Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
6. Pertemuan sekilas


__ADS_3

Pukul sepuluh waktu Indonesia, Sakha bersama asisten dan sekretarisnya akhirnya menginjakkan kakinya kembali di tanah air. Tubuhnya terasa lelah setelah melakukan perjalanan bisnis ke tiga negara sekaligus.


"Kalian pulanglah duluan dengan mobil perusahaan. Aku akan naik taxi saja." Ujar Sakha.


"Baiklah pak" Jawab kedua bawahannya itu kompak.


Sakha yang kini sudah menaiki taxi itu lalu memberikan alamat yang akan dia tuju pada supir.


"Tolong antar saya ke alamat ini pak" Kata Sakha.


"Baik tuan" Jawab si supir.


Dalam perjalanan, Sakha membuka laptopnya dan mengecek email yang masuk ke akunnya.


"RR eksportir? Apakah ini kenalannya kak Sofia?" Gumam Sakha. Sakha mengamati dan mempelajari setiap detil proposal yang di kirimkan padanya itu.


Sakha kemudian mengambil ponselnya hendak menghubungi seseorang.


"Ya, cari informasi detil tentang RR eksportir" Ucapnya singkat pada salah satu anak buahnya, lalu memutuskan sepihak sambungan telefonnya.


Tak terasa kini ia sudah sampai di tujuan setelah tiga puluh menit menempuh perjalanan dari bandara. Sakha bergegas mengambil koper yang baru saja di keluarkan oleh supir dan melangkah masuk ke apartemennya.


Sakha adalah orang yang rapih dan perfeksionis. Terlihat dari apartemennya yang rapih, bersih dan wangi. Tidak ada debu apa lagi pakaian yang berceceran atau tergantung di sembarang tempat. Tak ada asisten rumah tangga di apartemen ini. Sakha sendiri yang membersihkannya. Terkadang ia meminta Toni untuk menyewa jasa bersih-bersih rumah saat ia melakukan dinas luar dalam waktu yang lama.


Apartemen milik Sakha ini cukup luas. Ada dua kamar tidur, dua kamar mandi, dapur, ruang loundry, ruang keluarga yang luas juga ruang tamu. Kamar tidur utama yang di tempati Sakha cukup luas dengan kamar mandi di dalam. Ketepatan Sakha dalam memilih disain interior juga menambah elegan apartemennya. Penataan furniture pada setiap ruangan pun sangat sempurna hingga tak ada selah untuk menilai kekurangannya.


Ia membaringkan tubuhnya di ranjangnya yang nyaman begitu selesai membereskan barang-barang dan pakaian yang ia bawa. Sakha memejamkan matanya namun ia tak bisa tertidur.


Kruuuuukkkkk.....


Terdengar suara cacing di perutnya yang mulai berdemo. Ia kemudian bangun dan berjalan menuju lemari es untuk mencari makanan.


"Hmmm, tidak ada bahan makanan ternyata" Gumamnya. Ia kemudian menenggak habis sebotol susu untuk sedikit mengganjal perutnya yang lapar. Kemudian ia bersiap-siap untuk berbelanja ke super market.


Saat di rumah atau apartemen, Sakha memang terbiasa memasak sendiri. Ia pandai memasak berbagai macam menu makanan. Mulai dari masakan khas Indonesia hingga masakan barat. Menurut orang-orang yang pernah mencicipi masakannya, masakan Sakha sangat lezat.


Lima belas menit kemudian dia sudah sampai di supermarket terdekat. Ia mengambil trolly dan mulai berkeliling mencari bahan makanan, buah-buahan, minuman juga makanan ringan. Setelah barang-barang yang dia perlukan cukup, Sakha segera membayarnya di kasir.


Buuggghhhh....


Seseorang menabrak dada Sakha saat ia sedang berjalan. Reflek, Sakha menangkap tangan gadis itu agar ia tidak terjatuh.

__ADS_1


Degg...


Sakha terpesona saat melihat mata cantik gadis yang hampir jatuh itu. Namun ia masih bisa menyembunyikan ekspresi kagumnya di balik wajah datarnya itu.


"Hey" Seru Sakha.


"Maafkan aku kak, aku tidak sengaja. Aku sedang terburu-buru" Ucap gadis itu sembari sesekali melihat ke belakang seperti sedang diikuti.


"Makanya hati-hati saat berjalan" jawab Sakha ketus kemudian berlalu begitu saja menuju mobilnya.


Si gadis terbengong kaget dengan kata-kata Sakha yang menyebalkan itu.


*************


Siang itu, Rainun makan siang di sebuah restoran bersama teman-teman semasa kuliahnya. Rainun melihat jam yang melingkar di tangan kirinya itu.


"Pukul satu siang ternyata. Hari ini aku ada janji untuk ikut mas Surya menyurvei salah satu UMKM" Gumam Rainun.


Ia kemudian berpamitan dengan teman-temannya untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Astagaa kenapa aku parkir mobil jauh sekali sih" Keluhnya. Rainun memarkirkan mobilnya di depan sebuah supermarket yang berada tak jauh dari restoran yang ia kunjungi karena tadi tempat parkir di halaman restoran itu sudah penuh.


Tiba-tiba Rainun menghentikan langkahnya. Ia merasa seperti ada yg mengikuti. "Ah, apa hanya perasaanku saja?" Batin Rainun. Ia melihat kebelakang, kemudian ke kanan dan kekiri. "Tak ada orang kok" Batinnya lagi.


