
Tingnung.....
Bel rumah Rainun berbunyi.
"Den Sakha, lama tak datang kemari" simbok menyapa dengan Ramah. Sakha tersenyum mendapat sambutan hangat.
"Apa Rainun ada di rumah mbok? Dia tak ada di kantornya" tanya Sakha.
"Iya non Rainun di rumah. Sepertinya sedang sakit, kemarin dia pulang cepat lalu tak keluar lagi dari kamarnya. Hanya keluar untuk makan malam, pagi ini saja belum sarapan" cerita mbok Surti.
"Dia ada di mana mbok?" tanya Sakha khawatir ketika mendapat cerita dari mbok Surti.
"Dia ada di kamarnya. Sebentar saya panggilkan den" mbok Surti lalu berjalan kedalam diikuti oleh Sakha.
Rainun keluar tak lama setelah mbok Surti memanggilnya. Ia berjalan cepat menghampiri Sakha dan menghambur dalam pelukannya.
"Kamu kenapa Sayang? Sakit? Ayo kita ke dokter" Sakha terlihat khawatir. Rainun mulai terisak. Sakha mengeratkan pelukannya.
"Sakit kak, hiks" ia semakin mengeratkan pelukannya. Air mata terus membanjiri pipi nya.
"Apa yang sakit? Lihat aku" ucap Sakha. Rainun menggelengkan kepalanya tak mampu menatap Sakha. Ia justru makin menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Sakha.
Sakha terdiam. "Hatinya yang terluka" batin Sakha yang melihat kekasihnya tergugu di pelukannya. Dia menahan sekuat tenaga rasa perih di hatinya saat mendengar tangisan Rainun.
Sakha menguatkan diri, membiarkan Rainun puas dengan tangisannya. Setelah tangisannya mereda, Sakha mulai berbicara.
"Ayo kita duduk" ajaknya. Sakha membawa kekasihnya duduk. Ia lalu menghadapkan Rainun padanya, menghapus air mata di pipi kekasihnya. Hatinya tersayat ketika melihat mata sembab kekasihnya, ia tak pernah melihat Rainun seperti ini sebelumnya.
"Ada apa sayang? ada sesuatu yang melukaimu?" tanya Sakha lembut. Rainun tak menjawabnya, ia lalu membuka ponsel dan menunjukan foto yang dikirimkan padanya.
Sakha terbelalak melihat fotonya. Kini ia tau alasan kenapa kekasihnya begini. Ia kemudian memeluk Rainun lagi.
"Maafkan aku tak bisa menjaga hatimu. Aku di jebak malam itu. Sekarang aku serahkan padamu, mau mendengarkan penjelasanku sekarang atau kau ingin menenangkan diri dulu?" Tanya Sakha pelan - pelan. Ia tak ingin kesalah pahaman ini semakin rumit. Ia juga memahami bagai mana perasaan Rainun saat ini.
Rainun menatap mata Sakha dalam - dalam. "Apa kau akan berkata jujur padaku?" tanya Rainun.
"Aku tak pernah berbohong padamu sayang, apa lagi yang menyangkut perasaanmu dan hubungan kita. percayalah padaku" jawab Sakha sungguh - sungguh.
Rainun menunduk, hatinya bimbang sekarang. Ia mempercayai Sakha, selama ini Sakha selalu berkata jujur padanya. Tetapi dia takut kalau yang akan dia dengar kali ini menyakitkan.
Rainun mengambil nafas panjang, ia kemudian mengambil keputusan.
"Aku mau mendengarkan penjelasanmu sekarang kak. Aku tak mau perasaan bimbangku ini berlarut - larut." Rainun menatap mata Sakha. Sakha kemudian menceritakan semua kejadiannya secara detil.
Rainun memperhatikan setiap penjelasan Sakha. Ia terus menatap mata Sakha, mencari kebohongan di sana tetapi tak ia temukan.
"Maafkan aku sayang. Aku akan lebih berhati - hati sekarang" Sakha menggenggam tangan Rainun.
"Jadi karena itu juga seharian kau tak memberiku kabar?" tanya Rainun.
"Iya. saat aku terbangun, ponselku dalam keadaan mati. Saat aku terbangun juga kepalaku sangat sakit, pengaruh dari obat yang dicampurkan oleh Wilona ke dalam minumanku" kata Sakha
__ADS_1
"Aku percaya padamu kak. Aku tak bisa tak mempercayaimu sekarang. Terima kasih sudah memberikan penjelasan kepadaku" Rainun tersenyum tipis. Hatinya lega setelah mendengar penjelasan dari Sakha. Rainun kembali memeluk Sakha.
Sakha sedikit lega karena Rainun mempercayainya.
"Aku akan menghancurkanmu Wilona" Dendam di hatinya begitu membara karena ia di jebak oleh Wilona hingga membuat kekasihnya begitu terluka.
"Terima kasih karena sudah percaya padaku sayang. Kau belum makan kan?" tanya Sakha. Rainun menggeleng.
"Makanlah, simbok sudah membuatkan makanan untukmu" kata Sakha.
"Aku ingin kau suapi" Rainun manja.
"Baiklah baiklah" Sakha tersenyum melihat Rainun. Ia begitu bersyukur karena memiliki Rainun yang mau mendengarkan penjelasannya tanpa menghakiminya. Mereka kemudian menuju ke meja makan. Sakha menyuapi kekasihnya dengan telaten.
