Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
59. Saluran Khusus


__ADS_3

Tingtung...


Bel rumah Rainun berbunyi. Simbok dengan sigap membukakan pintu untuk seseorang yang memencet bel.


"Silahkan masuk Den, saya panggil non Rainun sebentar" ujar Simbok setelah menyapa Sakha yang sudah hampir tiga bulan tak berkunjung. Simbok kemudian berjalan ke arah kamar Rainun dan memanggilnya.


"Kak Sakha" Rainun berlari menghambur ke dalam pelukan kekasih yang begitu ia rindukan.


"Kapan kau datang? Kenapa dari kemarin tak menghubungiku?" Kata Rainun.


"Aku baru sampai sore tadi. Maafkan aku sayang, aku ingin memberi kejutan untukmu" Sakha membelai kepala Rainun.


"Kapan kau sampai?" tanya Raihan yang keluar dari kamarnya bersama Sofia dan Lili.


"Aku baru sampai siang tadi bang" Sakha lalu bersalaman dengan Raihan dan Sofia.


"Apa kabar gadis kecil uncle? Kau tumbuh dengan baik ya" ujar Sakha saat melihat Lili yang kini sudah berusia tiga bulan. Lili tersenyum saat melihat Sakha.


"Kemari ikut uncle, uncle rindu padamu juga" Sakha mengambil Lili dari gendongan Sofia. "Kau kini berat ya Lili" lanjutnya.


"Huuuaaaa aunty terlupakan gara - gara Lili" kata Rainun yang mendekat pada Sakha dan Lili. Mereka semua kemudian duduk di ruang keluarga.


"Apakah urusanmu sudah beres?" tanya Sofia.


"Sudah kak. Semuanya sudah kembali membaik kini" Sakha tersenyum.


"Syukurlah, kini semua bisa bernafas lega" ujar Raihan.


"Bang, Kak, Rai, papi mengundang kalian semua untuk makan malam besok" ujar Sakha.


"Apakah ada acara atau hal yang penting?" tanya Raihan.


"Mm itu, papi ingin membicarakan tentang pertunanganku dengan Rainun" ujar Sakha.


"Baiklah kalau begitu" jawab Raihan tanpa ragu.


"Besok malam supirku akan menjemput kalian semua" kata Sakha.


"Tak perlu bro, kami bisa membawa kendaraan sendiri. Kirimkan saja alamat tempat kita akan makan malam" ujar Raihan.


"Tidak, tidak. Supirku akan menjemput kalian nanti, tolong jangan menolaknya" pinta Sakha.


"Baiklah kalau begitu" jawab Raihan.


"Lili, apa kau masih suka merajuk saat uncle tinggal ke LA? Kau menggemaskan sekali" ujar Sakha yang menimang - nimang Lili. Lili terlihat sangat nyaman berada di gendongan Sakha.


"Lili sudah tidak pernah merajuk lagi uncle" jawab Sofia.


"Lili anak baik yaa. Mau uncle beri hadiah?" ujar Sakha. Lili tersenyum lebar saat Sakha bilang tentang hadiah.

__ADS_1


"Uuh sepertinya keponakan aunty ini sangat suka dengan hadiah yaa" Rainun menjawil pipi gembil Lili. Mereka semua berbincang - bincang santai.


"Bagai mana cara menggunakan ini kak?" tanya Rainun. Kini mereka hanya berdua karena Raihan, Sofia dan Lili sudah kembali ke kamar mereka.


"Coba pakai. Tekan tombol ini jika ingin membuat panggilan, saluranku ada di nomor satu. Nomor dua ada pada Toni, nomor tiga ada pada camp dan nomor empat ada pada body guard." jelas Sakha.


"Apa mereka bisa mendengar apa yang kita bicarakan?" tanya Rainun.


"Tidak sayang. Tetapi mereka bisa mendengarkan jika kau pencet tombol yang ini. Ini adalah tombol untuk panggilan menyeluruh" ujar Sakha. "Pencet tombol ini saat lampu merah menyala" Sakha menunjuk salah satu tombol.


"Memang kenapa kalau lampu merahnya menyala?" tanya Rainun.


"Berarti ada yang menghubungi" jawab Sakha. "Kita coba" imbuhnya. Sakha lalu memencet tombol untuk menghubungi Rainun.


"Ah iya lampunya menyala" kata Rainun. Ia lalu menekan tombol yang di tunjukkan Sakha. Mereka berkomunikasi sebentar untuk mencobanya. Sakha lalu menekan tombol All.


"Ada apa bos?" ujar Toni dan Eriko hampir berbarengan.


"Siap jalankan misi bos" ujar ketua kelompok body guard yang bertugas standby.


"Tidak - tidak. Aku hanya mengajarkan Rainun cara menggunakan jam ini" Ujar Sakha.


"Selamat malam nona bos" ujar Toni diikuti Eriko dan si body guard.


"Ah iya selamat malam" Rainun agak kikuk.


"Baiklah kalau begitu, selamat beristirahat" ujar Sakha. Ia kemudian mematikan sambungan rahasia itu.


