Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
56. LA


__ADS_3

Sakha sampai di LA dan langsung menempati apartemen yang ia sewa di sana. Ia menempati apartemen mewah itu berdua dengan Toni.


"Apa sudah ada perkembangan kak?" tanya Sakha. Jika hanya berdua, Sakha selalu memanggil Toni dengan sebutan kak. Tetapi jika ada orang di sekitar mereka, ia hanya memanggil nama dan Toni akan memanggilnya bos.


"Sejauh ini belum ada. Tetapi ada kecurigaan yang mengarah ke galeri nya sebagai tempat pencucian uang" ujar Toni.


"Bagaimana dia bisa menggelapkan dana sebanyak itu dari anak perusahaan kita di sini?" Sakha masih tak habis pikir. Ia merasa keamanan dan prosedur yang ia buat cukup ketat soal keuangan perusahaan.


"Aku justru curiga jika ada orang dari perusahaan pusat yang bekerja sama dengannya" kata Toni.


"Apa ada hal yang mengarah ke sana?" tanya Sakha.


"Dia beberapa kali menghubungi pak Johan dengan ponselnya" jawab Toni.


"Pak Johan? Bukankah dia orang kepercayaan papi?" tanya Sakha. Toni mengangguk membenarkan.


"Kalau begitu telusuri lebih dalam mengenai pak Johan juga orang - orang yang bersekongkol dengan mereka berdua" kata Sakha.


Selama di LA dia hanya ke kantor satu kali untuk mengurangi kecurigaan karena banyak orang yang tidak tau di negara mana Sakha dan Toni saat ini. ia sudah menyebar banyak mata - mata untuk mengawasi gerak gerik targetnya. Ia menyebarkan berita bahwa sedang mengurus cabang baru di negara yang masih di rahasiakan setelah mampir ke LA.


Tak terasa sudah hampir dua bulan Sakha berada di LA. Sejauh ini sudah banyak perkembangan juga informasi yang mereka dapatkan. Mereka terus menelusuri dan mendalami kerugian perusahaan dari penggelapan dana Mr Dorsen juga orang - orang yang bersekongkol dengannya.


...****************...


"Sayang, kau sedang apa?" tanya Sakha yang sedang melakukan vidio call dengan Rainun.


"Aku baru saja selesai mengerjakan pekerjaanku kak. Beberapa hari ini aku lembur di rumah" jawab Rainun.


"Kau sudah makan malam?" tanya Sakha


"Tentu saja" jawab Rainun. "Kau baru bangun tidur?" tanyanya kemudian.


"Tidak, aku bahkan belum tidur" jawab Sakha.


"Kenapa kau jarang sekali tidur selama di sana kak? Tak baik untuk kesehatanmu" Rainun khawatir.


"Aku akan tidur setelah menelfonmu nanti. Aku merindukanmu" ujar Sakha.


"Aku juga sangat merindukanmu. Kak, beberapa waktu lalu aku bertemu dengan seniorku saat di universitas. Namanya kak Dion" Rainun mulai bercerita.


"mm lalu?" tanya Sakha.


"Dia baru saja kembali dari Swiss. Dia bilang dia memiliki beberapa teman yang sering kali mencari produk dalam jumlah besar di Indonesia dan dia berjanji akan merekomendasikan perusahaanku pada teman - temannya" ujar Rainun.


"Itu awal yang bagus sayang. Mudah - mudahan semuanya berjalan lancar" Sakha menyemangati.


"Mudah - mudahan. Aku berharap begitu kak" Rainun tersenyum "Bagaimana dengan masalahmu di sana? Apakah sudah mendapat titik terang?" tanya Rainun.

__ADS_1


"Ya, kami masih terus mengumpulkan bukti - bukti. Ternyata bukan hanya dengan pak Johan dia bekerja sama. Ada beberapa orang bersama pak Johan yang membantunya" ujar Sakha.


"Lalu apa langkah yang akan kau ambil?" tanya Rainun.


"Aku dan Toni sedang mengatur rencana untuk menjebak dan mereka bersama - sama. Tinggal menunggu waktu yang tepat saja" ujar Sakha.


"Bukannya semakin lama di ulur, akan semakin merugikan perusahaan?" tanya Rainun.


"Selama aku di LA belum ada pengeluaran keuangan yang mencurigakan. Maka dari itu aku dan Toni menunggu saat mereka bergerak kembali mengambil uang perusahaan" jelas Sakha.


"Semoga semuanya cepat selesai dan baik - baik saja kak" kata Rainun.


"Kau tidak sedang bersama Lili?" tanya Sakha.


"Apa kau rindu Lili? Mungkin dia sudah tidur sekarang" Rainun tersenyum. Ia kemudian berjalan menuju kamar Raihan dan Sofia.


"Apa Lili sudah tidur?" tanya Rainun yang melihat Raihan dan Sofia sedang menonton Film.


"Iya dia sudah tidur. Ada apa?" tanya Sofia.


"Unclenya rindu Lili" jawab Rainun. Ia lalu mengarahkan ponselnya pada Raihan dan Sofia.


