak kesini?" tanya Sofia.


"Nanti malam dia akan ke sini kak. Dia sedang ada pekerjaan. Oh ya dia menitipkan salam untuk kita semua" kata Rainun. Sofia mengangguk mendengarnya.


"Aku bahkan belum melihat oleh - oleh yang kalian bawa" kata Sofia.


"Tenang saja. Aku sudah meminta simbok untuk mencucinya tadi pagi. Kau tau kak? tebakan kak Sakha sangat tepat, ia memasukkan banyak sekali pakaian untuk bayi perempuan yang menggemaskan" ujar Rainun


"Wah dia memang luar biasa. Perkiraan memang sering kali sangat tepat" kata Sofia.


"Bahkan pakaian yang di beli kak Sakha untuk baby hampir satu koper. Ia membelikan untuk baby hingga usia sembilan bulan. Lengkap dengan aksesoris dan mainan juga" jelas Rainun. Sofia menganga mendengarnya.


"Untung saja kakak dan abang tak membeli banyak baju. Sepertinya Sakha lebih exited dari pada kami" Sofia terkekeh.


"Kau benar kak. Dia dengan santai mengambil dan menaruh pakaian baby, aksesoris dan perlengkapan juga mainan yang menurutnya lucu ke dalam troly hingga hampir penuh satu troly. Kami sempat berdebat karena aku menghentikan ia saat kembali mengambil pakaian bayi." jelas Rainun.


"Anak itu memang benar - benar tak pernah memperhitungkan saat berbelanja" Sofia tersenyum. Rainun kemudian berjalan menuju box bayi karena mendengar suara keponakannya yang merengek.


"Jangan menangis sayang, kau akan membangunkan oma mu yang baru saja tertidur. Biarkan dia beristirahat karena semalaman menemani ibunmu" kata Rainun sembari menggendong keponakannya.


"Apa asinya sudah keluar kak? Sepertinya dia haus" tanya Rainun.


"Alhamdulillah sudah keluar sedikit" jawab Sofia. Ia kemudian menerima bayinya yang di serahkan Rainun di pangkuannya untuk di susui.


"Maa syaa Allah anak ibun" Sofia mencium bayi mungilnya berkali kali sebelum di susui.


"Berapa beratnya kak?" tanya Rainun.


"Tiga koma lima kilo gram dan panjangnya lima puluh senti meter" jawab Sofia. Tatapannya tak beralih dari wajah putrinya yang sedang menyusu.


Rainun menatap Sofia dan juga putrinya yang sedang menyusu. Ia mengulum senyum melihat bayi mungil itu menyusu dengan semangat.


"Sepertinya beratnya akan cepat bertambah jika dia menyusu dengan semangat seperti itu" Rainun dan Sofia terkekeh.


"Apakah akan memberikannya susu formula kak?" tanya Rainun.


"Tidak usah, Asi ku saja sudah cukup Rai" jawab Sofia. Ia sudah bertekad untuk memberikan asi eksklusif untuk putrinya itu.


"Apa ada yang ingin kakak makan? Aku akan meminta abang untuk membawanya sekalian saat kemari" tanya Rainun.


"Kakak ingin makan sup buntut buatan simbok" jawab Sofia.

__ADS_1


"Baiklah aku akan menelfon abang kalau begitu" Rainun kemudian mengambil ponsel dan menelfon abangnya untuk membawa permintaan Sofia itu.


__ADS_2