
"Kamu lelah sayang?" tanya Sakha yang melihat Rainun mulai lesu siang ini.
"hanya sedikit" jawab Rainun berusaha tersenyum. Kepalanya sedikit pusing kali ini.
"Aku antar ke hotel" Kata Sakha.
"Tidak kak. Aku akan menemanimu meeting terakhir hari ini" ujar Rainun.
"Kau yakin akan baik - baik saja?" tanya Sakha khawatir.
"Iya tentu saja" Rainun tersenyum.
"Nanti kau bisa beristirahat di kamar hotel karena kita akan meeting di restoran sebuah hotel" kata Sakha, Rainun mengangguk mengerti. Mereka menempuh perjalanan selama lima belas menit hingga sampai di tempat tujuan.
"Ayo turun" Sakha menggandeng tangan Rainun. Ia kemudian berhenti berjalan dan menghadap ke Rainun.
"Kau demam sayang" Sakha memegang dahi Rainun untuk memastikan karena tangan Rainun yang di pegang Sakha terasa panas. Kini Rainun berusaha untuk kuat agar Sakha tak khawatir.
"Aku tak apa kak, aku baik - baik saja. Kau lanjutkan saja meetingmu dengan tenang, aku akan beristirahat di kamar hotel" ujar Rainun sembari merapikan dasi dan jas yang di pakai Sakha. Tak lupa seulas senyum manis ia berikan untuk menambah semangat Sakha.
"Baiklah, Toni sudah memesan kamar untukmu beristirahat" kata Sakha. Ia kemudian mengantar Rainun ke kamarnya sebelum pergi ke restoran hotel.
"Beristirahatlah sayang. Kabari aku jika ada apa - apa" kata Sakha. ia lalu keluar dari kamar dan pergi ke restoran.
Rainun merebahkan diri di kasurnya. "Hanya beristirahat beberapa jam saja kenapa kamarnya harus sebagus ini" kata Rainun. Ia lalu memejamkan mata karena kepalanya yang sakit dan tubuhnya yang mulai demam.
"Ah sepertinya aku terkena flu" Batin Rainun. Rainun tertidur hingga Sakha menyelesaikan meetingnya dan kembali menjemput Rainun di kamarnya.
"Sayang, aku ada di depan" Sakha menelfon Rainun.
"Iya kak" Rainun terburu - buru membukakan pintu kamar hotel.
"Sayang, kamu mimisan?" Sakha sangat khawatir saat melihat Rainun membukakan pintu.
"Ah iya sepertinya aku mimisan" jawab Rainun saat memegang hidungnya yang berlumur darah.
"Bagaimana bisa kau sesantai ini? Kau tak tau kalau mimisan?" Sakha mulai panik. Rainun menggeleng.
"Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang" Toni menyarankan. Sejujurnya Toni juga khawatir melihat kondisi Rainun yang pucat juga mimisan.
Rainun membersihkan darah di hidungnya sebelum berjalan keluar hotel. Mereka bergegas menuju ke rumah sakit terdekat.
"Apa kau pernah seperti ini sebelumnya?" tanya Sakha yang kembali memberikan tissue untuk Rainun mengelap hidungnya yang masih berdarah.
"Tidak, aku baru kali ini mimisan kak" jawab Rainun.
"Kenapa banyak sekali seperti ini dan tidak berhenti - berhenti. Pak tolong lebih cepat lagi" Sakha panik.
"Tak apa, jangan panik kak" Rainun mencoba menenangkan.
__ADS_1
"Bagaimana aku tidak panik. Wajahmu pucat dan darah masih saja keluar dari hidungmu" kata Sakha. Sekitar sepuluh menit mereka sampai di rumah sakit.
Rainun langsung saja di larikan ke UGD untuk mendapatkan pertolongan. Dua jam pemeriksaan dan observasi, Rainun di perbolehkan pulang setelah infus yang di pasang habis dan demamnya turun.
"Demamnya sudah turun. Kata dokter kita bisa pulang setelah infus ini habis" jelas Sakha.
"Maafkan aku malah merepotkanmu seperti ini kak" kata Rainun.
"Tidak, justru aku merasa bersalah karena mengajakmu mengikuti kegiatanku di cuaca dingin seperti ini" Sakha menyesal.
"Tak apa, kan aku yang memaksa" kata Rainun.
"Besok kau beristirahat saja di hotel. Aku akan meeting sampai makan siang. Lusa kita akan pulang ke Indonesia, Toni sudah memesan tiket untuk pulang" kata Sakha.
"Terima kasih kak" Rainun menggenggam tangan Sakha erat.
"Aku seperti tak bertulang saat melihat darah yang terus keluar dari hidungmu. Jangan begini lagi sayang" Sakha mengecup tangan Rainun berkali - kali. Rainun tersenyum mendapat perlakuan manis dan perhatian dari Sakha.
"Aku mencintaimu" ujar Rainun.
"Aku juga sangat mencintaimu" Sakha membelai lembut dahi Rainun.
Mereka akhirnya bisa pulang dari rumah sakit di malam hari. Rainun merasa tubuhnya sudah jauh lebih baik sekarang.
"Ada yang ingin kamu makan?" tanya Sakha.
