
"Semua sudah beres kan nona?" Tanya Sakha pada kekasih di sebelahnya. Gadisnya itu tersenyum melihatnya.
Mereka kini berada di depan homestay yang di tempati Sofia. Disana sudah tampak kesibukan dari kru W.O juga MUA.
"Bersiaplah sayang. Aku juga akan bersiap" Ujar Sakha. Rainun mengangguk lalu masuk ke dalam homestay.
"Kak" Panggil Rainun.
"Iya?" Jawab Sakha lembut.
Rainun menghambur ke pelukan Sakha. Ia terisak dalam pelukan Sakha.
"Hey, kau kenapa sayang?" Tanya Sakha sembari membelai lembut kepala kekasihnya itu.
"Aku bahagia, tetapi juga ada rasa sedih di hatiku. Aku tak ingin menangis di depan abangku. Biarkan aku menangis di sini sebentar saja. Aku juga merindukan ke dua orang tuaku saat ini. Kau tau, ada perasaan seperti akan kehilangan abangku. Tapi aku juga bahagia karena abangku sudah menemukan orang yang tepat. Kak Sofia juga sangat menyayangiku. Tapi entah kenapa aku takut semuanya akan terbagi" Rainun mencurahkan perasaannya pada pria yang kini memeluknya.
Sakha mengerti kerapuhan hati Rainun saat ini. Sakha tak menjawab apa - apa. Membiarkan Rainun menumpahkan semua perasaannya. Setelah sedikit tenang dan isakkannya berkurang, sakha mengendurkan pelukannya.
"Kau sudah tenang? Bolehkah aku bicara?" Tanya Sakha. Rainun mengangguk, masih di dalam pelukan Sakha.
"Lihatlah aku" Ujar Sakha sambil menghadapkan wajah Rainun padanya. Ia kemudian mengusap air mata di pipi gadisnya. Ada rasa sakit yang menjalar saat melihat tatapan sedih kekasihnya itu.
"Sayang, dengarkan aku. Tak akan ada yang terbagi atau hilang darimu. Semuanya akan sama bahkan akan bertambah. Kini bukan hanya abangmu yang tinggal bersamamu, tetapi ada kak Sofia yang juga menemanimu. Tak hanya abangmu yang akan memberimu perhatian dan kasih sayang, tapi juga ada kak Sofia yang memberikan perhatian juga kasih sayangnya. Lagi pula sekarang ada aku, yang akan selalu ada di sampingmu, memberikan semua yang kau butuhkan, semua yang kau inginkan. Jangan takut, jangan bersedih. Hatiku sakit saat melihatmu bersedih" Ujar Sakha. Kata - katanya lembut dan begitu menyentuh di hati Rainun. Memberikan kekuatan tersendiri untuknya.
"Terima kasih kak. Aku menyayangimu" Ujar Rainun sembari kembali memeluk kekasihnya itu.
"Aku juga sangat sangat sangat menyayangimu. Jangan bersedih. Hapuslah air matamu nanti kak Sofia dan mami akan menghajarku karena mereka mengira aku sudah membuatmu menangis" Kata Sakha.
"Baiklah. Aku sudah tak bersedih" Ujar Rainun sedikit tertawa mendengar ucapan Sakha tadi.
"Masuk dan bersiaplah. Mereka pasti menunggumu" Pinta Sakha. Rainun kemudian berbalik dan berjalan memasuki homestay tempat Sofia berada.
"Kau dari mana saja nak?" Tanya mama Sofia yang sudah selesai di rias.
"Aku berkeliling sebentar memastikan semua sudah selesai ma" Jawab Rainun.
"Kau sangat bekerja keras. Terimakasih sayang." Ucap mama Sofia.
"Masuklah nak, Sofia sedari tadi mencarimu" Kata mami Sakha.
__ADS_1
"Baiklah tante" Jawab Rainun.
"Jangan panggil tante lagi nak. Panggilah mami dan papi seperti Sakha. Bagaimana bisa calon menantuku satu - satunya masih memanggil tante dan om" Ujar mami Sakha yang membuat mama Sofia terkekeh.
"Baiklah mi" Jawab Rainun tersenyum. Rainun lalu masuk ke kamar menemui Sofia yang juga baru selesai dirias.
"Astaga kau ke mana saja? Aku mencarimu sedari tadi. Taukah kau kalau aku sangat gugup" Ucap Sofia ia lalu memeluk calon adik iparnya itu.
"Aku habis mengecek semua persiapan kak" Jawab Rainun. Rainun mengencangkan pelukannya pada Sofia, di hatinya ia sangat bersyukur akan memiliki kakak ipar seperti Sofia. Ia begitu menyayangi Rainun, terlihat dari sikap dan perhatiannya. Benar apa kata Sakha, tak ada yang berkurang. Semuanya justru akan bertambah.
"Cepatlah berias dan bersiap. Sebentar lagi waktunya tiba. Bagaimana bisa adik pengantin sama sekali belum bersiap" Ujar Sofia yang menyeret Rainun ke depan cermin. "Berikan riasan terbaik kak. Ku percayakan padamu" Lanjutnya pada MUA. Ia kemudian kembali duduk di depan cermin di sebelah Rainun menunggu hair stylist menata rambutnya.