Buggghhhhh....


Rainun terhuyung dah hampir terjatuh jika saja tangan pria yang dia tabrak tak reflek menangkapnya. Mata mereka saling bertemu sesaat sebelum akhirnya pria itu tersadar dan menarik tubuh mungil Rainun.


"Maafkan aku kak, aku tidak sengaja. Aku sedang terburu-buru" Ujar Rainun meminta maaf pada si pria yang salah satu tangannya penuh dengan kantung belanjaan itu.


"Makanya hati-hati saat berjalan" Jawab pria itu ketus kemudian pergi begitu saja menuju mobilnya.


"Astagaa, menyebalkan sekali pria itu. Aku kan sudah meminta maaf" Gumam Rainun yang masih berdiri mematung di tempatnya.


Begitu tersadar, Rainun langsung berlari ke mobilnya karena takut masih diikuti oleh pria misterius tadi.


"Huufff, siapa pria misterius tadi? Kenapa dia mengikutiku?" Gumam Rainun yang sedang melajukan mobilnya ke kantor. Rainun berulang kali menarik nafas panjang untuk menenangkan diri. Ia bergidik membayangkan bagaimana pria misterius itu membuntutinya.


"Fokus - fokus Rainun, jangan memikirkan hal itu dulu. Kamu masih menyetir, jangan sampai menabrak lagi" Ujar Rainun mengingatkan dirinya sendiri.


Di apartemen Sakha...

__ADS_1


Sepulang dari supermarket, Sakha langsung membereskan belanjaannya. Kemudian ia memasak spagethi yang menurutnya simpel dan cepat, karena dia sudah sangat lapar.


Sambil makan, Sakha kembali teringat dengan mata gadis yang menabraknya tadi.


"Mata yang indah" Gumamnya, lalu tersenyum. "Ya tuhan, apa yang aku pikirkan" Katanya lagi sambil menepuk-nepuk dahinya. Ia pun beranjak membereskan bekas makan dan peralatan dapur yang ia gunakan untuk memasak. Sakha mencuci semuanya dan mengembalikan peralatan-peralatan itu ke tempatnya semula.


Sakha berjalan ke ruang keluarga kemudian menyalakan televisi, berniat untuk santai sejenak. Ia tiba-tiba teringat akan janjinya dengan Sofia saat di Kanada. Sakha kemudian mengambil ponselnya berniat untuk mengabari Sofia.


[Kak, aku sudah kembali ke Indonesia] pesan yang Sakha kirim ke Sofia. Ia kemudian meletakkan ponselnya dan pergi ke lemari es untuk mengambil buah. Berniat memakannya sambil menonton televisi.


Berkali-kali panggilan masuk ke ponsel Sakha. Sayang tak terdengar karena ponselnya dalam mode senyap. Saat ia kembali ke tempat duduknya ia melihat ponselnya menyala karena ada panggilan masuk. Buru-buru Sakha menjawab panggilan itu.


"Heh bocah sial, kenapa tak menjawab panggilanku. Kau tau kan aku ini orang yang super duper sibuk" Teriak seseorang dari sebrang telefon. Sakha refleks menjauhkan sedikit ponselnya karna telinganya pengang mendengar teriakan wanita itu. Tentu saja wanita itu adalah Sofia. Hanya dia orang yang berani mengata-ngatai Sakha secara langsung.


"Ini sudah ku angkat" Jawab Sakha santai.


"Kapan kau sampai?" Tanya Sofia.


"Pukul 10 tadi" Jawab Sakha sambil mengunyah apel.


"Kirimkan alamat apartemenmu. Aku akan berkunjung. Sudah tak sabar aku ingin menjitak kepalamu itu bocah tengil" Kata Sofia lalu mematikan telefon sepihak.


"Dasar nenek lampir. Dari dulu tak pernah berubah justru makin bertambah rasanya tingkat kebawelannya." Sakha tersenyum, ia merindukan saat-saat Sofia mengomelinya.


"Haaah dia memang kakak wanitaku satu-satunya yang paling bawel" Gumam Sakha.


Ia kemudian meletakkan ponselnya di meja dan melanjutkan aksi nonton tvnya sambil memakan apel. Tak lupa ia juga menghidupkan kembali nada dering ponselnya.


Triiinggg....


Triinnggg.....


Baru saja di letakkan, ponsel itu kembali berdering. "Ya, ada apa Ton?" Tanya Sakha.


"Sedang berada dimana bos?" Tanya Toni dari sebrang telefon.


"Aku sedang di apartemen" Jawab Sakha.


"Anda baik-baik saja kan bos? Kata supir perusahaan, anda lebih memilih pulang menggunakan taxi. Apa terjadi sesuatu?" Tanya Toni khawatir.


"Tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja. Tak usah khawatir, kau tau siapa aku kan?. Oh ya Ton, esok tolong kau urus langsung pengiriman menuju Dubai. Aku tak ingin pengiriman kesana tersendat seperti kemarin lusa. Karna barang yang kita kirim kali ini mudah menurun kualitasnya" Pinta Sakha.

__ADS_1


"Siap bos. Akan ku urus besok" Jawab Toni.


Sakha kemudian memutuskan sambungan telefon itu dan kembali menonton televisi.


__ADS_2