"Sejak kapan kau menangis hingga matamu sembab begitu?" tanya Sakha.
"Kemarin siang" jawab Rainun.
"Maafkan aku membuatmu menangis. Pasti sakit" ujar Sakha. Rainun hanya tersenyum.
"Dimana bang Raihan dan kak Sofia?" tanya Sakha.
"Mereka sedang menginap di rumah orang tua kak Sofia" jawab Rainun.
"Apa mereka tau tentang semua ini?" tanya Sakha.
"Tidak. Aku tak mau membuat kak Sofia dan abang berburuk sangka padamu tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, cukup aku saja yang berburuk sangka padamu sebelum mendengar penjelasanmu kak. Lagi pula aku memikirkan kesehatan kak Sofia yang sedang hamil besar" jelas Rainun.
"Berhentilah meminta maaf kak, ini semua hanya kesalah pahaman." Rainun menggenggam tangan Sakha.
...****************...
"Cari tau mengenai nomor ponsel yang baru ku kirimkan. Kirimkan hasilnya padaku dan Toni" perintah Sakha pada Eriko.
"Baik bos. akan segera ku kirim filenya" jawab Eriko.
Tak lama kemudian Sakha sudah mendapatkan apa yang ia minta.
"Apakah rencanaku berjalan lancar?" tanya Sakha pada Toni melalui sambungan telfon. Sakha kini berada di apartemennya setelah seharian menghabiskan waktu bersama Rainun.
"Semua sedang berjalan bos. Kita tinggal tunggu hasilnya" jawab Toni.
"Hancurkan juga orang - orang yang bekerja sama dengannya" perintah Sakha.
"Baik bos" Sakha lalu memutuskan sambungan telefonnya.
"Pembalasanku akan berkali - kali lebih menyakitkan karena kau berani melukai hati kekasihku" gumam Sakha.
...****************...
"Apa yang terjadi. Kenapa saham perusahaan tiba - tiba anjlok seperti ini" Ayah Wilona kebingungan.
__ADS_1
"Ayah, ada apa?" tanya Wilona
"Apa yang kau lakukan Wilona! kenapa saham kita bisa hancur dalam semalam" Ayah Wilona murka.
"Kau tau, semua investor menjual sahamnya!" teriaknya.
Wilona berfikir sejenak. "Semua ini pasti karena Sakha" katanya.
"Apa yang kau lakukan! Kenapa kau bermain - main dengan keluarga Hendrawan. Apa kau sudah gila!" bentak Ayah Wilona.
Wilona menangis "Maafkan aku yah" Wilona memohon.
"Aku tak mau tau. Kau harus mengembalikan semuanya" kata Ayahnya. "Aku sudah susah payah membangun bisnisku ini. Kau tau? Bagai mana ayah berjuang untuk semua ini" ayahnya mulai putus asa.
Wilona kemudian keluar ruangan ayahnya. Ia bergegas ke bandara dan terbang ke Indonesia untuk menemui Sakha.
Di kantor Sakha...
"Bos" Sapa Toni yang masuk ke ruangan Sakha.
"Hm. Kapan kau sampai?" tanya Sakha.
"Tadi malam bos. Mungkin sebentar lagi Wilona akan kemari. Anak buahku melihatnya di bandara" kata Toni. Sakha tersenyum sinis.
Brak...
Wilona membuka pintu ruangan Sakha dengan keras. Sakha melirik tajam ke arahnya.
"Apa yang kau lakukan dengan perusahaan kami?" tanya Wilona yang emosi.
"Bukankah kau yang memulai permainan?" Sakha menatap tajam ke arahnya. Wilona membeku.
"Kau berani mengusik kekasihku. Maka terimalah hasil permainanmu sendiri. Ingat ini belum apa - apa. Sebentar lagi badai akan datang bussshhhhhh" Sakha terlihat menyeramkan di mata Wilona. Tubuh Wilona bergetar melihat pria di hadapannya.
"Ternyata kau seperti ib*is" seru Wilona. "Kembalikan perusahaan keluargaku" Wilona berteriak.
"Hahahahahaha kau baru sadar? Kau sudah mengusik ketenangan ib*is" jawab Sakha.
"Cepat kembalikan apa yang sudah di bangun oleh ayahku. Dasar kau pria ib*is" Wilona kembali berteriak.
"Tutup mulutmu! Apa kau tidak tau sedang ada di mana hah? Atau kau memang sudah tak mau melihat dunia lagi?" Sakha mulai emosi.
"Lebih baik aku tak melihat dunia dari pada harus hidup miskin!" jawab Wilona.
"hahahaha terlalu indah bagimu untuk mati begitu saja. Kau harus merasakan bagai mana dunia akan menyakitimu" ujar Sakha.
"Dasar kau pria gil*" Wilona kemudian keluar dari ruangan Sakha.
"Hancurkan mereka sekarang" Perintah Sakha pada Toni yang berada di sebelahnya.
"Baik bos" Toni keluar untuk menjalankan apa yang di perintahkan Sakha. Ia membuat keluarga Wilona benar - benar bangkrut.
__ADS_1
"Tak ada pembalasan yang mudah di kamusku. Kau harus merasakan penderitaan" gumam Sakha.