"Baiklah nanti kita pesan di hotel saja" Kata Sakha. "Apa masih ada yang sakit?" lanjutnya. Ia terus saja memegang tangan Rainun. Ia begitu takut dan khawatir atas kejadian yang menimpa Rainun tadi.
"Tidak kak, aku sudah jauh lebih baik" Rainun tersenyum.
"Langsung bilang padaku jika ada yang sakit. Jangan di tahan dan diam saja ya sayang" pinta Sakha.
"Iya baiklah" Rainun lalu menyenderkan kepalanya di bahu Sakha.
Mereka akhirnya sampai di hotel. Kali ini Sakha menemani Rainun di kamarnya setelah ia berganti pakaian di kamarnya.
"Sayang, apa kau sudah ganti pakaian?" Tanya Sakha lewat telefon.
"Sudah kak" jawab Rainun.
"Baiklah. buka kan pintu kamarmu, aku akan menemanimu" pinta Sakha. Rainun bergegas memakai kerudungnya dan membuka kan pintu untuk Sakha yang sudah berada di depan kamarnya.
"Ini pesanan supmu nona" Sakha mendorong sebuah meja troli.
"Kenapa kau yang membawa makanan ini kak?" tanya Rainun.
"Tadi pelayannya mengantar saat aku menunggu di depan kamarmu, lalu aku minta agar aku saja yang membawakannya untukmu" jawab Sakha.
Mereka lalu duduk di ruang makan yang ada di kamar Rainun. Sakha menyusun piring dan gelas juga makanan di atas meja.
__ADS_1
"Kamar ini seperti apartemen. Kalau saja ada kompornya, aku pasti memintamu untuk memasakkan makanan untukku" Rainun terkekeh.
Sakha tersenyum melihat Rainun yang kecanduan makanan masakkannya.
"Aku akan memasakkanmu makanan setiap hari saat kita sudah menikah nanti" ujar Sakha sambil menyuapkan sup untuk Rainun.
"Tidak, aku akan belajar masak denganmu" kata Rainun. Sakha tersenyum bangga sambil mengusap usap kepala Rainun.
"Apa kau tak lelah kak? Bahkan setelah kegiatanmu yang padat seharian, kau masih mengurusku" tanya Rainun
"Tidak. Ada kau di sini yang menjadi obat lelahku" jawab Sakha. "Ah aku belum mengabari bang Raihan atau kak Sofia kalau kau sakit. Kau sudah menelfon mereka?" lanjutnya.
"Belum. Tak perlu mengabari mereka, aku tak mau mereka khawatir. Lagi pula aku sudah baik sekarang" jawab Rainun.
"Baiklah kalau begitu maumu. Sayang, Toni sudah membelikan koper untuk membawa barang - barangmu" kata Sakha.
"Kenapa membeli koper lagi? Koperku saja masih luas kak" Rainun bingung.
"Kopermu itu hanya cukup untuk pakaian dan belanjaanmu saja sayang. Koper satunya untuk hadiah dan oleh - oleh yang kemarin kita beli" jelas Sakha.
"Aku kan hanya membawa sedikit baju saat ke sini kak" Rainun masih bingung.
"Ya kau harus membawa pulang semua yang ada di lemari itu" Sakha menunjuk lemari pakaian Rainun.
"Apa? Bukankah itu terlalu banyak. Kan tidak semuanya aku pakai bahkan hang tag nya masih terpasang" jawab Rainun.
"Ya bawa pulang saja semua pakaian, hijab, mantel, aksesoris, tas dan sepatunya sayang. Lagi pula itu semua sudah ku bayar" jelas Sakha.
"Astaga kak Sakha, aku bisa membeli mobil dengan semua barang branded itu. Kenapa kau boros sekali hanya untuk barang - barang seperti itu" Rainun mengomel.
"Aku hanya ingin menyenangkanmu sayang. Lagi pula tas - tas itu bisa untuk investasi kan?" jawab Sakha santai.
"Iiihhh kau ini membuatku gemas kak" Rainun mencubit pipi Sakha.
"Sakit sayang" Sakha mengusap - usap pipinya yang terasa panas. "Kau ini jangan terlalu hemat untuk kepuasan diri. Apa lagi untuk barang yang bisa di investasikan. Tenang saja sayang, aku akan bekerja keras untuk mengganti pengeluaranku saat ini" Sakha terkekeh.
"Kau itu sudah terlalu keras bekerja kak. Kalau lebih keras bekerja lagi, aku akan makin sulit bertemu denganmu" ujar Rainun.
"Nanti kau akan ku ajak setiap aku pergi bekerja ke luar negri agar tak sulit bertemu denganku" jawab Sakha.
"Lalu perusahaanku?" kata Rainun.
"Kan ada rekanmu. Atau kalau kau meu menjualnya padaku, aku akan membelinya" seloroh Sakha.
"Enak saja. Aku membangun itu dengan tetesan keringat dan darah. Bagai mana bisa menjualnya begitu saja" jawab Rainun ketus.
"Lagi pula jika aku beli juga kau tetap bisa memantaunya. Kau kan akan menjadi istriku. Aku tak ingin kau bekerja terlalu keras, biar aku saja." kata Sakha.
"Aaahh tidak tidak tidak. Aku tak akan termakan rayuanmu yang satu ini" kata Rainun. Sakha tertawa mendengarnya.
__ADS_1