
Pagi ini Rainun dan Sakha akan pergi ke sebuah tempat. Sakha menjemput Rainun tepat pukul sembilan. Ia mengobrol sebentar dengan Raihan juga Sofia sebelum akhirnya pergi bersama Raianun.
"Kita mau ke mana kak?" tanya Rainun. Sebelumnya Sakha memang belum memberi tau kemana tujuan mereka.
"Temani aku ke panti asuhan" jawab Sakha.
"Ke panti Asuhan? Kenapa kita tak membawa apa - apa?" tanya Rainun yang celingukan.
"Kebutuhan dapurnya sudah di siapkan Toni kemarin. Kita akan mampir ke super market sebentar untuk membeli beberapa barang" Sakha tersenyum melihat Rainun.
Mereka kemudian berheti di sebuah pusat perbelanjaan. Sakha membukakan pintu untuk kekasihnya lalu menggandengnya masuk.
"Apa saja yang akan kita beli?" tanya Rainun antusias.
"Biskuit, susu, diapers dan beberapa makanan ringan" jelas Sakha. Rainun mengangguk mengerti. Mereka kemudian mengambil barang - barang yang di perlukan dan kembali melanjutkan perjalanan.
"Kak, bolehkah aku bertanya?" kata Rainun.
"Ada apa sayang?" jawab Sakha.
"Sebenarnya pak Toni itu siapa? Kenapa dia masih bekerja walaupun hari libur? Apa dia tak memiliki keluarga?" tanya Rainun beruntun. Ia sudah lama penasaran dengan Toni karena Sakha selalu melibatkan Toni dalam setiap urusannya.
"Toni itu sudah seperti kakak laki - laki bagiku. Dulu kami bertemu saat aku SMA, aku menolongnya saat dia di hajar kelompok preman. Saat itu dia kelas tiga SMA dan aku kelas satu SMA. Setelah itu aku membawanya ke rumah setelah dari klinik untuk mengobati lukanya. Setelah di telusuri papi, ternyata dia sudah tak memiliki keleuarga, dia tumbuh di panti asuhan lalu saat SMA harus keluar dari sana karena pihak panti memperioritaskan anak - anak yang lebih kecil" cerita Sakha.
"Papi kemudian menyekolahkannya hingga Magister di Australia. Dia itu orang yang cerdas, lulus dari Universitas dengan predikat cumload. Sebenarnya papi meminta dia mengurus anak cabang perusahaan di Belanda, tetapi dia tidak mau. Dia lebih memilih menjadi asisten pribadiku, mengikuti kemana saja aku pergi dan membantu menghandel kegiatan juga usahaku yang lain" Jelas Sakha.
"Pantas saja kalian begitu dekat. Dia juga terlihat sangat menyayangimu" kata Rainun tersenyum. Sakha mengangguk anggukan kepala.
"Iya, aku beruntung bertemu dengannya. Dia orang yang pemberani, rajin, jujur, juga pekerja keras." kata Sakha
"Tapi dia takut padamu" Rainun terkekeh. Sakha pun ikut tersenyum. "Apa dia juga tinggal bersamamu sekarang?" tanya Rainun lagi.
"Tidak. Dia memiliki apartemen sendiri, yaa walaupun tak jauh dari apartemenku" kata Sakha.
Setelah tiga puluh menit perjalanan, mereka akhirnya sampai di sebuah panti asuhan. Disana sudah ada Toni dan beberapa anak buahnya yang membawa kebutuhan dapur untuk panti asuhan.
"Bos, nona bos" sapa Toni.
"Tidak ada masalah kan? Apakah kebutuhan untuk panti remaja sudah di kirim?" tanya Sakha pada Toni.
__ADS_1
"Aman bos. Kebutuhan untuk panti remaja juga sudah di kirim" jawabnya.
"Tolong ambil sekalian barang - barang yang ada di mobilku" kata Sakha yang melihat anak buahnya sedang mengangkat bahan - bahan makanan itu ke dapur panti asuhan. Sakha, Toni juga Rainun kemudian masuk ke dalam kantor yayasan panti asuhan.
"Assalamualaikum" seru Sakha.
"Waalaikumussalam" jawab orang yang ada di dalam. Kemudian keluar seorang bapak dan seorang ibu yang sudah berumur. Sakha, Toni dan Rainun lalu menyalami ke dua orang tua itu.
"Masuklah nak Sakha, nak Toni. Siapa gadis ini? Sepertinya aku belum pernah melihatnya" tanya si bapak yang mereka panggil abah.
"Ah, ini kekasih bos Sakha bah" kata Toni.
"Maa syaa allah. Ayo kemari nak masuk" ajak Ummi, istrinya Abah.
"Bagaimana kabar kalian? Apakah pekerjaan kalian semuanya lancar?" tanya Abah. Mereka kini duduk di ruang tamu. Seorang wanita kemudian mengantarkan teh juga biskuit kepada mereka.
"Alhamdulillah kami sehat bah, dan semua pekerjaan juga lancar. Abah dan Ummi sehat?" tanya Sakha.
