
"Wuuu lihatlah pengantin baru yang bangun kesiangan ini" goda Sofia saat melihat Sakha dan Rainun yang baru keluar dari kamarnya.
"Hm, kau tau lah kak, bagaimana pengantin baru" jawab Sakha santai, sedangkan Rainun tersipu malu.
"Selamat pagi keponakan uncle, senangnya sudah di sambut senyuman Lili pagi ini" Sakha mengambil Lili dari pangkuan Sofia.
"Dimana abang?" tanya Rainun.
"Abangmu sudah ke kantor. Ada urusan penting yang mendadak" jawab Sofia.
"Kakak sudah sarapan?" tanya Rainun yang ikut duduk di sebelah Sakha.
"Sudah tadi dengan abangmu" jawab Sofia. "Kalian ada rencana hari ini?" tanya Sofia.
"Mm belum ada. Memang ada apa kak?" Rainun balik bertanya.
"mmm kakak titip Lili ya, kakak mau ke butik karena ada customer istimewa yang akan fitting" Sofia tersenyum, berusaha merayu kedua adiknya.
"Tenang saja, Lili akan aman bersamaku. Iya kan sayang" Sakha menggelitik perut Lili dengan hidungnya yang disambut dengan tawa renyah gadis kecil itu.
"Mm memangnya siapa customer istimewa itu kak?" Rainun penasaran.
"Itu, Aktris idola kakak yang sebentar lagi akan menikah. Gaun untuk lamaran juga pernikahannya ia pervayakan pada kakak sebagai designernya" mata Sofia berbinar - binar. Sebenarnya sudah banyak aktor, aktris juga selebriti yang kerap kali mempercayakan gaun mereka pada Sofia. Namun kali ini terasa berbeda karena aktris ini adalah idola Sofia sejak dulu.
"Benarkah? Waah selamat ya kak" kata Rainun yang ikut bahagia.
"Baiklah, kalau begitu kakak akan bersiap - siap" Sofia kemudian berlalu menuju ke kamarnya untuk bersiap.
"Kak, kau mau sarapan apa?" tanya Rainun pada suaminya yang kini sibuk dengan ponselnya sembari tetap memangku Lili.
"Hmm apapun yang kau siapkan, akan aku makan sayang" Sakha tersenyum.
"Baiklah kalau begitu" Rainun bangkit dan akan menuju ke dapur. Sebelumnya ia mendaratkan kecupan ke pipi gembil Lili yang menggemaskan.
"Kenapa hanya Lili? Aku juga mau" rengek Sakha saat Rainun akan berlalu setelah mengecup Lili.
"Baiklah baiklah, ternyata bayi besarku iri pada keponakannya" seloroh Rainun. Ia kemudian berbalik dan mengecup pipi suaminya itu.
"Rai, Sakha. Kakak berangkat ya. Jika kalian akan pergi dan kakak belum pulang, tolong antarkan saja Lili ke butik" pamit Sofia.
"Baiklah, kakak tenang saja. Hati - hati di jalan ya" jawab Rainun yang selalu senang jika dititikan Lili.
__ADS_1
"Okay, thank's yaa darling" ucap Sofia sembari berlalu menuju keluar rumah.
Rainun kemudian menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuknya dan Sakha.
"Non, mau simbok masakkan untuk sarpan non dan den Sakha?" tanya Simbok yang menghampiri Rainun.
"Tak usah mbok, simbok istirahat saja biar aku yang menyiapkan sarapan" jawab Rainun.
"Baiklah kalau begitu, simbok kebelakang dulu non" pamit simbok yang di jawab anggukan oleh Rainun.
Rainun mulai bergrilya di dapur mencari bahan yang ia perlukan. Tangannya dengan lincah menyiapkan semuanya hingga tersaji sebuah hidangan yang simpel namun menggugah selera.
"Ayo kita sarapan" ujar Rainun yang datang dengan sepiring sandwich juga semangkuk salad sayur. Tak lupa dua gelas susu turut ia bawa.
"Hmmm, sepertinya enak" ujar Sakha yang bersemangat melihat hidangan yang di sajikan istrinya itu.
"Lili, apa kau mau? Sayangnya kau belum boleh memakan ini semua" Rainun terkekeh. Rainun kemudian mulai menyuapi Sakha yang kini sudah beralih sibuk dengan laptopnya.
"Terima kasih sayang" ucap Sakha lembut saat menerima suapan dari Rainun.
"Apa ada pekerjaan penting?" tanya Rainun.
"Tidak, aku hanya mengecek beberapa file yang dikirimkan oleh kak Toni" jawab Sakha. Matanya tetap fokus pada layar didepannya, sedangkan mulutnya terus mengunyah makanan yang disuapkan oleh Rainun.
"Rumah yang rencananya akan kita tempati?" Rainun bertanya balik.
"Iya, kalau kau suka. Kalau tidak suka, kita bisa cari rumah yang lain" ujar Sakha.
