
"Si*lll!!!! Bagaimana bisa dia menemukan tempat persembunyianku!" seorang pria berkali - kali memukul stir mobilnya. Ya, pria itu adalah Dion, untungnya dia baru saja lolos dari kejaran anak buah Sakha.
"Akkhhhhhhhh!!! Semua rancanaku gagal gara - gara dia!! jika aku tak bisa memiliki Rainun, maka kau juga tak akan bisa memilikinya! Hahahahahahahahahah" Dion tertawa di dalam kekesalannya.
Ia melajukan mobilnya ke sebuah tempat. Ya, kali ini dia mengganti mobil yang di bawanya agar tak terlacak oleh anak buah Sakha.
Dion kemudian bersembunyi dan menunggu rombongan Sakha lewat, ia tak tau apakah mereka masih ada di rumah itu atau sudah pergi. Namun ia berusaha menunggu untuk mencari tau.
Keberuntungan ternyata masih berpihak padanya. Ia melihat mobil milik Sakha melintas di depannya, langsung saja ia membuntuti mobil yang menuju ke kota M.
"Aah ternyata mereka beristirahat di sini" batinnya. Ia melihat Rainun yang di gandeng Sakha keluar dari mobil dan masuk ke dalam hotel bersama dua body guard.
"Aku tak akan melepaskanmu kali ini sayang" Dion tertawa.
Cukup lama ia menunggu di sana hingga melihat Sakha dan Rainun bersama dua body guardnya keluar dari hotel.
"Mau kemana mereka? Apakah akan pulang?" batinnya. Tentu saja ia langsung mengikuti mobil milik Sakha itu dari jarak aman.
di sebuah persimpangan tiba - tiba Dion berbelok untuk menghilangkan jejak. Ia mengetahui kalau body guard Sakha mulai curiga jika mereka di buntuti karena mereka terus menambah kecepatannya.
Dion terus menyusuri jalan hingga bertemu sebuah persimpangan untuk masuk ke jalan utama.
"hahaha ternyata mereka berhenti di sini. Tuhan memang sedang baik padaku. Ayo sayang, kita pergi bersama menuju surga" ujar Dion. Ia menambah kecepatan dan langsung saja menghantam mobil Sakha yang berada di sebrang jalan.
Braaaakkkkkkkk!!!!
Benturan yang di akibatkan sangat keras hingga mengakibatkan mobil milik Sakha terguling.
...****************...
Sakha memeluk erat Rainun ketika mobilnya di hantam oleh mobil lain yang berkecepatan tinggi. Ia berharap gadisnya akan aman dalam pelukannya. Ia sempat membuka mata, memastikan gadisnya tak kenapa - kenapa sebelum akhirnya ia terpejam tak sadarkan diri.
"Boss!!!!!!!" teriak dua body guard yang berada di belakang mobil.
"Tenang nona, kami akan menyelamatkan kalian" ujar si body guard ketika mendengar teriakan Rainun.
Mereka berusaha menyelamatkan Sakha dan Rainun yang berada di dalam mobil di bantu warga sekitar yang berdatangan.
Satu body guard mengangkat tubuh Rainun yang masih dalam kondisi sadar keluar dari mobil. Rainun hanya terdiam, masih mencerna kejadian ini. Ia menangis histeris begitu melihat tubuh Sakha di keluarkan dari dalam mobil.
__ADS_1
"kak Sakha!!!!" teriaknya. Ia merangkak menuju ke tubuh Sakha yang sudah tak berdaya dengan begitu banyak darah.
"Kak Sakha bangun, buka matamu. Ayo kita pulang kak" Rainun menangis histeris. Warga sekitar mencoba menenangkan tetapi tak mampu. Tak lama, sebuah mobil pick up berhenti untuk membantu membawa Sakha ke rumah sakit. Tak lupa Rainun dan dua body guardnya juga ikut bersama Sakha.
"Kak Sakha ayo bangun, bertahanlah" Rainun masih menangis. Ia terus memegang tangan Sakha dan memastikan denyut nadinya masih ada di sana. Beruntung karena jarak rumah sakit yang sangat dekat dengan lokasi kecelakaan. Hanya butuh waktu dua menit untuk sampai di sana.
Sakha langsung saja di larikan ke ugd, begitu pula dengan Rainun yang mengalami luka di kaki dan kepalanya untuk mendapat pertolongan.
"Nona bos" salah satu body guard menghampiri Rainun yang baru selesai mendapatkan perawatan. Beruntung hanya luka ringan yang ia alami.
"Bagaimana kak Sakha?" tanyanya ketika melihat body guard itu.
"Bos sedang bersiap menjalankan oprasi" jawabnya. "saya sudah menghubungi bos Toni dan bos Eriko" lanjutnya.
"Tolong bawa aku kesana" Rainun memohon. Si body guard menangguk dan langsung meminta izin pada dokter yang merawat Rainun.
Rainun duduk dengan begitu cemas hingga rasa perih di badannya tak lagi ia rasakan. Ia berada di depan ruang oprasi bersama dua body guard Sakha. Sudah satu jam ia menunggu di sana. Ia terus berdoa dalam tangisan berharap kekasihnya itu akan baik - baik saja.
