
Sakha dan Rainun sudah sampai di privat bioskop yang kemarin sudah di booking oleh Sakha. Mereka masuk dan melihat - lihat terlebih dahulu sembari menunggu sepupu - sepupu Rainun datang.
"Kak, tempat ini benar- benar luar biasa" Rainun kagum. Ia melihat - lihat ruang tunggu yang bersebelahan dengan ruang menontonnya.
"Kau suka? gantilah dulu sepatumu dengan sendal yang di sediakan ini sayang" ujar Sakha. Rainun menuruti perintah Sakha, ia melepas sepatunya dan menggantinya dengan sendal yang sudah di sediakan.
"Lihatlah makan - makanan yang berjejer di buffet itu. Apakah itu sudah termasuk dengan sewa bioskopnya?" tanya Rainun
"Iya, itu semua sudah termasuk dengan sewa bioskop ini sayang" jawab Sakha.
"Pasti mahal ya" tanya Rainun lagi.
"Apa saja akan aku lakukan untuk membuatmu senang dan nyaman" Sakha tersenyum.
"Aku hanya ingin mencobanya sekali ini saja dan tak berniat kembali kesini lagi. Pasti ini semua mahal" gerutu Rainun. Sakha hanya tersenyum mendengar gerutuan kekasihnya itu.
"Dimana sepupumu? Kenapa belum datang?" tanya Sakha.
"Mereka sudah di depan kok" ujar Rainun yang baru saja membuka ponselnya. Tak lama mas Surya, Indah, Bagas, Bara, juga Fitri masuk ke ruang bioskop, mereka di antar oleh seorang staf.
"Kak Sakha, Kak Rai. Wuaah ini benar kita akan menonton di sini?" tanya Bara. Mereka berlima secara otomatis menyebar untuk melihat - lihat ruang bioskop yang di sewa Sakha.
"Ini luar biasa sih. Layar sebesar itu kita hanya menonton bertujuh dengan kursi yang senyaman itu. Apakah kalian sudah lihat ruang menontonnya?" tanya mas Surya yang baru melihat ruang menonton.
"Benarkah mas?" Indah dan Fitri lalu berlari melihat ruang menonton yang di maksud mas Surya. Mereka semua terkagum - kagum dengan fasilitas yang ada.
"Pukul berapa filmnya mulai?" tanya Bagas.
"Sekitar sepuluh menit lagi. Kita datang lebih cepat kali ini" jawab Rainun. "Kalian gantilah dulu sepatu kalian dengan sendal yang sudah di sediakan di sana" lanjutnya.
"Seperti di hotel saja" ujar Fitri.
"Lihatlah makanan ini. Dan lihatlah kulkas mini ini juga penuh" Indah kembali melihat - lihat. "Apakah semua ini sudah termasuk sewa privat bioskop ini kak?" tanya Indah. Sakha mengangguk menjawabnya.
"Pasti sangat mahal. Kau tak salah mengajak kami ke sini kak?" tanya Bagas pada Sakha.
"Aku dan Rainun ingin mencobanya, lagi pula ini privat bioskop pertama di Indonesia dan akan mubazir jika kami hanya menonton berdua sedangkan privat bioskop ini berkapasitas delapan orang" jelas Sakha. "Tak apa lah sesekali kita menikmati sesuatu yang mewah untuk menyenangkan diri" ujar Sakha.
"Terima kasih banyak kak, jika bukan karenamu kami mungkin tak bisa menikmati fasilitas mewah seperti ini" kata Bara girang. Sakha hanya tersenyum mendengarnya.
"Ayo kita bawa semua makanan ini ke ruang nonton. Sebentar lagi film akan di mulai" ajak Rainun. Mereka semua bekerja sama membawa makanan yang sudah di sediakan ke dalam ruang nonton untuk menemani mereka menonton film.
Kini mereka sedang duduk di kursi yang nyaman sembari menonton film yang sedang di putar. Tak lupa menyuapkan makanan untuk melengkapi acara nonton kali ini.
Mereka menonton film yang di putar selama dua jam. Setelah itu, mereka kembali ke ruang tunggu dan mengobrol dengan santai.
"Memang berapa jam waktu sewa privat bioskop ini kak?" tanya Indah.
"totalnya empat jam. Dan kita masih punya waktu enam puluh menit di sini karena kita mulai menonton lebih cepat" ujar Sakha sembari menunjuk papan waktu yang berjalan mundur.
"kalau begitu kita jangan keluar sampai waktunya habis. Sayang bukan karena masih tersisa waktu enam puluh menit di sini" kata Bagas.
__ADS_1
"Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Fitri
"Habiskan makanan yang tersisa itu" ujar Bara yang mengundang gelak tawa. Ia lalu berjalan menuju ke kulkas kecil untuk mengambil minuman.
"Akan ku bantu kak" Indah menyusul Bara, membantu membawakan minuman untuk para sepupunya.
"Kalian sudah makan malam?" tanya Sakha.
"Belum" jawab Bara cuek.
"Baiklah kita pesan makanan untuk makan malam, aku yang akan traktir. Kalian pesan saja sesuka kalian." ujar Sakha.
