
Ting tung...
Ting tung...
Ting tung...
Bell apartemen Sakha berbunyi. Sakha pun menghentikan kegiatannya menonton televisi lalu beralih menuju pintu untuk melihat siapa yang datang dari layar yang terpasang di sebelah pintu.
Tinut...
Suara pintu apartemen yang menandakan pintu sudah di buka.
"Aku kira tante akan berkunjung esok atau lusa" Kata Sakha saat membuka pintu.
"Bagaimana kabarmu Sakha?" Sapa seorang wanita yang tak lagi muda di hadapannya. Wanita itu kemudian memeluk Sakha dengan hangat.
"Aku sehat tante, bagaimana dengan tante?"
"Ya seperti yang kamu lihat, tante sehat" Jawab wanita itu sambil mengelus kepala Sakha.
"Wahh wahh sepertinya kamu tak melihat keberadaanku?" Kata Sofia menyelah. Ya, Sofia dan mamanya mengunjungi Sakha setelah tadi Sakha mengirimkan alamat apartemennya.
"Ku kira tadi kau adalah kurir jasa angkat barang yang di sewa tante untuk membawa bawaannya" Seloroh Sakha yang melihat Sofia membawa banyak kantung belanjaan.
"Semakin menjengkelkan saja sikapmu itu yaa. Nih bawa sendiri kedalam" Ujar Sofia yang kemudian menyerahkan kantung-kantung belanjaan itu pada Sakha. Sakha pun hanya menerimanya dengan pasrah.
"Ayo ma kita masuk" Ajak Sofia yang kini menggandeng tangan mamanya.
"Kenapa repot-repot membawakan aku makanan sebanyak ini? Ini akan cukup menjadi stok makananku selama dua minggu" Ujar Sakha sumringah. Ia lalu meletakkan kantung belanjaan itu di meja makan, hendak menyusunnya ke dalam lemari es
"Agar kau tak kelaparan. Kau kan doyan makan" Kata Sofia mengejek. Walaupun doyan makan, Sakha memiliki badan yang atletis. Itu semua karna kecintaannya pada olah raga angkat berat. Selain olah raga angkat berat, Sakha juga adalah pemegang sabuk hitam di perguruan bela diri.
Mama Sofia langsung duduk di sofa yang berada di ruang keluarga. Sedangkan Sofia berkeliling melihat setiap ruangan yang ada di apartemen Sakha. Jari lentiknya sesekali menggosok furniture untuk mengecek ketebalan debu walaupun hasilnya nihil.
"Apartemenmu bagus, desain dan penempatan furniturenya tepat" Puji Sofia.
"Sepertinya kau sudah tertular bang Raihan, bisa menilai desain ruangan" ledek Sakha.
"Apakah kau memiliki ART? Apartemenmu bersih dan rapi" Tanya Sofia yang berjalan menuju dapur.
"Tidak. Apa kau mau mendaftar menjadi ART ku?" Tanya Sakha yang masih sibuk di depan lemari es.
Pleetaak...
Jitakan Sofia mendarat keras tepat di kepala Sakha.
"Astaga sakit kak" Kata Sakha mengusap -usap kepalanya.
"Kalian kenapa malah bertengkar sih" Ucap mama Sofia tanpa beranjak dari ruang keluarga.
Sofia lalu menyusul mamanya ke ruang keluarga, meninggalkan Sakha yang baru selesai membereskan makanan yang di bawa Sofia dan mamanya.
__ADS_1
"Apakah kalian hanya berdua?" Tanya Sakha sembari membawakan minuman dan camilan untuk kedua tamunya itu.
"Iya, om mu sedang berada di Ausie" Jawab mama Sofia.
"Bagai mana dengan bisnismu nak?" Lanjut mama Sofia.
"Semua berjalan dengan baik tante" Jawab Sakha kemudian memasukkan keripik tempe ke dalam mulutnya.
Drrrttttt....
Ponsel Sofia bergetar. Ia lalu mengambil ponsel di dalam tas kecilnya.
"Iya sayang" Ucap Sofia. Ternyata Raihan yang sedang berada di luar kota melakukan panggilan vidio padanya.
"Sedang dimana?" Tanya Raihan memperhatikan ruangan tempat Sofia melakukan panggilan vidio yang tampak asing. Raihan sendiri sedang berada di dalam mobil menuju ke perusahaan cabangnya.
"Aku bersama mama sedang mengunjungi apartemen Sakha. Dia sudah pindah ke kota yang sama dengan kita" Jawab Sofia lalu mengarahkan kamera ponsel ke mamanya dan juga Sakha.
"Hei bro, kapan kau pindah?" Tanya Raihan pada Sakha saat kamera ponsel Sofia berhenti di hadapannya. Raihan sudah mengenal Sakha ketika ia dan Sofia berkunjung ke kota tempat Sakha tinggal.
"Sudah sekitar tiga minggu lalu bang" Jawab Sakha.
"Kenapa tidak memberi kabar? Kami kan bisa membantu" Tanya Raihan lagi.
"Aku tak ingin merepotkan kalian" Jawab Sakha. Yang di balas tawa kecil Raihan. Sofia lalu kembali mengarahkan kamera ponsel ke wajahnya.
"Kapan kau kembali?" Tanya Sofia
"Baiklah, nikmati waktu kalian. Nanti akan ku telefon lagi" Lanjut Raihan. Mereka kemudian sama-sama mematikan sambungan telefon.
"Sudah lama sekali tak bertemu kamu Sakha. Tante kira kamu tak akan betah disana. Mengingat setelah dua minggu kamu tinggal disana, kamu kabur kembali ke rumah kami" Mama Sofia memandang ke arah Sakha sambil tersenyum mengingat kejadian itu. Kerinduan tak bisa di sembunyikan dari sorot matanya. Maklum saja, dari kecil Sakha memang sangat dekat dengannya dan orang-orang di rumahnya. Bahkan Sakha sudah seperti anaknya sendiri karena dulu setiap hari ia selalu datang ke rumah.