"Di mana Sakha?" Tanya Sofia
"Dia sedang bersiap di homestaynya kak" Jawab Rainun.
"Ku kira dia sedang sibuk bersama staf dan body guardnya" Ujar Sofia terkekeh.
"Semua sudah ia serahkan pada Toni kak" Ujar Rainun yang ikut terkekeh.
"Kalian berdua sudah bekerja keras untukku dan juga Raihan. Terima kasih banyak" Kata Sofia.
Satu jam kemudian Rainun sudah menyelesaikan riasan juga sudah memakai gaunnya. Gaun berwarna merah marun rancangan Sofia yang sangat indah ketika ia kenakan. Hijab sederhana yang ia gunakan membuat penampilannya semakin anggun. Sofia terlihat puas ketika melihat calon adik iparnya itu begitu cantik dan anggun.
"Ah kau terlihat sangat cantik!" Seru Sofia.
"Kau juga terlihat sangat berbeda. Aku hampir tak mengenalimu" Puji Rainun. Mereka berdua lalu mengambil foto bersama.
"Kak, aku akan menemani abang di hotel" Ujar Rainun.
"Kau tak menemaniku saja?" Tanya Sofia.
"Bagaimana bisa? Aku kan adik dari pihak pria. Lagi pula di sini sudah ada kak Mia yang menemanimu." Ujar Rainun terkekeh.
"Haah. Apalah dayaku yang tak memiliki adik" Ujar Sofia
"Lalu kau anggap aku apa selama ini?" Tanya Sakha yang tiba - tiba muncul di sana. Semua orang di sana mengagumi Sakha yang menggunakan beskap berwarna marun, senada seperti yang di gunakan Rainun. Ia tampak begitu gagah dan tampan.
"Kau hanyalah bocah tengil yang sering mengikutiku kemana - mana" Jawab Sofia meledek.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu aku pergi saja" Ujar Sakha.
"Aaaa berhentilah Sakha, adikku. Kau adalah adik terbaikku" Ucap Sofia tulus. "Kemarilah" Perintah Sofia yang sudah melebarkan tangannya. Sakha mendekat dan memeluk 'kakaknya' itu. Tak ada ikatan darah. Mereka besar bersama dalam ikatan persahabatan kuat kedua orang tuanya. Namun semua itu sudah cukup membuat mereka bak saudara kandung.
"Aku akan mengantar Rainun dulu ke hotel. Setelah itu aku akan kembali dan membawamu nanti saat akan Ijab Qobul" Ucap Sakha. Para orang tua sudah berada di lobi hotel. Karena tiga puluh menit lagi acara akan di mulai.
Sakha terus menatap Rainun, seolah tak mampu mengalihkan pandangan darinya.
"Jangan menatapku begitu. Aku jadi malu" Ujar Rainun yang menggandeng lengan Sakha keluar dari homestay.
"Aku bahkan tak bisa mengalihkan pandanganku darimu" Jawab Sakha.
"Ayolah, abang pasti menunggu" Ajak Rainun. Mereka kemudian menuju hotel menggunakan mobil karena jarak hotel dan homestay yang lumayan jauh jika harus berjalan kaki.
"Apakah kak Sofia nanti akan menaiki mobil yang ini?" tanya Rainun.
"Tidak. Dia akan naik limou**n yang sudah di siapkan" Jawab Sakha. Tak lama mereka sampai di hotel. Mereka langsung menuju ke kamar Raihan menggunakan lift.
"Abang" Seru Rainun yang melihat abangnya sudah di luar kamar mengobrol dengan beberapa keluarganya. Rainun berlari lalu menghambur di pelukan abangnya.
"Ada apa sayang?" Ujar Raihan lembut. Ia kemudian mencium puncak kepala adiknya itu.
"Apakah kau masih gugup?" Tanya Rainun.
"Tidak karena kamu sudah ada di sini" Jawab Raihan. Semua orang nampak terharu dengan ke dua kakak beradik ini.
"Pakde, bude, om, tante. Kenalkan ini Sakha" Ujar Raihan memperkenalkan Sakha yang berada di belakang Rainun. Sakha kemudian bersalaman dan berkenalan dengan keluarga Rainun itu satu persatu.
"Jadi ini nak Sakha? Tampan sekali" Ujar tante Asih. Sakha hanya tersenyum mendengarnya.
"Apakah ini calon menantu selanjutnya?" Gurau pakde Awal.
"In syaa Allah. Doakan saja bisa secepatnya pakde" Jawab Sakha. Rainun mencubit lengan Sakha saat mendengar jawaban yang keluar dari mulutnya.
Tak lama, kru W.O datang menghampiri meminta semua bersiap di lobi hotel dan bersama menuju ke tempat akad. Mereka kemudian turun ke lobi hotel bersama - sama. Terilihat semua keluarga dan tamu undangan sudah berkumpul. Keluarga besar menggunakan baju berwarna navy. Mama sofia mengenakan kebaya berwarna merah dan papanya mengenakan beskap yang juga berwarna merah. Sedangkan pengantin mengenakan pakaian berwarna putih di acara akad nikah.
"Baiklah aku harus menjemput kak Sofia sekarang" Ujar Sakha pada Rainun dan Raihan.
"Hm. Berhati - hatilah" Kata Rainun. Sakha kemudian menaiki mobil kembali menuju homestay.
__ADS_1