Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
9. Kontrak Kerja


__ADS_3

"Assalamualaikum"


Terdengar suara Raihan masuk ke dalam rumah malam itu. Rainun bergegas turun dari kamarnya yang berada di lantai dua.


"Waalaikum salam. Abang sudah sampai?" Tanya Rainun sambil berlari kecil ke arah sang kakak. Ia tak bagai anak kecil yang bahagia menyambut orang tuanya datang.


"Iya, ini oleh-oleh untukmu. Abang akan membersihkan diri terlebih dahulu" Ucapnya lalu berjalan menuju kamarnya.


"Apa aku perlu meminta mbok Surti menyiapkan makan malam?" Tanya Rainun yang masih mengekor abangnya.


Pria tegap itu berbalik, lalu mengusap lembut kepala adiknya. "Tak usah, abang sudah makan malam" Jawabnya. Kemudian ia masuk ke kamarnya. Rainun lalu duduk di sofa ruang keluarga, berniat membuka buah tangan yang di berikan abangnya.


"Kain tenun. Waah indah sekali" Serunya bahagia. Rainun memang suka mengoleksi kain-kain khas wilayah di Indonesia. Kebanyakan Raihan yang memberinya saat pulang dari perjalanan dinas ke luar daerah.


Rainun kemudian melipat kembali kain itu dengan rapi dan bergegas menyimpannya di dalam lemari yang ia sediakan khusus untuk kain-kain yang ia koleksi.


Sayup-sayup ia mendengar suara televisi menyala. "Apa abang yang menyalakan tv?" Gumamnya. Ia kemudian berjalan menuju ruang keluarga untuk melihat siapa gerangan yang menyalakan televisi.


"Ah, abang sudah mandi?" Tanya Rainun yang melihat kakaknya sedang duduk santai sembari menonton tv.


"Sudah" Jawab Raihan yang melihat ke arah Rainun. Rainun kemudian melangkah ke dapur untuk mengambil minuman dari lemari es dan beberapa makanan ringan.


"Nih kopi" Tawarnya pada Raihan. Raihan menerima sebotol kopi yang di berikan adiknya. Rainun kemudian ikut menghempaskan diri ke sofa, tepat d sebelah Raihan.


"Bagaimana perjalananmu bang?" Tanya Rainun.


"Alhamdulillah semua lancar. Abang juga sempat menghadiri beberapa acara amal yang diselenggarakan disana" Jawab Raihan.


"Acara amal?" Tanya Rainun ingin tau.


"Iya. Acara amal untuk merayakan hari jadi anak cabang perusahaan Raja Property yang ke sepuluh" Jawab Raihan.


Raja Property adalah perusaan yang di bangun oleh mendiang ayahnya yang kini kepemilikannya di teruskan oleh Raihan.


"Ooo begitu" Kata Rainun membulatkan bibirnya.


"Kamu sendiri, apa saja kegiatanmu selama abang di luar kota? Rebahan?" Tanya Raihan meledek.


"Enak saja, aku kan juga punya usaha yang harus ku urus" Kata Rainun sewot. "Mmm bang, beberapa hari lalu ada orang misterius yang membuntutiku" Lanjut Rainun. Ia kemudian menceritakan kejadian itu pada abangnya. Raihan terlihat serius saat mendengar penuturan dari adiknya itu.


"Hmmm, sekarang kau harus lebih hati-hati Rai. Setelah hari itu apa masih ada yg membuntutimu lagi?" Tanya Raihan khawatir.

__ADS_1


"Alhamdulillah tidak ada lagi bang. Tau kah kau bang, siapa pria tengil yang ku tabrak itu?" Ujar Rainun melanjutkan cerita.


"Siapa?" Tanya Raihan.


"CEO HC." Raihan yang sedang meminum kopi tiba-tiba tersedak.


"Uhuk uhuuk uhuuk" Rainun yang mengetahui abangnya tersedak, dengan refleks menepuk nepuk punggung abangnya itu.


"CEO HC, Sakha Putra Hendrawan maksudmu?" Tanya Raihan memperjelas. Rainun hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


"Mungkin kamu salah orang. Dia orang yang baik kok" Ucap Raihan.


"Iih baik dari mana? Dia itu super menyebalkan. Saat aku berkunjung ke perusahaannya saja dia bersikap dingin. Dia seolah tak ingin tau tentang perusahaanku yang akan berelasi dengannya. Padahal proposal yang aku kirimkan tak banyak menjelaskan tentang perusahaan. Dan anehnya dia langsung saja memberikan berkas kontrak kepadaku tanpa ba bi bu. Bukankah dia CEO yang aneh? Sebagai CEO dia harusnya lebih hati-hati dan lebih detil dalam mengetahui seluk beluk perusahaan yang akan bekerja sama dengannya" Kata Rainun membeo. Gantian Raihan yang mengangguk-anggukan kepala mendengar penuturan Rainun.


"Abang, kenapa diam saja? Pasti kak Sofia sudah memberi tahukan semuanya ya?" Lanjutnya.


"Iya, abang sudah dengar dari Sofia" Jawab Raihan.


"Menurut pendapat abang, apa aku harus membangun kerja sama dengannya?" Tanya Rainun.