"Maaf kan aku yang lama tak pernah berkunjung tante" Jawab Sakha yang malu saat wajah tampannya di tatap dalam.
Mereka bertiga lalu membahas lagi kejadian tujuh tahun yang lalu. Kejadian itu sangat lucu saat diingat sekarang.
*Flashback tujuh tahun lalu.
Tok..
Tok...
Tok..
Ceklek. Suara pintu rumah itu terbuka.
"Lo lo lo den Sakha. Apa yang aden lakukan di sini" Ucap bik Yem kaget ketika melihat Sakha di depan pintu. Ia hanya diam dengan matanya yang mulai berembun.
"Ayo masuk den. Aden pasti lelah" Ajak bik Yem menuntun bocah yang ia kenal baik itu.
"Nya, nyonyaa. Ada den Sakha" Ujar bik Yem pada si empunya rumah.
__ADS_1
"Ya ampun Sakha? Dengan siapa kamu kesini nak?" Tanya si nyonya pemilik rumah tak kalah kaget. Sakha langsung berhambur dalam pelukan wanita itu. Ia sudah seperti ibunya sendiri.
"Aku sendirian tante, aku tak betah tinggal di sana. Aku rindu kak Sofia dan tante" Ucap Sakha yang masih lugu. Mama Sofia yang mendengar itu, berusaha menenangkan putra sahabatnya itu.
"Apa orang tuamu tau kau kemari nak?" Tanya nya sembari mengajaknya duduk.
"Tidak tante. Aku kabur. Aku membuka tabunganku untuk membeli tiket kereta kemari" Jawab bocah laki-laki itu jujur.
"Astaga, kau lakukan semua sendiri?" Tanyanya menelisik. Bocah laki-laki di hadapannya hanya mengangguk pelan.
"Ya sudah tak apa, yang penting kau sampai di sini dengan selamat. Nanti biar tante yang menghubungi orang tuamu" Ucapnya menghibur. "Sekarang mandi dan beristirahatlah. Sebentar lagi kak Sofia akan pulang dari sekolahnya. Apakah kau sudah makan?" Lanjutnya.
"Aku sudah makan di kereta tadi, tante" Jawabnya. Ia lalu di antarkan bik Yem menuju ke kamar untuk beristirahat. Sementara mama Sofia langsung menghubungi orang tua Sakha.
Kini mereka memang tinggal berjauhan. Perlu perjalanan selama tujuh jam menaiki kereta api. Tapi ia masih tak mengira bahwa putra sahabatnya itu akan nekat kembali sendirian ke rumahnya. Padahal sebelumnya Sakha tak pernah melalukan perjalanan jauh seorang diri.
*flashback off
"Hahahahaha" Pecahlah tawa mereka bertiga mengingat kejadian itu.
"Setelah itu, papi menyewa seorang body guard untuk mengikuti kemanapun aku pergi" Ujar Sakha.
"Kau juga aneh. Kau kan penerus satu-satunya keluarga Hendrawan. Kalau terjadi apa-apa denganmu bagai mana?" Kata Sofia yang masih tertawa
"Mamimu menangis panik saat tante menelfon. Dan seketika bernafas lega ketika tante bilang kau ada bersama kami. Awalnya mereka langsung ingin menyusul, tetapi tante cegah. Akhirnya kami membiarkanmu tinggal di rumah selama satu minggu. Hitung-hitung liburan untukmu" Kata mama Sofia yang masih mengingat jelas kejadian saat itu.
Mereka mengobrol santai kemudian makan malam bersama.
"Aku rindu masakan tante" Kata Sakha yang begitu lahap memakan masakan tantenya itu.
"Pelan-pelan saja Sakha. Tak akan ada yang merebut makananmu" Ujar mama Sofia tersenyum.
"Ada tuhh" Sakha mengerucutkan mulutnya ke arah Sofia. Sewaktu kecil memang Sofia sering merebut makanan Sakha. Sakha pun hanya diam pasrah saat makanannya di rebut. Pasalnya Sofia selalu mengancam tidak mau berteman dengan Sakha jika dia mengadu.
Sofia hanya mencebikkan bibirnya melihat tingkah Sakha yang kekanakan. "Kau terlihat tegas dan menyeramkan pada anak buah atau saat kau di kantor saja. Saat di rumah, kau seperti anak anjing" Ujar Sofia meledek.
Sakha pura-pura tak mendengar ledekan Sofia. Ia masih asik menikmati makanan di hadapannya. Setelah makan malam bersama, Sofia dan mamanya pamit untuk pulang.
"Tante dan Sofia pulang dulu ya nak. Berkunjunglah kerumah sesekali" Kata mama Sofia.
"Iya tante, hati-hati ya. Aku akan secepatnya berkunjung ke rumah" Jawab Sakha yang mengantar ke dua tamunya ke lobi apartemen.
"Hati-hati kau disini. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku" Kata Sofia meninju kecil dada bidang Sakha.
"Aku bukan anak kecil lagi kak. Bahkan tubuhku lebih besar darimu" Ujar Sakha menyombong. Sofia hanya menggeleng mendengar jawaban Sakha.
"Eh kak, aturlah waktu untuk aku bertemu dengan kenalanmu yang mengirimkan proposal kepadaku" Kata Sakha lagi.
"Baiklah nanti akan ku hubungi" Jawab Sofia sambil melambaikan tangan.
Setelah melihat ke dua wanita itu sudah pergi, Sakha kembali ke apartemennya yang berada di lantai lima belas itu.
__ADS_1