"Rainun" Raihan dan Sofia berlari saat melihat adiknya duduk di depan ruang oprasi. Toni dan Eriko yang berada bersama mereka pun mempercepat langkah. Raihan langsung saja memeluk adik satu - satunya itu.
"Abang. Aku takut hal buruk terjadi pada kak Sakha" tangisnya pecah ketika Raihan memeluknya.
"Apa kau baik - baik saja? apa ada luka yang serius" Sofia terlihat sangat khawatir pada adik iparnya. Ia memeluk Rainun yang masih menangis. Tentu saja hal itu membuat Sofia ikut menangis.
"Tenang saja. Sakha adalah orang yang kuat, kakak tau itu" ujar Sofia yang juga menguatkan Rainun.
Sementara itu, Eriko dan Toni membawa dua body guard sedikit menjauh untuk mengintrogasi mereka yang ada bersama Sakha ketika kejadian. Raihan yang melihat keempat orang itu sedikit menjauh, mengikuti mereka untuk mencari tau penyebab kecelakaan ini.
Kedua body guard menjelaskan kronologi kejadian kecelakaan yang di sebabkan oleh orang yang menculik Rainun.
"Apa? Bagaimana bisa ada manusia berfikiran seperti itu. Aku merinding di buatnya" ujar Raihan. Ia baru kali ini menemukan orang yang ia kira hanya ada di film saja.
"Dasar psikopat! Dia benar - benar pria gila!" Caci Toni ketika mengetahui jika yang menabrak mobil Sakha adalah Dion.
"Dia pasti dengan sengaja melakukannya. Lalu, bagaimana kondisi psikopat itu?" tanya Toni.
"Dia tewas di tempat bos dan semuanya sudah di tangani oleh polisi" jawab si body guard. Eriko menghela nafas panjang.
"Ahh kenapa juga aku malah pulang duluan. Bukannya mengikuti Sakha dan Rainun. Dasar Eriko bodoh!" Eriko mengusap kasar rambutnya. Ia merutuki dirinya yang tak ikut bersama Sakha dan Rainun.
__ADS_1
"Hei tenanglah, jangan menyalahkan dirimu. Semua akan baik - baik saja. Kau tau Sakha kan?" Toni mencoba menenangkan walaupun dirinya sendiri merasa tak tenang.
"Apa om dan tante Hendrawan sudah di beri tau?" tanya Raihan
"Ya, mereka sedang dalam perjalan menuju kesini" jawab Toni.
"Apa tak sebaiknya kita pindahkan Sakha ke rumah sakit yang lebih bagus?" usul Eriko.
"Kita tunggu hasil oprasinya dulu" jawab Toni. Eriko mengangguk mengerti.
"Kalian berdua pulang dan beristirahatlah di camp. Bawalah mobilku. Suruh Jo membawa seorang body guard ikut bersamanya kemari untuk berjaga." Eriko memberikan kunci mobilnya pada dua body guard.
"Baik bos" kedua body guard itu lalu pergi untuk kembali ke camp.
Toni, Eriko dan Raihan kemudian kembali lagi ke depan ruang oprasi. Suasana begitu tegang, saat menunggu Sakha oprasi.
"Lebih baik kau beristirahat, biar Eriko mengantar kalian ke hotel. Aku yang akan menunggu Sakha" ujar Toni pada Rainun. Ia menepuk - nepuk bahu calon adik iparnya yang masih sesenggukkan itu.
"Tidak kak, aku ingin menunggu kak Sakha" jawab Rainun. Toni melihat ke arah Raihan dan Sofia. Raihan mengangguk, memberikan kode pada Toni untuk membiarkan Rainun tetap berada di sini.
Setelah kurang lebih tiga jam menunggu, akhirnya oprasi Sakha selesai.
"Keluarga saudara Sakha, diminta untuk menemui dokter" ujar perawat yang baru keluar dari ruang oprasi.
"Saya kakaknya. Bagaimana keadaan adik saya sus?" tanya Toni.
"Oprasinya berjalan dengan lancar. Untuk penjelasan kondisinya lebih lanjut, saudara bisa menemui dokter. Mari saya antar" ajak si perawat. Toni kemudian mengikuti perawat menuju ke ruangan dokter.
Sementara itu Rainun dan yang lainnya menuju ke ruangan ICU, tempat dimana Sakha kini di rawat.
"Apa ada masalah dengan oprasinya? Kenapa di tempatkan di ICU?" tanya Rainun. Fikirannya kalut karena begitu khawatir dengan keadaan Sakha.
"Tenanglah, Sakha perlu pengawasan ekstra pasca oprasi. Suster tadi kan sudah bilang kalau oprasinya berjalan lancar" Sofia menenangkan.
"Aku ingin melihat kak Sakha" pinta Rainun.
"Sabar, kita tunggu Toni kembali dulu" kata Sofia. Ia terus merangkul adik iparnya itu untuk menguatkan. Sejujurnya Sofia juga sangat khawatir dengan kondisi Sakha, namun ia menguatkan diri agar ia bisa menguatkan Rainun.
Tak lama Toni datang ke ruang ICU. Wajahnya tampak lesu.
__ADS_1
"Kak, ada apa?" tanya Rainun yang melihat wajah lesu Toni. Dadanya bergemuruh, ia merasa sesuatu yang tak baik terjadi pada Sakha.