"Kau sudah membaca kontrak yang di berikan HC?" Bukannya menjawab, Raihan malah balik bertanya.


"Bagaimana menurutmu isinya? Apakah menguntungkan perusahaanmu?" Tanya Raihan lagi.


"Sedikit banyak memang menguntungkan. Contohnya saja dia akan membantu memperluas jangkauan ekspor perusahaanku dengan mempromosikan produk yang ku ekspor pada perusahaan yang bekerja sama dengannya di negara lain" Jawab Rainun.


"Nah, lalu apa alasan kau menolak membangun kerja sama dengannya?" Ujar Raihan.


Rainun hanya diam menimbang-nimbang apa yang di katakan Raihan.


"Baiknya kau konsultasikan juga pada rekan-rekanmu Rai" Lanjut Raihan menasehati.


"Baiklah, esok aku akan membicarakannya dengan rekan-rekanku" Kata Rainun yakin. Hati dan pikirannya jauh lebih tenang setelah mendapat masukan dari kakaknya.


Keesokan harinya...


Rainun bersama semua rekan di perusahaan yang tak lain adalah sepupu-sepupunya itu berkumpul di ruang meeting untuk membahas kontrak kerja sama yang di berikan HC.


Awalnya mereka terkejut, bagai mana bisa Rainun mendapatkan kontrak dari HC dengan mudah. Sedangkan HC yang mereka ketahui adalah perusahaan yang sulit di tembus oleh perusahan-perusahan yang lebih kecil darinya. Yang rekan-rekan Rainun takutkan adalah HC hanya akan memanfaatkan RR Eksportir demi keuntungan pribadi HC.


"Menurut kalian bagaimana setelah membaca kontraknya?" Tanya Rainun pada rekan-rekannya setelah mereka semua membaca kontrak yang di berikan HC.

__ADS_1


"Menurutku tak salah jika menyetujui kontraknya. Di kontraknya tak ada hal yang merugikan RR Eksportir" Jawab mas Surya.


"Iya, bahkan kesemua pointnya sama-sama menguntungkan kedua belah pihak tanpa memberatkan salah satunya" Mas Adi menambahkan. Rekan yang lain pun mengangguk setuju dengan pendapat dua rekannya itu.


"Jadi kita akan menyetujuinya?" Tanya Rainun memperjelas.


"Menurut kami, RR Eksportir bisa menyetujuinya" Jawab mas Adi yakin. Rekan yang lain pun kembali mengangguk menyetujui.


"Baiklah kalau begitu. Indah, besok tolong kau hubungi HC melalui kontak yang sudah tertera di kontrak itu ya." Pinta Rainun.


"Siap kak" Jawab Indah bersemangat.


Para rekan sangat mengagumi usaha Rainun sebagai CEO yang berjuang mengembangkan perusahaan yang ia rintis. Tak hanya itu, Rainun juga bukan tipikal pemimpin yang memutuskan segala sesuatunya sendiri. Ia lebih suka membicarakannya terlebih dahulu dengan rekannya berbagai macam keputusan besar untuk kemajuan RR Eksportir.


************


"Pak, RR Eksportir sudah menghubungi. Mereka menyetujui kontrak yang kita berikan." Ujar sekretaris Sakha.


"Hmm. Kau atur pertemuan untuk penandatanganan kontrak di perusahaannya" Perintah Sakha.


"Baiklah pak" Jawab sekretaris Sakha lalu meninggalkan ruangannya.


Tanpa di sadari, senyum terkembang dari bibirnya yang membuat wajah datarnya menjadi terlihat semakin tampan. Ada perasaan bahagia yang menelusup di dalam hatinya. Apakah dia akan bisa lebih dekat dengan sosok gadis bermata indah yang selalu membayanginya beberapa hari ini?.


************


"Kita harus menyiapkan semuanya. CEO HC akan berkunjung kemari" Ujar Indah kepada pimpinan juga rekan-rekannya.


"Kenapa dia ingin kemari?" Tanya Fitri yang masih bingung.


"Entahlah. Sekretarisnya mengabari bahwa dia akan mengunjungi perusahaan sekaligus menandatangani kontrak yang sudah di sepakati disini." Jawab Indah.


"Mungkin ia ingin sekalian melihat perusahaan kita" Kata Mas adi menimpali.


Rainun hanya diam mendengar komentar dari rekan-rekan kerjanya. Ia juga bingung kenapa CEO perusahaan besar itu ngotot ingin mengunjungi perusahaan kecil miliknya.


Sekarang perusahaan milik Rainun memang sudah cukup maju. Tak hanya ada sepuluh pegawai, tetapi Rainun sudah memiliki banyak pegawai dan delapan orang rekan pastinya juga gedung berlantai empat yang baru di tempati ini.


"Apa yang akan kita persiapkan?" Celetuk mbak Salma. Mbak Salma sudah kembali bekerja pasca cuti melahirkan selama tiga bulan. Mereka yang ada di ruangan itu hanya saling berpandang-pandangan.


"Tak usah mempersiapkan apa-apa. Biarkan saja dia melihat apa adanya di perusahaan ini. Mungkin pada akhirnya nanti hanya di wakilkan. Dia kan orang yang sibuk." Jawab Rainun santai.

__ADS_1


__ADS_2