"Wuhuuu asyiikk" Bara girang. Para sepupu kecuali Rainun kompak memelototi Bara, mereka merasa tak enak.
"Mmm aku saja yang bayar makan malam kita" kata mas Surya.
"Tidak mas, aku saja yang bayar karena kita sedang merayakan acaraku" ujar Sakha beralasan.
"Hah? Acara apa?" tanya Bagas bingung.
"Mmm itu aku berhasil mendapatkan proyek baru" jawab Sakha asal.
"Wah selamat kak, semoga semuanya berjalan lancar dan sukses" Fitri menyelamati.
"ku kira perayaan yang berkaitan dengan cincin di jari manis Rainun" ujar mas Surya.
"Sepertinya bukan cincin biasa. Apakah tak ada klarifikasi di sini?" timpal Indah sembari menaik turunkan alisnya.
"Waah sudah ku duga ada sesuatu dengan cincin berlian itu" kata mas Surya. "Lalu kapan kalian akan meresmikannya?" tanyanya.
"Tanggalnya belum pasti, yang pasti setelah bang Raihan dan kak Sofia kembali dari Singapura" jawab Sakha.
"Selamat ya kak, akhirnya kalian akan segera meresmikan hubungan kalian ke jenjang yang lebih serius" kata Bara.
"Hm. Terima kasih ya" jawab Rainun. "Kita jadi pesan makanan? Atau ingin makan di tempat lain saja?" tanya Rainun.
"Makan di sini saja. Sayang sekali waktu satu jam kita buang sia - sia" kata Bagas. Mereka lalu memanggil pelayan dan memesan makanan. Mereka makan malam dengan canda dan tawa kebahagiaan.
...****************...
Tok tok..
Suara ketukan pintu ruang kerja Rainun.
"Kak Rai, ada yang ingin bertemu denganmu" ujar Indah setelah ia menutup kembali pintu ruangan Rainun.
"Siapa ndah?" tanya Rainun yang masih berkutat dengan tumpukan berkas.
"Dion namanya" jawab Indah.
"Ooh, baiklah biarkan dia masuk. Mm kita zoom meeting pukul berapa?" tanya Rainun.
__ADS_1
"Lima belas menit lagi kak" jawab Indah
"Baiklah tak apa" jawab Rainun. Indah kemudian mempersilahkan Dion yang sedang menunggu di luar ruangan Rainun untuk masuk.
"Selamat siang nona, apa kau sibuk?" tanya Dion yang baru saja masuk.
"Ah kak Dion, silahkan duduk. Hm, seperti yang kau lihat, aku sedang memeriksa beberapa berkas" jawab Rainun. "Ada perlu apa sehingga kau datang ke mari kak?" tanya Rainun.
"Tidak, aku hanya kebetulan lewat saja dan ingin menyapa saja" ujar Dion. Rainun mengangguk mengerti.
"Apakah setelah ini kau ada kegiatan lain?" tanya Dion.
"Sepuluh menit lagi aku harus zoom meeting. Setelah itu aku dan rekan akan meninjau sebuah perkebunan" jawab Rainun.
"Ternyata kau sibuk hari ini. Rencananya aku ingin mengajakmu makan siang bersama" Kata Dion.
"Ah, maaf kak hari ini aku tidak bisa karena harus meninjau perkebunan. Mungkin lain kali saat aku sedang tak banyak pekerjaan" ujar Rainun. Dion mengangguk mengerti. Mereka kemudian berbincang sebentar sebelum akhirnya Dion berpamitan karena Rainun harus melakukan zoom meeting.
...****************...
Tring....
ponsel Rainun berdering.
Dilihatnya nama yang tertera di layar ponsel.
"Ada apa kak?" tanya Rainun ketika mengangkat panggilan telfon itu.
"Kau sudah pulang?" tanya seseorang di ujung telfon. Ya dia adalah Sakha
"Ini aku baru saja masuk ke dalam mobil dan akan pulang" jawab Rainun.
"Sudah malam. Kau sendirian?" tanya Sakha.
"Iya kak, yang lain sudah pulang duluan" jawab Rainun lagi.
"Apa perlu aku kirimkan body guard? Aku tak bisa menjemputmu, aku sedang di luar kota sekarang" kata Sakha.
"Tak perlu kak, lagi pula aku sudah terbiasa pulang malam hari sendirian" Rainun menenangkan.
"Baiklah kalau begitu. Kabari aku saat sudah sampai. Aku juga sedang dalam perjalanan pulang" pinta Sakha.
"Iya sayang. Kau sendiri atau dengan supir?" tanya Rainun.
"Aku bersama supirku" jawab Sakha.
"Mm baiklah kalau begitu kau hati - hati di jalan kak" ujar Rainun.
"Iya sayang, kau juga berhati - hatilah" Sakha lalu menghentikan panggilan telfon tersebut. Rainun mengemudikan mobilnya santai. Semuanya berjalan normal hingga tiba - tiba,
Braakkkk!!!!!!!!
__ADS_1
Suara benturan keras datang dari bagian belakang mobil Rainun.