"Kami semua sehat. Alhamdulillah akhirnya kalian bisa berkunjung lagi ke sini. Sudah lama kalian tak berkunjung, hanya kiriman kalian saja yang rutin datang" Abah tersenyum.
"Iya bah, kami baru sempat berkunjung karena urusan pekerjaan yang tak bisa di tinggal" kata Toni. Mereka berbincang akrab, kemudian Ummi mengajak mereka bertiga melihat anak - anak di panti asuhan yang sedang bermain.
"wah lucu sekali anak - anak ini" kata Rainun saat melihat ke ruangan bayi. Bayi di sana rata - rata berumur lima sampai sepuluh bulan. Di panti asuhan itu sendiri ada lima bayi, dua belas balita, juga ada dua puluh lima anak yang bersekolah di sekolah dasar.
"Boleh aku menggendongnya ummi?" tanya Rainun yang gemas melihat anak - anak itu.
"Silahkan nak" kata Ummi. Rainun lalu menggendong salah satu dari mereka. Ia menggendong bayi permpuan berusia lima bulan yang bertubuh gembul dan sangat menggemaskan.
"Lihatlah kak, dia sangat menggemaskan. Dia tersenyum melihatmu kak" kata Rainun yang mendekatkan bayi itu pada Sakha. "kau mau menggendongnya?" tanya Rainun.
"Aku tidak bisa menggendong bayi" kata Sakha.
"ini mudah, sini aku ajarkan" Rainun lalu menyerahkan bayi itu pada Sakha. Sakha dengan kaku berusaha menggendong si bayi.
Ummi dan Toni tersenyum melihat tingkah Sakha dan Rainun yang bermain dengan bayi dalam gendongan. Mereka kemudian beranjak ke halaman bermain. Di sana ada balita berusia dua hingga empat tahun yang sedang asyik bermain.
"kau sudah mulai pintar menggendong kak" bisik Rainun yang menggandeng lengan Sakha. Bayi perempuan itu masih nyaman berada dalam gendongan Sakha saat mereka berjalan melihat para balita.
"Assalamualaikum anak - anak" sapa Rainun pada bocah - bocah yang menggemaskan itu. Seorang anak laki - laki lalu berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"halo sayang, siapa namamu?" tanya Rainun yang kemudian mengangkat bocah berumur tiga tahun itu.
"Alpi" jawabnya singkat.
"lihatlah kemari. Aku akan mengambil gambar kalian berdua" kata Toni saat melihat Sakha dan Rainun menggendong anak - anak.
"Wah potret keluarga bahagia" gurau Toni. Mereka semua terkekeh mendengarnya.
"Ah sayang, dia menggeliat sepertinya tak nyaman" kata Sakha saat bayi di gendongannya menggeliat geliat. Rainun kemudian menurunkan anak laki - laki di gendongannga dan dengan sigap mengambil alih bayi perempuan itu dari Sakha.
"kemarilah anak cantik. Kau kenapa? Paman itu terlalu kuat memelukmu ya?" celoteh Rainun pada si bayi yang kini tertawa di gendongan Rainun.
"Di mana anak - anak yang lebih besar ummi?" tanya Sakha yang tak melihat keberadaan mereka.
"oh mereka sedang mengikuti kegiatan di panti remaja" jawab ummi. Sakha mengangguk mengerti.
Sakha dan Rainun kemudian bermain bersama para balita. Tak lupa mereka memberikan biskuit juga susu untuk di makan bersama.
"Bos. Ada hal penting" kata Toni. Sakha lalu berdiri dan mengikuti Toni sedikit menjauh dari anak - anak. Obrolan mereka terlihat sangat serius.
"ada apa ya?" batin Rainun yang melihat keseriusan dua laki - laki itu. Tak lama kemudian Sakha mendekati Rainun.
"Sayang, ayo kita pulang. Aku harus bersiap karena malam ini aku akan pergi ke Jerman" kata Sakha. Rainun kemudian mengangguk dan mengekor pada Sakha meninggalkan anak - anak di bawah penjagaan staf panti asuhan.
"Ada apa kak? Apa ada masalah?" tanya Rainun. Kini mereka sudah berada di dalam mobil. Setelah berpamitan pulang pada pemilik panti asuhan.
"Ada sedikit kesalah pahaman dengan relasiku di Jerman" jelas Sakha.
"Apa kau akan lama di sana?" tanya Rainun.
"Mm secepatnya aku akan kembali" jawab Sakha.
"Padahal tinggal beberapa hari lagi kita famgeth" kata Rainun sedih.
Sakha kemudian menggenggam tangan kekasihnya. "Aku pasti akan datang ke sana sayang. Walau mungkin akan terlambat" kata Sakha menenangkan. Rainun mengangguk pasrah saat di beri harapan oleh Sakha.
"Kau mau membantuku berkemas? Sejujurnya aku masih ingin berlama - lama denganmu" pinta Sakha.
"Baiklah, aku akan membantumu berkemas" Rainun tersenyum. Sakha kemudian melajukan mobil menuju ke apartemennya.
__ADS_1