"Pulanglah jika rindu Lili. Kau sudah lama di sana, bisa - bisa Lili melupakanmu saat kau kembali" ledek Raihan. Sakha terkekeh mendengarnya.


"Apa kau kurang tidur? Kantung matamu tampak menghitam" kata Sofia.


"Tidurlah yang cukup, agar bisa berfikir jernih. Masalahmu itu tak main - main bro" saran Raihan. Beberapa waktu lalu Sakha menghubunginya dan bercerita serta meminta pendapat Raihan mengenai masalahnya.


"Baik bang" jawab Sakha.


"Masuklah ke kamar jika Sakha ingin melihat Lili" ujar Sofia. Rainun kemudian masuk ke kamar dan melihat Lili yang tertidur di ranjangnya. Rainun ikut merebahkan diri di sebelah keponakannya itu.


"Lihatlah dia sudah semakin berisi" Rainun mencium pipi Lili yang gembil.


"Kau benar sayang, ia nampak menggemaskan. Hay Lili, uncle merindukanmu" ujar Sakha. Seolah ingin menyapa Sakha, Lili membuka matanya sebentar lalu kembali memejamkannya.


"Lihatlah ia membuka matanya ketika kau sapa kak" Kata Rainun.


"Iya, sepertinya ia belum melupakanku" Sakha terkekeh. "Dia sangat menggemaskan dengan kepalanya yang botak" lanjutnya.


"Aku tidak suka kepala botak Lili. Aku bahkan membelikannya minyak kemiri agar rambutnya cepat tumbuh" ujar Rainun yang membelai belai kepala Lili.


"Tapi dia sangat lucu dengan kepala yang botak itu" ujar Sakha. Rainun tersenyum mendengarnya.


"Aku tak sabar ingin mengikat rambut Lili dengan berbagai model" kata Rainun.


"Iya, dia pasti tampak cantik. Wajahnya tak berubah, masih persis dengan bang Raihan" Sakha memperhatikan gadis mungil yang ada di layar ponselnya.

__ADS_1


"Kau benar kak, dia begitu mirip dengan abang" Rainun menyetujuinya.


"Sayang, apa yang akan kau lakukan besok?" Tanya Sakha.


"Seperti biasa sejak ada Lili dan kau di LA, aku selalu menghabiskan hari libur di rumah bermain bersama Lili. Sekarang ia sudah bisa di ajak mengobrol" kata Rainun.


"Apa ada yang kau inginkan?" tanya Sakha lagi.


"Tidak ada. Kenapa tiba - tiba bertanya begitu?" Rainun mengernyitkan dahi.


"Tak apa. Aku akan mengirimkan sesuatu besok ke rumahmu" Sakha tersenyum.


"Benarkah? Baiklah aku akan menunggunya kalau begitu" jawab Rainun. Rainun kemudian menggendong dan menimang Lili yang terbangun.


Sakha memperhatikan kekasih dan keponakannya itu, rasa rindunya sedikit terobati kini. Rainun tak memperhatikan panggilan vidio yang menyala karena mengganti popok Lili yang ternyata sudah penuh. Saat ia kembali memperhatikan panggilan vidio itu, dilihatnya Sakha yang kini sudah tertidur.


"Kak, kau sudah tidur?" tanya Rainun namun tak ada respon dari Sakha.


"Aku hentikan panggilannya ya kak. Selamat tidur sayang" Rainun kemudian menghentikan panggilan vidionya bersama Sakha. Ia kemudian menggendong Lili yang terbangun itu.


"Kak, malam ini Lili tidur denganku ya?" pinta Rainun.


"Kau yakin?" tanya Sofia yang langsung di jawab anggukan oleh Rainun.


"Baiklah, nanti kakak akan mengantar ASI juga alat penghangatnya" Sofia kemudian masuk ke kamarnya mengambil collar bag untuk menyimpan ASI di kamarnya juga alat penghangat dan dot serta alat penyeterilnya untuk di bawa ke kamar Rainun.


"Rai, ini kebutuhan Lili. kau sudah membawa diapers dan baju ganti untuk Lili?" tanya Sofia pada Rainun yang masih menimang - nimang Lili yang baru terpejam.


"Belum kak. Nanti akan ku ambil setelah Lili tidur" jawab Rainun.


"Baiklah, akan kakak siapkan. Nanti kau ambil di atas tempat tidur. Rai, kakak dan abang mau jalan - jalan ya?" Sofia berpamitan.


"Baiklah, nikmati waktu kalian berdua. Tenang saja Lili aman bersamaku" jawab Rainun.


"Ada yang ingin kau titip?" tanya Sofia.


"Tidak kak. Mmm tapi kalau aku ingin sesuatu aku akan menghubungi kak Sofia" jawab Rainun.


"Titip Lili yaa" Sofia tersenyum lalu menutup pintu kamar Rainun dengan hati - hati.


Drrtt...


Getar ponsel Rainun yang ia letakkan di atas nakas.


[Bisakah kita bertemu besok? Waktu dan tempatnya akan ku kabari besok] pesan dari Dion.


[Baiklah] jawab Rainun singkat.

__ADS_1


"Ada apa ya? mudah - mudahan kak Dion membawa kabar baik" gumam Rainun.


__ADS_2