"Ya kan aku mengajarimu cara memakainya" Sakha terkekeh melihat wajah Rainun yang merah.


"Ah aku kan malu" ujar Rainun.


"Jangan malu, kau kan calon istri bos" Sakha kembali tersenyum.


"Mmm kak, apa mami dan papi sudah tau kalau kau sudah melamarku di Paris?" tanya Rainun.


"Iya, mereka sudah tau. Kak Toni yang memberi tau mereka. Dia mengirimkan vidio saat aku melamarmu pada mami dan papi" jawab Sakha.


"Eh, sejak kapan kau memanggil pak Toni itu kak? Aku baru mendengarnya" Rainun sedikit heran. Pasalnya ia tak pernah mendengar Sakha memanggil Toni dengan sebutan 'kak' sebelumnya.


"Aku biasa memanggilnya Kak saat hanya berdua dengannya. Saat ada orang lain kecuali mami dan papi, ia meminta di panggil Toni saja dan aku hanya mengikuti kemauannya" ujar Sakha. "Sekarang kau harus terbiasa juga mendengar aku memanggilnya dengan sebutan kak, karena dia akan menjadi kakak iparmu juga" imbuhnya. Rainun mengangguk mengerti. Sebelumnya Sakha juga pernah bercerita kalau Toni adalah kakak angkatnya.


"Kalau begitu aku akan memanggilnya dengan sebutan apa ya? Mas? Mas Toni begitu?" Rainun meminta pendapat.


"Terserah kau saja" Sakha terkekeh.


"Kenapa tertawa begitu?" tanya Rainun.


"Tidak, aku hanya membayangkan ekspresi kak Toni jika mendengar kau memanggilnya dengan sebutan mas" Sakha kembali terkekeh. Rainun juga ikut tertawa mendengarnya.

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan memanggilnya sama denganmu saja, kak Toni" ujar Rainun. "Mm kak" panggil Rainun.


"Iya, ada apa sayang?" tanya Sakha yang baru saja menyeruput kopinya.


"Sepertinya kita tidak bisa bertunangan dalam waktu dekat" ujar Rainun.


"Kenapa?" tanya Sakha.


"Abang ada pekerjaan di Singapura, minggu depan ia akan berangkat dengan kak Sofia dan Lili juga. Mungkin beberapa bulan di sana" Rainun membocorkan.


"ooh begitu" Sakha mengangguk anggukkan kepala. "Tak apa, kita akan menunggu sampai mereka kembali" lanjutnya. "Berarti kau akan sendiri?" tanya Sakha.


"Iya. Tidak mungkin kan aku mengikuti mereka" ujar Rainun.


"Apa kak Sofia tak pernah ke butik lagi?" tanya Sakha.


"Dia sesekali masih ke butik. Tetapi semenjak Lili lahir, butik di kelola oleh asisten kak Sofia." jawab Rainun. Sakha mengangguk mengerti.


"Kak, kau mau bakso? Itu ada suara bakso lewat" kata Rainun.


"Baiklah aku akan memanggilnya. Kau coba tawarkan bang Raihan, kak Sofia dan yang lainnya" Sakha kemudian setengah berlari keluar rumah untuk memanggil tukang bakso yang lewat.


"Mana yang lain? "Tanya Sakha saat melihat Rainun keluar dari rumah sendirian.


"Itu Anggit sedang mengambil mangkuk untuk kita semua" jawab Rainun.


"Kak Rai dan kak Sakha masuk saja, biar nanti saya yang membawakan" ujar Anggit yang baru saja datang


"aku akan membayarnya dulu" ujar Sakha. Ia lalu mengeluarkan uang untuk membayar tujuh mangkuk bakso yang di pesan.


"Tak ingin memesan lebih? Barang kali ada yang akan menambah" tanya Sakha pada Rainun.


"Kalau begitu tambah saja dua porsi lagi bakso saja tanpa mie" ujar Rainun. Sakha mengangguk setuju.


"Baiklah kalau begitu kami masuk ya" Sakha menepuk pundak anak laki - laki simbok itu.


Mereka berdua masuk ke rumah menanti bakso yang sedang di buat oleh si penjual.


"Aku sudah lama sekali tak makan bakso" ujar Sakha.


"Benarkah? Kapan terakhir kau makan bakso" tanya Rainun.


"Sepertinya lima bulan lalu" jawab Sakha.


"Wahh aku bisa gila jika sebulan saja tak makan bakso" ujar Rainun menggeleng - gelengkan kepala. "lain kali aku akan mengajakmu membeli bakso terenak di kota ini" ujar Rainun.


"Baiklah baiklah, sepertinya kau sangat paham tempat makanan enak di kota ini" ujar Sakha.


"Tentu saja. Aku kan pecinta kuliner" jawab Rainun bangga.

__ADS_1


"Kenapa tidak menjadi foodbloger saja?" tanya Sakha.


"Aku wanita sibuk kak, dan sebentar lagi akan jadi wanita yang super sibuk karena akan menjadi istri bos" Rainun tertawa. Sakha terkekeh mendengar jawaban kekasihnya itu.


__ADS_2