"hmm. baiklah kita lihat saja nanti" kata Rainun yang di jawab anggukan oleh Sakha.
Setelah menyelesaikan sarapan, mereka kemudian berbincang sembari membahas pekerjaan. Lebih tepatnya Rainun meminta masukan dari Sakha mengenai masalah yang ada di kantornya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu kak?" tanya Rainun yang melihat tatapan aneh suaminya itu.
"Aku lapar sayang" goda Sakha.
"Bahkan belum ada tiga puluh menit dari kita sarapan kak" Rainun heran kerna biasanya Sakha hanya sarapan dengan porsi kecil.
"Aku ingin memakanmu!!" kata Sakha. Dengan gerakan cepat, ia mengangkat tubuh Rainun dan berlari sambil menggendong Rainun menuju ke kamar.
"Astaga kak Sakha" kata Rainun yang tentu saja kaget dengan aksi sat set dari suaminya itu.
__ADS_1
Setibanya di kamar, Sakha merebahkan Rainun perlahan di tempat tidur. Dengan lembut ia menyapu bibir istrinya yang menurutnya menggemaskan.
Rainun tiba - tiba memukul tubuh Sakha agar Sakha menghentikan aksinya itu.
"Kak, Lili di bawah sendiran" ujar Rainun.
"Astaga, keponakanku" Sakha menepok jidatnya. Ia kemudian berlari ke bawah untuk menjemput keponakan kesayangannya.
"Uhh sayang, maafkan uncle ya karena meninggalkanmu sendiri" ucap Sakha sambil mengangkat Lili yang masih terlelap di bounchernya. Ia kemudian membawa Lili juga bounchernya menuju ke kamarnya dan Rainun.
Rainun terkekeh melihat suaminya yang datang bersama Lili juga bounchernya. Ia dengan sigap membantu Sakha menggendong Lili.
"Sepertinya esok kita harus sediakan tempat tidur untuk Lili tidur di kamar kita. Aku akan lelah jika harus menggotong Lili juga bounchernya naik turun tangga" Sakha meringis.
Lili yang masih nyenyak, seolah tak terusik dengan kegiatan sang uncle yang menggotongnya beserta bouncher ke lantai dua.
"Anak baik, kau benar - benar anteng" puji Rainun yang menyelimutkan kain pada Lili.
Dengan gerakan cepat, Sakha kembali menggendong Rainun dan meletakkannya di ranjang mereka. Ia mengungkung istrinya sembari melayangkan ciuman - ciuman yang membangkitkan gairah.
"eeunghh" terdengar lenguhan lirih Rainun yang membuat jantung Sakha semakin terpompa. Ia terus mengecup setiap inchi kulit Rainun sembari melepas satu persatu kaitan pada pakaian yang dikenakan Rainun.
"Raaaiiii...... Lili....." seru seseorang di bawah. Sakha langsung tertidur lemas ketika mendengar suara panggilan itu. Ya, kali ini mereka berdua gagal nananinu karena Raihan yang datang tiba - tiba.
"Iya bang" Sahut Rainun kemudian. "Tumben sekali jam segini sudah pulang" lirih Rainun yang melihat Sakha terbaring lemas di sebelahnya.
"Sabar ya sayang. Maafkan bang Raihan" goda Rainun sembari mengecup dahi Sakha. Rainun kemudian menggendong Lili dan turun untuk menghampiri Raihan. Sementara Sakha dengan lesu kembali mengengkat bouncher Lili turun.
"Ku kira kalian pergi karena mobil Rainun tak ada di rumah" ujar Raihan yang duduk di ruang tv.
"Tidak, pak Maman membawa mobilku ke bengkel untuk di service setelah mengantar kak Sofia" jawab Rainun.
"Kenapa Lili dan bounchernya ada di atas?" tanya Raihan.
"Ah, itu aku dan kak Sakha sedang mengerjakan pekerjaan tadi. Makanya kami membawa Lili ke atas" jawab Rainun asal.
"Iya bang, aku sedang mengecek laporan dari kantor" timpal Sakha.
"Kenapa tak mengerjakan di bawah saja dari pada harus mengangkat Lili dan bounchernya yang lumayan berat itu naik turun tangga?" Raihan terkekeh melihat ekspresi sepasang pengantin baru itu. Ia bukannya tak tau, hanya saja Raihan ingin menggoda adik dan iparnya itu.
Mendengar kata - kata Raihan, Sakha dan Rainun hanya tersenyum kikuk.
__ADS_1
"Kemari gadis kecil Ayah. Abang dan Lili akan menyusul Sofia ke butik" Raihan kemudian meminta Lili yang berada di gendongan Rainun. "Kalian silahkan lanjutkan pekerjaan kalian" goda Raihan sembari berlalu dari hadapan pasangan pengantin baru yang masih dengan ekspresi kikuk.